
Semua orang dibuat terkejut dengan kehadiran Ray yang tiba-tiba.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
"Ayo duduk dulu nak Ray." Ucap ibu Jumiati dan pak Hasan ramah.
"Iya Bu terimakasih."
"Kamu ngapain kesini?"
"Nduk..jangan begitu sama suami sendiri itu tidak baik, cepat buatkan minum untuk suamimu!"
"Ibu..kok malah dibuatkan minum sih, nanti dia nggak pulang-pulang."
"Huss ngomongnya, cepat buatkan minum."
"Ckk.." Amara berdecak sambil berdiri tapi tetap melakukan perintah dari ibunya.
"Maafkan sikap Amara Ray, dia.."
"Tidak apa pak,, Ray mengerti Ray yang salah disini, asal Amara tidak meninggalkan Ray apapun perlakuan Amara Ray akan terima." Potong ray
"Brak"
Amara menaruh minumannya dengan keras
"Tuh minum."
"Amara yang sopan nak.." tegur pak hasan
"Maaf pak."
"Aku minum ya sayang." Ucap Ray sambil melirik amara, Amara tidak menjawab
"Sudah minum kan, sekarang aku tanya ngapain kak Ray kesini?"
"Sayang aku mohon.." tangan Ray mencoba meraih tangan amara
"Jangan sentuh aku."
"Oke, aku tidak akan menyentuhmu, aku mohon sayang jangan tinggalin aku, beri aku kesempatan terakhir untuk merawat dan membesarkan anak kita bersama-sama."
"Aku bisa membesarnya sendiri."
"Aku tau kamu bisa, kamu itu pekerja keras kamu tidak akan mungkin membiarkan mereka kelaparan atau kekurangan apapun, tapi walau bagaimanapun mereka butuh aku ayahnya, belum lagi jika mereka besar nanti pasti akan banyak orang yang menghina mereka karena lahir tanpa ayah, bagaimana jika mereka bertanya kepadamu dimana ayahnya kamu mau jawab apa, apa kamu tega membuat mereka bersedih atau kamu mau mereka membenciku. Pikirkan baik-baik Amara demi anak kita."
Amara Pun kemudian teringat dengan masa lalunya yang banyak dihina oleh para tetangga karena miskin, Amara juga teringat saat Amara belum juga dikaruniai seorang anak bagaimana orang-orang menghinanya dan itu sangat sakit.
Hatinya menjadi bimbang antara meninggalkan Ray karena selalu dibohongi atau memberinya kesempatan terakhir demi anak-anaknya.
__ADS_1
"Pulangnya kak, aku masih ingin sendiri."
"Aku juga akan disini."
"Tidak! Kamu harus pulang."
"Aku tidak mau!! istriku ada disini bagaimana mungkin aku pulang."
"Jangan membuat kesabaranku habis, pulanglah sekarang." akhirnya Ray mengalah demi kelancaran bersama. heheπ€
"Baik, aku akan pulang tapi sebelum aku pulang aku ingin kamu tau satu hal, aku tidak pernah berselingkuh apalagi mengkhianati pernikahan kita. Aku juga tidak pernah melakukan seperti yang ada di foto itu, sekarang aku memang tidak punya bukti apa-apa tapi cepat atau lambat aku akan membawa bukti itu."
"Baik, aku tunggu bukti itu aku harap akan ada kabar baik. Sekarang lebih baik kamu pulang dan jangan pernah kesini sebelum kamu membawa bukti itu."
"Dua hari..beri aku waktu dua hari untuk mencari bukti itu."
"Waktunya tidak terbatas terserah mau berapa lama lebih lama lebih baik."
"Kok ngomongnya gitu banget sih sayang.."
"Udah deh kak nggak usah drama cepat kamu pulang."
"Ok aku akan pulang sekarang juga.
Pak..Bu..Ray pamit, dua hari lagi Ray akan kesini."Β
"Iya nak kamu hati-hati ya..ibu tunggu kedatanganmu dua hari lagi."
Ray mengerti amara masih sakit hati dengannya Ray pun kemudian pergi. saat di ambang pintu pak Hasan memanggilnya kembali.
"Nak Ray!"
"Iya pak."
"Semangat dan terus berjuang bapak yakin kamu tidak mungkin menghianati Amara."
"Terimakasih pak, Ray jadi tambah semangat." Raut wajah bahagia terpancar di wajah Ray kala mendapat dukungan dari orang tua Amara. Sedangkan Amara enggan untuk menatap Ray.
_
_
"Aku harus segera mendapatkan bukti-bukti itu." Gumam Ray di dalam mobil
"Maaf kalau boleh tau bukti apa pak?"
"Bukti jika aku tidak bersalah, dan foto itu hanya salah paham. Aku dijebak gas hingga membuat Amara marah dan ingin berpisah denganku."
"Memangnya bapak di jebak bagaimana."
__ADS_1
"Seseorang mengirimkan foto aku bersama angel sedang bermesraan bukan hanya satu tetapi empat tapi aku tidak pernah melakukan apa yang ada difoto itu."
"Maaf pak, apa tempatnya direstoran?"
"Bagaimana kamu tahu?"
"Jadi begini pak.."Β
waktu saya pulang kerja saya mampir di sebuah restoran xxx dan tidak sengaja saya melihat bapak disana tetapi dengan seorang perempuan. Dan maaf nih pak saya kepo dong kenapa bapak bisa bersama perempuan lain, saya ambil posisi agak sedikit dekat dengan bapak agar saya tau apa yang anda bicarakan.
Dan saya senang tidak ada hal yang mencurigakan dari bapak. Tetapi saya melihat gelagat yang aneh dari perempuan itu akhirnya saya memutuskan untuk terus memperhatikan bapak dan mendengarkan percakapan bapak sampai bapak dan perempuan itu pulang. Saya juga melihat waktu bapak meniup mata perempuan itu dan disitulah kecurigaan saya semakin kuat dari jauh adegan bapak meniup mata perempuan itu ada seorang laki-laki yang mengambil gambar bapak. Akhirnya saat bapak pulang saya tetap mengawasi perempuan itu dan benar kecurigaan saya, laki-laki itu menghampiri perempuan yang bersama bapak dan perempuan itu memberikan amplop berisi uang yang jumlahnya cukup banyak.
Tapi bapak tenang saja saya punya fotonya."
"Kamu mengambil gambar mereka??" Tanya Ray antusias
"Iya dong pak, karena saya yakin bapak pasti butuh, ini pak fotonya." Kemudian Ray mengambil handphone Bagas dan melihat foto itu.
"Kamu kirim ke saya sekarang."
"Baik pak."
"Ok terimakasih Bagas sekarang saya punya tugas penting untuk kamu."
"Apa pak?"
"Cari tahu siapa orang ini, latar belakang dan keluarganya,semuanya dan jangan lupa bawa dia di hadapanku. Terserah bagaimana caranya dan jika ini berhasil kamu akan naik jabatan."
"Beneran pak??"
"Bukan hanya jabatan saya juga akan memberimu bonus."
"Baik pak! Saya janji besok semua informasi tentang laki-laki itu akan bapak dapatkan beserta orangnya."
"Bagus saya suka orang-orang sepertimu berambisi, tapi tetap saja saya tidak suka penguntit." sambil netranya melirik bagas
"Ma.. maaf pak."
_
_
Siang berganti malam Ray dan Bagas sampai di Jakarta pukul 22.00 WIB.
Ray memasuki rumah yang tampak sangat sepi tanpa adanya sang istri, Ray merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu, pikirannya menerawang jauh teringat saat pertama Ray dan Amara menempati rumah ini yang dipenuhi dengan canda tawa dan kemesraan yang selalu menjadi obat saat ia lelah.
Ray menatap pintu dimana Amara selalu menyambutnya dengan penuh kasih sayang ketika ia pulang kerja. tiba-tiba air matanya menetes.
Ray bangkit kemudian menaiki tangga dengan langkah gontai menuju kamarnya.
__ADS_1
Begitupun saat Ray membuka pintu kamar biasanya Amara akan berlari lalu memeluknya erat dan mengucapkan kata rindu untuknya tapi sekarang bahkan lampu saja tidak ada yang menyalakan. Tangan Ray meraba untuk menyalakan lampu matanya menatap foto pernikahan mereka. Ray meraih bingkai foto itu meraba wajah Amara yang terlihat sangat cantik Ray tersenyum menatap foto istrinya kemudian memeluk foto itu erat dan kembali menangis.
πππ Bersambung πππ