Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 63 : Bertengkar lagi


__ADS_3

"Sayang..kamu mau kemana disini saja. Ayo kita menikah." Teriak Ray karena Amara sudah pergi. Ray tersenyum menyadari tingkah konyolnya pada Amara.


_


_


Pagi ini Amara akan pergi ke resto menemui Miko setelah tadi malam melewati drama panjang dengan ray dan akhirnya Ray pun mengizinkan amara untuk menemui Miko.


Amara menunggu Ray di ruang tamu bersama mama ana.


"Ayo berangkat." Ucap Ray sambil berjalan tanpa melihat Amara.


"Sabar ya.."lirih mama ana. Amara mengangguk 


"Amara berangkat dulu ya ma.."


"Iya sayang kamu hati-hati."


Amara mempercepat langkahnya karena Ray sudah menunggunya di dalam mobil.


Setelah Amara masuk Ray pun langsung menancap gas.


Tidak ada percakapan antara Ray dan Amara. Amara melirik Ray yang serius mengemudi dengan wajah ditekuk


"Kak Ray, tadi nggak sarapan ya?"


"Iya."


"Nanti aku pulang naik taxi aja kak Ray nggak usah jemput aku." Ray tidak menjawab


"Kak Ray.."


"Hmmm.."


"Kak Ray marah?"


"Tidak."


"Masak? Tapi sepertinya kak Ray marah."


"Minggu depan kita akan menikah." ucap Ray tiba-tiba


"Apa? Kok kak Ray gitu, nggak nanya dulu sama aku. Bapak dan ibu pasti juga tidak akan setuju. ini terlalu mendadak."


"Kata siapa, aku sudah menelpon bapak dan ibu tadi malam dan mereka setuju."


"Kak Ray curang."


"Curang kenapa?"


"Kak Ray menelpon orang tuaku tanpa bertanya dulu kepadaku."


"Memangnya kenapa? Mereka orang tuaku juga." Amara diam sejenak memikirkan alasan agar Ray mau menunda pernikahannya.


"Kak Ray jangan egois, kak Ray jangan memikirkan diri sendiri kasihan papa Dirga dan mama ana. Mereka pasti juga belum siap."


"Justru mereka yang menyuruh kakak untuk segera menikah dengan kamu. Sudahlah Amara kamu tidak perlu mencari alasan lagi."


"Kak! Sekarang hari Rabu dan kita akan menikah hari Minggu, kakak jangan bercanda bagaimana bisa kita menyiapkan semuanya hanya dalam tiga hari."

__ADS_1


"Ciiittt" Ray menepikan mobilnya dan berhenti mendadak. Hingga membuat Amara hampir terjungkal.


"Kak Ray apa-apaan sih?" bentak? Amara


"Jawab jujur. Apa kamu tidak mau menikah denganku? Apa kamu masih mencintai Kevin? Atau kamu jatuh cinta dengan Miko??"


"Kak Ray ngomong apa sih kak? Kenapa kak Ray malah menuduhku yang tidak tidak."


"Karena dari dulu kamu selalu menolak untuk menikah denganku, aku selalu sabar menunggumu selama ini, apa masih kurang aku bersabar selama ini? Apa masih belum cukup cinta dan kasih sayang yang aku berikan selama ini?" Ucap Ray dengan nada tinggi


"Bukan begitu maksud aku kak. Aku sangat bersyukur untuk cinta dan kasih sayang kak Ray selama ini tapi aku hanya belum siap kak. Dan kak Ray selalu memutuskan sendiri tanpa meminta persetujuanku."


"Persetujuan? Apa kamu lupa berapa kali aku meminta untuk kita segera menikah. Tapi apa? kamu selalu mengulur-ulur waktu.


Kamu masih mencintai Kevin kan?"


"Cukup kak! Kenapa kak Ray selalu mengaitkan semuanya dengan Kevin?"


"Karena itu memang kenyataanya. Aku tau kamu kemarin di restoran bersama Kevin kan, apa kalian janjian? Jika kamu memang masih mencintai Kevin, pergi sana temui Kevin. Raih kebahagiaan kamu dengannya!"


"Kak..aku tidak sengaja bertemu dengan Kevin disana. Kalau kak Ray tau aku bertemu dengan Kevin pasti kak Ray juga tau kan kalau Kevin tidak sendiri dia bersama Farah. Dimana bisa kak Ray menuduhku seperti itu." Ray terdiam dengan nafas yang memburu jelas sekali jika Ray masih diselimuti amarah.


"Keluar!" Ucap Ray tiba-tiba


"Apa?"


"Aku bilang keluar!"


"Kak Ray mengusirku?"


"Aku butuh waktu sendiri."


"Baik..kalau itu mau kakak." Jawab Amara yang sudah berlinangan air mata kemudian keluar. Amara membanting pintu mobil cukup keras. 


 Amara berlari. hatinya sangat sakit Ray menurunkannya ditengah jalan. Air mata terus keluar dari pelupuk matanya. Amara terus berlari hingga sebuah mobil menghentikannya.


"Tin tin tin"


Sebuah mobil berhenti di sampingnya. Amara menengok dan ternyata itu adalah Miko. Miko keluar dari mobil 


"Amara kamu kenapa menangis? Dan kenapa kamu jalan kaki?" Amara tidak bisa menjawab


"Ya sudah ayo naik kamu mau ke restoran kan?" Miko membukakan pintu mobil untuk Amara.


_


_


Ray yang sudah merasa tenang kemudian tersadar dengan apa yang sudah ia lakukan. Ia mengangkat wajahnya namun Amara sudah tidak ada disana. Rasa cemburu membuatnya hilang kendali. hingga Ray tidak menyadari bahwa apa yang dia lakukan dapat menghancurkan hubungannya dengan Amara. "Astaga..apa yang sudah aku lakukan?" sesal Ray. Ray menjalankan mobilnya untuk menyusul Amara.


Ray terus menyusuri jalan sambil melihat kiri kanan namun nihil Amara tidak ada. Ray menuju restoran Miko dan mencari keberadaan amara disana namun juga nihil bahkan managernya bilang jika bosnya itu belum datang.


Ray semakin dibuat frustasi harus mencari Amara diamana sementara Amara juga tidak mengangkat telepon darinya. Ray terus menghubungi Amara tetapi nomornya malah tidak aktif.


"Dasar bodoh. Brak.." Ray memukul setir kemudi melampiaskan kemarahannya.


Satu kelemahan Ray adalah Ray tidak bisa mengontrol emosinya saat sedang marah. Ray selalu hilang kendali dan itu adalah sifat Ray yang dibenci Amara.


Ray memutuskan untuk kembali kerumah karena jika dia tetap ke kantor pasti dia akan kembali emosi. Ray memilih untuk menenangkan diri dirumah.

__ADS_1


_


_


Amara dan Miko kini berada di taman dekat tempat kos amara. Amara dan Miko duduk di kursi panjang yang ada di taman itu. beruntung taman sepi jadi amara bisa menangis sepuasnya karena masih jam kerja beda cerita jika hari Minggu taman pasti sangat ramai. Tadinya Miko dan Amara memang janjian untuk bertemu di restoran. Namun ditengah jalan Miko melihat seorang gadis tengah berlari sambil menangis. Kemudian Miko mengejarnya semakin dekat gadis itu seperti amara. Miko pun memelankan laju mobilnya. Dan benar saja itu adalah Amara namun kenapa Amara berlari? kenapa amara menangis? Kemudian Miko membunyikan klakson mobilnya agar Amara berhenti. Miko pun mengajak Amara untuk bersamanya. Miko Melihat Amara yang tidak baik baik saja Miko memutuskan untuk tidak jadi mengajak Amara ke restoran. Miko tidak mau karyawan yang lain memikirkan yang tidak-tidak pada Amara.


"Minum dulu..!" Miko memberikan Amara air mineral.


"Terimakasih kak.."


"Apa sudah lebih baik?" Amara mengangguk sebagai jawaban


"Sebenarnya apa yang terjadi Amara, kamu berlari di tengah jalan sambil menangis, apa yang terjadi?"


"Aku nggak tau kak harus cerita dari mana?"


"Dari sini." Miko menarik tangan kiri Amara dan memegang jari manisnya yang telah melingkar sebuah cincin.


"Apa kamu sudah bertunangan?"Amara mengangguk sebagai jawaban.


"Apa laki- laki yang pernah menjemput kamu di restoran itu adalah tunangan kamu?"


"Iya."


"Selamat ya.."


"Apa dia juga yang telah membuat kamu seperti ini?" Amara terdiam


"Kamu tidak sendiri. Ada aku yang akan selalu ada buat kamu jika kamu butuhkan.


"Terimakasih kak terimakasih." Amara kembali meneteskan air mata.


"Jangan menangis lagi ya, hatiku sakit melihatmu menangis seperti ini." Miko menghapus air mata Amara.


Amara menghentikan tangan Miko yang menghapus air matanya


"Aku tidak apa-apa kok kak. Kami hanya salah paham. Kak Miko nggak usah khawatir."


"Aku harap juga begitu."


"Kalau boleh tau kapan kalian bertunangan. Seingat aku terakhir kita bertemu kamu masih belum memakai cincin?"


"Iya kak. Sebenarnya waktu itu aku pulang kampung untuk bertunangan. Dan juga hari ini aku ke restoran untuk memberikan surat pengunduran diriku."


"Tapi kenapa Amara, kenapa kamu mengundurkan diri?"


"Kak Miko ingat kejadian terakhir sebelum aku meminta izin untuk pulang kampung. Aku sempat membuat keributan dengan tiga laki-laki?"


"Iya aku ingat."


"Sebenarnya setelah kakak menyuruh mereka pergi. Mereka tidak benar- benar pergi. Mereka menunggu aku hingga pulang kerja lalu menculikku."


"Apa? Kamu diculik?"


"Iya kak. Saat itu kak Ray sedang tidak bisa menjemputku aku pun memilih naik ojek dan dipertengahan jalan mereka mencegatku. Lalu menculikku.


"Aku benar- benar tidak tau apa-apa Amara. Lalu apa yang mereka lakukan apa mereka melukaimu? Mama yang sakit?" tanya Miko panik. Amara kembali meneteskan air mata


"Mereka hampir saja…mereka..hiks hiks." Amara tidak mampu menceritakan nya. Miko menarik Amara kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Sudah ya..tidak perlu diteruskan.kamu tidak perlu menceritakan kembali kejadian itu. ITS oke aku mengerti. Stttt..sudah ya jangan menangis lagi."


\*\*\*Happy reading 🥰🥰\*\*\*


__ADS_2