
Perlahan Kenzo mendekatkan wajahnya dengan wajah Amara sangat dekat hingga tidak ada jarak diantara mereka. Hangatnya hembusan nafas masing-masing dapat mereka rasakan saat Kenzo akan memulai aksinya tiba-tiba handphone mike berdering dan menghancurkan momen romantis sekaligus menegangkan itu. Amara langsung melepas tangan Mike yang berada di pinggangnya.
"Ck.." Mike berdecak kesal sambil berjalan mengambil handphonenya.
"Ternyata nama Dion yang tertera dilayar telponya semakin membuat Mike bertambah kesal.
"Dion..kamu benar-benar benalu." Batin Mike, kemudian menjawab telepon dari Dion.
"Ada apa?"
"Ada yang ingin aku bicarakan."
"Bicaralah sekarang juga."
"Tidak bisa, kita harus bertemu."
"Apa tidak bisa besok saja."
"Besok hari pernikahanmu tidak ada waktu lagi kecuali…"
"Kecuali apa?"
"Kecuali kamu ingin pernikahanmu batal."
"Dion jangan main-main atau aku akan menghabisimu."
"Kalau begitu temui aku sekarang juga di cafe xxx."
"Sepuluh menit lagi aku sampai."
Kemudian Mike mengakhiri panggilannya
"Bisa-bisanya dia mengancamku."
"Siapa Mike?" Tanya Amara yang sudah berganti baju kembali.
"Kenapa sudah berganti baju?"
"Iya aku takut bajunya rusak, tadi siapa yang telepon?"
"Dion, biasalah urusan pekerjaan. Aku keluar sebentar menemui Dion, kamu langsung istirahat ya."
"Tapi ini sudah malam Mike."
Mike kembali memeluk Amara.
"Makasih ya kamu udah khawatir sama aku, aku seneng banget."
"Begini saja Mike sudah berterimakasih dan merasa senang, aku jadi merasa bersalah dengan Mike." Batin Amara
_
_
Mike menuju cafe tempat dimana Dion membuat janji. Sesampainya di cafe Dion sudah menunggu disana tanpa basa-basi Mike lantas bertanya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan??"
" Duduk dulu Mike." Dengan terpaksa Mike menurut.
"Mau minum apa?"
"Tidak usah basa-basi cepat katakan ada apa?"
"Benar kamu akan menikah dengan Amara besok?"
"Iya!"
"Kenapa kamu ingin menikah dengannya?"
"Apa urusannya denganmu?"
"Jangan main-main dengannya Mike, aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti Amara."
"Jangan ikut campur dengan urusan pribadiku, kamu assistant pribadiku tugasmu membantu pekerjaan ku bukan mencampuri urusan pribadiku." Kemudian Mike berdiri hendak pergi
"Aku akan mencampuri urusanmu jika itu menyangkut Amara." Mike mengepalkan kedua tangannya
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti Amara. Kalau sampai aku tau ada unsur pemaksaan aku akan membuat perhitungan denganmu."
"Kenapa kamu sangat peduli dengan Amara apa kamu menyukai Amara?"
"Kalau aku bilang iya apa kamu mau melepaskan Amara." Ucap Dion lantang sambil berdiri mengsejajarkan dirinya dengan Mike. dan..
"Bugh"
__ADS_1
satu pukulan keras Mike berikan tepat di wajah Dion hingga membuatnya jatuh tersungkur dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Aku tidak akan pernah melepaskan Amara camkan itu."
Mike lantas pergi meninggalkan Dion sendiri.
"Mike tidak pernah semarah ini, itu artinya Mike memang mencintai Amara." Batin Dion menatap Mike yang sudah berlalu.
Dion mengusap bibirnya yang terasa perih tiba-tiba sebuah tangan terulur di depannya.
"Ayo bangun!!" Ucapnya, Dion mendongak dan ternyata itu Gery.
"Gery.."
"Ayo bangun!" Ucap Gery sekali lagi.
_
_
Gery dan Dion duduk saling menatap tapi keduanya sama-sama diam sebelum akhirnya Gery mengeluarkan suara.
"Kenapa kalian bertengkar?"
Dion masih diam
"Apa ini karena Amara?"
"Dion kita sahabatan sudah lama, jangan karena seorang perempuan kita menjadi bertengkar."
"Kamu tidak tau apa-apa."
"Aku memang tidak tau apa-apa tapi aku tidak suka jika kalian bertengkar hanya karena seseorang perempuan."
"Aku hanya memastikan Mike benar-benar mencintai Amara."
"Sudahlah Dion tidak usah ikut campur urusan Mike."
"Aku tidak rela jika Mike menikahi Amara bukan karena dia mencintainya."
"Lantas apa urusannya denganmu Mike cinta atau tidak dengan Amara?"
"Semua yang menyangkut Amara adalah urusanku karena aku mencintainya."
"Apa??"
"Aku jatuh cinta dengan Amara sejak pertama melihatnya dan aku lebih dulu mencintai Amara dibandingkan Mike."
"Aku bisa merelakan Amara jika Mike memang benar mencintainya."
"Mike memang mencintainya, aku bisa merasakannya bagaimana Mike memperlakukan Amara itu sangat spesial."
Dion terdiam
"Dion aku tidak pernah melihat Mike memperlakukan perempuan selembut itu. Pikirkan Dion Mike itu sahabat kita jika dia bahagia kita juga harus bahagia." Gery lantas pergi setelah mengatakan itu."
_
_
Di mansion
Waktu menunjukan pukul 22.00 malam tapi mike tak kunjung pulang juga.
Amara menunggu Mike di ruang tamu sambil sesekali melihat jam.
"Kenapa Mike belum pulang juga katanya cuma pergi sebentar." Gumam Amara
Amara mondar mandir sambil terus menghubungi Mike, namun tidak dijawab juga oleh Mike.
Kakek luwis yang diam-diam ingin mencari kue lapis yang tadi di bawa eny di dapur, tidak sengaja melihat Amara di ruang tamu yang terlihat sangat gelisah.
Awalnya kakek luwis tidak menghiraukan Amara namun melihat wajah Amara yang tampak khawatir membuat kakek luwis menghampiri amara.
"Apa yang sedang kamu lakukan kenapa belum tidur juga."
"Kakek…kakek belum tidur, aku menunggu Mike kek, sudah malam begini tapi Mike belum pulang juga."
"Ternyata dia perhatian juga dengan cucuku."
"Sudah tidurlah nanti juga dia pulang."
"Kakek sendiri kenapa belum tidur, atau kakek butuh sesuatu?"
"Kakek..kakek mau ambil minum." bohong kakek luwis
Tapi perutnya berkata lain, kakek luwis pun sontak memegang purutnya yang berbunyi.
__ADS_1
"Kakek lapar ya Amara buatkan makanan ya kek."
"Tidak usah aku tidak lapar."
"Tidak apa-apa kek, hanya sebentar."
"Nasi goreng saja." Ucap kakek luwis tanpa menatap Amara, Amara menyunggingkan senyum tipis.
Amara pun bergegas membuatkan makanan untuk kakek Luwis."
_
_
Amara telah selesai membuat nasi goreng dan menatanya di meja makan, setelah selesai Amara memanggil kakek luwis.
"Kakek nasi gorengnya sudah siap."
"Ya.. sudah ku bilang aku tidak lapar masih saja memaksa." Amara tersenyum mendengar kakek menggerutu.
"Maaf kek tapi sudah terlanjur, dimakan ya kek."
"Kamu ini, lain kali jangan suka memaksa orang." Kakek luwis terus menggerutu tetapi juga berjalan ke meja makan.
"Kamu tidak makan?"
"Tidak terimakasih."
"Aku tidak menawarimu tidak perlu berterimakasih."
"Iya kek."
"Masakan Amara memang sangat enak." Batin kekek luwis
"Kamu tinggal disini bersama ibumu saja dimana ayahmu aku tidak melihatnya."
"Ayah saya sudah meninggal kek empat tahun yang lalu. Waktu saya mengandung jesen."
"Maaf bukan maksudku mengingatkanmu kembali."
"Tidak apa kek."
"Jadi dia anak yatim."
Tiba-tiba kakek luwis tersedak dengan cepat Amara memberikan minum.
"Minum dulu kek, pelan-pelan."
"Dia juga perhatian."
"Aku sudah selesai, aku mau tidur."
"Iya kek selamat malam."
Kemudian Amara membereskan peralatan makan kakek. Kakek luwis menatap Amara dari jauh dengan tatapan yang berbeda bukan tatapan benci lagi.
_
_
Pukul 24.15 Mike baru pulang, Mike membuka pintu namun pintu tidak dikunci.
"Kenapa pintunya tidak dikunci." Gumam Mike membuka handle pintu.
"Mike.." panggil kakek luwis. Ternyata kakek luwis tidak langsung tidur tetapi menjaga Amara yang ketiduran di sofa ruang tamu.
"Kakek, kenapa kakek belum tidur?"
"Dari mana kamu?"
"Ada sesuatu yang harus Mike urus."
"Kamu tidak lihat ini sudah tengah malam, awas kalau besok kamu bangun kesiangan kakek nikahkan Amara dengan orang lain." Mike kaget bercampur bahagia kakek luwis memanggil Amara dengan namanya.
"Apa ini artinya kakek merestui kami."
"Kakek tidak bilang begitu, cepat kamu bangunkan Amara kasihan dia menunggumu dari tadi." Sambil menunjuk arah sofa, sobatku Mike menoleh.
"Amara…" lirih Mike lalu berjalan menghampiri Amara.
Mike terharu Amara menunggunya hingga ketiduran.
Tangan Mike terulur mengelus pipi Amara lalu mencium keningnya cukup lama.
"Ehem..kakek tidur dulu."
"Terimakasih kek."
__ADS_1
Kakek luwis menepuk pundak Mike pelan kemudian pergi.
🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹