Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 39 : Menikahlah denganku


__ADS_3

Ray mengendarai motor sportnya entah kemana pikirannya sedang dipenuhi emosi. Akhirnya ray berhenti di taman dekat kos amara. Ray duduk termenung seorang diri di kursi panjang. Malam ini taman tidak begitu ramai hanya terlihat beberapa pasangan yang sedang bermesraan.


Ray teringat pada Amara yang menangis saat ia tinggalkan.


Ray juga teringat janjinya yang tidak akan membuat Amara menangis.


"Astaga..apa yang aku lakukan. Ini terlalu mendadak wajar jika Amara bersikap seperti itu kenapa aku tidak bisa mengerti. Kamu bodoh Ray!" Ray merutuki kebodohannya. Ray pun memutuskan untuk kembali pulang. Dengan kecepatan maximal Ray melajukan motor sportnya.


Di kediaman dirgantara papa dirga mondar mandir menunggu kedatangan Ray. Papa Dirga marah karena Ray meninggalkan Amara begitu saja bukankah Ray yang membawa Amara ke rumah ini lantas kenapa dia meninggalkan Amara. Sementara mama ana menenangkan Amara dikamar Ray.


Amara duduk sambil memeluk kedua lututnya.


"Sudah sayang jangan menangis lagi ya..mama jadi sedih."


"Ma..aku hanya belum siap ini terlalu mendadak. Aku sudah tidak punya perasaan apapun terhadap Kevin ma!"


"Iya sayang..mama mengerti perasaan kamu. Sudah ya jangan dipikirkan ucapan Ray. Dia itu seperti anak kecil suka marah marah tidak jelas."


"Aku mau pulang ma!"


"Sayang..ini sudah malam. Kamu pulang besok saja ya. Sudah sekarang kamu tidur mama temenin kamu disini." Mama ana merebahkan tubuh Amara dikasur dan menyelimutinya kemudian mama ana ikut masuk kedalam selimut yang sama. Mama ana memiringkan badannya menopang badannya dengan satu tangannya sedangkan tangan satunya mengelus rambut Amara. Persis seperti seorang ibu mengeloni anaknya yang sedang tidur. 


Tidak sampai setengah jam Ray sudah sampai dirumah. Dengan tergesa gesa Ray memasuki rumah dan hendak menaiki tangga.


"Ray!" Suara bariton pak Dirga menghentikan langkahnya. "Dari mana kamu? Pak Dirga melangkah maju mendekati Ray."kamu yang membawa Amara kesini kamu juga yang membuatnya menangis dan meninggalkannya. Papa tidak suka dengan sikapmu itu Ray."


" Ray minta maaf pa Ray salah. Ray tersulut emosi saat Amara menolak menikah dengan Ray."


"Harusnya kamu mengerti Ray. Ini terlalu mendadak untuk amara. Bagaimana jika kamu yang di posisinya."


"Iya pa! Maafkan Ray." 

__ADS_1


"Lebih baik sekarang kamu temui Amara dan minta maaf!" 


"Baik pa!" Ray segera menuju kamarnya.


Saat Ray membuka pintu kamarnya betapa Ray sangat terharu melihat kedua wanita yang amat Ray cintai sedang terlelap damai.dengan posisi Amara meringkuk sedangkan mama ana memeluknya dari belakang layaknya anak sendiri.


Perlahan Ray melangkahkan kakinya mendekati Amara duduk di tepian ranjang.diperhatikannya wajah cantik itu. wajah yang selalu menghiasi hari harinya. Masih terlihat jelas matanya yang sembab sudah bisa dipastikan Amara terlalu lama menangis. Ray mengelus puncak kepala Amara penuh sesal.


"Maafkan aku sayang, maaf" Ray mencium puncak kepala Amara cukup lama. Kemudian beralih memegang tangan mama ana yang melingkar di pinggang ramping Amara dan menciumnya. Mama ana yang merasakan sesuatu yang hangat menyentuh kulit tangannya pun terbangun.


"Ray.." panggil mama ana pelan takut membangunkan Amara. 


"Maaf ma! Ray membuat mama terbangun." Dengan hati hati mama ana menyibak selimut yang menutupinya dengan Amara lalu turun dari ranjang.


Mama ana tersenyum pada Ray


"Kasihan Amara. Dia sampai ketiduran karena terlalu lelah menangis."


"Maafkan Ray ma." Ucap Ray sendu menyesali perbuatannya.


Mama ana keluar meninggalkan Ray dan Amara di dalam kamar itu.


Ray melangkahkan kakinya memutar kesisi ranjang satunya kemudian naik diatas ranjang. Ray memiringkan tubuhnya dengan satu tangan sebagai penyangga badanya. Ray membalikan tubuh amara perlahan. Amara merasakan tidurnya terganggu kemudian membuka matanya perlahan. Saat Amara membuka matanya sempurna wajah tampan Ray yang ada di hadapannya. Tanpa ba bi bu amara memeluk erat tubuh Ray. Ray membalas dengan tak kalah erat bahkan berkali kali Ray mencium puncak kepala Amara."maaf! Lagi lagi aku membuatmu menangis." Amara semakin mengeratkan pelukannya. Amara melepaskan pelukannya. Lalu duduk menghadap Ray. Ray pun mengikuti apa yang dilakukan Amara.


"Kak Ray dari mana? Aku pikir kak Ray sudah tidak mau lagi melanjutkan hubungan kita." 


"Kenapa kamu bisa berpikir sejauh itu?"


"Kak Ray marah dan menuduh aku selingkuh lalu pergi begitu saja." Ray menggenggam kedua tangan Amara.


"Menikahlah denganku Amara, agar aku bisa selalu disampingmu dan melindungimu. Agar tidak ada pikiran pikiran kotor yang meracuni otakku." Amara menarik tangannya pelan

__ADS_1


"Bukannya aku tidak mau kak. Tapi aku masih ingin bekerja dan membahagiakan kedua orang tuaku.


"Aku tidak akan melarangmu untuk bekerja."


"Bukan hanya itu kak! Aku tulang punggung keluarga. Bapak sedang sakit jika aku menikah sekarang siapa yang akan memberikan uang untuk bapak dan ibu."


"Aku! Aku yang akan menanggung semua kebutuhan orang tua kamu. Aku akan mengirimkan mereka uang setiap bulan. Seperti yang kamu lakukan." Amara menutup wajahnya dengan kedua tangannya merasa frustasi bagaimana harus menjelaskan kepada Ray. Jika dia masih harus melunasi hutang keluarganya.


"Kamu mau kan menjadi istri kakak?" Amara berpikir sejenak kemudian membuka wajahnya pelan.


"Aku mau! Jika kakak mengijinkan aku untuk tetap bekerja."


"Iya! Kamu boleh bekerja selama yang kamu mau. Asal kamu tetap melakukan tugas kamu sebagai seorang istri." 


"Emm" Amara mengangguk. Keduanya kembali berpelukan.


"Terimakasih sayang aku sangat bahagia." 


" Aku juga kak." 


"Besok aku akan melamar kamu secara resmi, kita ke kampung halaman kamu."


"Jangan besok kak. Besok adalah hari pertama aku bekerja!"


"Ya sudah terserah kamu. Tapi jangan lama lama. Papa dan mama pasti juga ingin segera melamar kamu." Amara mengangguk.


Ray menyudahi pelukannya kedua tangannya membelai lembut pipi Amara kemudian turun di bibir ranum Amara. Pelan namun pasti Ray mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Amara. Amara memejamkan mata begitupun ray.akhirnya bibir mereka pun menyatu. Kali ini ciuman Ray agak berbeda tidak selembut biasanya. Satu tangan Ray menekan tengkuk Amara dan tangan satunya membelai lembut punggung Amara. Ray terus mengulum bibir ranum Amara bahkan kini lidahnya ikut bermain mengabsen setiap sudut mulut Amara.


Ray semakin liar, melihat Amara membalas ciumanya membuat Ray ingin menuntut lebih dari sekedar ciuman. masih terbayang di ingatannya lekuk tubuh Amara yang hanya dililit handuk kecil. Kulit putih mulus tanpa cacat sedikitpun. Buah dada yang sepertinya memiliki ukuran yang semua laki laki inginkan masih tercetak jelas di ingatannya. Ray merebahkan tubuh Amara masih dengan bibir yang menyatu. Ray tidak bisa lagi menahan diri Ray merasakan celananya yang mulai sesak. Ulah dari adik kecilnya yang mulai bereaksi. perlahan Ciumannya turun ke leher jenjang amara meninggalkan banyak kissmark disana. Membuat si empunya menggelinjang merasakan getaran- getaran yang berbeda. Rasa nikmat sekaligus geli menjadi satu. Rasa yang belum pernah Amara rasakan sebelumnya. Tangan indahnya membelai lembut punggung Ray. Setelah puas dengan leher Amara ciuman Ray turun ke dada atas amara kedua tangannya sudah bertengger indah di dua gundukan Amara.


**ada yang penasaran nggak ya kelanjutannya dimana??

__ADS_1


jangan lupa dukungannya ya like komen dan vote🤭🤭**


\*\* happy reading 🥰🥰 \*\*


__ADS_2