Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 22 :cinta itu butuh perjuangan


__ADS_3

setelah selesai membersihkan diri, Ray membaringkan dirinya diranjang, kedua tangannya ia gunakan sebagai bantal dan memikirkan kata kata mama ana.


"tugas kamu adalah menunjukan bahwa kamu selalu ada untuknya dan seberapa besar rasa cinta dan ketulusan yang kamu miliki untuk Amara." kata kata itu masih terngiang ditelinga Ray,benar kata mama ana bahwa dia egois. hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan perasaan Amara.


setelah cukup lama bergelud dengan pikirannya Ray pun mengambil handphone dan mencoba menghubungi amara, setelah tiga kali melakukan panggilan Amara baru mengangkatnya.


👸"hallo.."


🧝"Ra.."


👸"iya, pak ada apa?"


🧝" ini bukan jam kantor, kenapa kamu memanggil saya pak lagi


👸" saya tidak tau, tapi saya merasa bapak marah pada saya, dan saya berpikir mungkin bapak marah karena saya terlalu akrab dengan bapak, saya telah melewati batasan antara karyawan dan atasan." seketika Ray langsung terbangun mendengar pernyataan amara, Ray takut jika Amara akan salah paham padanya dan menjauhinya.


🧝" nggak Ra, kamu salah paham, bukan seperti itu, tidak ada batasan diantara kita, dikantor kamu memang bawahanku tapi diluar jam kerja kita adalah teman."


👸" lalu kenapa bapak marah pada saya, tolong tegur saya jika saya melakukan kesalahan pak, jangan seperti ini."


🧝" aku kekosan kamu sekarang!"


👸"hah? ngapain, tapi...Tut Tut Tut" telepon sudah dimatikan sepihak oleh ray.


"udah gila si Ray, ngapain coba malem malem kesini?"


"kenapa sih, ngedumel sendiri?" sahut Arum yang baru pulang dari sif siang.


"tau ah rum aku pusing."


"yah si bege ditanya juga malah pusing,,"


"dunting" satu chat masuk di handphone Amara


💌"aku udah ada didepan" Ray


Amara mengintip dibalik gorden kamarnya.


"aaa...ngagetin aja sih?!" Amara kaget ketika berbalik tiba tiba Arum berdiri dibelakangnya.


"ya abis kamu aneh, ngintip siapa sih?" tanya Arum kepo, arum pun ikut mengintip dibalik gorden,


"oh my God itu siapa Ra, ganteng bangettt, jangan bilang dia nungguin kamu?" Amara menganggukan kepala


"astagaaa kenapa sih kamu selalu dikelilingi cowok cowok ganteng, aku kan juga pengen huaaaa,,"


"haha apaan sih lebay deh, udah ah aku keluar dulu."


"nitip oleh oleh ya aku laper banget nih ya..ya..ya,," mengerak gerakan kedua alisnya.


"aku tuh cuma nemuin didepan nggak kemana kemana kog, Bae.."


"yaaah..Amara nggak asik deh." Amara hanya tersenyum.


melihat Amara datang ray pun keluar dari mobil,


"pak Ray kenapa kesini, ini kan udah malem pak?" bukannya menjawab pertanyaan Amara Ray justru menggandeng tangan Amara dan menuntunnya masuk kedalam mobil serta memakaikannya sabuk pengaman.


"eh..eh kita mau kemana pak ini udah malem?"

__ADS_1


tanpa menjawab ray pun memutar menuju kursi kemudi dan menjalankan mobilnya.


Amarapun enggan bertanya lagi dan membuang muka melihat luar jendela. Ray melirik dan tersenyum tipis, menurutnya Amara sangat menggemaskan saat sedang marah.


"sudah sampai, ayo kita turun!" Ray mengajak Amara ke taman dekat tempat kos amara.amara masih enggan untuk bertanya pada Ray,ia berjalan mendahului Ray dan duduk dibangku taman, Ray berjongkok di depan Amara sembari menggenggam tangan Amara, Amara tersentak tiba tiba Ray menggenggam tanganya.


"aku minta maaf, jika aku membuatmu tidak nyaman, aku minta maaf jika sifatku kekanak Kanakan, aku hanya ada sedikit masalah, apa kamu mau memaafkan aku?"


" pak Ray, aku.."


"Ssttt.." Ray menempelkan jari telunjuknya dibibir Amara,


"apa aku boleh memintamu memanggilku kak saat diluar jam kerja? Amara mengangguk pelan, Ray tersenyum dan mengacak rambut Amara pelan.


"kamu sudah makan?" Amara menggeleng


"ok, kalau begitu kita cari makan, kamu mau makan apa?"


"terserah kak Ray!" lagi lagi Ray tersenyum, sungguh Ray sangat senang Amara mau memanggilnya kak.


"Emm..gimana kalau kita restauran xxx, Amara menggeleng


"aku ingin ketoprak itu" tunjuk Amara pada pedagang ketoprak gerobak, yang usianya sudah tidak muda lagi.


"kamu yakin? apa kamu pernah mencobanya?" Amara menggeleng


"coba kakak lihat, diusianya yang sudah tidak muda lagi, seharusnya beliau ada dirumah tanpa harus bekerja, aku ingin membantunya dengan membeli dagangannya,,"


Ray semakin terpesona dengan Amara, bukan hanya parasnya yang cantik hatinya juga cantik. bahkan dia sendiri tidak kepikiran untuk itu, sungguh Ray merasa malu pada Amara.


"tunggu apa lagi ayo kita kesana, pak.. ketopraknya 2 makan disini ya,," ucap ray


" sedang aja pak."


"siap den."


sembari menunggu pesanan ketopraknya, Ray mencari minum, di pedagang gerobak yang lain.


Ray memilih es teh manis untuk menemaninya makan ketoprak. sedangkan Amara duduk lesehan beralaskan karpet kecil yang disediakan tukang ketoprak tersebut.


"maaf ya, aku lancang beliin kamu es teh manis" ucap Ray yang datang dengan dua gelas es teh manis ditangannya.


"wah..pas banget, padahal aku tadi juga mau pesen ini tapi aku nungguin kakak mau minum apa."


pesanan ketoprak mereka pun datang,


lalu mereka mulai memakannya, Ray makan dengan sangat lahap.


"enak ya kak?"


"h.m ini enak banget Ra, kayaknya aku bakal ketagihan pengen makan ini lagi.


Ray melihat ada bumbu kacang disudut bibir Amara,


"Ra.."


"hemm.." Amara mengangkat wajahnya, Ray mendekatkan wajahnya pada wajah Amara dan saling beradu pandang, Amara menegang. sedetik kemudian ray mengusap bumbu kacang disudut bibir Amara dengan ibu jarinya tanpa rasa jijik sedikitpun. Amara terpaku dengan perlakuan Ray.


"ada saos kacang,"

__ADS_1


"oww, iya." Amara pun sontak membersihkan bibirnya kembali dengan tangannya, Ray hanya tersenyum melihat tingkah Amara.


"dikos kamu ada berapa orang?"


"ya banyak lah kak, mana aku tau orang kosan gede gitu,


"bukan, maksud kakak teman teman kamu, atau yang kamu kenal mungkin."


Amara komat Kamit menghitung dengan jarinya,


" 13 sih kalau yang aku tau, tapi kalau temen aku cuma Arum, kenapa sih kak? emm.. aku tau, pasti ada yang kakak taksir kan disana hayo ngaku,,"


"ngaco kamu, nggak lah kakak cuma mau bungkusin buat mereka."


" hemm,, buat mereka apa buat kak Hesti..? goda Amara


"Hesti? jadi Hesti itu teman kos kamu?"


"iya, kenapa mau kirim salam?" Ray tersenyum


"bentar ya aku pesan dulu." setelah selesai memesan untuk dibungkus Ray kembali duduk disamping Amara. Ray terus memandang Amara, pandangan yang susah untuk diartikan, Amara yang sadar tengah diperhatikan menjadi tidak nyaman.


"kak Ray kenapa sih, ngeliatin aku Mulu?"


bukaannya menjawab tangan Ray justru terulur membenarkan anak rambut Amara yang tertiup angin menutupi sebagian wajahnya, dan menyelipkannya kebelakang telinga amara dengan lembut dan mengelusnya. lagi lagi Amara tertegun dengan perlakuan Ray.


"kak Ray kenapa sih, sikapnya berubah 180⁰ tadi aja, seharian jutek banget, sekarang manis banget dasar ABG labil." batin Amara menggerutu


"ini den pesanannya sudah siap!" ucap bapak tukang ketoprak


"iya pak, terimakasih." lalu Ray mengeluarkan uang lima lembar seratus ribuan dan memberikannya kepada bapak paruh baya tersebut.


" maaf den ini kebanyakan, dua saja masih ada kembaliannya den." sambil menyodorkan uang itu kembali


" udah pak ambil aja, anggap saja ini adalah Rizki bapak hari ini."


"makasih den, Aden orang baik semoga dilancarkan semua urusan Aden, diberikan umur yang panjang dan semoga hubungan Aden dan Eneng langgeng terus sampai maut memisahkan."


" tapi kami bukan..."


"amiiin, amin pak." Ray menyela perkataan Amara, dengan senyum yang mengembang.


_


_


Ray merebahkan tubuhnya diranjang king size nya. senyum bahagia terpancar dari raut wajahnya.


"Amara..Amara, kamu membuat aku gila, aku janji aku akan melakukan apapun untukmu sampai kamu benar benar menjadi milikku" Dan ray pun tertidur dengan membawa Amara kedalam mimpi indahnya.


***happy reading dears, jangan lupa tinggalkan jejak ya🥰***


_vote


_like


_ komen


**sampai jumpa di eps selanjutnya**

__ADS_1


__ADS_2