
"Ray memang keterlaluan." Mama ana terlihat marahย
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Siang berganti sore dengan cepat, Amara pulang dari resto di antar oleh Miko, tanpa membersihkan diri lebih dulu Amara sudah terlelap hanyut dalam dunia mimpi.
Ray yang juga baru pulang kerja merasakan sangat sepi saat memasuki rumah, tidak ada sambutan dari sang istri seperti dulu lagi. Jangankan untuk disambut tidur saja mereka berpisah. Ray menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu dengan kepala mendongak ke atas dan mata terpejam, pikirannya menerawang jauh sampai kapan hubungannya dengan Amara akan menjadi dingin seperti ini.
Ajeng menatap Ray dari jauh merasa kasihan dengan hubungan tuan dan nona nya itu.
"Andai ada yang bisa Ajeng lakukan pasti akan Ajeng lakukan demi menyatukan keduanya.
"Tuan ketiduran disana sedangkan nona juga sudah tidur di kamar tamu. Pasti mereka sangat lelah." Gumam ajeng
Ray membuka mata dan teringat pada istrinya yang belum terlihat atau pun terdengar suaranya.
"Ajeng.." panggil ray
"Iya tuan. Tuan butuh sesuatu?"
"Tidak. bukan, Apa istriku sudah pulang?"
"Sudah tuan nona ada di kamar tamu."
"Baiklah terimakasih."
Ray segera menuju kamar tamu, dan setelah ia masuk ia disuguhkan dengan pemandangan yang sangat menyentuh hati. Amara tidur meringkuk masih dengan baju yang sama yang ia pakai pagi tadi. sudah pasti Amara juga belum mandi. Ray mendekati Amara duduk berlutut di depan wajah Amara dan menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Amara lalu mengelus pipinya.
"Kamu pasti sangat lelah sayang, maafkan aku karena kebodohanku kamu menjadi seperti ini."
Tangan Ray berpindah menyentuh perut Amara.
"Maafkan papa ya nak.. baik-baik ya di perut mama, jaga mama jika tidak ada papa."
Tangan Ray berpindah lagi meraih tangan kanan Amara lalu diciumnya tangan itu.
"Sampai kapan kamu akan membenciku, sampai kapan kamu tidak mau memaafkan ku dan sampai kapan kamu tidak menganggapku sebagai suamimu?"
Ray menangis sambil mencium tangan Amara lama.
Kemudian Ray pergi sebelum Amara terbangun dan mengganggu tidurnya.
Setelah mendengar pintu tertutup Amara membuka mata, sebenarnya Amara sudah bangun ketika ray mengelus pipinya, tangan Ray yang hangat membuatnya terbangun tetapi Amara tetap berpura-pura tidur. Amara ingin tau apa yang akan Ray katakan padanya.
"Kak Ray menangis?" Gumam Amara sambil menyentuh punggung tangannya yang masih sedikit basah karena air mata Ray.
"Sebenarnya aku sudah memaafkan kamu kak, ya Allah..maafkan aku sudah membuat suamiku merasa tidak aku anggap sebagai seorang suami, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Amara bertanya pada dirinya sendiri
_
_
Malam hariย
Ray kembali menghampiri Amara di kamar tamu.
"Sayang..apa aku boleh masuk?"
__ADS_1
"Iya.."
Ray pun masuk terlihat Amara sedang bersandar pada headboard ranjang matanya terlihat sembab.
"Sayang..kamu kenapa, kamu habis menangis? Apa yang membuat kamu menangis?" Tanya Ray panik
"Kak Ray jahat."
"Aku? Sayang katakan apalagi kesalahanku sehingga membuatmu menangis?"
"Nggak! Keluar sana kak Ray jahat, kak Ray nggak peduli dengan kami."
"Sayang aku jahat bagaimana aku tidak tau aku salah apa, aku minta maaf ya.."
"Nggak mau. Cepat pergi, keluar sana..dasar jahat." Amara melempari Ray dengan bantal dan guling. Saat lemparan bantal terakhir hampir mengenai mama ana yang baru datang, beruntung mama ana dengan sigap menangkap bantal itu.
"Sayang ada apa ini?" tanya mama ana sambil berjalan menghampiri Amara
"Ray berbuat apalagi sama kamu sayang? Biar mama yang beri dia pelajaran."
"Ma..aku tidak melakukan apapun, aku juga tidak pernah lagi bertemu dengan angel."
"Diam kamu!! Dasar anak nakal." Bentak mama ana.
"Lebih baik sekarang kamu keluar, temani papamu di luar."
"Tapi ma.."
"Ray!!"
"Jangan lupa tutup pintunya."
"Iyaโฆ"
_
_
"Nah sayang..sekarang hanya ada kita berdua ada apa, kenapa kamu marah dengan Ray."
"Kak Ray jahat ma..kak Ray nggak peduli sama aku dan anak ini."
"Benarkah? Maksudnya tidak peduli bagaimana coba kamu jelaskan?"
"Kak Ray nggak perhatian, aku capek kakiku pegal tapi kak Ray juga nggak ada sama sekali buat pijitin aku." Sebenarnya mama ana ingin tertawa mendengar penuturan Amara, yang tidak mau berterus terang kepada Ray tapi malah uring-uringan sendiri. tapi mama ana tau hormon orang hamil itu berubah-ubah jadi mama ana tidak mau membuat Amara semakin marah.
"Jadi Ray tidak mau mijitin kamu?"
"Iya..aku tuh maunya kak Ray punya inisiatif sendiri Jangan menunggu disuruh terus."
"Iya..ya..mama mengerti sayang Ray memang keterlaluan. Sudah ya nanti biar mama yang beri dia pelajaran. Kamu sudah makan?" Amara menggeleng
"Kak Ray juga tidak bertanya aku sudah makan apa belum, atau aku mau makan apa?"
"Ya sudah kita makan ya sekarang..tadi mama bawa menu kesukaan kamu."
"Iya ma?"
__ADS_1
"Iya dong sayang..kita keluar yuk." Amara mengangguk.
Ray dan papa Dirga sudah menunggu mereka di ruang makan, Ray segera berdiri saat melihat Amara dan mama ana berjalan ke arahnya.
"Duduk sini sayang.." Ray menyiapkan tempat duduk untuk Amara.
"Kamu mau makan pakai apa?"
Amara melihat beberapa menu tetapi tidak ada yang membuatnya berselera
"Aku mau makan masakan mama aja, katanya mama bawain buat aku?"
"Oh iya sebentar ya sayang sepertinya ketinggalan di mobil biar diambil sama papa ya, Pa cepat ambil." ucap mama ana
"Sebentar ya nak." Ucap papa Dirga.
Amara tersenyum senang melihat Papa Dirga kembali dengan membawa kotak makanan ditangannya, kemudian mama ana meraihnya dan membuka kotak tersebut Tiba-tiba Perut Amara bergejolak saat kotak makanan itu di buka, Amara segera berlari menuju wastafel untuk memuntahkan isi perutnya.
Mama ana dan pak Dirga di buat heran dengan tingkah Amara yang tiba-tiba berlari, Ray segera menyusul istrinya
"Hoek..Hoek"
Amara memuntahkan isi perutnya, keringat dingin membasahi keningnya, dengan telaten Ray memijat tengkuk Amara serta menghapus keringat yang ada di keningnya.
Mama ana dan papa Dirga menghampiri menantunya
"Amara tidak apa-apa Ray?" Tanya papa Dirga
"Amara tidak bisa mencium bau sambal petai pa, ma.
"Maaf ya ma..Amara tidak bisa makan sambal yang mama bawa." Ucap Amara lemah,
"Mama yang minta maaf sayang mama tidak tau." Ray menggandeng istrinya menuju kamar.
Mama ana pergi ke dapur membuatkan Amara teh hangat.
Ray mengusap-usap kening Amara pelan dengan pandangan yang sangat tulus.
Kemudian mama ana masuk dengan membawa teh hangat
"Minum dulu sayang.."
"Maafin mama ya sayang gara-gara mama kamu jadi lemas begini."
"Nggak apa-apa kok ma mama kan nggak tau. Makasih ya ma tehnya."
"Ajeng sudah menyingkirkan sambalnya, ayo kita makan lagi atau kamu ingin makan yang lain?" tanya ray
"Martabak telur, sama es Boba alpukat."
"Siap sayangku..aku akan membelikannya sekarang."
"Tapi ingat martabaknya yang Abang-abang gerobak."
"Iya sayangโฆ"
๐๐๐Bersambung๐๐๐
__ADS_1