Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 122 : Menangis pun tidak ada artinya


__ADS_3

Ray merasa lelah kemudian menjatuhkan tubuhnya di bawah tangga.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Mama ana dan pak dirga menghampiri Ray.


"Apa yang kamu tangisi Ray, kamu yang membuat semua kekacauan ini, kamu yang telah menghancurkan hidupmu sendiri, puas kamu sekarang membuat mama dan papa kehilangan menantu dan cucu kami." 


"Papa dan mama sangat kecewa denganmu Ray, sekarang terserah kamu mau bagaimana melanjutkan hidupmu kami tidak akan ikut campur lagi." Kemudian pak Dirga dan mama ana meninggalkan Ray.


_


_


Di tempat lain di sebuah apartemen mewah,disinilah Amara dan kedua orang tuanya tinggal untuk sementara waktu.


Tadinya memang Amara bersedia untuk tinggal dirumah pak Dirga tapi Amara berubah pikiran.


Flash back on


"Berhenti pa!!"


"Berhenti, kamu mau ngapain sayang, mau sesuatu?"


"Berhenti dulu pa." Kemudian pak Dirga menghentikan mobilnya.


"Sayang kamu mau ngapain?"


"Kami turun disini saja ma."


"Tapi kenapa sayang tadi kan kamu sudah setuju untuk tinggal bersama mama dan papa untuk sementara waktu."


"Ma..pa..maafkan Amara, tapi Amara yakin setelah kepergian kami Ray pasti akan mencari kami dan tujuan utamanya adalah rumah mama, meski mama dan papa menutupi keberadaan kami Ray pasti akan mencari di setiap ruangan rumah mama."


"Lalu kamu mau kemana sayang?"


"Aku akan mencari penginapan di dekat sini ma."


"Baiklah biar mama carikan, kamu mau kan?" Amara mengangguk kemudian mereka melanjutkan perjalanan untuk mencarikan Amara penginapan, pak Dirga ingat jika sahabatnya mempunyai apartemen di dekat sini akhirnya pak Dirga melajukan mobilnya menuju apartemen.


Flashback off


_


_


"Kamu istirahat ya nduk..jangan sedih lagi, ibu juga ikut sedih kalau kamu sedih." ucap ibu Jumiati begitu sampai di apartemen


"Maafkan Amara ya Bu..pak..Amara selalu merepotkan kalian, dan sampai detik ini Amara masih belum bisa membahagiakan kalian."


"Tidak nak..kamu tidak pernah merepotkan kami, Kamilah yang seharusnya minta maaf sebagai orang tua kami tidak tau apa yang kamu alami selama ini sangat berat."


"Iya pak, mulai sekarang kita lupakan semuanya kita mulai lagi dari nol ya pak."


"Iya nak, dan kamu harus ingat apapun keputusan kamu bapak dan ibu akan selalu mendukung kamu."


_


_


Pagi-pagi sekali Amara sudah bersiap menunggu jemputan yang ia pesan untuk pulang ke Surabaya bersama orang tuanya, karena kondisinya yang sedang hamil mau tidak mau Amara harus menunggu sampai anaknya lahir baru akan mengurus surat perceraiannya.


Amara memilih untuk naik travel agar lebih nyaman dan langsung sampai di rumahnya juga lebih hemat, apalagi dengan kondisi yang sedang hamil Amara tidak ingin berdesakan dengan penumpang yang lain.


Begitu juga dengan Ray, fillingnya sangat kuat Amara pasti pulang ke Surabaya, untuk itu dia juga sudah bersiap untuk menyusul Amara di surabaya ditemani oleh bagas menggunakan pesawat terbang agar lebih cepat.

__ADS_1


Sejak tadi malam Ray tidak tidur, setelah dari rumah mama ana Ray pulang dan menyusun rencana agar Amara mau menerimanya kembali.


_


_


Mama ana tengah menyiapkan sarapan dan ia masukan dalam kotak susun, rencananya mama ana akan mengunjungi Amara ke apartemen dan membawakannya sarapan.


"Mama sudah siap?" Tanya pak Dirga


"Sudah pa, ayo kita berangkat."


"Mama tadi sudah memberi kabar pada Amara bahwa kita akan datang?"


"Belum pa, mama mau membuat kejutan untuknya, lagi pula Amara mau pergi kemana pa sepagi ini."


"Baiklah terserah mama."


Satu jam kemudian pak Dirga dan mama ana telah sampai di apartemen mereka pun segera menuju lantai dimana Amara tinggal, berkali-kali mama ana memencet tombol dan mengetuk pintu juga memanggil Amara namun tidak ada jawaban.


"Telepon saja ma."Mama ana pun menghubungi Amara tak butuh waktu lama Amara menjawab telepon mama ana.


"Halo sayang, mama ada di depan apartemen kamu cepat buka pintunya."


"Maaf ma tapi Amara sudah dalam perjalanan pulang ke Surabaya."


"Apa?? Kenapa kamu melakukan ini kepada mama Amara, apa salah mama,, sebenci itukah kamu dengan mama dan papa sampai-sampai kamu melakukan ini semua."


"Ma..tolong jangan berkata seperti itu Amara minta maaf, Amara sayang kalian."


"Kamu tega Amara.."


Kemudian mama ana mematikan sambungan teleponnya dan menangis


"Amara pa, dia sudah pergi meninggalkan kita."


"Sabar ya ma.." papa Dirga memeluk istrinya


_


_


Karena Ray dan Bagas naik pesawat mereka pun sampai lebih dulu, saat ini Ray dan Dimas berada di bandara Juanda Surabaya.


Lalu ray dan Bagas menyewa mobil untuk menuju rumah amara.


Empat puluh lima menit kemudian Ray sampai di rumah Amara, tapi rumah tampak sepi dan masih tertutup Ray memanggil Bu Jumiati tetapi tidak ada jawaban kemudian Bu Ida datang menghampiri Ray


"Nak Ray..ada apa nak?"


"Bu Ida apa mertua saya ada di rumah?"


"Loh mereka kan ke Jakarta kemarin bersama nak Ray, apa nak Ray lupa?"


"Bukan Bu..itu, e..anu." Ray bingung untuk menjawab.


"Oh pasti mertua kamu pulang nggak pamit ya."


"I..iya Bu."


"Tapi belum sampai nak Ray,..apa mungkin masih dijalan ya, di telpon saja nak Ray."


"Sudah Bu, tapi tidak ada jawaban."


"Sudah sini tunggu di rumah ibu saja, ayo masuk nak Ray, nak Bagas."

__ADS_1


"Iya Bu."


Ray pun menunggu Amara dan mertuanya di rumah ibu Ida.


Hampir dua jam Ray menunggu di dalam rumah ibu Ida, hingga membuatnya kelelahan dan tertidur, semantara Bagas pamit untuk pulang kerumahnya.


_


_


Amara dan orang tuanya sampai di rumah pukul 13.30 Wib.


"Aduh..aku capek banget Bu."


"Kamu istirahat ya nduk biar ibu masak buat kita makan."


"Makasih ya Bu.."


"Bapak juga mau ke kamar ya nduk."


"Iya pak, bapak juga istirahat ya."


Amara menyentuh perutnya yang mulai terlihat menonjol.


"Maafkan mama ya sayang, kamu harus seperti ini, bukan maksud mama untuk memisahkan kalian dengan ayah kalian sayang tapi mama sudah tidak sanggup lagi hidup bersamanya." Percakapan Amara dengan anak yang masih di dalam kandungannya, ibu Jumiati yang melihat Amara sedang berkomunikasi dengan anaknya merasa sedih dan meneteskan air mata, tidak menyangka nasib anaknya akan seperti ini.


_


_


Ray bangun dari tidurnya lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya


"Astaga sudah hampir sore kenapa aku bisa ketiduran, apa Amara masih belum sampai?"


"Nak Ray sudah bangun, itu mertua kamu sudah pulang tapi sepertinya Amara juga ikut."


"Benarkah Bu kalau begitu saya pamit ke rumah mertua saya Bu Ida."


"Iya nak Ray silahkan."


"Terimakasih banyak Bu Ida atas kebaikan ibu selama ini kepada saya."


"Sama-sama nak..ibu senang bisa membantu nak Ray."


"Mari Bu…" ibu Ida mengangguk, kemudian Ray pergi ke rumah mertuanya


"Assalamualaikum.." salam Ray


"Waalaikumsalam…pyar" ibu Jumiati yang menjawab salam sambil berjalan keluar dan membawa satu gelas air ditangannya sontak kaget dan menjatuhkan gelas yang ada di tangannya melihat Ray berdiri di depan pintu.


"Ibu.." Ray berlari menghampiri mertuanya


"Ibu tidak apa-apa?"


"Ti..tidak apa-apa."


"Apa yang pecah bu..kak Ray?!" Kaget Amara


"Ada apa Bu ribut-ribut?" Pak Hasan juga keluar dari kamar


"Ray!!"


Semua orang dibuat terkejut dengan kehadiran Ray yang tiba-tiba.


🍁🍁🍁Bersambung🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2