
Farah meninggalkan ruangan Kevin dengan perasaan yang tidak bisa diartikan, kata kata Kevin telah menyakiti hatinya, rencana yang ia susun sedemikian rupa tidak berjalan sesuai keinginannya.
"Kamu lihat Vin, aku akan membuat kamu menyesal dan menarik kata katamu." Batin Farah
Sesampainya di mobil Farah menghubungi orang tua Kevin.
"Tuuut.." sambungan terhubung
"Halo Farah, ada apa?"
"Halo om, hiks hiks,,"
"Farah kamu kenapa, apa yang terjadi?"
"Kevin, dia jahatin farah om hiks hiks."
" Farah kamu tenang dulu, ceritakan pada om apa yang terjadi!"
"Pokoknya Farah minta om pulang, kalau om tidak pulang aku akan beritahu papa tentang ini!"
"Jangan Farah, baik om akan segera pulang tapi kamu jangan memberitahu papa kamu tentang ini.
"Tut" Farah mematikan sambungan teleponnya.
"Hemm..kamu lihat Kevin, apa yang bisa aku lakukan."
Farah tersenyum smirk, kali ini farah yakin rencananya akan berhasil.
_
_
Setelah mendapat peringatan dari Farah pak Antoni dan istri memutuskan untuk terbang ke Indonesia hari itu juga. Beliau tidak mau jika Farah sampai mengadukan yang tidak tidak pada orang tuanya.
Begitu sampai di Indonesia tujuan utama pak Antoni adalah apartemen farah.
Setelah sampai di apartemen Farah, pak Antoni langsung menemui Farah. Farah pun menceritakan semua kejadian di malam itu pada pak Antoni dan menambahkan sedikit bumbu.(bukan bumbu dapur ya gaes😛)
"Aku tidak mau tau om, pokoknya pertunangan Farah dan Kevin harus dipercepat.bagaimana jika Farah hamil om, Farah takut."
"Iya farah.om berjanji kamu dan Kevin akan segera bersatu."
Anita mama Kevin memeluk calon menantunya itu dan menenangkannya.
Farah tersenyum penuh kemenangan dalam pelukan Anita.
"Ternyata mereka sangat mudah untuk dikelabui.dasar orang tua matre." Batin Farah.
Setelah keributan yang terjadi di kantor kevin pergi untuk menenangkan diri. Kevin memilih untuk menghabiskan waktunya di club malam. Kali ini kevin tidak ditemani Ray maupun dimas.tetapi Ray ditemani oleh dua wanita penghibur.
Kevin pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri diantar oleh Dimas. Saat tidak sadarkan diri dua orang wanita yang menemani Kevin mengambil dompet serta handphone Kevin. Dan Kevin yang tidak sadarkan diri ditinggalkan begitu saja.
Beruntung penjaga club malam tersebut mengenal Kevin dan juga Dimas. Penjaga tersebut lantas menghubungi Dimas.
"Tin tin" Dimas membunyikan klakson mobilnya dan satpam di rumah Kevin membukakan pintu gerbang.
"Bantu saya pak!" Ucap Dimas
Dimas memapah tubuh Kevin dibantu oleh pak satpam.
Pak Antoni yang memang belum tidur karena menunggu kevin, segera keluar begitu mendengar suara klakson mobil.
"Pulang juga anak itu."
"Ceklek" pak Antoni membuka pintu
"Dimas apa yang terjadi pada Kevin?"
"Kevin mabok om!" Pak Antoni menatap tajam Dimas
"Bukan sama saya om. tadi penjaga club malam menghubungi saya untuk menjemput Kevin."
"Bawa ke kamarnya!"
Selesai mengantar Kevin ke kamar, pak Antoni menghampiri Dimas.
"Apa kamu tau apa saja yang sudah terjadi selama saya tidak dirumah?"
"Maaf om saya kurang tau karena saya dan Ray sibuk dengan kerjaan masing masing. Tapi Kevin kemarin sakit om!"
"Sakit? Sakit apa kenapa tidak ada yang memberitahu saya?"
__ADS_1
"Kata dokter pribadi om sih sakit jantung om."
"Dokter pribadi? Maksud kamu dokter Anwar?"
"Ya iyalah om, memang om punya dokter yang lain." Jawab Dimas ngegas, pak Antoni membulatkan matanya
" Maaf om saya hanya bercanda."
"Kamu yakin Kevin benar benar sakit jantung?"
"Ya kata dokter sih gitu om. Tapi om tenang aja Kevin dirawat dengan penuh kasih sayang oleh bidadari yang sangat cantik."
"Bidadari?"
"Hehehe maksud Dimas Kevin dirawat oleh pacarnya om ups." Dimas menutup mulutnya
"Pacar? Maksud kamu Farah?"
" Bukan om, namanya Amara. Cantik banget loh om mantap." Dimas mengacungkan kedua jempolnya
"Apa kamu mengenal perempuan itu?"
"Kenal sih enggak om, tapi yang Dimas tau dia juga karyawan wings group milik om." Pak Antoni sengaja mengorek informasi lewat Dimas.
"Jadi dia yang membuat hubungan Farah dan Kevin meregang." Batin pak antoni
"Pulanglah sudah malam!"
"Yah! Si om nggak asik masak aku diusir om."
"Terserah!" Pak Antoni meninggalkan Dimas
"Tanda makasihnya nggak ada nih om?" Canda dimas. Pak Antoni menatap Dimas tajam
"Eh iya om, Dimas pulang! Selamat malam om selamat bersenang senang." Dimas pun keluar dari rumah Kevin.
"Dasar om om labil marah marah mulu. Pasti belum pernah jatuh cinta!"
Pak satpam yang mendengar celotehan Dimas menahan senyum.
_
_
"Ah, kepalaku pusing banget!"
"Ceklek" mama Anita membuka pintu
"Pagi Vin..kamu sudah bangun?"
"Mama..kapan mama pulang?"
"Tadi malam sayang, sudah cepetan mandi! papa sudah menunggu di bawah untuk sarapan.
_
"Papa kapan pulang?" Tanya Kevin sambil menarik kursi
"Tadi malam Vin. Sejak kapan kamu mabuk mabukan?"
"Maaf pa Kevin diajak reunian oleh teman teman kampus Kevin. Dan Kevin sedikit minum karena mereka juga minum, Kevin tidak mungkin menolak pa."
"Kata Dimas juga kamu kemarin sakit?"
"Iya pa. Hanya demam biasa!" Pak Antoni menganggukan kepalanya pura pura percaya
"Baiklah! Ayo kita sarapan."
"Berani kamu membohongi papa Vin." Batin pak Antoni.
" Oh ya Vin papa ingin berkunjung ke kantor apa kamu keberatan?" Ucap pak Antoni di sela sela makannya.
"Tentu boleh pa. Itu kan kantor papa."
"Tapi kan papa sudah menyerahkannya padamu!"
"Tetap saja bagi Kevin papalah yang lebih berkuasa."
"Bisa saja kamu Vin, sudah cepat lanjutkan makanannya.
_
__ADS_1
_
Amara berangkat ke kantor diantar oleh Ray. Setelah melalui perdebatan panjang yang penuh drama akhirnya Amara mau juga diantar oleh kevin.
"Kak! Aku turun disini saja ya?"
"Kenapa ini masih jauh Amara."
"Kak aku takut nanti apa kata karyawan yang lainnya."
"Jangan dengarkan kata orang." Ray tetep melajukan mobilnya hingga parkiran kantor.
"Kak! aku masuk duluan ya?" Pamit Amara yang langsung berjalan meninggalkan Ray.
"Amara Amara lucu banget sih kamu." Ray sangat gemas melihat tingkah Amara saat sedang khawatir.
Amara sampai di pelataran kantor. Dia berpapasan dengan salah satu teman Hesti di kantor yang bernama Lia.
"Ciee, ada mangsa baru nih."
Amara tidak menggubris dan tetap berjalan hingga sampai di depan pintu dan..
BRUUK!!
Lia sengaja mendorong Amara hingga terjatuh.
"Mm..sorry ya aku nggak sengaja. Lia mengulurkan tangan untuk Amara. Tanpa curiga Amara menerima uluran tangan itu. Saat amarah sudah setengah berdiri Lia melepas uluran tangannya hingga Amara kembali terjatuh. Amara memakai rok span selutut dan high heels.sehingga membuatnya kesusahan untuk berdiri.
"Dasar pelakor!" Lia membisikan kata itu di telinga Amara lalu meninggalkannya.
Satpam kantor yang melihat kejadian itu menghampiri Amara dan membantunya berdiri.
"Mbak Amara tidak apa apa?"
"Saya tidak apa apa pak! Makasih ya pak saya masuk dulu."
Amara berjalan menuju ruangannya. Banyak karyawan yang sudah berangkat. Sejak Amara masuk hingga menuju ruangannya banyak pasang mata yang memperhatikannya dan saling berbisik.
"Dasar pelakor."
"Kelihatannya aja sok polos ternyata pelakor."
"Pengen gue cakar deh muka sok polosnya itu."
Begitulah bisik bisik yang Amara dengar.
Hesti menghampiri Amara.
"Pagi Bu Amara.."
"Huuu.." sorak karyawan lain.
"Duh..kok gue takut ya punya temen yang sok polos tapi pelakor." Sindir Lia pada Amara.
Amara tetap diam. Berusaha untuk setenang mungkin.
"Kamu tenang aja Lia. Incaran dia itu kalau bukan bos ya om om hidung belang." Sahut Hesti.
"Dasar murahan!"
"Dasar wanita penggoda!" Karyawan yang lain ikut menimpali
Amara tidak bisa lagi menahan air matanya.
"Yah nangis. Kok nangis sih? Pelakor kok nangis." Ucap Hesti lagi.
"Hahaha.." Suara tawa memenuhi ruangan itu.
"Ada apa ini ribut ribut?" Tanya Ray yang baru datang, semuanya menunduk tidak berani menjawab
Amara menyeka air matanya.
"Amara kamu kenapa?"
"Saya tidak apa apa pak, permisi. Amara masuk ke dalam ruangannya. Ray memperhatikan semuanya
"Kembali ke tempat kalian masing masing!" Mereka pun berlari kembali ke tempatnya masing masing.
Dari luar sayup sayup Ray mendengar kata pelakor kok nangis disusul dengan suara tawa yang riuh. Ray pun segera memasuki kantor. Ray merasa terjadi sesuatu dengan amara. Saat Ray masuk Ray melihat Amara yang berdiri membelakanginya dengan di depannya ada Hesti sementara yang lain berdiri bergerombol.
***happy reading***
__ADS_1