
Sinar mentari telah menampakkan cahayanya. Suara burung burung kecil saling bersahutan.
Begitu pun Amara yang telah siap dengan blouse polos berwarna coklat susu dan rok span berwarna hitam serta high heels yang senada dengan warna blouse nya. Rambut panjangnya ia buat sedikit curly dan ia biarkan tergerai indah membuat kecantikannya semakin terpancar.entah mengapa hari ini terasa berbeda bagi Amara, hatinya sangat bahagia senyum manis selalu Terpancar di bibir sexy nya.
"Drtt drtt drtt" handphone Amara berbunyi
"Iya kak?"
"Aku udah di depan." Lalu mematikan sambungan teleponnya. Amara melihat dari gorden kamarnya lagi lagi senyum bahagia terbit di bibir sexy nya.
Ray benar benar terhipnotis oleh kecantikan Amara. Sejak Amara menghampirinya hingga memasuki mobil Ray sama sekali tidak memalingkan pandangannya bahkan untuk berkedip rasanya sangat berat.
"Kak Ray kenapa sih?"
"Sempurna.."
"Hah? Apanya? Tanya Amara bingung
Bukannya menjawab Ray justru mengacak pelan rambut Amara. Ray tiba tiba mendekat membungkukkan sedikit badannya. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Amara hanya berjarak sejengkal. pandangan matanya menatap Amara dalam. Kemudian mendekatkan wajahnya di samping telinga Amara
"I love you cantikku." Blush wajah Amara memerah tiba tiba wajahnya terasa panas. Amara mengibas ngibaskan tangannya dan menarik nafas untuk menetralkan kondisi tubuhnya. Ray tersenyum dan kembali membungkukkan badanya Amara memundurkan wajahnya. Lagi lagi Ray tersenyum tanganya bergerak memasangkan seatbelt untuk amara lalu mengacak rambut Amara lagi dan mulai menjalankan mobilnya.
_
_
Seperti biasa Amara keluar lebih dulu dari mobil Ray setelah dirasa keadaan cukup sepi.
" Aku duluan ya kak." Tanpa menunggu jawaban dari Ray Amara langsung meninggalkan Ray begitu saja.
Karena Amara berangkat agak siang karyawan kantor pun banyak yang sudah berangkat. Amara disambut tatapan sinis dari para karyawan yang tidak menyukainya yang kebanyakan karyawan perempuan. Kali ini Amara tidak peduli dengan orang orang yang tidak menyukainya seperti yang Ray katakan "Jangan dengarkan orang lain yang tidak menyukaimu"
Amara bergegas masuk ke dalam ruangannya
"Pagi mbak.."
"Pagi Ra! Kok tumben sih baru berangkat."
"Iya mbak tadi nunggu temen."
"Hemm temen apa temen..?" Goda Risya
"Apaan sih mbak ih."
"Hahaha kok merah sih muka nya..cieeee"
Mereka pun memulai pekerjaannya.
Hari ini pak Antoni yang memimpin Perusahaan menggantikan posisi Kevin. Karena Kevin harus mempersiapkan acara pernikahannya sesuai permintaan pak Antoni.
"Ceklek permisi..Mbak Amara di minta untuk segera menemui pak Antoni di ruangannya!"
"Iya mbak terima kasih."
"Kenapa?" Amara mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
"Aku kesana dulu ya mbak!"
"Duh.. kok perasaanku tiba tiba nggak enak ya?" Batin Amara saat akan memasuki ruangan Kevin yang kini ditempati pak Antoni. Amara memegangi dadanya sambil menarik nafasnya kasar.
"Tok tok tok"
"Masuk!" Dengan pelan Amara memasuki ruangan itu dan berdiri didepan pak antoni
"Permisi pak, bapak panggil saya?"
"Duduk!" Amara Pun duduk
"Kamu yang bernama Amara Andini?"
"I..iya pak!"
"Saya rasa saya tidak perlu basa basi. Ini.." Pak Antoni menyodorkan amplop putih.
"Ini..?"
"Buka!" Perintah pak Antoni. Amara Pun membukanya
"Surat pengunduran diri? Tapi pak saya tidak pernah membuat ini saya.."
"Kamu memang tidak pernah membuatnya. Sayalah yang membuat." Ucap pak antoni seraya berdiri menuju jendela kaca membelakangi Amara.
"Saya tidak mengerti apa maksud bapak?"
"Kamu tidak perlu mengerti. Yang harus kamu lakukan adalah menandatangani surat itu dan angkat kaki dari perusahaan saya!"
"Saya tidak suka ada sampah berkeliaran di perusahaan saya."
"Sampah? Maksud bapak saya adalah sampah?"
"Hmmm.. ternyata kamu cukup pintar. Tapi sayang sampah tetaplah sampah dan saya tidak suka itu." Ucap pak Antoni berbalik menghadap Amara dengan senyum meremehkan. Amara menitikan air mata.
"Saya mohon pak jangan pecat saya."
"Tidak! Saya tidak akan memecat kamu tapi kamu sendiri yang akan menandatangani surat pengunduran diri itu dan angkat kaki dari perusahaan saya!"
"Saya mohon pak jangan lakukan ini pada saya."
"Saya tahu apa hubunganmu dengan anak saya. Dan saya tidak akan membiarkan kamu mendekati anak saya lagi."
"Tidak pak, itu tidak benar! Saya tidak ada hubungan apa apa dengan pak Kevin. Saya mohon pak jangan pecat saya." Amara mengatupkan kedua tangannya dan memohon.
"Saya tidak akan percaya dengan wanita murahan sepertimu! Sekarang cepat tanda tangani surat itu!" Amara masih diam sambil menangis
"Cepat saya bilang!" Dengan pelan Amara berjalan menuju meja dan menandatangani surat itu.
"Hahaha bagus. Sekarang cepat kamu keluar dari ruangan saya dan kemasi barang barang kamu!"
Amara menangis sambil berjalan menuju pintu keluar.
"Tunggu!" Amara berhenti. Pak Antoni menghampiri Amara dan menyodorkan sapu tangannya.
__ADS_1
"Hapus air mata kamu. Saya tidak ingin pegawai yang lain melihatmu menangis dan curiga." Amara menghapus air matanya kasar dengan kedua tangannya. Lalu keluar dari ruangan itu tanpa mengambil satu tangan yang diberikan pak Antoni.
Dengan langkah cepat Amara menuju ruangannya
"Bruk" Amara menyenggol bahu Ray yang ingin keruangan pak Antoni.
"Amara..maaf ya aku tidak.." Amara tidak menghiraukan ucapan Ray dan pergi begitu saja. Bahkan senyum manis Ray seolah tak terlihat.
"Ceklek"
"Eh lama banget sih Ra ngapain aja?" Amara tidak menjawab tangannya bergerak mengambil kardus dan memasukan barang barangnya ke dalam kardus itu.
"Loh, kok barang barang Lo dimasukin semua, Lo ngapain sih Ra?" Tanya Risya yang sudah mulai berdiri dari duduknya. Amara masih tidak menjawab dan tetap melanjutkan membereskan barang barangnya.
"Ra.." Risya mencekal tangan Amara
"Lo kenapa sih Ra? Jangan diem aja dong?"
Amara terduduk lemas di lantai sambil menangis. tubuhnya seolah tidak mempunyai tenaga lagi.
"Amara.." Risya memeluk dan menenangkannya
"Lo kenapa Ra? Cerita sama mbak jangan kaya gini?"
"Aku..hiks hiks aku..dipecat mbak.."
"Apa? Tapi kenapa? Perusahaan tidak bisa seenaknya pecat Lo tanpa alasan Ra." Amara menggeleng
"Gue akan ngomong sama pak Ray." Risya akan berdiri tapi Amara mencegahnya. Dan menggelengkan kepala.
"Mbak tidak akan bisa berbuat apa apa. Semuanya sudah diatur mbak."
"Maksudnya?" Amara berdiri dibantu Risya. Amara mengambil kardus yang berisi barang barangnya
" Aku pamit ya mbak, maaf jika selama kerja disini aku selalu ngerepotin mbak Risya."
"Ra..mbak nggak pernah merasa direpotkan sama lo. Lo itu udah kaya adik mbak sendiri. Mbak sayang sama Lo.
Katakan Ra apa maksudnya diatur? Biar mbak yang ngomong."
Amara menggeleng
"Nggak mbak. Aku udah terlalu banyak ngerepotin mbak Risya. Aku pamit mbak.." Amara Pun pergi dari ruangan itu.
Amara yang keluar dengan membawa kardus sontak menjadi pusat perhatian karywan yang lain. ada yang kasihan namun banyak juga yang justru merasa senang. Amara terus berjalan hingga sampai di loby kantor dan berpapasan dengan Kevin.
***Apa yang terjadi selanjutnya ikuti terus kisah nya KISAH CINTA AMARA***
dukung KISAH CINTA AMARA dengan cara: *like
*komen dan
* vote
__ADS_1
***happy reading🥰🥰***