
Sore hari pak Hasan, Bu Jumiati, Ray, Amara serta Bagas asyik bercengkrama di teras diselingi suara tawa dari mereka.
Terlihat mereka seperti keluarga bahagia. Rosmala yang melihat interaksi mereka dari depan rumahnya merasa tidak suka kemudian menghampiri mereka bersama Dian anaknya.
"Aduh..asyik sekali maaf ya kalau saya mengganggu waktunya sebentar."
"Tidak mengganggu kok Ros, ayo silahkan duduk..ayo dian duduk." Jawab Bu Jumiati ramah
"Iya bude.." jawab Dian juga yang tak kalah ramah padahal sebelumnya Dian selalu sinis kepada bude dan pakde nya itu.
"Nak.. bikinin minum untuk bibimu dan Dian."
"Iya." Jawab Amara datar. Kemudian pergi ke dapur.
Dian segera duduk ditempat dimana Amara duduk begitu Amara pergi Agar bisa dekat dengan Ray tentunya.
"Oh my God wangi banget sih..baru berdekatan saja wanginya udah memabukkan nggak kebayang aku jika dipeluk gimana ya rasanya bisa pingsan aku Hmm…pasti nyaman banget." Batin Dian mencium aroma maskulin dari tubuh Ray.
"Ini cewek kenapa sih lihatin aku terus." Batin Ray merasa tidak nyaman. Ray ingin menyusul Amara namun Amara sudah datang membawa dua cangkir teh hangat. Amara melirik Dian yang sudah menduduki tempatnya sedang mencuri perhatian terhadap Ray.
"Duduk sini sayang.." Ray mengambil kursi lain didekatnya. Amara tersenyum
"Sial! Amara lagi Amara lagi emang resek nih cewek." batin Mala lagi
"Oh iya mala..ada keperluan apa kamu datang kemari tumben sekali?"
"Mas kok ngomongnya begitu..Mala kan ingin berkumpul juga mumpung Amara dan nak Ray dirumah iya kan Dian."
"Bener pakde kata mama."
"Hashim kemana Mala? Amara melangsungkan lamaran dia tidak datang sampai saat ini pun tidak ada sama sekali datang kesini."
"Mas! Suami saya itu kan.."
"Orang sibuk, banyak pekerjaan. Itu yang mau bibi bilang kan. Pekerjaan itu tidak akan pernah ada habisnya bi. Amara adalah keponakannya dan pak hasan adalah keluarga satu satunya apa pantas mementingkan pekerjaan dibandingkan keluarganya? Maaf jika saya lancang." Potong Ray sebelum rosmala menyelesaikan kalimatnya
"Tau apa kamu tentang keluarga saya?? Kamu bukanlah siapa-siapa di keluarga ini jadi jangan ikut campur urusan keluarga kami." Ucap Hashim yang tiba tiba muncul entah dari mana
"Hashim! Jaga ucapanmu Ray itu calon suami Amara keponakanmu sendiri." Teriak pak Hasan yang sudah berdiri mengimbangi Hashim
"Hem..suami istri saja bisa berpisah apa lagi hanya calon suami belum tentu mereka berjodoh." Amara sudah tidak bisa Menahan diri lagi kemudian berdiri dan mengeluarkan suara.
"Cukup paman! Paman keterlaluan. Sudah cukup selama ini kami selalu mengalah. sudah cukup kalian selalu menginjak injak kami."
"Ow..hebat ya kamu sekarang. Sudah berani kamu membentak pamanmu. Sudah besar kepala rupanya.. Dasar tidak tau diri!! selama ini siapa yang membantu kamu dan keluargamu inikah balasanmu?" ucap Mala menggebu
__ADS_1
"Membantu? Memangnya apa yang sudah paman dan bibi lakukan untuk keluarga saya ha?? Sekalipun paman dan bibi tidak pernah membantu keluargaku."
"Hei..hei.. gadis kampung. Kamu tidak tau kan kemana orang tua kamu meminjam uang ketika kesusahan mereka meminjam kepadaku, meminjam beras ketika kelaparan, bahkan meminjam uang untuk membeli lauk. Aku yang selalu membantu keluargamu."
"Benar!! Kalian memang membantu memberi pinjaman, tapi kalian itu licik. Kalian memberi bunga yang tidak sedikit itukah yang namanya membantu? Aku tidak bodoh bi..bibi rosmala selalu menyalahkan aku tentang kematian mas Yudha bibi itu picik! bibi Nurjanah bibi menggunakan kelemahanku untuk menekan keluargaku.
"Semua bibi lakukan hanya untuk mendapatkan uang bukan? Bibi itu orang paling licik yang pernah aku kenal."
"Kurang ajar kamu." Rosmala menghampiri Amara kemudian mengangkat tangannya di udara untuk menampar Amara namun Ray berhasil mencekal nya.
"Jangan pernah anda menyentuh calon istri saya atau saya akan membuat pembalasan yang lebih menyakitkan." Mata Ray yang tajam dengan suara tegas mampu membuat rosmala bungkam bukan hanya itu Ray juga memegang tangan rosmala kuat.
"Berani kamu berbuat seperti itu pada istriku??" Hashim menarik kerah baju Ray. Namun bukanya takut Ray justru tersenyum smirk.
"Saya tidak takut dengan siapapun. Lepas.." Hashim masih tidak mau melepasnya
"Lepas saya bilang!!" Teriak Ray dengan suara bariton nya. yang membuat Hashim kaget bahkan semua yang berada disana juga kaget mendengar suara Ray. Hashim pun melepaskan tangannya. Ray membersihkan bajunya menggunakan punggung tangannya seolah jijik karena tangan Hashim telah menyentuh bajunya.
"Kamu tidak punya sopan santun dengan paman dan bibimu. Inikah yang akan kamu jadikan suami amara? Laki- laki yang tidak punya etika ini. Aku yakin mas jika dia menjadi menantumu kamu akan dibuang olehnya."
"Bukan orang tuaku yang dibuang tapi paman dan bibi."
"Amara! Berani sekali kamu berkata seperti itu Kepada kami. Ini pasti ajaran kamu kan?" Tunjuk Hasim pada Ray.
"Apa maksudmu kehilangan semuanya?"
"Anda bisa membodohi mereka tapi anda tidak akan bisa membodohi saya. Akan saya pastikan keluarga saya pak hasan akan mendapatkan haknya kembali." Hashim terdiam dengan nafas yang memburu
"Ayo pulang!" Ajak Hasim kepada rosmala dan dian.
Perdebatan antara dua keluarga tersebut bukanlah hal yang asing bagi tetangga sekitar karena selama ini rosmala selalu mencari keributan dengan keluarga Amara. Jika selama ini Amara dan keluarganya selalu mengalah kali ini tetangga dibuat terkejut dengan perlawanan dari keluarga Amara. khususnya Amara yang selama ini selalu disakiti oleh rosmala.
"Maafkan kami Ray..kamu pasti malu memiliki keluarga seperti kami." ujar pak Hasan setelah kepergian hashim
"Tidak ada yang perlu dimaafkan pak. Bapak tidak bersalah Ray bangga menjadi bagian dari keluarga ini dan Ray janji akan menyelesaikan masalah ini bapak dan ibu tidak perlu khawatir."
_
_
Bagas mengajak Ray berkumpul bersama teman-temannya di pos ronda dekat warung kopi. Awalnya Ray tidak mau namun Amara mendesak dengan alasan agar Ray cepat akrab dengan warga disini akhirnya Ray pun mau.
Teman- teman Bagas yang ramah dan suka bercanda membuat Ray merasa nyaman dan tak butuh waktu lama mereka pun menjadi akrab.
Ray melihat salah satu teman Bagas yang membawa gitar. Ray pun meminjam nya
__ADS_1
"Boleh pinjam gitarnya?"
"Boleh dong bro..pake aja."
"Wah..seru nih ada yang main gitar." Ucap teman yang lain. Ray mengambil posisi yang pas untuk dia bermain gitar.
"Disini aja bro agak tinggian pas banget nih bisa dilihat dari mana saja."
🎼"Jreng…"🎼 Ray mengambil nada
🎶"Duhai engkau sang belahan jiwa
Namamu terukir di dalam pusara
Di setiap langkah ku selalu berdoa
Semoga kita bersama
🎶 Duhai engkau tambatan hatiku
Labuhkanlah cintamu di hidupku
Ku ingin kau tahu betapa merindu
Hiduplah engkau denganku
🎶Dengarkanlah
Disepanjang malam aku berdoa
Bersujud dan lalu aku meminta
Semoga kita bersama
Dengarkanlah
Disepanjang malam aku berdoa
Cintaku untukmu selalu terjaga
Dan aku pasti setia…"
Sebuah lagi dari kangen band "Cinta sampai mati" Ray bawakan
***Happy reading 🥰🥰***
__ADS_1