Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 140 : Pekerjaan baru


__ADS_3

Eps sebelumnya


"Tetap semangat ya, aku yakin suatu saat kamu pasti bisa sukses."


"Amin.."


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Di dalam kamarnya Dion senyum-senyum sendiri mengingat hubungannya dengan Amara semakin dekat.


"Amara..Amara sungguh aku sudah tergila-gila denganmu."


_


_


Pagi hari pukul 05.30


Amara dan ibu Jumiati sudah bergelut di dapur bersama bi isa.


"Biar bibi saja non, ibu yang masak nanti tuan marah."


"Nggak apa-apa bi isa nanti kalau Dion marah aku yang tanggung jawab."


"Iya Isa, lagipula kami tidak enak jika hanya makan tidur disini."


"Itu hal yang wajar Bu, ibu dan non Amara kan tamu disini."


"Sudah bibi kerjain kerjaan yang lain saja biar aku yang masak, ibu juga temani jesen saja."


"Ya udah ibu temani jesen ya."ย 


_


_


"Harum sekali, masak apa bibi kok aku jadi lapar, Amara udah bangun belum ya aku lihat dulu deh."


Kemudian Dion bangun dan bergegas turun untuk melihat Amara apakah sudah bangun atau belum.


Dion melihat bi Isa yang sedang mengepel lantai di ruang tamu.


"Itu bi Isa terus yang masak siapa." Gumam Dion sembari berjalan, Dion pun menuju dapur melihat siapa yang sedang memasak.


"Amara.." panggil Dion


"Dion kamu sudah bangun?"


Dion terpana melihat Amara yang memakai setelan baju tidur dan rambut yang ia sanggul asal-asalan, Dion merasa seperti mempunyai seorang istri.


"Dion..kamu kenapa."


"Em..enggak apa-apa kok, kenapa kamu yang masak kan ada bi Isa."


"Maaf tuan saya sudah melarang non Amara untuk memasak tetapi non Amara tetap memaksa."


"Iya Dion aku yang mau masak buat kamu, aku nggak enak kalau cuma makan tidur gratis disini."


"Apa tadi dia bilang, masak buat aku..aku tidak salah dengar kan." Batin Dion kegirangan.


"Iya terserah kamu, kamu boleh melakukan apapun disini, mau masak atau apa terserah yang penting kamu nyaman disini, setelah ini kamu siap-siap ya kita berangkat bersama."


"Kamu kasih saja alamat kantormu nanti aku berangkat sendiri saja."


"Kenapa apa kamu malu berangkat denganku?"


"Bukan Dion kenapa aku harus malu yang seharusnya malu itu kan kamu, aku hanya tidak enak jika ada yang melihat kita berangkat bersama aku kan anak baru cleaning service lagi nanti apa kata mereka."

__ADS_1


"Amara aku kan sudah.."


"Iya aku tau Dion, tapi terkadang kita juga harus mendengarkan mereka."


"Oke kalau gitu, aku punya ide bagaimana jika kita tetap berangkat bersama tapi aku turunin kamu di dekat kantor."


"Setuju." Jawab Amara dengan senyum manisnya.


"Oh ya jesen belum bangun?"


"Belum, ada apa?"


"Nggak apa-apa aku kangen aja dengan jesen, nanti kita antar jesen dulu ke sekolah baru kita berangkat ke kantor."


"Tidak perlu, untuk sementara jesen izin dulu tidak masuk sekolah sampai aku dapat tempat tinggal yang baru dan jesen akan pindah sekolah."


Tiba-tiba wajah Dion berubah sendu.


"Iya terserah kamu, aku mandi dulu."


"Iya."


_


_


"Ayo berangkat."


"Bentar ya Dion jesen masih rewel." Jawab Amara sambil menggendong jesen


"Jagoan papa kenapa rewel, papa sama Mama kan mau kerja, jesen di rumah ya sama nenek."


"Jesen mau sama mama, mama jangan kelja nanti mama capek, papa aja yang kelja papa kan kuat."


"Sini ikut papa dulu." Dion mengambil alih untuk menggendong jesen


"Mau pa."


"Kalau gitu papa sama Mama kerja dulu nanti papa belikan, mau ya dirumah sama nenek."


"Iya.."


"Anak pintar cium papa dulu dong."


Mereka pun berangkat dengan mobil Dion.


_


_


"Kamu umur berapa sih Dion?"


"Dua lima kenapa?"


"Sudah kuduga kamu pasti masih dibawah aku, tapi kamu hebat ya umur kamu masih di bawah aku tapi pikiranmu, gaya bicara kamu itu kayak udah diatas aku dewasa banget."


"Umur itu kan cuma angka nggak bisa jadi patokan untuk seseorang itu menjadi dewasa atau kekanak-kanakan, buktinya jesen, jesen baru berumur tiga tahun tapi menurut aku dia adalah anak yang pintar dan pengertian, kebanyakan anak seumuran jesen itu masih manja, terus nakal ya nakal ala anak-anak lah ya, tapi jesen enggak dia bisa mengerti, sekali kita kasih pengertian."


"Kamu benar jesen adalah anak yang luar biasa dari kecil dia selalu aku tinggal kerja sampai dia sekolah pun aku tidak pernah menemaninya tapi dia luar biasa tidak pernah rewel sekalipun."


"Jesen masih kecil tapi ganteng banget gimana nanti kalau sudah besar pasti jadi incaran cewek-cewek, pasti papanya ganteng juga ya sampai anaknya kayak gitu."


"Iya ganteng, ganteng banget saking gantengnya dia bisa berselingkuh."


"Jadi kamu berpisah dengan suami kamu karena suami kamu selingkuh?"


Amara mengangguk

__ADS_1


"Gila, parah banget suami kamu udah punya istri secantik kamu masih bisa selingkuh."


"Itu artinya aku nggak cantik kalau aku cantik nggak mungkinlah aku diselingkuhin."


"Ya emang dasar dia aja yang mata keranjang."


"udahlah nggak usah bahas masa lalu."


"Ternyata Amara punya masa lalu yang menyakitkan, kasihan dia harus berjuang demi anaknya dasar laki-laki brengsek aku jadi penasaran seperti apa wajah suami Amara dulu." Batin dion


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Amara sudah mulai bekerja bersama Lusi kepala cleaning service yang tentunya atas perintah Dion yang sebelumnya sudah memberi tahu kepada bagian HRD.


Dion kini berada di ruangannya mengecek kembali pekerjaannya sebelum Mike datang.


Mike menghubungi Dion untuk datang ke ruangannya.


"Pagi pak." Sapa Dion saat memasuki ruangan Mike.


" Pagi, apa semuanya sudah siap?"


"Sudah pak, baiklah ayo kita meeting semua pekerjaanku harus selesai hari ini sebelum kita berangkat besok."


"Maaf pak berangkat kemana?"


"Oh ya aku belum ngasih tau kamu besok kita akan ke paris paman jors butuh bantuan kita."


"Berapa hari pak?"


"Mungkin satu Minggu."


"Apa satu Minggu? Kenapa mendadak sekali."


"Kenapa kamu keberatan, bukankah kita sering bepergian seperti ini?"


"I..iya."


"Bagaimana dengan Amara jika aku pergi tiba-tiba." Batin dion


"Akhir-akhir ini sikap Dion sangat mencurigakan, apa yang sebenarnya Dion sembunyikan." Batin mike mereka sama-sama bergelut dengan pikirannya masing-masing.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Amara kamu bisa membuat kopi?"


"Bisa mbak kenapa?"


"Buatkan kopi lima, teh dua dan air putih lima terus antar ke ruang meeting, kamu tau kan ruang meetingnya dimana?"


"Tapi mbak aku grogi kalau harus ke ruang meeting ini kan hari pertamaku mbak."


"Ya udah kali ini aku maklumi tapi mulai besok siap tidak siap kamu harus mau, cepat buat kopinya."


"Iya mbak."


Setelah semuanya siap Lusi segera mengantar minuman tersebut ke ruang meeting.


Yang pertama mencicipi kopi tersebut adalah Mike, mike menautkan kedua alisnya.


"Lusi siapa yang membuat kopi ini?"


"Gawat jangan-jangan kopinya tidak enak lagi, kampret si Amara bikin masalah aja." Batin Lusi


"Em..anak baru pak, kenapa ya pak?"


"Tidak apa-apa, pergilah."

__ADS_1


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบBersambung๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


__ADS_2