
Seperti yang telah direncanakan hari ini Ray beserta orang tuanya akan pergi ke kampung halaman Amara untuk melamar Amara.
Amara telah siap dengan kebaya batik perpaduan brukat berwarna pastel, dengan tatanan rambut yang disanggul dan di tambahkan sedikit hiasan di bagian kanannya serta dua poni panjang yang dibuat curly, membuat kecantikannya semakin bertambah. apalagi leher jenjangnya yang terekspos terlihat semakin menggoda. Penampilan sederhana namun elegan. Mama ana juga mengenakan Warna kebaya yang sama namun dengan model yang berbeda. Amara berdiri di teras rumah terlihat pak Doni supir pribadi pak dirga yang telah memasukkan banyak barang kedalam bagasi mobil.
Tiba tiba sebuah tangan melingkar dipanggang rampingnya. siapa lagi pelakunya jika bukan Ray.
"Kak Ray! Lepas ah nanti ada yang lihat."
"Biarin kita kan sebentar lagi akan bertunangan jadi nggak masalah dong kalau hanya sekedar memeluk kamu."
"Ya nggak masalah kak kalau ditempat yang wajar lah ini di depan rumah malu dong diliatin orang. lihat tuh pak Doni sedang menertawakan kita."
"Iya..ya..nyonya Rayen dirgantara."
"Cup" ray mengecup singkat leher belakang Amara.
"Kak Ray!" Protes Amara yang diprotes hanya nyengir kuda.
"Ehem" Ray dan Amara menoleh
"Mama.." Amara kemudian menghampiri mama ana
"Ma kenapa banyak sekali barang yang dibawa?"
"Oh ya masak?? Amara mengangguk
"Sayang..mama ini mau melamar kamu, ya harus banyak dong. Malah kata papa ini masih kurang."
"Ma ini kan acara lamaran sederhana mama nggak perlu membawa banyak seserahan."
"Siapa bilang ini acara lamaran sederhana?" Amara terlihat bingung
"Sudah nak tidak perlu dipikirkan." Ucap pak Dirga yang baru muncul
"Apa semua sudah siap pak Doni" tanyanya kepada pak Doni.
__ADS_1
Pak Dirga memang orang yang rendah hati dan sangat baik dia selalu menghormati orang yang lebih tua darinya tak peduli siapapun itu termasuk pak Doni supir pribadinya yang usianya lebih tua darinya. Tak heran jika semua yang bekerja untuk keluarga dirgantara sangat setia dan saling menghargai.
"Semua sudah siap pak." Jawab pak Doni
"Kamu sudah menghubungi tantemu Ray?"
"Sudah pa Tante sudah siap."
"Baiklah ayo kita berangkat!"
Mereka menggunakan dua mobil mewah satu ditumpangi Ray dan satu ditumpangi pak Dirga.
_
_
Sementara di kediaman pak Hasan tengah disibukkan dengan pemasangan tenda dan panggung yang cukup besar di teras rumahnya dengan Bagas yang mengatur. Bagas adalah teman sekaligus bawahan ardi. Pak Hasan menyerahkan semuanya kepada mereka. Ardi dan Bagas berbagi tugas sementara Bagas mengatur dekorasi rumah Ardi mengatur keperluan Bu Jumiati dari ketering hingga perintilan -perintilan kecil sekalipun. Seperti saat ini kini Ardi tengah mengantar Bu Jumiati ke pasar karena masih ada yang kurang.
Ardi dan Bagas sampai di kediaman pak Hasan tadi malam pukul 23. 20.
Bagas sendiri juga bekerja di kantor pak Dirga sebagai staf marketing. Dan suatu kebanggaan bagi Bagas bisa membantu keluarga atasannya itu.
Dari jam tiga pagi ardi dan bagas sudah terbangun untuk memulai pekerjaannya bersamaan dengan pak Hasan dan Bu Jumiati.
Pak Hasan memberi tahu adiknya pak Hasim tentang acara lamaran Amara. berharap pak Hashim dan keluarganya turut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan. Karena hanya pak Hashim saudara yang pak Hasan punya.
"Jadi begini hashim..rosmala.. hari ini keponakan kalian amara akan dilamar seseorang dari jakarta. Saya harap kalian untuk datang."
"Kapan mas akan membayar hutang mas?" Bukanya menanggapi undangan pak Hasan Mala justru membahas hutang pak Hasan.
"Mala saya pasti akan melunasinya tapi tolong untuk saat ini jangan bahas itu dulu. Keponakan kalian akan bertunangan hari ini kita bahas itu dulu ya."
"Pokoknya saya tidak mau tau begitu acara selesai mas lunasi semua hutang hutang mas. Mas saja mampu menyewa tenda dan membuat acara lamaran besar besaran tapi tidak mampu membayar hutang."
"Mala ini semua calon suami Amara yang membiayainya. Kalian tau sendiri bagaimana keadaanku dapat uang dari mana aku membuat pesta sebesar ini."
__ADS_1
"Iyalah mas kan miskin."
"Diam semuanya!" Bentak Hashim kepada pak Hasan dan istrinya. "Baiklah mas kami akan datang. Tapi saya tidak bisa lama lama mas tau sendiri kan saya sibuk. Jadi biar Mala nanti yang menemani hingga acara selesai."
"Iya tidak apa apa Hashim yang terpenting kamu mau datang." Jawab pak Hasan dengan senyum bahagia. Ada rasa lain yang Hashim rasakan melihat kakaknya itu tersenyum bahagia. Sudah lama Hashim tidak melihat Hasan tersenyum bahagia. Namun Hashim menutupi jika dia juga ikut bahagia karena istrinya sangat membenci Amara.
"Terimakasih Hashim..mala..kalau begitu saya permisi."
"Heem." Mala hanya berdehem bahkan tidak ada apapun yang mereka suguhkan untuk pak Hasan.
Padahal dulu jika Hashim yang kerumah pak Hasan Amara selalu membuatkannya secangkir kopi dan juga cemilan meskipun pak Hashim hanya sebentar.
"Heh..sombong sekali mereka. Aku yakin mas Amara pasti sedang hamil itu sebabnya mereka tiba tiba melangsungkan pertunangan. Aku juga yakin calon suami Amara itu bukan orang kaya. Orang miskin jodohnya juga pasti miskin."
"Kamu dengar sendiri kan tadi, calon suami Amara yang membiayai semuanya jadi mana mungkin dia orang miskin."
"Alah mas itu hanya kilah Hasan saja agar tidak membayar hutang kepada kita. Paling juga ngutang lagi kakakmu itu. Kerjaannya kan memang berhutang." Sewot Mala kemudian pergi.
Kini persiapan sudah seratus persen dari katering, makanan ringan semuanya sudah selesai bahkan Ardi juga menyiapkan souvenir untuk tamu undangan yang menghadiri pesta Amara nanti. pak Hasan dan Bu Jumiati juga telah selesai didandani oleh tukang rias dari dekor tersebut untuk pakaiannya sudah disiapkan oleh Ardi kiriman dari mama ana. Pakaian yang sama yang mama ana dan pak Dirga kenakan juga saudara mama ana. Kini bu jumiati dan pak Hasan tengah menyambut para tamu yang datang. Bahkan orang tua bagus pun turut menghadiri acara tersebut. Yang kini sedang duduk bersebelahan dengan Bu Jumiati yang sesekali terlihat Bu Jumiati tersenyum.
"Saya tidak tau Lo Bu kalau ternyata ibu Jumiati dan pak Hasan ini orang tuanya mbak Amara. Yang sebentar lagi akan menjadi nyonya besar Bu.." ucap Isti ibu bagas.
"Iya Bu tidak apa apa. Rumah kita kan jauh wajar kalau tidak tau."
"Bagas itu juga bekerja di perusahaan menantu ibu itu. Mereka baik banget Bu kata anak saya."
"Iya Bu alhamdulilah kalau begitu."
_
_
Ardi segera memberitahu pak Hasan dan Bu Jumiati jika mobil Ray dan Amara telah memasuki perkampungan setelah tadi mendapat pesan dari ray. Pak Hasan segera bersiap untuk menyambut rombongan begitupun Bu jumiati dan para tamu undangan berdiri untuk memberi sambutan. Terlihat iring iringan tiga mobil berhenti di jalan depan rumah Amara.
Rombongan Ray kini bertambah menjadi tiga mobil mewah. Ditambah mobil Tante Hana dan paman yoga adik dari pak Dirga atau orang tua Ardi. Setelah tadi memperkenalkan Amara dirumah Tante Hana.
__ADS_1