
Ray dan Amara berdansa di tempat khusus yang telah disiapkan. Dengan dekorasi yang romantis dan alunan musik yang romantis pula membuat pasangan yang baru saja sah menjadi pasangan suami istri tersebut semakin hanyut dalam kemesraan. Amara mengalungkan kedua tangannya di leher Ray dan Ray memeluk pinggang Amara posesif.
Kevin mengepalkan kedua tangannya melihat kemesraan mereka. farah pun sama dia tidak suka melihat Amara yang tampak bahagia bersama ray. Sementara pak Antoni bergabung bersama pak dirga dan pak Hasan.
"Terimakasih Antoni kamu sudah menyempatkan waktu untuk datang kemari."
"Tentu saja Dirga, demi memenuhi undanganmu aku meluangkan waktuku."
"Iya aku tau kau memang orang sibuk."
"Ya begitulah. Jadi ini ayah dari menantumu itu? Halo pak kita belum berkenalan." Ucap Antoni sambil mengulurkan tangan kepada pak hasan. Dengan senang hati pak Hasan pun menyambutnya.
"Saya Hasan pak. Orang tua Amara."
"Jadi pak Hasan ini seorang pengusaha juga? Di perusahaan apa pak? Apa perusahaan sendiri?"
"Eee..bukan pak saya.."
"Saya yakin pak anda pasti seorang pengusaha sukses dan kaya raya."
"Anda salah pak, saya bukan seorang pengusaha. Saya hanya seorang petani dan saya hanya orang kampung."
"Oh..dari kampung.. seorang petani rupanya saya kira pengusaha." Pak Antoni sengaja mengeraskan suaranya untuk mempermalukan pak Hasan.
"Bukan pak.." jawab pak Hasan canggung, bukan canggung mungkin malu karena semua tamu melihat kearah pak Hasan.
"Tapi anda hebat pak. Anda bisa mendapatkan seorang menantu dari keluarga kaya raya. Anda juga pasti sangat bangga dengan anak anda karena pandai memilih laki-laki kaya untuk dijadikan mesin uangnya."
"Maaf pak apa maksud anda, kami memang orang miskin tapi kami tidak seperti itu."
"Cukup Antoni!" Geram pak Dirga. Pak Dirga sudah menahan diri untuk tidak membuat keributan di pestanya sendiri namun Antoni sangat keterlaluan yang membuat batas kesabarannya habis.
"Tenang mas.." ucap Yoga menenangkan kakaknya agar tidak terpancing.
"Kamu sungguh keterlaluan Antoni, apa maksudmu berkata seperti itu kepada besan dan menantuku. Kamu pasti sengaja ingin mempermalukan mereka kan?"
"He..kenapa apa kamu malu mempunyai besan miskin seperti mereka?" dengan senyum meremehkan pak Antoni berkata seperti itu
__ADS_1
"Ada apa ini pa?" Tanya mama ana yang datang bersama Tante Hana dan ibu Jumiati.
"Kamu salah besar Antoni. Aku sama sekali tidak malu mempunyai keluarga baru seperti mereka. Kenapa aku harus malu bagiku semua orang itu sama kaya atau miskin itu tidak masalah yang terpenting adalah akhlaknya bukan kekayaannya." Semua tamu sudah berkumpul menyaksikan perdebatan dua pengusaha tersebut. Acara dansa pun menjadi terhenti Ray menggandeng istrinya berjalan ke arah perkumpulan orang tersebut. Begitu pula Kevin dan Farah.
"Papa!" Ucap Kevin dan Ray bersamaan melihat ternyata orang tua mereka yang membuat keributan. Ray berdiri disamping pak Dirga sedangkan Amara di samping pak Hasan. Begitupun Kevin di samping pak Antoni.
"Ada apa ini pa?" Tanya Ray
"Dia sungguh keterlaluan ray. dia sudah menghina bapak mertua kamu dan istrimu Ray."
"Apa? Berani sekali pak Antoni menghina bapak dan istri saya di pesta saya sendiri.
Ingat pak Antoni mereka sekarang adalah keluarga saya, tanggung jawab saya jadi jangan pernah anda menghina mereka."
Ucap Ray penuh penekanan.
"Kamu dan anak kamu akan menyesal Dirga karena lebih memilih mereka orang miskin. Ayo Kevin, farah kita pulang."
Kevin memandang Amara yang terlihat sangat cantik dari dekat.
"kamu memang cantik Ra, dan selalu cantik." bisa-bisanya disaat seperti ini Kevin masih mencuri kesempatan untuk memandang Amara.
Kemudian pak Antoni Kevin dan Farah benar-benar pergi.
"Maaf semuanya atas ketidaknyamanannya silahkan kita nikmati kembali pestanya." Ucap pak Dirga kemudian melirik Ardi untuk menghandle para tamu agar nyaman kembali.
"Bapak tidak apa-apa?" Tanya Ray kepada pak hasan
"Bapak tidak apa-apa nak. Bapak boleh ke kamar?"
"Boleh pak. Ayo Ray antar."
"Tidak usah nak bapak sendiri saja.permisi pak Dirga." Kemudian pak Hasan pergi. Pak Dirga merasa tidak enak kepada pak hasan, pak Dirga yakin pak Hasan pasti malu atas kejadian ini.
_
_
__ADS_1
Waktu menunjukan pukul 22.00 Pesta telah selesai serangkaian acara demi acara berjalan dengan lancar.
Semua tamu undangan telah pulang tinggal beberapa rekan kerja pak Dirga yang memang menginap di hotel yang masih disana. Dimas, dan Bagas pun telah pulang bersama orang tuanya. Semua berkumpul bersama menikmati hidangan termasuk Ray dan Amara juga pak Hasan. Mama ana melihat Amara yang terus menguap beberapa kali.
"Ray..ajak istri kamu ke atas kasihan Amara pasti kelelahan. Kami juga mau ke atas."
"Iya nak sepertinya amara juga sudah mengantuk."
"Iya Bu.."
"Ayo sayang.." Ray menyodorkan tangannya untuk digandeng amara yang disambut Amara dengan senyuman.
Ray membawa amara duduk ditepi ranjang kemudian mengelus pipi bulat itu.
"Kamu capek?"
"Aku ngantuk banget kak." Jawab Amara. Pupus sudah harapan Ray untuk menikmati malam pertamanya malam ini.
"Oke… ganti baju dulu ya sayang hapus juga makeup nya habis itu bobok." Amara mengangguk
"Biar aku bantu." Ray membantu Amara melepas sanggulnya kemudian menurunkan resleting gaun Amara.
"Sudah kak aku buka dikamar mandi saja." Amara langsung pergi. Amara takut jika ray membuka semua gaunnya Ray akan khilaf. Bukan apa-apa tapi Amara merasa sangat lelah dan mengantuk. Amara berjanji akan memberikan haknya besok malam. Ray melongo melihat Amara yang tengah menghilang di balik kamar mandi.
"Maaf ya kak. Tapi aku capek banget aku janji besok pasti akan menjadi malam yang indah untuk kita berdua." Gumam Amara di dalam kamar mandi. Amara yakin Ray pasti kecewa dengannya meski Ray tidak berkata terus terang.
Setelah dua puluh menit Amara baru keluar dari kamar mandi sudah memakai baju tidur. Amara memakai baju tidur bentuk gaun dengan tali kecil di pundaknya dan cukup pendek. Namun Amara tidak menemukan Ray di kamar.
"Kak Ray kemana?" Kemudian Amara memakai skincare malamnya dan tak butuh waktu lama Amara pun sudah masuk ke dalam Alma mimpi.
Pukul 23.30 Ray kembali ke kamar sudah wangi dan berganti pakaian. Ray tadi mandi di kamar Ardi lalu bermain game sebentar dengan Ardi. Ray juga bercerita kepada Ardi kenapa dia lebih memilih menemani Ardi bermain game.
"Ray melihat Amara yang telah tidur meringkuk dengan selimut yang menutupinya hingga sebatas pinggang. Ray pun mendekat mengelus rambut Amara.
"Selamat tidur istriku, l love you.." Kemudian Ray mengecup pipi Amara singkat. Posisi Amara membelakanginya. Kemudian Ray ingin membenarkan selimut amara yang sedikit turun agar amara tidak kedinginan namun melihat tubuh mulus Amara ia urungkan. Ray justru membuang selimut tersebut di lantai kini terlihat jelas bentuk tubuh Amara yang sangat indah. Tubuh putih mulus tanpa cela sedikitpun. Ray membuka kaos dan celana pendeknya menyisakan celana boxer yang menutupi adik kecilnya. Kemudian kembali mendekati Amara.
Dipandanginya tubuh mulus itu dari ujung kaki hingga pandangannya berhenti di bokong sintal Amara. Apalagi Amara memakai gaun tidur cukup pendek membuat bokongnya semakin seksi.
__ADS_1
"Kamu bilang mengantuk tapi kamu malah berpakaian seperti ini. apa kamu ingin menggodaku? karena aku sangat tergoda sayang."
\*\*\*Happy reading 🥰🥰\*\*\*