Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 32 : salah paham


__ADS_3

Pukul 05.00 pagi Ray sudah rapi dengan kemeja putih dan celana hitam yang melekat di tubuhnya. Bahkan Ray telah memesan sarapan dan menyiapkannya di kamar. Ray naik di atas ranjang tempat Amara tidur. Dipandanginya wajah yang selalu menghiasi hari harinya. Kulit putih mulus, hidung yang mancung dan bibir merah yang selalu membuatnya tidak bisa menahan diri. Sungguh ciptaan tuhan yang sempurna.


Tangannya terulur menyentuh bibir ranum Amara lembut. Kemudian mengelus pipinya.


Amara yang merasakan sentuhan hangat di pipinya perlahan membuka mata.


Setelah mata terbuka sempurna Amara kaget wajah Ray yang tersenyum terpampang nyata di depannya.


"Aaaa.." 


"PlAkk." 


Amara menampar pipi Ray.


"Ahh..shh" rintih Ray sambil mengelus pipinya.


"Kak Ray ngapain dikamar aku?" Amara memeriksa bajunya yang ternyata masih lengkap ia pakai.


"Dilihat ini kamar siapa!" Kesal Ray dan meninggalkan Amara menuju sofa panjang.


Mata Amara berkeliling menjelajahi ruangan otaknya mencoba mengingat ingat. Kemudian Amara menutup mulutnya karena telah berhasil mengingatnya.


"Astaga. Apa yang aku lakukan." Dengan cepat Amara turun dari ranjang dan menghampiri Ray yang masih mengelus pipinya.


"Kak Ray!" Amara duduk disamping ray dan mengetuk ngetuk pundak Ray menggunakan jari telunjuknya.  Ray memalingkan wajahnya dan berpura pura marah.


"Kak.. maaf! Aku tidak sengaja. Aku panik! Kak Ray jangan marah." 


"Cium dulu baru aku maafin!" Ray menyodorkan pipinya yang ditampar Amara.


"Ih..kak Ray curang! Bilang aja mau ambil kesempatan."


"Ya sudah kalau tidak mau." Ray memalingkan wajahnya lagi.


"Iya iya! Tapi tutup mata dulu, aku malu. Ray pun menyodorkan pipinya dan menutup mata, tetapi masih bisa melihat. Saat amara mendekatkan bibirnya dan hampir menyentuh pipi Ray. Dengan sengaja Ray memalingkan wajahnya. Alhasil Amara mencium bibir Ray. Amara membulatkan matanya kaget dan akan melepas ciumannya. Dengan cepat Ray menekan tengkuk Amara dengan tangan kirinya. Dan tangan kanannya di belakang punggung amara.masih dengan mata tertutup ray mencium Amara lembut. Amara yang awalnya diam membeku menjadi terbuai dan memejamkan kedua matanya. Ray menyudahi ciumannya saat merasakan Amara kehabisan nafas. 


"Enak ya sampai lupa bernafas." Bisik Ray ditelinga Amara. Bush..wajah Amara memerah karena malu.


"Auah." Amar berdiri dan akan pergi dengan cepat Ray menarik pinggang amar untuk duduk di pangkuannya.


"Aku cium lagi nih kalau marah."


"Siapa yang marah?" Amara melepas tangan Ray dan kembali duduk di sebelahnya.


"Ayo kita sarapan!"


"Kak Ray duluan saja ya aku belum mandi!"


"Sudah ayo sarapan dulu. Mandi atau nggak kamu tetap cantik dimataku.dan…"


"Dan apa?"


"Rasanya manis." Bisik Ray 


"Plakk" amara memukul bahu Ray.


"Sakit sayang..galak banget sih. Untung sayang."


"Sukurin! Mesum sih."


"Aku mesum cuma sama kamu sayang."


"Iya iya yaudah ayo sarapan!"

__ADS_1


_


Pukul 05.50 wib. Amara dan Ray telah siap untuk pulang


"Sudah siap?"


"Iya!"


"Chek dulu takutnya ada yang ketinggalan!"


"Drtt drtt drtt" handphone Amara berdering dilihatnya panggilan dari orang tuanya. 


"Sebentar ya aku angkat telpon dulu." Amara menjauh dari Ray untuk mengangkat telepon.


"Assalamualaikum buk."


"....."


"Iya buk jadi. Gimana keadaan bapak buk?" Amara berbicara dengan sedikit berbisik dan sesekali melihat ke arah Ray. Ray yang memperhatikan Amara sontak menundukan kepala saat Amara melihat ke arahnya.


"....."


"Iya buk. Ini Amara sudah siap kok."


"..."


"Waalaikumsalam buk."


"Ayo kak, semuanya aman nggak ada yang tertinggal."


Ada yang aneh dari sikap mereka berdua. Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara. Amara sedih memikirkan keadaan orang tuanya. Sedangkan Ray entah apa yang dipikirkan sejak Amara menerima telepon raut wajahnya mulai berubah dia pun menjadi bungkam.


Amara yang merasakan perubahan pada Ray semenjak keluar dari hotel pun mencoba membuka suara.


"Iya!"


"Kak Ray udah lama kerja sama Kevin?


"Iya!"


"Pasti seru ya kak kerja dengan sahabat sendiri." Amara bingung harus membahas apa. Satu satunya topik yang muncul di otaknya hanyalah pekerjaan.


"Makasih ya kak, kak Ray udah nyiapin semua itu buat aku. Aku seneng banget. Ini kejutan luar biasa yang pernah aku dapatkan. Makasih ya."


"Hemm." Ray hanya berdehem.


"Kak Ray sakit?"


"Nggak!"


"Terus kenapa? Apa aku ada salah?"


"Amara please tolong mengerti! aku sedang menyetir."


Ray sedikit berteriak, pikirannya kacau semenjak Amara menerima telepon. Siapa yang sedang menelponnya kenapa Amara menjauh, kenapa bisik bisik. Apakah Kevin? Sungguh Ray tidak bisa berpikir jernih. Hatinya seketika mendidih.


Apalagi Amara juga menanyakan perihal Kevin. Ray tidak suka Amara masih menyebut nama Kevin. 


Amara tidak percaya, Ray baru saja berteriak kepadanya. Apa salahnya Amara hanya mencoba mencairkan suasana agar tidak sepi.


"Maaf kak!" Amara memalingkan wajahnya keluar jendela. Hatinya sakit baru tadi malam mereka jadian. Baru tadi malam Ray memberikan kejutan yang luar biasa indah. Tapi kenapa semua terasa berbeda setelah Amara menerima cintanya. Benarkah Ray mencintainya dengan tulus seperti yang selalu ia katakan. Ray membuatnya terbang tinggi tapi Ray juga yang menjatuhkannya. 


"Brukk"

__ADS_1


 Ray memukul kemudi mobil melihat Amara memalingkan wajahnya.


Membuat Amara semakin takut. Air matanya pun tiba tiba jatuh. Amara segera menghapusnya tidak ingin Ray melihatnya menangis. Namun terlambat Ray menyadari Amara menangis.


"Kumohon jangan menangis aku.."


"Drtt drtt drtt"


Handphone Amara lagi lagi berdering


Amara tidak mengangkatnya. Kali ini kevin yang menghubunginya.


"Kenapa tidak diangkat?" Sebenarnya Ray ingin minta maaf Ray paling tidak bisa melihat Amara menangis. Tapi mendengar handphone Amara kembali berdering membuatnya kembali kesal.


"Tidak penting."


"Sesampainya di tempat kos Amara. Amara langsung turun tanpa mengucapkan apapun begitu pun Ray yang langsung melajukan mobilnya tanpa pamit. Amara tersenyum getir hatinya sungguh sakit Ray bisa melakukan itu padanya. Laki laki memang tidak ada yang bisa dipercaya. Itulah pikiran Amara saat ini. 


Amara masuk hanya untuk mengambil koper dan pamit kepada Arum.


Kemudian pergi ke terminal menggunakan taxi. Amara juga berpesan pada Arum agar tidak memberitahukan kepada siapapun tentang kepulangannya.


_


_


Sementara Ray  tidak bisa tenang .di dalam kamarnya ia mondar mandir. Kemudian duduk sebentar sambil memejamkan matanya.


Terlintas dalam ingatannya saat ia mengungkapkan cinta pada Amara. Saat dia berjanji akan selalu menyayangi dan mencintai Amara. Saat ia berjanji untuk tidak akan membuat Amara menangis. Kemudian Ray teringat saat Amara menangis di dalam mobil dan itu karenanya.


Seketika Ray membuka mata kemudian berdiri dan menyambar jas sekaligus tas kerjanya. Ray akan menemui Amara sekaligus berangkat kerja.


Ray menghubungi Amara namun nomornya tidak aktif. Ray pun keluar dari mobil untuk menemuinya langsung.


"Tok tok tok"


"Ceklek" pintu terbuka dan kebetulan Arum yang membukanya.


"Iya kak, mau cari siapa?"


"Saya ingin bertemu dengan Amara, bisa tolong panggilkan!"


"Maaf kak Amara sedang pergi"


"Pergi? Pergi kemana tadi dia baru sampai."


"Iya kak. Tapi Amara baru saja pergi."


"Baiklah terimakasih."


Ray sangat kecewa dengan Amara baru saja ia mengantarkan Amara pulang sekarang ia sudah pergi lagi tanpa pamit kepadanya.


Ray mencoba menghubungi Amara kembali. Namun lagi lagi nomornya tidak aktif.


"Oke! Kita lihat saja siapa yang akan minta maaf duluan."


Dengan perasaan kesal Ray melajukan mobilnya menuju kantor wings group.


***Hay gaess ikuti terus KISAH CINTA AMARA. dan jangan lupa * like


* komen dan


* vote

__ADS_1


\*\*happy reading🥰🥰\*\*


__ADS_2