
Eps sebelumnya
Masuklah besok aku antar kamu pulang." Ucap Mike tanpa menoleh kebelakang.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Karena hujan yang begitu deras dan sudah larut malam ditambah kata-kata Mike yang membuatnya takut Amara pun mengikuti Mike kembali ke ruangannya.
"Aku panggilkan dokter sebentar."
"Tidak perlu, aku baik-baik saja."
"Jangan membantah." Ucapnya tegas kemudian pergi.
Benar saja beberapa menit kemudian Mike kembali bersama seorang perawat wanita.
"Permisi nona..biar saya pasang kembali infusnya."
Amara menurut tanpa berkata apapun.
"Hati-hati ya nona jangan sampai terlepas lagi, saya permisi."
"Terimakasih suster."
Mike berbaring di sofa panjang yang berada tidak jauh dari ranjang Amara.
Amara mencuri pandang kepada Mike.
"Kenapa dia, kenapa jadi pendiam." Batin Amara
"Apa ada yang ingin kamu katakan?" Ternyata Mike sadar jika Amara tengah memperhatikannya.
"Em..tidak ada." Jawab Amara gugup
Mike bangun dari tidurnya kemudian menghampiri Amara, Amara juga ikut bangun dan duduk bersandar.
"Kamu bilang kamu sudah mempunyai seorang anak, lalu kenapa kamu bisa berada ditempat itu jangan-jangan kamu memang bekerja disana dan anak kamu adalah anak.."
"Plakk"Â
Amara menampar pipi Mike sebelum Mike menyelesaikan kata-katanya
"Beraninya kau menamparku." Tindakan Amara membuat Mike naik pitam Mike mengangkat tangannya di udara hendak membalas tamparan Amara, Amara sontak memejamkan mata. Melihat Amara yang tampak ketakutan Mike menghentikan niatnya.
"Sekali lagi kau berani padaku aku tidak akan mengampunimu." Ucapnya kemudian pergi bahkan Mike menutup pintu sedikit keras.
Amara menangis bukan karena takut dengan ancaman Mike tetapi Amara menangisi nasibnya yang selalu disakiti.
Lama Amara menangis hingga membuatnya kelelahan dan tertidur.
_
_
"Sial hampir saja aku menyakitinya, tapi tamparannya keras juga." Mike memegang pipinya yang terasa panas
"Aneh sekali kenapa aku tidak tega membalasnya, tapi kenapa dia menamparku apa yang aku katakan itu salah, dia benar-benar membuatku bertanya-tanya, hah..kenapa aku harus memikirkannya dia sudah mempunyai anak itu artinya dia sudah bersuami, lebih baik aku pergi dari sini." Kemudian Mike ingin menghubungi kedua ajudannyaÂ
"Dimana ponselku, sial pasti tertinggal disana." Mike pun kembali ke ruangan Amara untuk mengambil ponselnya.
"Ini dia ponselku." Mike hendak keluar tapi langkahnya terhenti kala melihat Amara yang terlelap perlahan Mike mendekati Amara, Mike melihat sudut mata Amara yang masih basah.
"Apa dia habis menangis,,apa dia menangis karenaku." Tangan Mike terulur hendak menghapus sisa air mata Amara namun niatnya ia urungkan.
"Tidak! aku tidak boleh peduli dengannya aku harus pergi dari sini." Kemudian Mike segera pergi.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Pagi tiba dari pukul lima pagi Amara sudah bangun, amara tidak melihat Mike sejak ia bangun sampai sekarang.
"Kemana dia kenapa belum terlihat juga, Jangan-jangan dia sudah pergi terus gimana aku bayar rumah sakit ini..aduh..aku harus bagaimana."
Beberapa menit kemudian dokter datang.
__ADS_1
"Selamat pagi nona.."
"Pagi dok."
"Bagaimana apa ada keluhan?"
"Tidak dok, saya sudah baik-baik saja, saya mau pulang dok."
"Baiklah jika memang tidak ada keluhan, hati-hati nona lukanya jangan sampai kena air dulu, saya lepas infusnya ya."
"Em..dok berapa biaya rumah sakitnya?"
"Sudah dilunasi oleh tunangan anda nona, anda tidak usah khawatir."
"Tunangan dok? Tapi saya tidak mempunyai tunangan."
"Laki-laki yang membawa anda tempo hari, dia bilang tunangan anda." kemudian Amara teringat dengan mike
"Apa maksudnya mengaku sebagai tunanganku." Bati amara
"Sudah selesai nona, ingat pesan saya jangan kena air dulu."
"Iya dok terimakasih."
_
_
Amara tidak tahu harus pulang menggunakan apa, sepeserpun ia tidak punya uang. Akhirnya Amara berjalan kaki dengan harapan akan ada orang baik yang mau memberikannya tumpangan, Amara terus berjalan hingga ia merasa lelah, Amara berhenti di halte bus untuk beristirahat sejenak tenggorokannya juga terasa kering. Setelah rasa lelahnya sedikit berkurang Amara kembali melanjutkan perjalanan, di seberang jalan Amara melihat seorang anak kecil sedang menikmati es krim bersama ibunya, hingga membuatnya menelan ludah, tiba-tiba saja Amara berjalan ke arah anak kecil itu tanpa melihat kiri kanan pandangannya lurus menatap es krim yang anak kecil itu pegang, di saat yang bersamaan sebuah mobil melaju dari arah lain dan…
"Aaaaa…." Teriak Amara saat mobil itu sudah begitu dekat dengannya.
"Cittttttttttt…"
Suara decit ban mobil itu karena berhenti mendadak.
"Bruk"
Depan mobil Dion sedikit mengenai Amara hingga membuatnya terjatuh. Ya..yang menabrak Amara adalah Dion asisten mike yang akan berangkat ke kantor.
"AW… ringis Amara kala tanganya menyentuh aspal yang membuatnya tergores, beruntung bukan tangan yang kemarin terluka.
"Kamu tidak apa-apa?" Panik dion
"Aku tidak apa-apa." Jawab Amara kemudian mendongak menatap Dion.
Seketika Dion terpesona dengan kecantikan Amara yang alami hingga membuatnya terdiam.
"Mas tanggung jawab dong, kasihan dia bawa ke rumah sakit." Teriak orang-orang yang berkerumun melihat kejadian itu membuat Dion tersadar dari lamunannya.
"I..iya pasti saya akan bertanggung jawab, saya akan membawanya ke rumah sakit."
"Ayo aku bantu berdiri." Dion membawa Amara naik ke mobil lalu menjalankan mobilnya.
"Maaf ya aku tidak sengaja menabrakmu."
"Tidak apa-apa aku yang salah tidak melihat kanan kiri."
"Aku akan membawa kamu ke rumah sakit."
"Jangan! Tidak usah."
"Kenapa, kita harus mengobati lukamu."
"Aku baru saja keluar dari rumah sakit, aku tidak mau kembali lagi tanganku saja masih sakit karena jarum suntik."
"Kamu dari rumah sakit? Kamu sakit apa?"
"Iya tanganku terluka jadi harus menerima jahitan." Amara menunjukan pergelangan tangannya yang masih di perban.
"Oh iya kenapa aku tidak melihatnya. Maaf ya aku menambahi lukamu."
"Tidak apa, kalau boleh antarkan aku pulang saja."
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan lukamu?"
"Hanya tergores aku bisa mengobatinya sendiri."
"Rumah kamu dimana?"
"Di jalan xxx."
Kemudian Dion mengantar Amara pulang.
"Di depan belok kiri."
"Kamu asli dari Jakarta?"
"Bukan, aku dari Surabaya." Dion manggut-manggut
"Stop! Itu rumahku, berhenti disini saja "
"Wah rumahmu besar juga ya."
"Bukan yang ini tapi disebelahnya."
"Ow..maaf, kamu mau turun biar aku buatkan kopi."
"Boleh kalau tidak merepotkan."
"Yes mumpung ada kesempatan kenapa tidak." Batin dion
"Maaf ya jalan nya sedikit kotor."
"Bukan masalah, aku kira rumah kamu yang besar tadi."
"Haha mana mungkin, kalau rumah aku sebesar itu tidak mungkin aku dijalan mencari tumpangan."
"Tumpangan? Jadi tadi kamu mencari tumpangan?"
"Iya aku tidak punya uang sama sekali, untuk beli minum saja aku tidak punya."
"Ya ampun padahal hidupnya sedang kesusahan tetapi dia tetap tersenyum."
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
"Nduk..kamu sudah pulang, tangan kamu kenapa nduk?"
"Maafkan saya Bu, saya tidak sengaja menabrak anak ibu. Saya ingin membawanya kerumah sakit tapi anak ibu tidak mau."
"Nggak apa-apa kok Bu, hanya luka kecil."
"Ya sudah ayo masuk nak…."
"Dion Bu."
"Iya ayo masuk nak Dion biar ibu buatkan kopi."
"Mama.." panggil jesen yang baru bangun
"Sayang.." Amara memeluk putranya
"Hah jadi dia sudah mempunyai anak? Jangan-jangan dia suami orang, tapi tidak foto suaminya." Mata Dion berkeliling
"Jesen kenapa tidak masuk sekolah sayang?"
"Jesen mau nunggu mama, tadi jesen udah bangun tapi mama nggak ada kata nenek mama kelja jadi jesen mau nunggu mama aja." Celoteh jesen
"Maaf ya sayang mama ninggalin jesen terus."
"Itu siapa ma, papa buat jesen ya?" Tanya jesen polos
"Jesen nggak boleh ngomong gitu ya, dia teman kerja mama. Maaf ya dion anak aku cuma bercanda."
"Hah apa anak itu bilang papa untuknya berarti dia nggak punya papa dong." Batin Dion bersorak senang.
__ADS_1
🌹🌹🌹 Bersambung 🌹🌹🌹