Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 94 : Biarkan aku bahagia ( Amara)


__ADS_3

Dengan sangat hati-hati Amara mengganti perban Ray. Setelah semuanya selesai Amara kembali ke kamar tamu. Ray ingin mencegahnya namun Amara sangat cepat.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Dengan hati-hati Ray turun kebawah ingin mencari Amara.


"Tuan mau kemana? Tuan butuh apa biar saya ambilkan?" tanya ajeng


"Istri ku dimana jeng?"


"Nona ada di kamar tamu tuan. Mau saya panggilkan?"


"Tidak usah biar aku susul saja. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu."


"Baik tuan."


Ray menuju kamar tamu dan langsung masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Amara hanya melirik ketika Ray menghampirinya.


Ray berdiri di depan Amara yang sedang duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya.


"Perutku sangat nyeri, aku…"


Tiba-tiba Amara berdiri dan hendak meninggalkan Ray. Dengan cepat Ray memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku. Aku sudah sangat keterlaluan aku mohon jangan marah lagi. Aku tidak bisa melihatmu marah rasanya sangat sakit. Lebih sakit dibandingkan luka di perutku."


"Kenapa kak Ray minta maaf. Bukankah menurut kak Ray aku yang salah?"


"Tolong jangan berkata seperti itu. Aku tau aku salah. Aku tidak mau mendengar penjelasanmu dulu. Aku terlalu cemburu aku takut kamu meninggalkan aku."


"Pikiran macam apa itu. Mana mungkin aku meninggalkan suamiku hanya karena masalaluku."


"Pikiranku kacau saat melihat Farah datang kerumah ini. Kenapa sampai Farah datang kesini apa yang sudah kamu dan Kevin lakukan itulah yang ada di pikiranku. Makanya aku marah." Amara berbalik menghadap Ray menyentuh kedua pipi Ray.


"Dengar baik-baik jangan mengambil kesimpulan tanpa tau yang sebenarnya terjadi. Aku tidak pernah bertemu dengan Kevin apalagi berselingkuh dengannya. Aku mohon kak tolong kak Ray lebih percaya lagi sama aku. Karena tanpa adanya kepercayaan hubungan kita bisa hancur." Ray mengangguk.


"Aku janji mulai sekarang aku akan percaya sama saku." Mereka sama-sama tersenyum kemudian kening dan hidung mereka saling menempel. Amara mengalungkan tangannya di leher Ray dan Ray memegang pinggang ramping Amara sesaat kemudian bibir mereka saling menempel entah siapa yang memulai duluan. Ray m******p bibir yang sudah beberapa hari tidak ia rasakan. Amara pun sama Amara sangat merindukan sentuhan Ray. Amara membuka mulutnya. dengan cepat Ray memasukan l***h nya saling m******t dan saling bertukar Saliva. ciumanya turun di leher jenjang Amara m*******p dan m******t dan meninggalkan jejak merah di sana. Ray membuka blazer Amara kemudian kembali menyerang bibir Amara tangannya berada di perbukitan tinggi Amara. Lalu Ray membaringkan tubuh Amara di atas ranjang. tubuhnya sudah di selimuti gairah. Amara pun sama. Ray hendak membungkukkan badan akan menguasai tubuh Amara seketika perutnya terasa sakit.


"Ah..ssh.." Ray merintih kesakitan memegang perutnya. mendengar Ray kesakitan Amara pun teringat jika Ray sedang sakit. Amara segera bangun.


"Kak Ray tidak apa-apa? Coba aku lihat?"


Beruntung jahitannya tidak kembali terbuka.


"Maaf ya kak. Aku lupa kalau kak Ray sedang sakit."


"Aku yang minta maaf. Aku juga lupa."


"Tapi kak Ray tidak apa-apa? Apa kita ke dokter saja?"


"tidak usah sayang aku tidak apa-apa. Temani aku istirahat di kamar saja aku ingin tidur dengan memelukmu."


"Memangnya boleh?" Goda Amara


"Sayang…aku kan sudah minta maaf."


"Iya-iya sayang aku kan cuma bercanda. Ayo kita ke atas."

__ADS_1


_


__


_


Baru beberapa menit di kamar Amara dan Ray sudah dipanggil oleh ajeng.


"Tok tok tok. Nona..tuan..maaf ada tamu."


"Siapa jeng?"


"Katanya pak Kevin nona." Amara dan Ray kaget. Ngapain Kevin kesini


"Siapa jeng?" Tanya Ray kembali memastikan bahwa dia tidak salah dengar.


"Pak Kevin tuan."


"Jangan biarkan dia masuk jeng."


"Tapi dia sudah dibawah tuan."


"Kenapa kamu biarkan dia masuk."


"Maaf tuan, tadi pak Kevin datang bersama nyonya."


"Nyonya? Maksud kamu mama ana?"


"Iya nona."


"Iya sudah kami akan kebawah."


_


"Mau apalagi Kevin kesini?" Gumam Ray Amara mengangkat kedua bahunya.


"Ayo kita kesana.."


Sesampainya di bawah. Benar saja mama ana sedang tertawa bersama Kevin. Ray terlihat tidak suka melihat mamanya tertawa bersama Kevin.


"Kevin.." panggil Amara


"Amara…" Kevin langsung berdiri dengan senyum yang mengembang.raut wajah bahagia sangat kentara di wajah Kevin.


"Mau apalagi Lo datang kemari?" Tanya Ray. Yang tidak digubris oleh Kevin. Kevin justru berlari memeluk Amara.


Semua orang dibuat kaget oleh ulah kevin termasuk Amara. Amara memberontak mencoba melepaskan pelukan kavin. namun Kevin justru mengeratkan pelukannya.


"Kevin apa-apaan kamu tolong lepaskan. Jangan kurang ajar kamu."


"Tidak. Aku tidak akan melepaskan kamu lagi. Kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi Amara.


"Kevin!!" Bentak Ray sambil melepas pelukan Kevin. Ray mendorong Kevin hingga Kevin mundur beberapa langkah ke belakang. Kemudian menarik Amara untuk berada di belakangnya.


"Lo sudah gila Vin, dia itu istri gue. Berani-beraninya Lo peluk dia."


"Kak sabar kak..ingat kak Ray sedang sakit."

__ADS_1


"Sabar Ray.. kita bicarakan semua ini baik-baik." Ucap mama ana.


"Baik. Aku beri kamu satu kesempatan untuk bicara. Cepat katakan mau apa Lo datang ke sini?"


"Gue datang kemari untuk Amara." Kevin kembali mendekat hendak memegang tangan Amara. Ray kembali mendorong Kevin


"Lo jangan kurang ajar Vin." Tunjuk Ray pada Kevin.


"Oke..oke" kevin mengangkat kedua tangannya keatas seperti orang menyerahkan diri dengan senyum meremehkan.


" Amara Andini aku datang kesini untuk kamu. Untuk cinta kita. Aku tau kamu masih mencintaiku aku pun sama dari dulu dan sampai kapanpun aku masih tetap sangat mencintaimu.


Sebentar lagi aku dan Farah akan bercerai. Kami juga bisa menceraikan Ray dan kembali padaku. Amara Andini maukah kau kembali padaku. Menjadi istriku satu satunya menjadi ratu dalam hidupku?" Kevin sangat lantang mengucapkan semua itu.


Amara meneteskan air mata. Ray mengepalkan kedua tangannya. Ray hendak memukul Kevin namun di cegah oleh Amara. Ray menatap Amara tidak percaya ia kira Amara membela Kevin apalagi Amara melepas tangannya dan melangkah maju mendekati Kevin."


"Amara.." panggil Ray. Ray berpikir Amara akan meninggalkannya dan memilih Kevin.


"Amara kamu mau kemana?" Ray mencekal tangan Amara dengan mata yang sudah berkaca-kaca. dengan pelan Amara melepas tangan Ray. Ray menggelengkan kepala melihat tangannya yang terlepas. Ray akan menarik tangan Amara kembali namun di cekal oleh mana ana. Mama ana percaya Amara tidak mungkin meninggalkan Ray.


Ray sudah menangis Ray benar-benar takut kehilangan Amara.


Perlahan Amara terus maju dengan pandangan lurus menatap Kevin hingga sampai di depan Kevin.Dengan senyum yang sangat lebar Kevin merentangkan tangan menyambut Amara. Kevin kira Amara benar-benar memilihnya. Tiba-tiba..


"Plak"


Sebuah tamparan Amara berikan di pipi Kevin. Membuat Ray dan Kevin sama-sama kaget atas perbuatan Amara.


"Amara…kenapa kamu menamparku "


"Kamu memang brengsek Vin.. bisa-bisanya kamu berkata seperti itu. Ray itu sahabat kamu Vin. Kenapa kamu tega melakukan ini. Kamu sudah menikah kamu sudah mempunyai istri dan anak. Dimana rasa tanggung jawab kamu sebagai seorang suami dan ayah." Teriak Amara


"Aku tidak mempunyai anak Amara. Farah bohong. selama ini dia tidak hamil. Dia telah mengelabui kita selama ini. Dia hanya ingin memisahkan kita. Kamu harus percaya sama aku sayang.."


"Cukup Vin! Aku tidak peduli apa yang sudah terjadi antara kamu dan Farah itu urusan rumah tangga kalian. tolong jangan bawa-bawa aku. Kamu dengar baik-baik Vin. Aku sudah menikah dan aku sangat mencintai suamiku. Bagiku hubungan kita sudah berakhir ketika kamu mengkhianatiku dulu. Aku sama sekali sudah tidak mempunyai perasaan apapun denganmu jadi aku mohon berhenti menggangguku."


"Nggak. Aku nggak percaya kamu pasti bohong kan. Aku tahu kamu masih mencintaiku Amara." Kevin menangis


"Pergi.."


"Nggak sayang aku mohon. Jangan usir aku dari sini."


"Pergi Vin. Tolong biarkan aku bahagia. Jika kamu memang benar-benar mencintaiku. Tolong biarkan aku hidup bahagia."


Kevin memandang Amara lama. Melihat Amara menangis membuatnya sadar jika Amara sudah tidak mencintainya lagi. Kevin pun Kemudian pergi.


Amara jatuh terduduk di lantai. Tubuhnya seketika lemas.


"Sayang.." Ray ikut duduk berlutut memeluk Amara. Ia tidak peduli dengan luka di perutnya. Bahkan rasa nyeri di perutnya tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya melihat Amara menangis.


"Hiks..hiks..aku lelah kak. Kenapa mereka selalu menggangguku. Aku lelah dengan semuanya..hiks hiks." Mama ana juga mendekat.mama ana ikut menangis melihat menantu kesayangannya seperti itu.


"Sayang.." panggil mama ana. Kemudian Amara berganti memeluk mama ana.


🍁🍁🍁Bersambung gaess🍁🍁🍁


🌺maaf ya cayang-cayangku baru bisa up.

__ADS_1


🌺 jangan lupa beri dukungannya like komen dan vote dan beri hadiahnya juga ya..🥰🥰🥰


__ADS_2