Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 84 : Pulang ke Surabaya


__ADS_3

"Kamu mau kan maafin aku?" Amara mengangguk mereka kembali berpelukan Ray mencium puncak kepala Amara berkali-kali. Kemudian mereka masuk kedalam kamar. Ardi sudah pulang saat Ray juga pergi. 


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Malam telah berganti pagi. Hari ini adalah hari Minggu hari yang ditunggu-tunggu Amara. Karena hari ini untuk pertama kalinya setelah menikah Amara dan Ray akan pulang ke Surabaya. Sesuai yang Ray janjikan saat mereka menempati rumah ini.


Amara sudah cantik dengan balutan dres berwarna maroon sebatas lutut dengan tatanan rambut ia kuncir kuda dan dengan kalung berlian melingkar di leher jenjangnya



beginilah gaes kira-kira model dres yang Amara kenakan. tapi ini bukan visual Amara ya😛.


Setelah semuanya siap Amara membangunkan Ray yang masih nyenyak dengan tidurnya.


"Sayang..bangun yuk katanya mau pulang ke Surabaya." Sambil menciumi pipi Ray berkali-kali Ray pun langsung membuka mata. Kemudian menarik Amara dalam pelukannya.


"Mmh..kamu cantik banget sayang wangi lagi. Jadi pengen makan kamu."


"Sayang..ayo bangun dong katanya mau ke rumah ibu."


"Sebentar lagi sayang..aku masih ingin seperti ini."


"Sayang…kamu kan udah janji."


" Iya..ya..aku bangun.Kamu sudah siap?" 


"Sudah dong.." Ray mencium bibir Amara sekilas kemudian bangun.


"Aku mandi dulu ya.." Amara mengangguk. Amara membereskan tempat tidur kemudian menyiapkan baju ganti untuk Ray.


"Sayang..kamu mau pake baju apa?" Teriak Amara


"Yang casual saja sayang dan Pake celana pendek saja." Jawab Ray dari dalam kamar mandi. Kemudian Amara memilihkan kemeja lengan pendek berwarna maroon juga.



Ray keluar dari kamar mandi dengan cepat Amara mengambil handuk lain untuk mengeringkan rambut Ray dan memakaikan baju untuk Ray seperti biasanya.


"Ajeng juga sudah siap?"


"Ajeng? Ajeng diajak juga sayang."


"Iya dong sayang, biar kamu ada yang bantuin disana."


"Bantuin apa? Emang kita akan lama disana?" 


"Kalau kamu mau lebih lama boleh saja. Tapi aku minta maaf aku hanya bisa dua hari disana. Kamu tahu kan sayang kesibukanku sekarang seperti apa? Biar ajeng menemani kamu disana."


"Iya..nggak apa-apa kok sayang. Aku tetap senang yang penting kita kesana sekarang." obrolan mereka sembari Amara memakaikan baju untuk Ray.


"Ayo kita turun. Kita sarapan dulu."


"H.m sekalian aku mau beritahu Ajeng untuk siap-siap."


_


_


"Ajeng kamu siap-siap ikut kita ke rumah ibuku di surabaya." Ucap Amara ketika sudah di meja makan.


"Siap nona."


_


_


Kevin dari semalam tidak pulang ke rumah pak Antoni hingga dini hari masih belum pulang juga. Pak Antoni mondar mandir sambil terus mendumel.


"Anak itu..kemana lagi dia. Ini semua gara-gara kamu yang selalu memanjakan dia dari kecil. Lihat kelakuannya Sekarang, begitu mau jadi ayah. Hmm..tidak tau malu.


"Pa..mungkin Kevin dirumah Dimas. Papa tenang dong jangan marah-marah terus."


"Tenang kamu bilang? Bagaimana jika anak itu berbuat ulah lagi? Farah! apa kalian bertengkar lagi?"


"Ti..tidak pa. Ki..kita baik-baik saja." Farah terlihat gugup dan wajahnya pucat.

__ADS_1


"Farah kamu kamu kenapa? Kamu sakit? Tanya mama kevin


"Tidak ma. Farah baik-baik saja."


"Brakk"


Tiba-tiba pintu terbuka dengan keras. Semua orang melihat ke arah pintu.


"Kevin!" Pak Dirga berlari melihat Kevin berjalan sempoyongan 


"Kevin!? Kamu mabuk lagi?"


"Hay..pa! Kevin datang membawa cinta haha..." Celoteh Kevin


"Pa. Cepat bawa Kevin ke kamarnya." Ucap mama kevin.


Pak Antoni membopong tubuh Kevin dibantu supir pribadinya.


"Farah kamu urus Kevin, ganti bajunya juga." Ucap pak Dirga


"Iya pa." Farah pun melakukan yang diperintahkan pak Dirga saat Farah mencoba melepas jas Kevin, Kevin memberontak.


"Jangan sentuh aku penipu, dasar wanita ular, pembohong. Aku tidak Sudi disentuh olehmu." Teriak Kevin sambil memberontak, bahkan dengan kasar Kevin mendorong tubuh Farah hingga terjatuh beruntung dengan sigap pak Antoni menangkap tubuh Farah.


"Kevin! Apa yang kamu lakukan? Kamu bisa melukai Farah dan calon anak kamu."


"Hahaha..anak apa maksud papa. Anak jadi-jadian? Dasar kalian semua bodoh."


"Kevin. Kamu benar-benar keterlaluan. Ayo kita keluar biarkan dia sendirian. Kamu juga Farah."


"Pergi kalian semua. Pergi yang jauh bawa wanita ular itu bersama kalian hahaha..." Kevin berteriak-teriak seperti orang tidak waras.


"Apa yang sebenarnya terjadi Kevin tidak mungkin mabuk-mabukan jika tidak ada yang membuatnya frustasi. Farah kamu yakin kalian tidak bertengkar?"


"Tidak pa. Kami tidak bertengkar."


"Semenjak Kevin kenal dengan perempuan itu dia menjadi semakin tidak bisa diatur. Semua karena Amara."


susah ya gaess kalau rasa benci sudah mendarah daging. Apapun yang kita lakukan pasti akan selalu salah meski kita berbuat baik sekalipun. Semangat Amara😭😭


_


_


Di Tengah jalan Amara dan Ray membelikan banyak oleh-oleh untuk orang tuanya juga untuk dibagikan kepada tetangga terdekat.


Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh akhirnya mereka telah sampai di rumah orang tua Amara.


Mobil Mercedes Benz S-Class berwarna hitam memasuki halaman rumah Amara.


Diikuti beberapa anak kecil yang mengikuti mobil Ray. Anak-anak itu mengerubuti mobil mewah Ray. di kampung ku seperti itu gaess.🤭🤭🤭


Pak Hasan dan ibu Jumiati sudah menunggu kedatangan mereka di depan teras rumah. Dan beberapa tetangga dekat Amara juga banyak yang sengaja berada di depan rumah mereka hanya untuk melihat Amara pulang bersama Ray.


"Assalamualaikum Bu..pak.."


"Waalaikumsalam nduk..." pak Hasan dan ibu Jumiati memeluk Amara dan Ray bergantian.


"Ini siapa nak?"


"Saja Ajeng Bu." Ucap Ajeng sembari mencium tangan Bu Jumiati dan pak Hasan bergantian.


"Dia bantu-bantu di rumah baru kami Bu." jawab ray


"Oh..saya ibu Jumiati nduk dan ini suami saya pak hasan orang tua amara. selamat datang ya ajeng di gubuk kami."


"Ibu bisa saja. Ini sangat bagus loh Bu."


"Ayo semuanya kita masuk."


"Kamu masuk saja sayang aku mau nurunin barang-barang sebentar."


"Saya saja tuan."


"Kamu temani istri saya saja."

__ADS_1


"Biar bapak bantu nak."


"Iya pak terima kasih.."


"Kamu ikut bantu saja jeng barang-barangnya kan banyak."


"Iya nona."


Kemudian Ray pak Hasan dan ajeng membawa masuk satu buah koper, beberapa bingkisan dan juga buah-buahan.


Mala dan se gerombol tetangga yang lain melihat Ray menurunkan banyak barang.


"Beruntung sekali ya pak Hasan dan ibu Jumiati bisa dapat mantu kaya, baik, ganteng pula." Ucap salah satu dari mereka


"Iya bener. Kapan ya aku punya menantu kaya."


"Nikahkan saja anakmu yang masih SD itu."


"Ngawur kamu."


"Heleh itu pasti si Amara nggak bener tuh disana. Lagian siapa tau itu mereka cuma kawin kontrak. Dikota kan banyak seperti itu." Sewot Mala


"Eh mala istighfar. Amara itu keponakan kamu. Kok bisa kamu berkata seperti itu. "


"Iya benar Amara itu kan cantik jadi ya wajar kalau dapat suami kaya, terus ganteng."


"Kamu kenapa sih Mala dari dulu julid sekali dengan keluarga mereka. Mereka itu kan saudara suami kamu. Lagian kenapa kamu tidak datang diacara pernikahan mereka."


"Ngapain datang. Ogah banget."


"Ogah apa tidak diundang?"


"Kalian tuh yang tidak diundang." Kesal Mala kemudian masuk kedalam rumah.


"Dasar julid kamu Mala. Sukurin tidak diundang jahat sih jadi orang." Teriak mereka kepada Mala. Ya..semenjak kebenaran terungkap saat pertunangan Amara mereka menjadi tahu bahwa yang jahat adalah Mala. Dan sejak saat itu keluarga Amara tidak pernah lagi dihina oleh mereka. Mereka menjadi baik dengan pak Hasan dan ibu Jumiati.


_


"Banyak sekali nduk bawaannya. Kalian lama kan disini?"


"Maaf Bu. Ray tidak bisa lama-lama disini. Tapi ibu tidak perlu sedih Amara akan lebih lama disini."


"Tidak apa-apa nak. Ibu mengerti kamu kan orang sibuk. Kamu mau datang saja ibu sudah sangat senang."


"Ibu jangan berkata seperti itu. Ibu dan bapak kan orang tua Ray juga. Ray janji Bu Ray akan sering-sering datang kesini. Oh ya Ray ada sesuatu untuk ibu dan bapak." Ray masuk ke dalam kamar kemudian kembali membawa satu kotak perhiasan.


"Ini untuk ibu."


"Apa ini nak.."


"Biar Amara buka ya Bu." Sebuah kalung emas seberat dua puluh gram Ray belikan untuk ibu Jumiati.


"Ya Allah nak..terima kasih ya. Harusnya kamu tidak perlu repot begini."


"Ini tidak seberapa Bu..dengan pengorbanan ibu dan bapak yang sudah merawat dan membesarkan Amara yang sudah saya ambil begitu saja."


"Itu kan memang tugas kami sebagai orang tua nak."


"Ini untuk bapak." Ray memberikan pak Hasan uang sebesar lima juta rupiah


"Ini apalagi nak?"


"Ray tidak tau harus membelikan bapak apa. Jadi Ray pikir biar bapak sendiri saja yang beli." Pak Hasan terharu matanya berkaca-kaca


"Terimakasih nak bapak tidak tahu harus berkata apa."


Amara sangat bersyukur mendapatkan suami yang begitu peduli dengan orang tuanya. Hanya satu kekurangan dari diri Ray yaitu sifat emosionalnya. Dan Amara harus bisa merubah itu.


🌺Gaess dukung terus "kisah cinta Amara" ya..biar author semakin bersemangat.


*like


*komen dan


*vote jangan lupa hadiahnya juga yang belum favorit silahkan di favoritkan ya biar setiap up ada notifikasi di handphone kalian. terimakasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2