
"Sebaiknya pak Hashim tidak melakukan apapun lagi atau anda yang akan menyesal pak. Saya permisi." Ucap Bagas.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Sore hari pak Hasan terlihat melamun sendirian di depan teras rumahnya.
Amara segera menghampiri ayahnya itu.
"Pak.." panggil Amara lembut sambil menggenggam tangan pak Hasan.
"Ada apa nak?"
"Bapak kenapa? Kenapa bapak terlihat sedih apa yang bapak pikirkan?"
"Bapak takut nak..bapak takut Hashim semakin membenci bapak. Bapak takut hubungan kita semakin memburuk."
"Sudahlah pak.. paman kan memang selalu benci pada keluarga kita. Kita berbuat baik atau buruk tidak ada bedanya pak. Sekali benci tetap benci. Kita doakan saja semoga paman mendapat hidayah dan cepat taubat. Bapak jangan bersedih lagi ya.."
"Iya..Ray kemana nak?"
"Kak Ray pergi sama Bagas dan Ardi pa. Besok Ardi dan Bagas harus kembali ke jakarta."
"Ray juga ikut?"
"Nggak pak. Kak Ray mau disini dulu beberapa hari lagi. Untuk sementara papa Dirga yang menggantikan kak Ray."
"Bapak senang kalau kalian lebih lama disini."
"Iya pak kami juga senang. Amara masuk dulu ya pak. Bapak jangan melamun lagi."
_
_
"Aku tidak terima semua ini mas Hasan benar-benar telah mempermalukan aku." Ucap Hashim penuh emosi.
"Benar mas. Mereka sudah keterlaluan. aku merasa terhina mas. Pokoknya Mas harus melakukan sesuatu."
"Kamu benar malam ini juga aku akan bertindak." Kemudian hashim menelpon seseorang
"Bocah ingusan ingin bermain-main dengan Hashim dia tidak tau siapa Hashim sebenarnya sekarang terima akibatnya." Gumam hashim
_
_
"Sayang tadi kami dari toko material. Besok semua material akan datang."
"Kak Ray jadi merenovasi rumah ini?"
"Iya sayang. Aku kasihan dengan bapak dan ibu seharusnya mereka bisa dengan nyaman tinggal di rumah yang lebih bagus. Kamu lihat sendiri kan kamar mandi saja bapak tidak punya. Aku tidak tega sayang."
"Kak Ray sudah bicara sama bapak."
"Belum sayang kakak takut bapak tidak mau. Jadi aku beri kejutan saja. Bagaimana menurut kamu sayang?"
"Kak Ray sudah meminta izin sama papa?"
"Untuk apa? Ini kan uang aku sendiri sayang untuk apa aku harus meminta izin. Bapak dan ibu kan orang tua aku juga sayang."
"Kak…aku tau ini uang kakak sendiri tapi tetap saja kak Ray harus meminta izin dulu sama papa dan mama ana. Aku tidak mau mereka merasa tersinggung dan aku juga tidak mau jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nantinya."
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Sebenarnya aku takut banget kak. Aku takut papa dan mama akan mengungkit semuanya nanti jika terjadi sesuatu dengan kita. Bukannya aku berharap terjadi hal-hal yang buruk kepada kita tapi tidak ada yang tau nasib seseorang orang akan seperti apa kedepannya. Kami sudah banyak menyusahkan keluarga kak Ray. Aku tidak mau jika papa dan mama berpikir aku hanya memanfaatkan kak Ray dan menikah dengan kak Ray hanya karena hartanya.
"Pikiran kamu sangat kotor. Papa dan mama tidak mungkin punya pikiran seperti itu kamu lihat sendiri kan betapa sayangnya mereka sama kamu."
"Iya.."
"Jangan pernah punya pikiran seperti itu lagi ya.." Amara mengangguk.
"Ya Allah semoga semuanya akan baik-baik saja. batin amara
"Sayang.."
"Hemm.."
"Kira-kira disini sudah ada Ray junior belum ya??" Tanya Ray sambil mengelus perut rata Amara.
"Kita berdoa saja ya kak. Semoga Ray junior segera hadir disini."
"Apa kamu sudah siap menjadi seorang ibu?"
"Ibu selalu mengatakan padaku ketika kita sudah memutuskan untuk menikah artinya kita harus siap dalam segala hal. Menjadi istri yang baik,menjadi seorang ibu yang baik, dan Harus bisa mengurus rumah dan suami. Jadi aku sudah siap kapan pun Ray junior akan hadir ditengah-tengah kita."
"Aku bangga sama kamu. I love you my wife.."
"I love you to my husband.." kemudian Ray menarik kepala Amara dan mencium bibirnya. Tapi hanya sebentar karena pintu tiba-tiba diketuk. Ray pun bangun
"Ck..siapa sih ganggu saja." Gerutu ray
"Bukannya ganggu tapi kita yang salah tempat." Ray baru sadar jika ia berada di ruang tamu rumah mertuanya. Jika di rumahnya sendiri mau dimanapun tempatnya gas pol gaessðŸ¤ðŸ¤.
Ray membuka pintu, ternyata Bagas dan Ardi yang datang.
"Ngapain kalian kesini?"
"Muka Lo kenapa sih jutek amat. Kita kan mau keluar, Lo lupa?"
"Sekarang?"
"Iyalah Ray..inikan sudah jam delapan katanya Lo nggak mau malam-malam. Biar nanti pulangnya juga nggak kemaleman."
"Berisik Lo. Bentar gue pamit ibu negara dulu."
"Ibu negara nggak diajak sekalian bos?"
"Nggak mau dia.. kalian di luar saja tidak usah masuk."
"Eh..songong banget ni anak." Gerutu Ardi.
"Sayang..aku keluar dulu ya sama mereka." Pamit Ray.
"jangan malam-malam pulangnya.." jawab Amara manja.
"Iya sayang..kamu pengen ya? Hem..hem" goda Ray menggerakan alisnya keatas dan ke bawah
"Iya..pengen maem sosis.." bisik Amara. Membuat Ray seketika tegang. Niatnya ingin menggoda Amara malah dia yang tergoda.
"Sudah sana berangkat jangan malam-malam pulangnya dan jangan genit lagi sama penjual kopi itu."
"Tapi sosisnya gimana.."
__ADS_1
"Makanya jangan pulang malam-malam."
"Siap nyonya dirgantara.." jawaban Ray membuat Amara salting.
_
_
Mereka pun sampai di tempat tongkrongan anak-anak disana yaitu pos ronda.
Mereka saling menyapa karena sebelumnya sudah kenal.
"Wiih…pak bos kita sudah datang rupanya." Ucap diki Ray pun memperkenalkan Ardi kepada mereka. Dan seperti biasa mereka selalu welcome kepada siapa saja. Mereka saling bersenda gurau bersama dan seperti biasa Ray yang mentraktir mereka semua.
Tak terkecuali nining yang sudah
bergabung bersama mereka. Kali ini Ray tidak mau duduk berdekatan dengan Nining Ray takut terjadi salah paham lagi. Bisa-bisa bukanya ada Ray junior tapi malah mesin pembuat Ray junior yang hilang.
Malam semakin larut sudah pukul 22.30 Ray mengajak Bagas dan Ardi pulang.
Dan rupanya pergerakan Ray sudah diintai oleh dua orang lelaki memakai pakaian serba hitam dan menggunakan penutup kepala. Mereka bersembunyi tidak jauh dari tongkrongan Ray.
Bagas menyetir sendiri menggunakan sepeda motornya sedangkan Ardi dan Ray berboncengan menggunakan sepeda motor pak hasan.
Di tengah jalan yang sepi tiba-tiba dua buah sepeda motor RX-King dengan jumlah empat orang yang semuanya memakai penutup kepala menghadang mereka.
Ray Ardi dan Bagas pun turun dari motor.
"Siapa kalian?" Tanya Ardi
"Serang.." ucap penjahat itu. Kemudian penjahat itu menyerang mereka bertiga. Meskipun jumlah mereka lebih banyak tapi Ray, Bagas dan Ardi tetap bisa melawan mereka. karena mereka memang jago karate terutama Ray. Saat mereka hampir kalah satu dari mereka mengeluarkan senjata tajam. Dia berlari menuju arah Ray dan langsung menusuk perut Ray dengan pisau.
"Mampus kamu.." ucap penjahat itu. Ray dan penjahat itu sempat bertatap muka. Dengan sisa tenaga Ray menarik tutup kepala laki-laki itu dan Ray pun berhasil tetapi pandangannya mulai kabur tetapi Ray masih bisa melihat meskipun samar. Terdapat tompel di samping hidung laki-laki itu.
"Ray.." teriak Ardi yang melihat Ray tertusuk. Ardi berlari ke arah ray yang sudah tumbang. Penjahat itu langsung kabur begitu target sudah terluka.
"Ray…bangun Ray.." Ardi menangis memangku kepala Ray.
"Pak Ray.." teriak Bagas.
"Cepat cari bantuan gas..cepat."
Bagas mengendarai motornya kembali ke pos ronda karena jaraknya lebih dekat.
"Tolong.. tolong.." teriak Bagas yang masih mengendarai motornya.
"Eh Bagas tuh.."
"Kenapa gas? Ada apa?" Tanya Diki dan yang lain.
"Tolong Ki..Ray ditusuk orang."
"Dimana?"
Kemudian mereka mengikuti bagas.
bersambung....
🌺Hay gaees tak bosan author meminta dukungan kepada kalian yang setia membaca "kisah cinta Amara" semoga sehat selalu dan dilancarkan rizkinya.
🌺like komen dan vote sebanyak-banyaknya ya gaess. dan yang belum favorit silahkan di favoritkan agar setiap up ada notifikasi di handphone kalian.
__ADS_1
🌺jangan lupa beri hadiah juga ya🥰🥰🥰