Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 26 : terhanyut


__ADS_3

Sesampainya di ruangan, Risya mendudukan amara pada sebuah kursi lalu menginterogasinya.


"Apa tadi pagi lo juga menangis karena lia?" Amara menggeleng


"Jangan bohong Amara. Lo nggak bisa bohongin mbak."


" Bukan Lia mbak. Tapi semua! Semua karyawan membenciku, menghinaku."


"Dan Lo diam saja! Iya kan? Lo nggak boleh kayak gini Amara. Lo harus melawan kalau Lo selalu mengalah mereka akan semakin menjadi jadi."


"Aku nggak tau harus gimana mbak semua membenciku. Aku merasa sendiri aku tertekan." Risya menarik Amara dalam pelukannya.


"Lo nggak sendiri Amara. Ada gue yang selalu ada buat lo." Amara mengeratkan pelukannya.


_


"Denting" satu chat dari Ray.


"Gue tunggu di parkiran."


Ray kembali memaksa Amara untuk pulang bersama. Amara sudah menolak tetapi Ray tetap memaksa.


"Mbak aku mau tanya?"


"Tanya apa, kayaknya penting banget."


"Penting nggak penting sih mbak, tergantung mbak aja nganggepnya gimana." Risya memutar bola matanya malas jika Amara sudah bicara panjang lebar


"Iyaa buruan sayang mau nanya apa?"


"Pak Ray Ngajakin aku pulang bareng kalau menurut mbak gimana?"


"What!! Pak Ray Ngajakin Lo pulang bareng? Oh my God Amara..beruntung banget sih Lo. Kalau gue jadi Lo gue nggak bakal mikir dua kali untuk mau..." Risya heboh sendiri


"mbak kan tau nama aku tuh udah jelek disini nanti mereka tambah nggak suka sama aku mbak."


"Aduh Amara gini ya, elo mau kayak gimanapun yang namanya orang nggak suka tetep aja nggak suka. Jadi mau Lo pulang bareng pak Ray atau enggak mereka bakal tetep nggak suka sama lo. jadi kalo saran gue nih ya mending Lo pulang bareng pak Ray aja biar yang panas makin panas." Karena menunggu Amara yang tak kunjung datang Ray pun memutuskan untuk mencari Amara di ruangannya.


"Kenapa lama sekali? Apa masih ada kerjaan?" Tanya Ray


"Enggak kok pak. Sudah selesai." Justru Risya yang menjawab


"Ayo kita pulang." Ray menggandeng tangan Amara


"Aku duluan ya mbak Bae.."


"Bae Amara hati hati ya."


Hesti yang berada di parkiran melihat Ray menggandeng tangan amara. Otaknya terasa mendidih dadanya naik turun menahan amarah berkali kali Hesti menghembuskan nafasnya kasar.


"Lagi lagi Lo Amara. Lo selalu menjadi penghalang buat gue. Awas lo Amara gue nggak bakal biarin hidup Lo tenang!. Lalu masuk ke dalam mobilnya.


"Ra..aku mau ngajak kamu ke suatu tempat!" Ucap Ray saat sudah berada di dalam mobil.

__ADS_1


"Kemana kak?"


"Pokoknya kamu pasti suka." Amara mengguk dan tersenyum manis pada Ray. Ray mengacak rambut Amara pelan.


_


_


Ray mengajak Amara jalan jalan di pantai menikmati pemandangan sore hari yang indah. Ray terus menggandeng tangan Amara menuju tepian pantai. Tiba tiba Rai berjongkok di depan amara dan menyentuh kakinya.


"Eh kak Ray mau apa?"


"Apa kamu tidak kesulitan berjalan diatas pasir menggunakan high heel?" Ray pun membuka high heel Amara. Setelah selesai Rai menenteng high heel Amara dan kembali berjalan. Amara malu karena Ray membawakan high heel nya.


"Sini kak biar aku yang bawa!"


"Tidak apa apa biar aku saja." Ray menjawab sambil mengelus puncak kepala Amara.


"Ayo kita bermain air!" Ray kembali menggandeng tangan Amara. Amara seolah terhipnotis oleh perlakuan manis Ray.


"Apa kamu suka?"


"Iya kak aku suka. Makasih ya kak."


Hembusan angin sepoy sepoy,lautan yang terbentang luas dan suara deburan ombak membuat perasaan Amara tenang dan bahagia.


Amara berlari dan bermain air. Kaki putihnya menari indah diatas pasir putih dengan deburan ombak yang membasahinya. Ray terus memperhatikan Amara yang tertawa bahagia. Ray berjalan mendekati Amara, melihat Ray menghampirinya satu ide muncul untuk menjahili ray. Amara sengaja menyipratkan air pada wajah Ray.


Sehingga wajah dan bajunya sedikit basah.amara tertawa Amara melihat gelagat Ray yang akan melakukan hal yang sama padanya. Amara segera berlari


"Hhh ampun kak! Aku cuma bercanda. Sudah kak aku tidak kuat lagi geli.." Ray pun melepaskan Amara.


Ray dan Amara duduk di tepian pantai dibawah pohon kelapa melihat indahnya sunset yang mulai menyembunyikan sinarnya sambil menikmati satu es kelapa muda untuk mereka berdua.


Karena memakai rok Amara duduk berselonjor kedua tangan disamping pinggang dan sedikit ditekuk. perlahan namun pasti tangan kanan Ray bergerak untuk menggenggam tangan amara. Amara melihat tangan nya yang digenggam Ray kemudian menatap ray bingung.


Ray mengubah posisinya menghadap amara. Kemudian meraih kedua tangan Amara


"Mungkin ini terasa aneh bagimu Amara, tapi ini lah yang aku rasakan. Sejak pertama aku melihatmu mendengar cerita tentangmu aku tidak bisa berhenti memikirkan mu. Aku tau ini salah Kevin adalah sahabatku tapi aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Aku sakit saat melihatmu menangis, aku sakit saat Kevin menyakitimu tapi aku lebih sakit saat melihatmu bersama Kevin. Amara..aku mencintaimu. Aku ingin selalu melindungimu Aku menginginkanmu menjadi pendamping hidupku menjadi ibu dari anak anakku."


"Kak aku.."


"Kamu tidak perlu menjawab sekarang atau besok karena aku akan selalu menunggumu hingga kamu memiliki perasaan yang sama padaku."


Amara diam tidak tau harus berbuat apa.


Ray menarik Amara dalam pelukannya


"Sudah jangan dipikirkan jangan jadikan Ini sebagai beban pikiranmu. Biarkan semua mengalir seperti air." Ray mengelus lembut rambut Amara. Amara Pun merasa tenang dan membalas pelukan ray.


Dengan keindahan sunset dan suara deburan ombak serta angin sepoy sepoy Ray terhanyut dalam suasana. Tatapannya tertuju pada bibir merah alami amara. Bibir yang tipis di bagian atas dan bagian bawah yang sedikit tebal namun memiliki garis di tengahnya yang hanya berpoles liptint tipis.


Perlahan lahan Ray mendekatkan wajahnya pada Amara semakin dekat hingga Ray dapat merasakan hembusan hangat nafas Amara sedetik kemudian Ray menempelkan bibirnya di bibir merah alami amara tangannya memegang kedua pipi Amara. Mata Amara membulat sempurna mendapat serangan dari Ray. Ray memejamkan kedua matanya sambil terus merasai manisnya bibir Amara. Amara mendorong ray hingga Ray membuka mata dan melepaskan pagutannya.

__ADS_1


"Amara aku minta maaf aku.."


Amara masih tidak percaya atas apa yang dilakukan Ray padanya. Amara berdiri dari duduknya dan berlari


"Ra tunggu.." Ray mengejar Amara, dan meraih tangannya


"Tolong maafin aku Ra! Aku salah aku khilaf." Ray berlutut di depan Amara sambil memegang kedua tangan Amara dan meminta maaf.


"Kak! Apa yang kamu lakukan ayo berdiri?"


"Aku nggak akan berdiri sebelum kamu memaafkan aku."


"Aku nggak akan maafin kakak kalau kakak nggak mau berdiri." Ray Pun seketika berdiri


"Jadi kamu mau maafin aku? Tadi aku.."


"Lupakan! Jangan bahas itu lagi ayo kita pulang!"


_


_


Di dalam mobil Amara terus terdiam dan memalingkan wajahnya ke luar jendela. Ray menggenggam satu tangan Amara, Amara menoleh


"Apa kamu masih marah?" Amara menggeleng


"Terus kenapa kamu diam saja?"


"Aku hanya kecapek an." Jawab Amara ketus kemudian menarik tangannya yang digenggam Ray. Ray hanya menarik nafasnya kasar.


Mereka pun sampai di kos amara. Tanpa berkata apa apa Amara keluar dari mobil Ray. Saat akan membuka pintu Ray berkata..


" Aku minta maaf telah membuatmu tidak nyaman." Amara tidak memberikan reaksi apapun dan benar benar keluar dari mobil ray tanpa menghiraukan ucapan ray.


Cukup lama Ray masih berdiam diri didalam mobil tanpa menyalakan mobilnya.


Ray memikirkan kebodohannya yang mungkin akan membuat Amara membencinya dan menciptakan jarak diantara mereka berdua.


Ray memukul stir kemudi.


"Aah..kau bodoh Ray, bodoh!"


"Amara melihat Ray di balik gorden kamarnya.


Melihat mobil Ray yang masih terparkir di sana. Ada perasaan tidak enak yang Amara rasakan saat meninggalkan Ray begitu saja. Amara ingin menemui Ray kembali Namun sudah melajukan mobilnya.


**apa yang terjadi selanjutnya?? jangan lupa dukungannya dengan cara:


*like


*komen dan


*vote

__ADS_1


**happy reading🥰🥰**


__ADS_2