
"Farah.." lirih Amara
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Farah berdiri di depan pagar sambil memanggil Amara.
"Amara..gue ingin bicara sebentar. Tolong izinin gue masuk." Teriak farah
"Siapa nona disuruh masuk atau tidak?" Tanya Ajeng
"Biar aku yang urus. Kamu masuk saja."
"Baik nona."
"Amara…tolong buka!" Teriak Farah lagi. akhirnya Amara menghampiri Farah. Dan suara teriakan Farah berhasil membuat Ray terbangun. Ray melihat dari balik gorden kamarnya di lantai dua.
"Farah..mau apa dia apa yang mereka bicarakan?" Gumam Ray.
"Farah kamu ngapain disini terus dari mana kamu tau rumah aku?" Tanya Amara dari balik gerbang rumahnya.
"Itu tidak penting. Ada yang jauh lebih penting. Amara gue ingin bicara sebentar tolong izinkan gue masuk." Amara ragu untuk mengizinkan Farah masuk atau tidak.
"Farah suamiku sedang sakit. Tolong jangan membuat keributan disini."
"Amara gue ingin bicara baik-baik sama lo sebagai sesama wanita. Gue janji tidak akan membuat keributan. Tapi jika Lo tidak mau mengizinkan gue masuk. Gue akan tetap ada disini dan terus berteriak memanggil nama lo." Amara berpikir sejenak.
"Baik kamu boleh masuk. Tapi ingat jangan membuat keributan."
"Oke." Amara pun membukakan pagar untuk Farah dan menyuruhnya masuk.
Ray terus mengamati Amara dan Farah dari atas. Begitu melihat Amara dan Farah masuk Ray pun bergegas turun. Ray yakin datangnya Farah pasti ada hubungannya dengan Kevin.
"Silahkan duduk far. Ajeng.."
"Iya nona."
"Tolong buatkan minuman apa saja terserah."
"Baik nona." Ajeng akan pergi ke dapur untuk membuat minuman sebelum sampai di dapur. Ajeng melihat Ray berdiri di balik tembok.
"Tu.."
"Sttt.." Ray memberi kode pada Ajeng untuk diam. kemudian Menyuruh Ajeng pergi dengan tangannya. Ajeng pun pergi.
Farah melihat sekeliling mengamati rumah Amara yang cukup bagus. terlihat elegan dan sangat nyaman. Juga terdapat banyak pajangan barang-barang mewah disana.
"Bagus juga rumah lo. Sangat nyaman."
"Jadi kamu ingin masuk karena ini?"
__ADS_1
"No…gue nggak tertarik dengan rumah Lo." Tiba-tiba Farah menggenggam kedua tangan Amara.
"Please bantuin gue Ra..gue nggak mau pisah sama Kevin. Gue cinta sama Kevin. Cuma Lo yang bisa bantuin gue." Amara melepas tangannya kasar.
"Kenapa sih far kamu tidak bisa membiarkan aku hidup dengan tenang. Dengan damai. Kenapa selalu saja kamu mengganggu aku dengan masalah rumah tangga kamu dengan Kevin. Farah! Aku sudah menikah aku sudah bahagia tolong jangan ganggu aku lagi apalagi ini masalah Kevin. Ini masalah rumah tangga kamu dengan Kevin tolong jangan bawa-bawa aku."
"Tapi ini semua karena Lo. Lo yang harus tanggung jawab."
"Aku..emang apa yang aku lakukan far. Kenapa sih setiap masalah kamu dengan Kevin selalu kamu kait-kaitkan denganku. Please Farah stop jangan libatkan aku dalam urusan rumah tangga kamu dengan kevin."
"Oke fine! Gue nggak akan bawa nama Lo. But please Amara.. help me. Bujuk Kevin supaya dia mau kembali sama gue."
"Maaf Farah aku nggak bisa. Kevin suami kamu jangan bawa aku ke dalam rumah tangga kamu. Kita urus suami kita masing- masing." Tiba-tiba Farah berdiri dan menunjuk wajah Amara.
"Gue tau Lo nggak mau bantuin gue karena Lo mau balikan kan sama Kevin. Lo cinta sama Kevin makanya Lo nggak mau bantuin gue. Iya kan?" Teriak Farah.
"Farah!!" Teriak Ray. yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Kenapa kamu selalu mengganggu istriku. Kamu urus suami kamu jangan mengganggu istriku terus."
"Sayang..sudah aku tidak apa-apa."
"Ray..gue sudah mencoba bicara baik-baik dengan istri lo tapi dia tidak mau bantu gue."
"Aku tidak mau dengar lagi alasanmu sekarang kamu keluar dari rumahku."
"Istri Lo itu adalah sumber dari segala masalah rumah tangga gue. Apa salah kalau gue minta pertanggung jawaban dari istri Lo?"
"Tapi kenyataannya seperti itu Amara."
"Cukup!! cukup..aaah…" Ray merasakan sakit di bagian perutnya. Tiba-tiba baju Ray basah oleh darah di bagian perutnya.
"Kak Ray kenapa?"
"Shh..ah." Ray mendesis sakit.
"Lo..kenapa Ray? Lo berdarah?"
"Kak Ray lagi sakit Farah. Dia baru saja di operasi."
"Astaga..kita bawa kerumah sakit sekarang. Ada mobil kan?"
"Ada tapi aku nggak bisa bawa mobil."
"Biar gue yang bawa."
" Itu kuncinya ada di atas meja." kemudian Farah berlari menyiapkan mobil "Ajeng..Ajeng.."
"Iya nona. Tuan kenapa nona?" Tanya Ajeng melihat Ray kesakitan dengan perutnya mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Ajeng kamu jaga rumah. Aku mau bawa kak Ray ke rumah sakit."
"I…iya nona."
"Farah bantuin. Buka pintu mobilnya jeng." Ajeng berlari membuka pintu mobil. Kemudian membuka pintu gerbang.
_
_
Sesampainya di rumah sakit. Ray langsung diperiksa oleh dokter. Dan kembali dijahit. Karena jahitannya robek akibat Ray teriak-teriak. Amara dan Farah menunggu di luar.
"Minum dulu." Farah menyodorkan satu botol air mineral.
"Terimakasih.."
"Sorry ya. Gara-gara gue suami Lo jadi sakit. Ucap Farah tiba-tiba.
"Aku minta maaf far. Aku nggak bisa bantuin kamu. Tolong mengerti posisiku aku nggak mau suamiku salah paham. Aku nggak mau lagi ada hubungan apapun dengan Kevin."
"Lo nggak bohong kan..Lo beneran udah nggak ada rasa sama Kevin?"
"Ya bener lah far. Aku kan udah ada kak Ray suami aku. Kevin itu masalalu aku. Lagi pula kenapa kamu masih ragu sih kamu juga sudah ada.." ucapan Amara terhenti Amara baru sadar melihat perut Farah yang sudah kembali rata. Padahal satu bulan yang lalu Amara melihat perut Farah yang sudah membuncit.
"Kamu sudah melahirkan far? Selamat ya.." Amara mengulurkan tangannya
"Pokoknya gue pegang janji Lo. Lo nggak boleh kembali sama Kevin." Ucap Farah panik kemudian pergi
"Farah kenapa terlihat panik. Tadi sepertinya baik-baik saja. Tapi dia berubah saat aku tanya soal anaknya. Kenapa ya?" Gumam Amara
"Ibu Amara.." panggil dokter
"I..iya dok. Bagaimana keadaan suami saya dok?"
"Tidak apa-apa Bu, hanya terlalu banyak gerak yang menyebabkan jahitannya kembali terbuka. Tapi ibu tenang saja lukanya sudah saya jahit kembali. Lain kali lebih hati-hati ya Bu."
"Suami saya sudah boleh pulang kan dok?"
"Boleh Bu. Ibu bisa menyelesaikan administrasinya dulu. Kalau begitu saya permisi." Amara masuk ke dalam ruangan Ray.
Ray membuang muka saat melihat Amara masuk.
"Kak…" panggil Amara lembut. Namun tidak ada jawaban dari Ray. Amara menjadi bingung harus berbuat apa karena dia tau Ray pasti marah dengannya.
"Maaf ya kak. Gara-gara Farah kak Ray harus kembali ke rumah sakit. Harusnya kak Ray jangan teriak-teriak kak Ray kan masih sakit." Lagi-lagi tidak ada jawaban dari Ray.
"Kata dokter kak Ray boleh pulang. Aku urus administrasinya dulu ya kak." Kemudian Amara keluar.
Ray merasa kesal dengan Amara kenapa Farah sampai datang ke rumahnya apalagi yang dilakukan Amara dengan Kevin apa mereka bertemu secara diam-diam di belakangnya. itulah isi pikiran Ray saat ini.
__ADS_1
🍁🍁🍁Bersambung🍁🍁🍁