Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 189 : Dasar pengecut


__ADS_3

Amara dan Arum dalam perjalanan menuju mall dengan Arum yang mengemudi karena Amara sedang hamil Arum tidak mengizinkan Amara untuk mengemudi. Saat sedang berhenti di lampu merah mata Amara membelalak melihat Ray berhenti tepat di sebelahnya. Dengan cepat Amara turun dari mobil lalu menghampiri Ray.


"Amara kamu mau kemana, sebentar lagi lampunya hijau." Teriak Arum namun tak di hiraukan oleh amara. Mata Arum mengikuti kemana Amara pergi dan Arum sangat terkejut ketika Amara menghampiri Ray.


"Astaga itu kan Ray.." gumam Arum lalu menghubungi Gerry.


"Iya sayang ada apa?" Tanya gerry diseberang telepon


"Sayang gawat aku dan Amara lagi dijalan tapi Amara bertemu dengan Ray dan sekarang sedang bertengkar aku takut terjadi sesuatu sayang."


"Oke kamu tenang ya aku akan menghubungi Ray."


Tinnnnnnnn


Bunyi klakson mobil dari belakang.


Tuttttt


Arum lantas mematikan sambungan teleponnya. tak lupa Arum men share lokasinya saat ini kepada gerry.


"Sayang halo..sayang.." teriak Gerry.


Gerry lantas menghubungi Mike dan memberitahu Mike seperti yang Arum katakan.


_


_


"Ray!!"


"Amara.." lirih Ray.


"Ray buka pintunya Ray kita harus bicara."


"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan."


"Kamu tidak bisa menghindar terus Ray jangan jadi pengecut." 


Tinn tinn tinn


Suara klakson mobil dari belakang


"Aku tidak mau bicara Amara semua sudah selesai." 


Melihat gelagat Ray ingin kabur Amara segera berlari dan menghadang mobil Ray. Merentangkan kedua tangannya tanpa rasa takut sedikitpun.


"Amara minggir apa yang kamu lakukan?"


"Aku tidak mau minggir sebelum kamu keluar."


"Jangan gila kamu Amara."


Tiiiiiiinnnnnnnn


Ray sengaja membunyikan klakson kepada Amara


"Aku tidak peduli sebelum kamu keluar aku tidak akan pergi.

__ADS_1


Tiba-tiba seorang perempuan tidak terlalu tua dengan gaya glamour datang menghampiri Amara lalu mencaci makinya.


"Heh!! Perempuan tidak waras apa kamu sadar kamu sudah membuat jalanan ini menjadi macet, kamu pikir ini jalan punya nenek moyangmu."


"Tolong anda jangan ikut campur urusan saya. Ini masalah pribadi saya."


"Tentu saja saya harus ikut campur kamu sudah membuat jalanan ini macet. Teriak-teriak tidak jelas seperti orang gila, apa kamu tidak punya malu dilihat oleh banyak orang."


"Anda jangan sembarangan kalau bicara.


Dia itu mantan suami saya dan saya…."


"Oh..mantan suami kenapa masih cinta ya, belum bisa move on pengen balikan lagi, lihat diri kamu teriak-teriak di pinggir jalan apa itu pantas. Apa yang kamu lakukan ini seperti orang gila yang tidak berpendidikan." makinya setengah berteriak


"Dia memang mantan suami saya dan dia telah memisahkan saya dengan anak saya sejak dia dilahirkan. Saya hanya ingin anak saya kembali apa itu salah. apa dimata ibu memperjuangkan anak itu seperti orang gila, anda seorang perempuan dan jika anda mempunyai seorang anak juga tentu anda tahu bagaimana rasanya berpisah dari anak anda. Sakit..Bu. kalau saya harus seperti orang gila agar saya bisa bertemu dengan anak saya akan saya lakukan juga Bu." Jawab amara tak kalah berteriak juga.


"Amara…sabar jangan teriak-teriak nanti kamu sakit lagi, ingat anak dalam kandungan kamu." Arum mencoba menenangkan Amara


"Bu!! Anda jangan marah-marah sama teman saya anda itu tidak tahu apa-apa. Dan kamu Ray keluar kamu jangan menjadi pengecut dasar laki-laki tidak berguna kamu."


"Apa-apaan kamu berani kamu bentak-bentak saya. Kamu tidak tahu siapa saya."


"Saya tidak peduli siapa anda yang saya tahu anda sudah membentak-bentak teman saya. Dan saya tidak terima itu. Cepat keluar kamu Ray!!"


Akhirnya Ray pun keluar, Amara pun langsung menarik kerah baju Ray.


"Dasar brengsek kamu Ray! Dimana anakku aku ingin bertemu dengannya Ray kembalikan anakku Ray kembalikan!!!"


"I..iya akan aku katakan tapi lepaskan aku dulu Amara." Amara pun melepaskan tangannya dari baju Ray.


"Amara aku minta maaf sebelumnya selama ini aku menghindar darimu karena aku takut Amara, aku belum siap bertemu denganmu, aku belum siap melihat kamu hancur."


"Dia..dia sudah tiada Amara."


"Tiada, apa maksudnya tiada?"


"Anak kita sudah..sudah meninggal."


Duarrrrr


Amara benar-benar terpukul bagaimana tidak anak yang sudah bertahun-tahun ia cari sudah tidak ada di dunia. Bahkan Amara baru Menggendongnya sebentar


"Kamu bohong kan Ray..kamu bohong! Cepat katakan dimana anakku Ray dimana dia." Amara menangis sambil memukul dada Ray berulang kali.


"Amara tenang Amara.."


Sementara Ray hanya menangis dan membiarkan Amara memukulnya.


"Kamu jahat Ray kamu jahat tega kamu." Tiba-tiba pandangan Amara kabur dan..


Brukkk


Amara jatuh pingsan beruntung di belakang Amara ada Arum jadi Amara tidak sampai jatuh.


"Amara bangun amara.." teriak Arum


"Amara kamu kenapa bangun sayang, Arum Amara kenapa?" Panik Ray bahkan tanpa sadar Ray memanggil Amara sayang yang membuat Arum terkejut dan tercengang melihat reaksi Ray yang berlebihan.

__ADS_1


"Arum kenapa kamu diam saja.."


"I..iya, angkat cepat bawa Amara ke mobil Ray."


"Dia kenapa?" Tanya ibu-ibu tadi kepada Arum


"Ini semua karena ibu, coba ibu tidak marah-marah sama teman saya kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Dia itu sedang hamil Bu, dan ibu ingat jika terjadi sesuatu tangan teman saya ibu yang harus bertanggung jawab."


"Kenapa jadi saya, saya kan hanya.."


Cittttt


Ucapan ibu itu terpotong dengan suara rem mobil yang berhenti di depan mobil Ray.


Ibu dan Arum melihat kearah mobil itu yang tak lain adalah mobil Mike.


"Mike.." lirih Arum


Dengan cepat Mike keluar dari mobil tersebut lalu membuka pintu mobil Ray kasar dan dengan cepat Mike menggendong Amara.


Arum pun lantas menghampiri Mike, Dion, dan Gerry yang berdiri di samping mobil Mike.


"Pak Mike.." ucap Ray yang ikut keluar dari mobilnya.


"Urusan kita belum selesai, jika terjadi sesuatu dengan istriku akan ku cari kemanapun kamu pergi." Ucap Mike tegas.


"Dia juga pak, dia sudah menghina Amara tadi." Tunjuk Arum kepada ibu-ibu itu.


Mike menatap tajam ibu-ibu itu lalu menatap Gerry


"Urus wanita itu." Ucapnya kepada Gerry lalu membawa Amara kedalam mobilnya Dion pun segera melajukan mobilnya.


Setelah mobil Mike pergi Ray pun ikut pergi.


Pun ibu-ibu tadi juga hendak pergi namun dicegah oleh suara Gerry.


"Stop!!" Teriak Gerry lalu menghampirinya.


"Mau kemana anda, urusan kita belum selesai."


"Saya tidak tau menau kenapa dia bisa pingsan, dia itu bohong saya tidak melakukan apapun." Tunjuknya pada Arum


"Apanya yang bohong anda tadi marah-marah dan menghina teman saya. Anda tidak tahu kan siapa suami teman saya itu. Dan anda sudah berani menghina istrinya maka anda tidak akan bisa lepas darinya." Dari ekspresi wajah ibu itu terlihat Jika dia ketakutan.


"Sa..saya tidak tahu. Saya permisi." Lalu ibu itu pergi


"Eh kamu kemana." Arum hendak mengejar namun dicekal oleh gerry


"Biarkan sayang, aku tahu siapa dia."


"Hah?? Tau dari mana?"


"Dari mobil yang dia pakai, sudahlah dia akan mendapat balasannya."


"Benarkah..??" Arum tersenyum


"Iya, sekarang ayo kita pergi."

__ADS_1


🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹


💗hallow...semua author mau minta maaf nih jarang bisa up karena author lagi sibuk dengan pesanan kue yang membludak maklum ya selain menulis author juga membuat kue. jadi gaesss kemarin itu ditempat aku lagi ada sedekah bumi jadi pesanan kue membludak. tapi tenang gaess sekarang udah selesai acaranya jadi author bisa fokus nulis lagi. Terimakasih untuk dukungan nya lope you all💗💗💗💗💗


__ADS_2