Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 34 : Kegalauan Ray


__ADS_3

Amara masih harus menempuh perjalanan kurang lebih satu jam untuk sampai di rumahnya jika naik motor. Namun jika naik kendaraan roda empat bisa lebih lama. Karena kondisi jalan yang rusak parah.


Begitu sampai, Amara memberikan  dua lembar uang seratus ribuan untuk pak ojek tersebut.


"Maaf neng ini kebanyakan."


" Nggak papa pak. Anggap saja ini Rizki bapak!" 


"Alhamdulilah..makasih neng." Amara kasihan karena umurnya sudah tidak muda lagi. Namun masih bekerja keras menjadi tukang ojek.


Amara menatap rumahnya sejenak. Sudah tiga tahun lebih Amara meninggalkan rumah ini. Dan merantau dengan tujuan merubah nasib. Setahun yang lalu Amara pulang dengan perasaan bangga. dan bercerita kepada kedua orang tuanya Bahwa Amara telah bekerja di kantoran. Tapi Sekarang Amara pulang kembali dengan perasaan yang berbeda. Amara telah kehilangan pekerjaannya. Pekerjaan yang selalu Amara andalkan dapat merubah nasib keluarganya. "Maaf kan Amara bu, pak! Amara belum bisa membahagiakan kalian." Gumam Amara dalam hati dengan mata berkaca kaca.


"Tok tok tok!! Assalamualaikum..bu.."


"Waalaikumsalam" jawab pak Hasan dan ibu Jumiati.


"Pak, bu!" Amara langsung memeluk kedua orang tuanya bergantian.


"Sudah nak..kita masuk dulu ya. Kamu pasti capek." Mereka pun masuk kedalam dengan ibuk Jumiati membawakan koper Amara.


"Pak..bapak gimana keadaannya? Bapak sakit apa?"


"Bapak tidak apa apa nak, bapak hanya kecapean dan demam biasa."


"Tapi kata ibu, bapak dirawat dirumah sakit."


"Maaf kan ibu dan bapakmu ya nduk, kami terpaksa berbohong. kami kangen sama kamu nduk!" Sahut ibu Jumiati. Amara memeluk ibunya.


"Amara minta maaf bu. Amara yang salah! Karena Amara tidak pulang pulang ibuk dan bapak harus berbohong.


Yang terpenting ibu dan bapak sehat sehat saja Amara seneng banget."


Mereka pun melepas kerinduan memanfaatkan waktu kebersamaan mereka. Kini sudah larut malam Amara merebahkan tubuhnya dikamar. di kasur tipis dengan beralaskan kayu jati.


Sambil memandangi langit langit rumahnya yang banyak dihuni sarang laba laba.


"Nduk..ini ponselmu bunyi terus. Siapa tau penting." Ucap Bu Jumiati sambil menyodorkan handphone Amara. Yang Amara cas di ruang tamu.


"Iya bu terima kasih." Bu Jumiati pun pergi.


Dilihatnya dua puluh lima panggilan


 Tak terjawab dari Ray. Amara masih kecewa dengan sikap Ray. Amara pun membiarkannya. Dan memejamkan mata.


Baru beberapa saat memejamkan mata handphonenya kembali berdering.

__ADS_1


"Apa sih kak aku mau tidur!" Jawab Amara sewot.


"Sorry, sorry..aku ganggu ya? Aku kira kamu belum tidur." Amara melihat nama yang tertera dilayar ponselnya ternyata Miko yang menghubunginya.


"Eh.enggak kok! Maaf ya kak aku kira tadi siapa. Ada apa?"


"Nggak ada apa apa sih, aku cuma pengen ngobrol aja sama kamu.


"Haha kirain ada apa."


"Gimana keadaan bapak kamu?"


"Alhamdulilah ternyata bapak hanya sakit demam biasa. Sekarang sudah sembuh. Kamu tahu nggak, ternyata ibuk tuh ngerjain aku biar aku pulang. Padahal aku sudah takut banget bapak kenapa kenapa. Sampek aku tuh nggak bisa fokus. "


"Oh ya? Haha..pintar juga ya ibu kamu."


"Kayaknya seneng banget ya aku dikerjain ibuku. Sampek ketawa gitu."


" Wah kayaknya aku mesti ketemu ibu kamu nih. Aku mau kasih penghargaan."


"Apa sih kak..kok malah dikasih penghargaan. Jahat banget ih. Huwa.." Amara menirukan suara anak kecil menangis.


"Cup cup cup.nanti aku kasih permen mau?"


"Hahaha.." mereka tertawa bersama. Ternyata Miko orang yang asyik dan mudah akrab. Terbukti mereka baru mengenal beberapa jam yang lalu namun bisa saling nyambung diajak bicara.


"Mungkin lusa kak. Kasihan ibuk sama bapak masih kangen. Kak miko sendiri?"


"Aku bareng kamu aja deh."


"Kok aku sih kak. Aku nanti naik travel saja kak. Kak miko duluan saja."


"Aku juga masih ada kerjaan kok disini jadi nggak papa sekalian."


"Ya sudah terserah kakak."


Cukup lama mereka bersenda gurau melalui sambungan telepon hingga Amara merasa ngantuk dan mengakhiri panggilannya.


_


_


Sementara di kediaman dirgantara Ray tidak bisa memejamkan kedua matanya. Hatinya gelisah pikirannya dipenuhi nama Amara.


Ray pun turun kebawah untuk mengambil minum.

__ADS_1


Ray menyalakan lampu dan duduk sejenak di ruang tamu sambil kedua tangannya memegang gelas berisi air. 


Pak Dirga yang juga ingin mengambil minum. Melihat lampu yang masih menyala bergegas untuk melihatnya.


"Sedang apa kamu Ray?" Tanya pak Dirga. Yang membuat Ray kaget.


"Papa! Bikin kaget saja. Pak Dirga menghampiri Ray dan duduk disampingnya.


"Apa ada masalah dengan pekerjaanmu? Kenapa selarut ini kamu masih disini?"


" Bukan masalah pekerjaan pa!" Pak Dirga memicing matanya. Meminta Ray melanjutkan ucapannya.


"Ini masalah pribadi Ray pa."


"Apa ini soal perempuan?" Sontak Ray melihat papanya kaget. Dari mana papanya bisa tahu.


"Papa juga pernah muda Ray. Jika bukan masalah pekerjaan pasti masalah perempuan.benarkan? Hahaha sepertinya papa harus bertemu dengan perempuan itu. Berani beraninya dia membuat anak papa bersedih."


"Apa yang akan papa lakukan? Jangan macam macam pa!" Ray langsung berdiri mendengar ucapan papanya.


"Hahaha" lagi lagi pak Dirga tertawa melihat tingkah Ray.


"Tenang Ray duduklah!". pak Dirga menarik Ray untuk duduk kembali.


"Papa hanya bercanda Ray. Mana mungkin papa melukai calon menantu papa!" Ray tersenyum.


"Jadi papa juga setuju jika Amara menjadi istri Ray."


"Amara? Jadi namanya Amara. Apa dia adalah gadis yang pernah menginap disini dulu." Ray terdiam


"Ray..Ray. kamu masih saja tidak berubah. Kamu selalu saja bodoh jika soal perempuan. Papa tidak ingin hal yang dulu terulang kembali. Jadi pikirkan baik baik sebelum kamu mengambil keputusan."


Ucapan pak Dirga mampu membuatnya bungkam. Ray merasa tersindir.


"Oh ya, apa permintaan papa waktu itu sudah kamu pertimbangkan? Lantas apa keputusan kamu Ray?"


" Maaf pa! Kasih Ray waktu lagi."


"Kamu selalu mengatakan hal yang sama Ray. Sampai kapan kamu akan berhenti bersenang senang dan memikirkan masa depan? Ingat Ray papa tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Papa kasih kamu waktu tiga hari." Lalu pak Dirga meninggalkan Ray.


Ray pun kembali ke kamarnya. dilihatnya waktu menunjukkan pukul 23.45 tetapi bukannya mengantuk Ray justru semakin gelisah. Diambilnya benda pipih yang ada diatas ranjang. Dan masih tidak ada pesan ataupun panggilan yang masuk dari amara.


"Amara pasti sudah tidur." gumam Ray.


"Kamu dimana sayang. kumohon jangan seperti ini. Aku merindukanmu ku mohon maafkan aku atas sikapku tadi pagi. Aku hanya tidak suka kamu menerima telepon dari laki laki lain. Aku cemburu! hati aku sakit sayang. Aku mohon maafkan aku. Jangan hukum aku seperti ini. I love you Amara sayang." Ray mengirim pesan lagi untuk Amara. Ray menangisi kebodohannya.

__ADS_1


setelah lelah menangis Ray tertidur sambil memeluk guling.


*** Hay readers happy reading🥰🥰***


__ADS_2