Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 89 :Melewati masa kritis


__ADS_3

"Amara..bukan tugas kamu untuk menjaga Ray. Tapi Ray yang harus menjaga kamu nak. Celaka itu tidak m Mandang tempat mau dimanapun dan kapanpun kalau memang saat itu adalah hari apes untuk Ray maka akan tetap terjadi nak. Jangan menyalahkan diri kamu ya. Sekarang lebih baik kita berdoa untuk keselamatan Ray." Amara mengangguk.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Akhirnya lampu ruang operasi dimatikan setelah satu jam mereka berjuang di dalam ruang operasi. Satu dokter keluar dari ruangan. Dengan cepat Amara menghampiri dokter itu.


"Bagaimana keadaan suami saya dok?"


"Alhamdulillah operasinya berjalan lancar bu. pak Ray sangat kuat dia mampu bertahan semalaman dalam keadaan yang buruk. Tapi sekarang masa kritis pak Ray sudah berakhir. Tinggal menunggu pak Ray sadar dan kita bisa pindahkan pak Ray ke ruang rawat."


"Terimakasih dok.." tangis bahagia menyelimuti semua yang ada di sana.


_


_


Ray sudah di pindahkan di ruang rawat inap. 


"Ma..Amara dulu ya yang masuk boleh kan?"


"Tentu boleh sayang. Ray juga pasti sangat ingin bertemu kamu." Amara mengangguk dengan mata berkaca-kaca amara kemudian masuk ke dalam ruangan. Perlahan Amara berjalan dengan air mata yang membasahi pipinya. Amara duduk di kursi di samping Ray. Ia genggam tangan Ray tangan yang selalu membelainya dengan kasih sayang kemudian menciumnya.


Ia pandangi wajah tampan suaminya yang kini berubah pucat. bulu tebal pada alis yang terlihat garang saat sedang marah seolah tidak ada artinya. Tangannya terulur menyentuh hidung mancung Ray, kemudian mata yang masih terpejam dan terakhir b***r yang selalu membuatnya candu.


Tangisnya semakin pecah saat ia mendekap tubuh yang kini terbaring lemah tak berdaya itu. 


Ray terbangun merasakan tubuhnya bergetar dan basah. Tangannya terulur menyentuh kepala amara.  Amara mengangkat kepalanya menatap Ray.


"Sayang…kamu sudah sadar??"


Ray menghapus airmata Amara dengan tangannya Amara menangkap tangan itu dan menciumnya.


"Jangan menangis aku baik-baik saja sayang.." 


"Aku takut..aku takut kak.. aku takut kakak akan ninggalin aku."


"Sttt…aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sayang aku sudah berjanji untuk selalu disampingmu dan menjagamu. Tidak mungkin aku meninggalkanmu sendirian. Jangan menangis lagi ya.. senyum dong.." Amara tersenyum dalam pelukan Ray. Mama ana dan ibu Jumiati ikut masuk. Amara pun melepas pelukannya. Dari jauh mama ana sudah menangis.


"Ma.." panggil Ray lemah. Kemudian mama ana memeluk Ray.


"Mama jangan menangis Ray tidak apa-apa."


"Plak"

__ADS_1


 Tiba-tiba mama ana memukul pundak Ray.


"Auw..sakit ma." Ringis Ray


"Mama apa-apaan sih kok Ray di pukul."


"Dasar tidak becus. Menjaga diri sendiri saja tidak bisa bagaimana bisa menjaga menantu mama."


"Ma..inikan musibah. Mereka saja yang curang main keroyokan ya wajar kalau Ray kalah."


"Kamu ya..baru dua hari disini sudah membuat masalah. Katakan apa yang sudah kamu lakukan sehingga kamu dikeroyok?" Mama ana memukuli Ray kembali.


"Bukan aku ma..aku nggak salah. Auw..sakit ma. Sayang tolong aku."


"Ma..sudah ma. Kasihan kak Ray."


"Biarin anak nakal ini harus diberi pelajaran.


Para laki-laki yang mendengar suara keributan pun panik dan masuk.


"Ada apa ma?" Tanya pak Dirga.


"Pa! Tolong Ray pa. Mama ngamuk."


"Mama mau beri dia pelajaran pa. Baru dua hari disini sudah membuat keributan. Sudah berapa kali mama bilang jangan suka emosi sama orang."


"Ray tidak pernah membuat keributan ma..Ray tidak bohong."


"Benar bi..Ray tidak bersalah." Bela Ardi


"Ibu ana..nak Ray tidak berbohong Bu. Nak Ray tidak membuat keributan apapun disini. Saya yang salah Bu..maafkan saya." ucap pak Hasan sendu


"Bapak.." ucap Amara merangkul pundak ayahnya.


"Bapak..apa yang bapak katakan ini bukan salah bapak. Ini musibah pak." Ucap Ray.


"Tidak nak..ini memang musibah tapi bapak yakin ada seseorang dibalik ini semua. Bapak takut semuanya terjadi karena kamu membela bapak kemarin."


Ternyata semua orang mencurigai orang yang sama namun pak Hasan tidak mau menyebut namanya langsung.


"Paman..saya dan pak Ardi sudah melaporkan kepada pihak yang berwajib. Jadi paman tidak perlu khawatir. Pelakunya pasti akan segera tertangkap."


"Membela apa maksudnya?" Tanya pak Dirga.

__ADS_1


Jadi begini paman ceritanya..Ardi pun menceritakan semua kejadian Ray yang meminta hak mertuanya kepada pak Hashim. Ardi menceritakan semuanya tanpa ada yang ditambah-tambahi ataupun dikurangi. Jadi begitu paman ceritanya. Kemudian sore hari kita pergi ke toko bangunan dan malamnya kita pergi berkumpul bersama pemuda disini. Dan saat perjalanan. Dan puncak kejadiannya adalah saat kita pulang kemudian kita..Ardi kembali menceritakan kronologis kejadian itu.


"Kamu juga jangan tinggal diam Ardi, bagas cari tau melalui pemuda disini. Kasus ini harus segera diselesaikan. Aku ingin tau siapa di balik semua ini. Akan aku pastikan mereka akan mendapat hukuman yang setimpal. Ucap papa Dirga bersungut-sungut.


"Siap paman..siap pak." Ucap ardi dan Bagas.


"Ray kamu sempat bertatap muka dan berhasil membuka penutup kepala si pelaku p*******n apa kamu masih ingat ciri-cirinya?"


Ray mencoba mengingat wajah orangnya. 


"Iya aku ingat Ar. Meskipun pandanganku mulai kabur tapi aku masih sedikit ingat dia mempunyai tompel di dekat hidungnya. Tapi aku tidak tau sebelah kanan atau kiri."


"Persis..aku juga melihatnya Ray. Kalau begitu aku dan Bagas akan kembali ke kantor polisi. Permisi semuanya."


_


_


Setelah Ardi memberi keterangan tentang kecurigaannya kepada pak Hashim polisi pun langsung mendatangi rumah pak hapelakunya. Ardi menunggu Ray sadar untuk lebih yakin.


Dua orang polisi bersama Ardi dan baga. Ardi juga memberitahu ciri-ciri pelaku p******n. tadi pagi Ardi hanya membuat laporan bah Ray d t***k dan kronologinya tapi tidak memberitahu ciri-ciri dan Bagas mendatangi rumah pak Hashim beruntung yang membuka pak Hashim sendiri.


"Selamat siang saudara Hashim."


"Selamat siang pak. Ini ada apa pak?"


"Kami dari kepolisian membawa surat penangkapan untuk saudara Hashim atas tuduhan p******n terhadap saudara Rayen Dirgantara." Wajah Hashim seketika berubah pucat.


"Saya tidak bersalah pak ini fitnah. Mereka berbohong bukan saya yang m******h Ray." Padahal tidak ada yang mengatakan jika Ray m*******l tapi pak hashim memberikan petunjuk kepada polisi.


"Bapak bisa menjelaskannya nanti di kantor polisi."


"Tidak pak saya tidak mau." Pak Hashim memberontak. Akhirnya polisi berhasil memborgol tangan pak Hashim kemudian di masukkan ke dalam mobil polisi. Rosmala yang baru datang membawa barang belanjaan sontak kaget dan menjatuhkan barang belanjaannya.


"Mas..!" Teriak rosmala berlari menghampiri suaminya.


"Pak kenapa suami saya dibawa pak. Suami saya tidak bersalah pak. Tolong lepaskan suami saya. Para tetangga saling bergerombol melihat pak Hashim di tangkap polisi.


"Maaf buk mohon kerja samanya kami permisi." Pak Hashim hanya menangis melihat istrinya


"Mas..." teriak rosmala sambil menangis.


🌺Bersambung bestie...lanju besok🥰🥰🥰

__ADS_1


\*\*\* Happy reading y🥰🥰🥰🥰\*\*\*


__ADS_2