
Setelah selesai memasukan baju bajunya kedalam koper, Amara merebahkan dirinya sejenak. pikirannya menerawang jauh dulu saat Amara merantau dia berjanji pada dirinya sendiri dan orang tuanya agar bisa menjadi orang sukses.
Tapi apa yang terjadi sekarang Amara bahkan sudah tidak mempunyai pekerjaan lagi. Diambilnya foto usang kedua orang tuanya yang tersimpan di dalam dompetnya.
"Maafkan Amara buk, pak. Amara salah Amara telah gagal membahagiakan ibuk dan bapak. Andai aku tidak mengenal dan jatuh cinta pada Kevin pasti semuanya masih baik baik saja." Amara mencium foto kedua orang tuanya sambil menangis.
"Duh..panas banget hari ini. Coba aja aku punya pacar orang kaya nggak bakal aku panas Panasan kayak gini." Cerocos Arum begitu memasuki kamarnya.
"Eh ada tuan putri. Tumben tuan putri sudah pulang?"
"Iya.." jawab Amara singkat dengan menundukan kepala.
"Eh bentar deh. Kamu habis nangis ya? Kok matanya sembab gitu? Kamu kenapa Amara..?" Arum memegang kedua pipi Amara dan mengangkat wajahnya.
"Apaan sih rum aku tuh nggak papa. Tadi aku nonton Drakor jadi terbawa suasana deh."
"Beneran cuma karena Drakor?"
"Iya sayangku..udah mandi sana! bau tau.."
Setelah Arum masuk ke kamar mandi Amara bergegas menyiapkan makan siang untuknya dan Arum.
Berkali kali handphone Amara berdering dilihatnya nama Ray yang melakukan panggilan.
Tetapi Amara tidak mau menjawabnya. Bukan maksud mengabaikan tetapi Amara butuh waktu untuk sendiri.
"Hmm..wangi banget masak apa?" Tanya Arum yang telah berganti baju.
"Woy.." Arum berteriak tepat ditelinga Amara.
"Apaan sih rum ngagetin aja deh!"
"Kamu sih ditanyain dari tadi malah bengong. Handphone kamu bunyi terus tuh dari tadi."
"Iya, aku juga dengar kok kamu pikir aku budek."
"Ya udah angkat dong..berisik tau."
"Iya bawel! Sudah sana makan. Sudah aku masakin."
Akhirnya Amara mengangkat telepon dari Ray.
"Halo kak."
"Amara..kamu dari mana saja kenapa baru angkat telepon kakak. Kamu baik baik saja kan?"
"Aku baik baik saja kak."
" Sekarang kamu dimana biar kakak kesana?"
" Aku di kosan kak. Sebaiknya kak Ray tidak perlu kesini aku baik baik saja."
"Nggak pokoknya kakak mau ketemu kamu!"
"Aku belum mandi kak.."
"Bukan masalah!"
"Aku belum makan juga."
"Kita makan diluar!"
"Nggak bisa! aku sudah masak. Disini juga ada Arum."
"Bagus kalau gitu. Aku pengen nyobain masakan calon istri kakak. Kamu juga bisa memperkenalkan kakak dengan sahabat kamu itu. Akhirnya Amara menyerah percuma mencari alasan Ray pasti tidak akan menyerah.
__ADS_1
"Ya sudah oke..kita ketemu di taman. Tapi aku mandi dulu."
"Oke, aku juga belum.."
"Tuuut.." sambungan terputus.
"Aku juga belum mandi sayang..udah dimatiin aja. untung cinta."
Ray bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap siap.
_
_
Sementara Farah kini tengah berbahagia di dalam kamar apartemennya setelah mendapat telepon dari pak Antoni. rencananya berjalan sesuai dengan yang dia inginkan.
"Bagus! Sekarang Amara sudah keluar dari perusahaan dan kehidupan Kevin. Dan sebentar lagi aku akan menjadi nyonya maurer. hahaha..Amara Amara ini baru awal dari permainanku."
"Gue harus segera membuat kehamilan palsu sebelum Kevin curiga."
Farah segera menghubungi seseorang entah siapa yang dia hubungi.
_
_
Ray sudah siap dengan sweater turtleneck lengan panjang berwarna hitam yang ia tarik sebatas siku. dengan model leher panjang dan celana hitam serta sepatu santai sneakers. tak lupa jam tangan mahal merek rolex yang melingkar di pergelangan tangannya.
Setelah dirasa penampilannya oke Ray segera melajukan mobilnya menuju taman dekat kos Amara.
Sesampainya di taman ternyata Amara telah menunggunya di bangku panjang dekat taman bunga mawar. Ray memperhatikan penampilan Amara dari jauh dengan perasaan yang tidak bisa diartikan. Sungguh Ray terpesona dengan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Seolah berjodoh Amara mengenakan warna baju yang sama. sweater lengan panjang berwarna hitam dengan model kancing depan yang ia masukan kedalam rok jeans sebatas lutut berwarna navy serta sepatu santai biasa. Rambutnya yang tergerai indah serta sedikit polesan lip tint di bibir sexynya sungguh penampilan yang sempurna.
Setelah puas memperhatikan Amara Ray pun menghampirinya.
"Amara.." panggil Ray yang berdiri agak jauh dari Amara. Amara menoleh lalu berdiri. Ray mempercepat langkah kakinya dan memeluk Amara. Amara diam mematung mendapat serangan mendadak dari Ray.
"Apa yang kak Ray khawatirkan aku baik baik saja."
"Kamu dipecat! Tidak mungkin kamu baik baik saja.
"Aku tidak dipecat. Aku mengundurkan diri."
"Kamu bisa membohongi semua orang. Tapi kamu tidak akan bisa membohongiku!" Amara menangis. Dia terharu ternyata Ray sangat mengerti dirinya tanpa Amara harus memberi tahu.
Ray menarik Amara kembali dalam pelukannya. kali ini Amara membalas pelukan Ray. Dan menangis.
"Kamu tidak sendiri. Aku akan selalu ada buat kamu!" Setelah sedikit tenang Ray melepas pelukannya dan menghapus air mata Amara menggunakan ibu jarinya.
"Jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihatmu menangis.wajahmu jelek ketika menangis!"
"Sudah tahu aku jelek kenapa kamu suka sama aku?" Jawab Amara sewot Ray tersenyum lalu memegang kedua tangan Amara. Menatap kedua mata indah Amara dengan mata elangnya yang seolah menusuk kedalam jiwa. Tatapan Ray sangat dalam dan teduh membuat Amara terhipnotis dan terbuai.
"Karena aku mencintaimu! Tidak peduli berapa kali kamu menolakku aku akan tetap mencintaimu. Aku mohon jangan menangis hatiku ikut sakit melihatmu menangis." Amara diam tanpa kata bibirnya seolah Keluh tak mampu berkata kata. Ray mencium kening Amara. Cukup lama. hingga Amara dapat merasakan cinta yang Ray berikan untuknya.
Ray tersenyum manis begitu pun Amara.
Ray kembali akan memeluk Amara namun Amara mundur.
"Jangan peluk lagi. Kak Ray bau!"
"Yakin aku bau..kayaknya tadi kamu nyaman banget aku peluk." Amara mencebikan bibirnya
"Pede banget sih."
"Hahaha" Ray tertawa lalu mengacak rambut Amara pelan.
__ADS_1
"Kamu sudah makan." Amara mengangguk.
"Mau jalan jalan?"
"Kemana?"
"Terserah kemana saja yang kamu mau."
"Emm Ayuk!" Amara menarik tangan ray
_
_
Amara mengajak ray ke pasar malam.
Paras cantik Amara mengalihkan para pengunjung yang ada di sana khususnya kaum Adam. Banyak yang memuji kecantikan Amara. Bahkan ada yang berjalan sampai menabrak temannya yang ada di depan.
"Gila cantik banget sih tuh cewek." Ucap laki laki itu.
Begitu pun Ray. Banyak pasang mata yang memuji ketampanan Ray. Bukan hanya yang masih muda ibu ibu pun banyak yang memujinya.
"Kak ganteng..boleh kenalan nggak?" Ucap satu perempuan yang menghampiri Ray. Amara mengalihkan pandangannya tidak suka.
"Boleh tapi izin dulu dengan pacar saya." Ray merangkul pinggang amara. Amara menoleh Ray mengedipkan satu matanya pada Amara yang membuat Amara salah tingkah.
Dan perempuan yang ingin berkenalan pada Ray pun pergi dengan perasaan kesal.
_
"Kamu yakin tidak ada tempat lain yang kamu inginkan?"
"Kenapa? Kak Ray nggak mau?"
"Ma..mau. siapa bilang nggak mau asalkan bersama kamu aku pasti mau haha!" Jawab ray dengan senyum yang dipaksakan
"Benarkah? Kalau gitu aku mau naik itu." Amara menunjuk permainan kuda putar.
Amara menaiki kuda putar dengan Ray yang juga menaiki kuda di sebelahnya bergandengan tangan dan tertawa bahagia. Ray yang awalnya ragu ragu melihat tawa lepas Amara ikut bahagia juga.
Setelah menaiki kuda putar Amara mengajak ray berkeliling mencicipi jajanan gerobak yang ada disana. Setelah puas mencicipi macam macam jajanan Amara menarik Ray kembali menuju jajaran aksesoris. Ray melihat gelang rantai putih dengan sedikit ornamen love yang terpajang di sana. Ray pun membelinya untuk Amara.
"Amara lihat ini!"
"Wow..cantik sekali."
"Iya secantik kamu. Sini tangan kamu!" Ray memakaikan gelang tersebut di pergelangan tangan Amara.
"Aku juga punya untuk kak Ray." Dengan semangat Amara menarik tangan Ray dan akan memakaikan gelang tersebut. Namun sedetik kemudian raut wajah Amara berubah melihat jam tangan Ray yang melingkar di pergelangan tangannya. yang Amara yakini harganya tidaklah murah.
"Kenapa?" Ray menyadari perubahan raut wajah Amara.
"Gelang ini tidak cocok untuk kak Ray!" Amara akan mengembalikan gelangnya namun dicekal oleh Ray.
"Siapa bilang tidak cocok kan belum dicoba! Sini biar aku yang pakai." Ray melepas jam tangan mahalnya dan diganti dengan gelang pemberian Amara.
"Lihat! Cocokan?" Amara tersenyum senang. Ray benar benar mengerti apa yang Amara maksud tanpa harus dijelaskan.
*** Hay readers dukung KISAH CINTA AMARA dengan cara:
*like
*komen dan
*vote ya🥰🥰
__ADS_1
*** happy reading***