Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 90 :Kembali ke Jakarta


__ADS_3

"Pak kenapa suami saya dibawa pak. Suami saya tidak bersalah pak. Tolong lepaskan suami saya. Para tetangga saling bergerombol melihat pak Hashim di tangkap polisi.


 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Hari telah berganti hari sudah satu minggu Ray dirawat di rumah sakit xxx. Papa Dirga dan Ardi sudah kembali ke jakarta untuk mengurus perusahaan. Sedangkan Bagas masih menemani Ray dan Amara. Bagas juga bertanggung jawab memantau perkembangan kasus Ray. Ajeng juga sudah kembali ke Jakarta sejak Ray sakit. pak Dirga dan mama ana meminta Ajeng kembali ke Jakarta untuk menemani bik Jum yang sendirian. Mama ana juga menyuruh Ajeng membersihkan rumah Ray dan Amara bersama bik Jum selama ditinggal di surabaya. Pak hashim sudah ditetapkan sebagai tersangka otak dari p*******n terhadap Ray. Tiga dari empat pelaku telah ditangkap tinggal satu yang masih menjadi buronan. polisi masih terus mencari keberadaan pelaku tersebut.


Mama ana, Amara dan orang tua Amara bergantian menjaga Ray. Juga Bagas dan orang tuanya juga sering menjengguk Ray. 


Ibu Ida tetangga dekat rumah pak Hasan juga menjenguk Ray di rumah sakit.


Rosmala sendiri hampir setiap hari mendatangi pak Hasan dan ibu Jumiati. Meminta agar pak Hasan mencabut tuntutannya terhadap sang suami. Namun bukan rosmala namanya jika berbicara dengan baik-baik. Rosmala mengancam tidak akan menganggap pak Hasan saudara lagi bahkan rosmala mengancam akan menghancurkan rumah tangga Amara dan Ray bagaimanapun caranya.


Tapi syukurlah baik pak Hasan maupun ibu Jumiati tidak takut akan ancaman rosmala. Bagi mereka orang yang bersalah harus tetap menjalankan hukumannya tak peduli siapapun itu apalagi pak Hashim telah melakukan tindakan k******l.


_


_


Hari ini Ray sudah diperbolehkan untuk pulang. Amara membereskan baju-baju Ray. Sedangkan mama ana mengurus administrasi. Ray duduk bersandar sambil memandangi istrinya yang terlihat sibuk. Ada rasa kasihan sekaligus haru yang Ray rasakan. Amara terlihat lebih kurus karena makannya yang tidak teratur dan juga lingkar mata menghitam karena kurang tidur. Mungkin karena Amara merasa tidak nyaman tidur di rumah sakit sehingga ia kesulitan untuk memejamkan mata. Selama dirawat Amara selalu berada disamping Ray. Ia hanya pulang sebentar untuk mandi dan berganti pakaian itu pun perintah dari orang tua dan mertuanya juga saat Ray sedang tidur.


"Sayang…sini." Ray menepuk ranjang untuk Amara duduk disebelahnya.


"Kenapa sayang..?" Tanya Amara lembut. Ray menggenggam tangan amara 


"Terimakasih ya sayang kamu sudah merawat aku dengan sa…ngat baik. Aku beruntung memiliki istri secantik dan sebaik kamu. Kamu pasti sangat lelah sayang."


"Sayang..kamu itu suami aku. Sudah menjadi kewajiban aku untuk merawat kamu. Aku juga tidak lelah sayang hanya sedikit kurang tidur saja."


"Sayang bagaimana rumah bapak apa sudah di renovasi?"


"Kenapa sih kak Ray masih mikirin soal itu. Kak Ray itu sedang sakit. Tidak usah memikirkan hal yang tidak penting." Bohong Amara.


"Tapi sayang aku pengen sebelum kita kembali ke Jakarta rumah itu harus sudah dikerjakan."


"Iya sayang..nanti kita bicarakan lagi ya. Yang harus kamu pikirkan sekarang adalah kondisi kamu agar cepat sembuh oke.."


"Bagaimana semuanya sudah beres sayang?" Tanya mama ana yang baru datang.


"Sudah ma. Mama juga sudah selesai?"


"Sudah sayang. Bagas juga sudah datang. Tinggal menunggu dokternya ya."


Beberapa saat kemudian dokter datang.


"Selamat siang pak Ray.."


"Selamat siang dok."

__ADS_1


"Bagaimana pak ada keluhan lagi atau ada yang dirasakan kurang enak?"


"Tidak dok. Semuanya baik-baik saja. Sudah tidak ada yang sakit.


"Baiklah pak anda sudah boleh pulang ya."


Perawat pun mulai melepas alat medis yang ada di badan Ray.


"Ibu Amara ini perbannya setiap habis mandi harus diganti ya Bu..jangan sampai basah agar tidak infeksi."


"Baik dok."


"Satu lagi. Obatnya jangan sampai telat minumnya ya.."


"Siap dok."


Mereka pun akhirnya pulang ke rumah pak hasan


_


_


Sesampainya di rumah pak Hasan. Dengan hati-hati Amara membantu suaminya turun. dan duduk di kursi roda.


"Surprise…" ucap Amara


"Kejutan buat kamu." Ternyata rumah pak Hasan sudah rata dengan tanah dang sedang di bangun kembali sesuai keinginan Ray.


"Terus bapak sama ibu tinggal dimana?"


"Untuk sementara bapak sama ibu tinggal di rumah ibu Ida. Ayo..ibu dan bapak sudah menunggu."


"Ibu Ida samping rumah bapak itu?"


"Iya sayang…"


"Tapi apa kita juga akan tinggal disana juga? Aku tidak enak sayang dengan kondisiku seperti ini harus menumpang di rumah orang. Dan lagi kita kan pengantin baru masak kita numpang. Ya nggak enak lah sayang."


"Ray… kamu itu kayak emak-emak lagi ngomel. Kita akan pulang ke jakarta. Tapi kita masuk dulu mertua kamu sudah menanti kepulanganmu. Ayo cepat masuk." Ray melirik amara yang dibalas senyuman oleh Amara kemudian mendorong suaminya menuju rumah Bu Ida.


Pak Hasan, ibu Jumiati serta ibu Ida sudah menunggu kedatangan Ray di depan rumah.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam..ayo masuk nak.."


Begitu mereka duduk ibu Ida langsung membuatkan mereka minum.

__ADS_1


"Diminum dulu nak Ray, ibu, mbak Amara, Bagas."


"Terimakasih Bu Ida." Ucap Amara


"Terimakasih ya Bu..jadi merepotkan." Ucap mama ana


"Tidak merepotkan kok Bu. Maaf hanya ini adanya."


"Tidak apa-apa Bu ini sudah lebih dari cukup." Kemudian mereka berbincang-bincang sebentar.


"Mari Bu ana, dan semuanya kita makan ibu Ida sudah menyiapkannya untuk kita." ucap Bu Jumiati.


Kemudian mereka makan siang bersama. Rumah ibu Ida juga cukup bagus sudah di tembok dan lantainya juga sudah dikeramik. Suami dan anak ibu Ida satu-satunya bekerja di luar Jawa. Anaknya laki-laki seumuran dengan Amara tetapi masih belum menikah.


Setelah selesai makan mama ana dan yang lainnya pamit untuk kembali kejakarta. Sesuai yang telah mama ana rencanakan bersama Pak Hasan dan ibu Jumiati. Karena tidak mungkin jika harus merawat Ray di rumah orang.


"Ibu Ida..kami sangat berterimakasih atas kebaikan ibu Ida kepada kami sekeluarga. Kami harus kembali ke Jakarta sekarang."


"Tidak besok saja Bu ana?"


"Tidak Bu. Ray butuh istirahat yang cukup. Papanya juga sudah menunggu di rumah." Ucap mama ana.


"Bu Ida.." sekarang giliran Ray yang bicara


"Saya titip orang tua saya pak Hasan dan ibu Jumiati untuk tinggal disini sementara waktu. Ini ada sedikit uang untuk Bu Ida."


Ray menyodorkan amplop coklat berisi uang.


"Ini apa nak Ray..jangan seperti ini saya tidak bisa menerimanya. Saya ikhlas membantu pak Hasan dan ibu Jumiati.


Saya tidak bisa menerimanya nak."


"Diterima ya Bu..kita juga ikhlas memberikannya. Kami mohon Bu.." ucap Amara. Akhirnya ibu Ida mau menerimanya.


"Terimakasih nak Ray.


"Kami yang berterimakasih Bu.."


Kemudian mereka berpamitan kepada pak Hasan dan ibu Jumiati.


Ray juga memberikan uang sepuluh juta untuk uang belanja ibu Jumiati. Dan untuk pembangunan rumah Ray menyerahkan semuanya kepada Bagas.


Mereka pun memasuki mobil di antar oleh Bagas dan besok Bagas akan kembali lagi ke sini untuk menjalankan tugasnya.


🍁🍁🍁 Bersambung🍁🍁🍁


🌺Maaf ya cayang-cayangku baru bisa up author lagi sakit. Terimakasih untuk semua yang sudah setia membaca karyaku "Kisah Cinta Amara" dan yang telah memberi dukungannya. semoga sehat selalu dan dilancarkan rizkinya. amin.

__ADS_1


🌺 tetap dukung Kisah Cinta Amara dengan memberikan like, komen dan vote serta Hadiah sebanyak-banyaknya agar author lebih bersemangat🥰🥰🥰


__ADS_2