Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 56 : Jatuh cinta lagi


__ADS_3

Begitulah kejadian yang sebenarnya nak, Yudha meninggal saat itu juga. Rosmala tidak terima Yudha meninggal sedangkan Amara hanya mengalami luka ringan."


Rosmala menuduh jika amara lah penyebab kematian Yudha dan menyebut Amara sebagai anak pembawa sial. Bahkan rosmala berniat memenjarakan Amara. Sebagai orang tua apapun akan bapak lakukan untuk melindungi anak bapak. Termasuk menggantinya dengan sejumlah uang yang nilainya tidaklah sedikit. Yaitu lima puluh juta. Tetapi saat itu bapak tidak punya uang, rosmala menganggap itu sebagai hutang bapak dengan bunga yang cukup tinggi setiap bulannya. Hingga kini mencapai delapan puluh juta. Padahal bapak juga pernah mencicil sebesar tujuh juta tetapi kata rosmala itu hanya cukup untuk membayar bunganya saja."


"Tapi pak, Amara tidak bersalah itu jelas jelas kecelakaan. Dan Tante rosmala tentu saja juga mendapatkan sejumlah uang dari mobil truk yang menabrak Yudha. Belum lagi dari uang jasa Raharja. Kenapa bapak mau menuruti kemauan Tante??"


"Karena bapak tidak mau Amara dipenjara nak.."


"Tante tidak akan bisa melaporkan bapak. Karena itu sudah jelas kecelakaan lalu lintas. Bahkan disini Amara juga sebagai korban. Apa waktu berobat Amara juga mendapatkan uang ganti rugi dari supir truk itu atau dari Tante rosmala??" Pak Hasan menggeleng


"Sudah saya duga..ini berarti kasus penipuan. Bapak sudah ditipu oleh Tante rosmala. Ini tidak bisa dibiarkan pak."


"Sudahlah nak..bapak ikhlas, bagaimanapun mereka adalah adik bapak."


"Pak..delapan puluh juta itu bukanlah uang yang sedikit, kita harus bertindak pak."


"Nak Ray.. bapak mengerti itu adalah uang nak Ray, dan bapak janji akan mengembalikannya tapi berikan bapak waktu nak.."


"Bukan begitu maksud Ray pak. Ray tidak peduli itu uang siapa yang Ray maksud disini adalah Tante rosmala telah melakukan penipuan dan pemerasan terhadap keluarga ini. Dan Ray tidak bisa terima itu pak."


"Ray..bagi bapak Amara bisa hidup dengan tenang itu sudah lebih dari cukup. Bapak ini orang bodoh Ray. jika bapak tidak menuruti kemauan rosmala pasti Amara sudah mendekam di penjara saat itu."


"Tapi pak.." Bagas memegang tangan Ray dan memberi isyarat untuk tidak melanjutkan kalimatnya.


"Maafkan Ray pak..Ray terbawa emosi."


"Tidak apa apa nak bapak mengerti perasaan kamu. Terimakasih sudah mau menerima dan menyayangi Amara."


"Bukan hanya Amara pak. Tetapi ray juga sayang dengan bapak dan ibu."


"Terimakasih nak.."ucap pak Hasan sekali lagi.


_


_


Pagi pagi sekali Amara sudah bergelut di dapur bahkan beberapa menu makanan sudah tersedia diatas meja. Kini dia sedang menyelesaikan satu menu makanan lagi.


"Rajin sekali anak ibu.." 


"Apaan sih Bu..setiap hari juga Amara bangun pagi."


"Anak ibu memang rajin.." seraya tersenyum dan mengelus rambut Amara. "Apa ada yang harus ibu bantu?"


"Tidak usah Bu.. sebentar lagi selesai kok."


"Ya sudah kalau begitu ibu menyapu saja."


Setelah selesai melakukan semua pekerjaan Amara membersihkan diri kemudian menghubungi Ray yang ternyata masih belum bangun.


"Hmmm…" jawab Ray malas setelah panggilan tersambung


"Sayang..kamu masih tidur ya?" Mendengar kata sayang yang begitu lembut di telinga seketika Ray terbangun dengan sempurna tanpa rasa malas sedikitpun. 


"Sayang..maaf ya aku baru bangun."

__ADS_1


"Dasar kak Ray pemalas..sudah kak Ray cepat mandi terus kesini ajak Bagas juga. kita sarapan bareng aku sudah masak banyak."


"Siap nyonya dirgantara..cium dulu dong.."


"Mmmuaach.."


"Mmuach..I love you sayang.."


"I love you to kak.."


Ray senyum senyum sendiri setelah menerima telepon dari Amara.


"Pak Ray..pagi-pagi sudah senyum-senyum sendiri." Ujar Bagas.


"Iya gas..aku seperti jatuh cinta lagi dengan Amara. Semakin hari cintaku semakin bertambah besar."


"Iya pak mbak Amara memang cantik juga sangat baik. Kecantikannya sudah terkenal pak. dari dulu anak- disini banyak yang yang menyukai mbak amara ya termasuk saya."


"Apa kamu bilang?" Ray menatap tajam Bagas


"Tapi itu dulu pak..sekarang kan mbak amara sudah menjadi tunangan bapak. Mana mungkin saya masih menyukai mbak amara."


"Awas kamu sampai berani mengkhianatiku. Akan Ku bunuh kamu."


"I..iya pak saya tidak akan mengkhianati anda."


"Buset..serem amat kalau marah. Dasar bucin." batin bagas


"Awas aku mau mandi..kita kerumah Amara setelah ini."


_


_


"Makan yang banyak nak Ray.. ini semua Amara yang masak Lo. Dari subuh dia sudah bergelut di dapur."


"Pasti Bu.. masakannya enak sekali. Beruntung banget aku dapetin kamu sayang.." bahkan Ray tidak malu-malu mengucapkan kata romantis untuk Amara."


"Pagi-pagi udah gombal aja kak Ray."


"Kok gombal sih..beneran dong sayang."


"Ehem ehem.." 


"Kamu kenapa gas keselek? Minum dong!!"


"Iya pak.." Bagas memutar bola matanya malas bisa bisanya bosnya itu mengumbar kemesraan di meja makan apalagi ada mertuanya.


"Haha..sudah ayo makan lagi."


"Maaf pak..apa bapak sudah benar-benar sehat?"


"Sudah Ray. Kamu tidak perlu khawatir. Tidak apa apa jika kalian ingin kembali kejakarta bapak sudah sehat."


"Hah?" Ray tidak menyangka ternyata pak Hasan tau maksud Ray. "Maaf pak bukannya Ray…" 

__ADS_1


"Tidak masalah nak bapak mengerti kamu orang yang sibuk. Pasti pekerjaan kamu banyak yang terbengkalai selama kamu disini." Potong pak Hasan cepat.


"Iya pak. Kalau begitu Ray akan kembali besok bersama Amara."


Pak Hasan mengangguk.


"Oh iya pak. Ray ingin melihat sawah bapak. Apa bapak bisa antar Ray."


"Benarkah? Bapak senang jika nak Ray mau melihat sawah bapak. Kebetulan bapak juga mau ke sawah kamu bisa ikut kalau mau."


"Iya pak Ray mau."


"Baik nanti setelah sarapan kita berangkat."


_


_


Pak Hasan, Ray, dan Bagas berjalan kaki menuju sawah pak Hasan. Melewati rumah rumah tetangga sekitar. Sepanjang melewati rumah tetangga Ray menjadi pusat perhatian ibu- ibu dan para gadis. Wajah tampan dengan postur tubuh yang tinggi serta kulit yang putih menjadi magnet tersendiri bagi ray. Bahkan ada yang memperkenalkan anaknya langsung.


"Pak Hasan..ini calon menantunya ya?"


"Iya Bu nur..ini Ray calon suami Amara


"Wah ganteng ya ternyata."


Baru beberapa langkah suara ibu ibu kembali terdengar


"Pak Hasan.. masak calon menantunya diajak ke sawah sih kasihan Lo pak."


"Saya yang pengen ikut bapak Bu.." jawab Ray


"Wah..hebat sekali sudah ganteng pekerja keras lagi. Tuh pak dengerin..kurang beruntung apalagi bapak."


"Iya Bu tari. Saya beruntung. Mari Bu.." pak Hasan kembali melanjutkan perjalanan


"Hemm..orang miskin saja belagu." Gumam ibu tari yang dapat didengar oleh Ray. Ray mengepalkan tangan lagi lagi mertuanya mendapat hinaan. 


"Eh..pak Hasan..mau ke sawah pak?"


"Iya Bu Laras."


"Ini pasti menantunya ya..aduh ganteng ya pak menantunya. Namanya siapa pak?"


"Namanya Ray Bu Laras."


"Oh nak Ray..nama yang bagus seperti orangnya. kenalin nak Ray ini anak ibu namanya Laras sekarang sedang kuliah jurusan keperawatan Lo nak Ray. Yah..lebih sepadan lah dengan nak Ray."


"Maaf maksud ibu apa bicara seperti itu?" 


"Nak Ray pasti Taulah maksud ibu."


"Ibu hati-hati kalau bicara saya.."


"Maaf Bu Laras kami harus segera ke sawah." Pak Hasan segera mengajak Ray pergi sebelum terjadi keributan. Sebentar bersama Ray pak Hasan sudah mengerti sifat Ray yang keras dan mudah tersulut emosi.

__ADS_1


***Happy reading 🥰🥰***


__ADS_2