Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 68 : Tergoda calon suami


__ADS_3

"Ibu sama bapak masih tidak bisa dihubungi kak. Aku bingung harus apa. Kalau aku pulang waktunya tidak akan cukup." Ray merasa bersalah sudah membuat orang terkasihnya itu bersedih tapi ini demi surprise nya berjalan lancar.


"Sayang..jangan sedih ya..nanti kita coba lagi. Mungkin bapak sama ibu lagi sibuk.


Ray melepas jasnya menyisakan kemeja berwana navy yang melekat ditubuhnya. lengannya ia gulung sebatas siku membuatnya semakin terlihat gagah.


Amara memandang Ray tanpa berkedip.


"gila..kok aku baru sadar sih ternyata kak Ray gagah banget pakek kemeja. kok aku baru ngeh sih. jantungku..kenapa jantungku berdegup dengan kencang. kok aku seperti merasa jatuh cinta lagi." batin amara


"fiuh.." Ray meniup wajah Amara karena melihatnya melamun kemudian duduk disampingnya.


"kamu kenapa?


"e..enggak apa-apa kok kak." jawab Amara gugup


"Kamu sudah makan?"


"Belum, kak Ray sendiri?"


"Kenapa jam segini belum makan. BI Jum bilang tadi pagi kamu juga melewatkan sarapan."


"Huf.." Amara menarik nafasnya kasar


"Tadi pagi aku pergi ke kos terus nonton drakor, terus cerita sama Arum, terus telpon ibunya arum terus kita cerita-cerita sampai lupa waktu eh tau-tau udah siang aja. Terus kak Ray telpon suruh kesini ya nggak sempet lah kak aku makan siang."


"Wow..sibuk banget ya sayang.."


"He.m…" jawabnya sambil mengangguk


"Dasar pesek..." games Ray menarik hidung mancung amara


"Ya udah mau makan apa?"


"Aku nggak mau makan, aku pengen ngemil aja. Mau cilok."


"Cilok? Sayang yakin mau makan itu?"


"Iya kak..aku pengen banget makan cilok pake plastik terus pake bumbu kacang yang pedas terus ada tusuknya."


"Oke, sebentar ya.."


Ray kemudian menelpon seseorang.


"Beres..sebentar lagi juga datang."


"Oh ya..secepat itu?" Ray berdiri menghampiri Amara mencondongkan badannya kedua tangannya berada di antara pundak kiri dan kanan Amara dan berkata


"Kamu lupa siapa calon suami kamu ini. Aku bisa melakukan apapun dalam hitungan detik tanpa harus turun tangan."


Ucap Ray dengan tatapan yang serius seolah dia ingin Amara tau betapa berkuasanya dia.


Namun Amara justru merasa takut.


"A..aku lapar kak. Apa masih lama?"


"Sebentar lagi juga datang kok." Ray bangkit dari posisinya dan sekarang duduk di sebelah Amara.


Tak lama kemudian Ardi datang membawa cilok pesanan bosnya itu.

__ADS_1


"Permisi pak ini ciloknya." Tak tanggung-tanggung Ardi membelikan satu kantong kresek berisi cilok.


"Terimakasih Ar.."


"Itu apa kak?"


"Katanya tadi pengen cilok."


"Astaga..nggak sebanyak ini juga kali kak. Ini sih bisa buat satu kantor. Kak Ray mau bikin aku gendut terus nanti gaun aku nggak muat gitu??"


"Haha..sexy dong sayang.."


"Cepat makan sekarang..ini sudah lewat jam makan siang." Amara pun memakan satu bungkus cilok lengkap dengan saus kacang dan tusuknya.


"Gimana enak?"


"Enak banget kak.. kakak mau?" Ray menggeleng


"Kalau gitu habiskan." Mata Amara membelalak sempurna. Yang benar saja Ray satu kantong kresek penuh berisi cilok harus Amara habiskan.


"Bercanda sayang..kamu makan saja sesuai porsi kamu nanti sisanya kita bagikan untuk karyawan yang lain. Kakak lanjut bekerja ya.."


"Oke.."


Ray memperhatikan Amara dari meja kerjanya, Amara makan dengan lahap Ray melihat ada saus kacang disudut bibir Amara. Ray pun menghampirinya.


"Dasar..makan saja sampai belepotan. Sini aku bersihin." Ray mengusap sudut bibir Amara dengan ibu jarinya pandangannya lurus menatap bibir ranum itu. Rasanya sudah lama Ray tidak mencicipi bibir itu. Dan tanpa aba-aba Ray menempelkan bibirnya dengan bibir Amara. Amara terdiam mendapat serangan mendadak dari Ray. pelan tapi pasti


Ray menghisap bibir Amara lembut sangat lembut. Gurihnya saus kacang dan manisnya bibir Amara membuat Ray enggan melepaskan pagutannya. Ray terus menghisap bibir Amara hingga membuat Amara terhanyut dalam permainan bibir Ray. Amara membuka mulutnya membuat Ray semakin menjadi Ray menekan tengkuk Amara untuk memperdalam ciumannya sementara tangan Amara mencengkram kemeja ray.


Saat keduanya tengah asyik merasai bibir masing-masing tiba-tiba..


"Ma.. maaf pak." Ucap ardi masih membelakangi ray.


"Kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu??" Kemudian Ardi berbalik menghadap Ray. Sementara Amara menunduk malu.


"Maaf pak, biasanya juga saya tidak mengetuk pintu."


"Biasanya kan tidak ada Amara harusnya kamu.. sudahlah ada apa?"


"Pak Dirga menunggu anda di ruangannya."


"Iya, kamu duluan saja."


"Baik pak permisi."


"Dasar asisten gadungan.." gumam Ray


Amara memandang Ray dengan wajah yang ingin menangis. Ray menghampiri amara. Amara langsung memeluk Ray erat


"Aku malu banget kak.."


"Sudah tidak usah malu sayang."


"Tapi kalau Ardi cerita sama teman-temannya gimana?"


"Nggak akan sayang Ardi bukanlah orang seperti itu. Kamu tenang saja. Anggap kejadian tadi tidak pernah terjadi." Ray melepas pelukan Amara dan mengelus rambutnya penuh kasih sayang.


"Aku keruangan papa sebentar ya, setelah itu kita pulang." Amara mengangguk kemudian Ray mengecup kening Amara lalu pergi.

__ADS_1


Selang beberapa menit kemudian Ray kembali ke ruangannya


"Cepat banget kak?"


"Iya, hanya mengecek data sebentar. Dan papa nyuruh kita pulang."


"Terus ini ciloknya gimana?"


"Nanti biar aku suruh ob untuk mengambilnya. Ayo kita pulang." Ray menyerahkan tangannya untuk digandeng Amara dengan senang Amara menyambutnya.


Banyak pasang mata memandang kagum ke arah mereka. Menurut mereka Ray dan Amara adalah pasangan sangat cocok Ray yang gagah dan tampan dan Amara yang sangat cantik.


Sapaan dan hormat para karyawan kepada Ray dan Amara membuat Amara sangat bahagia dan bangga bisa menjadi bagian dari keluarga dirgantara.


Amara merasa dirinya berharga Dimata orang. Karena baru kali ini Amara merasa benar-benar dihormati orang. Jangankan dihormati hidupnya dan juga keluarganya di kampung penuh dengan hinaan karena keluarganya yang kurang mampu.


_


_


Siang berganti malam dengan cepat. Undangan pernikahan Ray dan amara telah sampai pada keluarga Antoni. Bahkan Ray sendiri juga memberikan undangan untuk kevin melalui sekretarisnya siapa lagi kalau bukan Ardi si paling bisa diandalkan.


Kevin menyobek undangan itu hingga menjadi kepingan kecil. Dadanya naik turun menahan amarah.


"Haah.." teriak Kevin di dalam kamarnya.


"Kenapa mereka menikah, kenapa mereka bersatu.." Kevin menjambak rambutnya frustasi


"Amara..kenapa kamu tega melakukan ini padaku..kamu mengkhianatiku sampai sejauh ini Amara. Kenapa?" Lirih Kevin dengan air mata membasahi pipinya.


Ya..Kevin masih beranggapan jika Ray dan Amara mengkhianatinya. Kevin termakan oleh kata-kata Farah.


Farah dan pak Antoni sedang berada diruang tamu sama dengan Kevin mereka sedang membicarakan pernikahan Ray dan Amara.


"Akhirnya mereka menikah juga. Apa Kevin masih dikamarnya?" Ucap pak Antoni


"Seperti biasa pa, Kevin masih saja memikirkan perempuan kampungan itu."


"Biarkan saja. Setelah Amara menikah Kevin pasti bisa melupakannya."


"Sial..bukan ini yang aku mau. Bukan pernikahan. Awas kamu Amara jangan harap kamu bisa bahagia." Batin Farah


Dengan langkah gontai Kevin menuruni anak tangga. Melihat Kevin datang Farah segera menghampiri Kevin.


"Sayang..kamu nggak apa-apa?"


Tanpa menghiraukan sapaan Farah Kevin menghampiri orang tuanya kemudian duduk disamping pak Antoni.


"Kita semua harus datang." Ucap Ray tiba-tiba


"Kamu yakin Ray?"


"Sangat yakin."


"Sayang..aku butuh baju baru untuk kesana, aku juga harus kesalon. Pokoknya aku harus tampil cantik bahkan lebih cantik dari perempuan itu."


"Terserah!" Ucap Ray kemudian pergi dan menyambar kunci mobil.


"Sayang kamu mau kemana?" Teriak Farah yang tidak digubris oleh Kevin.

__ADS_1


***Happy reading 🥰🥰***


__ADS_2