Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 36 : Dilema keluarga amara


__ADS_3

Amara merebahkan tubuh ayahnya di kursi ruang tamu yang telah usang. 


"Pak..bapak kenapa hiks hiks"


"Minum dulu pak! Bapak tenang pak. Jangan emosi ingat kondisi bapak." Ujar Bu Jumiati sambil mengelus dada suaminya. Setelah lebih tenang ibu Jumiati segera mengambilkan obat yang biasa pak Hasan minum.


"Diminum dulu pak obatnya!"


"Bu! Sebenarnya bapak sakit apa? Dan berapa hutang bapak sama bibi mala? Kenapa aku tidak dikasih tahu?"


"Maafkan bapak nak. Bapak yang salah. bapak tidak becus sebagai orang tua. Bapak tidak bisa melunasi hutang keluarga kita." Kemudian Amara meraih tangan pak Hasan dan menciumnya 


"Bapak tidak boleh berbicara seperti itu. Bagi Amara bapak dan ibu adalah orang tua yang hebat. Sangat hebat! Amara bangga menjadi anak bapak dan ibu." Lalu pak Hasan memeluk anak dan istrinya penuh cinta.


"Sekarang bapak dan ibu jujur bapak sakit apa? Dan berapa hutangnya?"


Ibu Jumiati mengambil amplop putih bertuliskan RUMAH SAKIT CITRA MEDIKA. Amara pun segera membuka amplop tersebut yang menyatakan bahwa pak Hasan menderita penyakit jantung koroner ( PJK) yaitu dimana pembuluh darah arteri yang mengalirkan darah ke jantung mengeras dan mengalami penyempitan. Kondisi ini dipicu oleh penumpukan kolesterol dan pembekuan darah didalam arteri. Yang menyebabkan aliran darah ke jantung berkurang. sehingga mengakibatkan organ tersebut tidak dapat berfungsi normal. 


Amara menutup mulutnya tidak percaya bagaimana bisa selama ini Amara tidak tahu jika bapaknya menderita penyakit yang serius.


"Nak..bapak tidak apa apa! Bapak sudah minum obat bapak pasti akan segera sembuh." Ujar pak Hasan menenangkan putrinya.  Amara kembali memeluk pak Hasan dan menangis tanpa mengucapkan apapun. Amara terlalu syok Amara merasa gagal membahagiakan kedua orang tuanya.


"Sudah nduk..jangan menangis lagi kasihan bapakmu nanti ikut sedih." Ujar Bu Jumiati mengelus punggung Amara yang memeluk pak hasan. Lalu Amara melepas pelukannya kemudian menarik nafasnya dalam.


"Jadi berapa hutang bapak dan ibu?"


Sebelum menjawab Pak Hasan melirik istrinya kemudian menghembuskan nafasnya kasar.


"Sebenarnya hutang bapak lima puluh juta. Bapak sudah pernah mencicilnya tapi karena bunga yang besar dan berjalan setiap bulan bapak tidak sanggup membayarnya. Hingga sekarang mencapai delapan puluh juta. Bapak bingung nak bagaimana membayarnya. Sementara bunganya terus berjalan melebihi batas."


"Bapak kenapa tidak cerita sama Amara? Amara ada kok pak tabungan tapi tidak banyak. Jika bapak bilang dari dulu mungkin sekarang tidak sebanyak itu pak."


"Bapak tidak mau membebani kamu nak. Ini tugas bapak sebagai orang tua."


"Maaf pak, memangnya uang itu bapak gunakan untuk apa kenapa banyak sekali?"


"Kamu ingat nak, peristiwa yang terjadi antara kamu dan Yudha?"


"Tentu Amara ingat pak. Mas Yudha meninggal gara gara Amara. Amara adalah penyebab kematian mas Yudha."


"Bukan itu yang bapak maksud nak. Sejak kejadian itu hubungan bapak dan Hashim menjadi kurang baik kamu tentu tahu itu kan. Dan tanpa sepengetahuan kamu Hashim berniat memenjarakan kamu bahkan ingin mengusir kamu dari kampung ini. Bapak dan ibu sekuat tenaga mempertahankanmu dan akhirnya bapak berhasil membujuk Hasim dan Mala. tetapi bapak harus membayar ganti-rugi sebesar lima puluh juta nak. Bapak tidak punya uang sebanyak itu. Akhirnya mereka membuat surat pernyataan hitam diatas putih bahwa itu adalah hutang bapak beserta bunganya. Bapak tidak punya pilihan lain selain menandatangani surat itu."

__ADS_1


"Ibu yakin Yudha pasti sedih melihat orang tuanya selalu menyalahkan kamu."


"Ini memang salah Amara Bu! Amara pantas disalahkan."


"Nduk..Yudha meninggal itu karena takdir! Jadi kamu jangan selalu menyalahkan diri.".


_


_


Hari ini Amara akan kembali ke Jakarta. Amara terlihat lebih bersemangat. Amara ke Jakarta Menggunakan travel setelah tadi malam memberitahu Miko dan Ray. 


Masing masing dari mereka menawarkan diri untuk menjemput Amara. Untuk itu Amara memilih untuk naik travel. Sebenarnya Amara berat untuk meninggalkan orang tuanya yang sedang sakit belum lagi tekanan dari bibi mala dan paman Hashim. Amara khawatir akan terjadi sesuatu dengan bapaknya. Tetapi Amara tidak punya pilihan lain Amara harus bekerja agar bisa melunasi hutang keluarganya meski butuh waktu yang lama setidaknya Amara bisa nyicil dulu pikirnya. Amara meninggalkan uang lima belas juta untuk orang tuanya. Sepuluh juta untuk mencicil hutang dan lima juta untuk kebutuhan sehari hari orang tuanya. Amara sudah tidak mempunyai tabungan lagi. Hanya tersisa dua juta untuk hidupnya di jakarta selama satu bulan mendatang sampai Amara mendapat gaji kembali di pekerjaanya yang baru. 


Tak lupa Amara memberi oleh oleh untuk teman teman kosnya.


_


Sesampainya di kos Amara merebahkan tubuhnya sejenak dan memejamkan mata. Handphone Amara berdering dilihatnya panggilan dari Ray.


"Iya kak!"


"Sayang kamu sudah sampai?"


"Kak Ray nggak kerja?"


"Iya! Sebentar lagi kakak harus menemani pak Antoni meeting.


"Ya sudah kak Ray semangat ya kerjanya."


"Ya sudah kakak kerja dulu. Kamu istirahat ya! I Love you." 


"Iya!" Amara langsung mematikan sambungan teleponnya. Amara kecewa pada Ray kenapa Ray tidak bertanya apa rencana Amara selanjutnya, dan akan mencari pekerjaan dimana.  handphonenya kembali berdering sekarang Miko yang menghubunginya.


"Kak miko" gumam amara.


"Halo kak miko!"


"....?"


"Iya kak aku baru saja sampai. "

__ADS_1


".....?"


"Enggak kok kak! Ada apa?"


".........."


"Iya kak boleh! Kita ketemu Dimana?"


"...."


"Kos aku di jalan xxx nomor xx dekat taman mawar."


"...."


"Kakak tunggu di taman saja. Kalau begitu aku siap siap dulu kak!"


"..."


"Bae!!"


Miko mengajak Amara untuk melihat rumah makannya. Agar besok Amara tidak keteteran mencari alamatnya. Karena besok Amara sudah harus bekerja. Miko tidak ingin Amara terlambat dan mendapat masalah.


Amara sudah standby menunggu Miko di taman. Amara tidak ingin Miko yang menunggunya. Selang beberapa menit Miko datang. Miko terpana dengan kecantikan Amara. Amara mengenakan dres model kimono berwarna merah sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih mulus. Dipadukan dengan tas jinjing berwarna hitam dan high heels senada dengan warna dressnya. Penampilan sederhana namun terlihat sangat sempurna. apalagi dengan rambutnya yang ia kuncir kuda memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus membuat Miko susah untuk berkata kata.


"Kak..kak miko! Kak miko kenapa?" Panggil Amara dengan melambaikan satu tangannya. Karena melihat Miko yang hanya diam memandangnya.


"I..iya!"


"Kak miko kenapa?" 


"Nggak papa kok. Ayo kita berangkat!" Miko membukakan pintu mobil untuk Amara.


Setelah sama sama di dalam mobil Miko kembali dibuat susah bergerak oleh kecantikan amara. Miko menelan ludahnya melihat leher jenjang Amara.


"Kak..! 


"I..iya! Amara kembali mengagetkan Miko.


"Kak miko kenapa sih? Ada yang aneh dengan penampilan aku?" 


"Kamu cantik! sangat cantik." Miko pun menjalankan mobilnya setelah melemparkan pujian untuk Amara. Yang membuat Amara heran dengan tingkahnya. ada ya orang memuji namun tanpa ekspresi begitulah pikiran Amara.

__ADS_1


***Hay readers ikuti terus KISAH CINTA AMARA karena akan semakin seru dengan konflik yang semakin rumit.🥰🥰***


**happy reading**


__ADS_2