
"BRAK"
ketiga laki laki itu kembali memasuki ruangan. Namun kali ini ada yang berbeda. Matanya merah dan berjalan sempoyongan dengan bau alkohol yang menyeruak sudah dipastikan mereka sedang mabuk. Mereka mendekati Amara. Memandang Amara penuh nafsu seolah ingin menerkam mangsanya.
Membuat Amara kembali ketakutan dan menangis kali ini lebih menakutkan lagi dari yang ia rasakan sebelumnya.
Salah satu dari mereka membuka lakban yang ada di mulut Amara. Kemudian ibu jarinya mengusap lembut bibir ranum itu.
Dengan cepat Amara menggigit jari laki laki itu.
"Ah..sialan. dasar cewek gila!" Teriak laki laki itu sambil mengibaskan jarinya yang terasa sakit.
"Lepasin aku! Aku mohon. Aku mau pulang."
"Hahaha… kamu mau pulang?" sahut laki laki ke dua. Dengan cepat amara mengangguk.
"Layani kita dulu sampai puas baru kita akan melepaskanmu." Dengan satu tangannya membelai pipi Amara.
"Aku tidak Sudi melayani kalian! lebih baik aku mati daripada harus melayani bajingan seperti kalian."
"Kurang ajar! Sombong sekali kamu perempuan murahan." Kemudian laki laki itu mencoba mencium bibir Amara. Amara memberontak menggeleng gelengkan wajahnya. Laki laki itu pun memegang kepala Amara agar tidak bisa memberontak tapi Amara justru meludahinya yang membuat amarah laki laki itu memuncak dan melayangkan satu tamparan di pipi mulus amara.
"Plak"
"Aaaah.." teriak Amara kesakitan.
"Dasar perempuan tidak tau diri. Lepaskan ikatannya!" Yang semakin membuat Amara ketakutan.
Satu laki laki melepas ikatan Amara dan yang satunya memegang tangan Amara kebelakang agar tidak kabur. Dan saat itu tercetak jelas buah dada Amara yang menonjol begitu menggoda yang membuat lelaki yang Amara ludahi semakin menginginkan Amara.
Dengan cepat laki laki itu menarik Amara dan mendorongnya di sudut tembok. Kemudian dengan brutal menciumi tubuh Amara tangan nya pun tidak tinggal diam ia berusaha meraih benda kenyal itu. Sekuat tenaga Amara berusaha memberontak. Hingga Amara mendapatkan celah dan menendang adik kecil laki laki itu.
"Aaaah" laki laki itu meringis kesakitan. Kedua temannya menghampiri laki laki itu. Amara memanfaatkan situasi. ia berlari mencoba membuka pintu namun terkunci.
"Cepat kejar dia! Jangan sampai dia pergi. Aaaah.." sambil kesakitan laki laki itu memerintah kedua temannya.
Amara berhasil membuka kunci itu namun sayang ia kembali tertangkap.
"Mau lari kemana kamu perempuan sialan." Kedua laki laki itu memegangi tangan Amara dan menyeretnya.
"lepaskan aku!" Amara tidak tinggal diam ia menginjak kaki laki laki pertama lalu menggigit tangan laki laki yang kedua hingga berhasil melepaskan diri. Amara kembali berlari menuju pintu namun sayang laki laki yang Amara tendang adik kecilnya telah kembali beraksi dan berhasil meraih tangannya. dengan kasar laki laki itu menarik tangan Amara hingga jatuh tersungkur.
Melihat Amara terjatuh ia segera menguasai tubuh Amara dengan berada diatasnya memegang kedua tangan Amara keatas dengan satu tangannya. Dan tangan yang satunya memegang wajah Amara yang terus bergerak. Apapun Amara lakukan untuk mempertahankan mahkotanya sebisa mungkin ia terus memberontak Amara pun kembali meludahi wajahnya hingga membuatnya naik pitam dan hilang kendali.
"plak plak"
Dua tamparan laki laki itu berikan untuk Amara. hingga membuat sudut bibir Amara mengeluarkan darah. Tak berhenti sampai disitu dengan brutal laki laki itu menganiaya amara. Menjambak rambut Amara dan membenturkan kepala Amara pada tembok berulang kali hingga keningnya mengeluarkan darah. Amara tidak bisa lagi memberontak tubuhnya lemas pandangan matanya perlahan mulai kabur hingga Amara memejamkan matanya.
__ADS_1
"Hey! Apa yang kamu lakukan dia bisa mati."
"Kepalang tanggung toh nanti kita juga akan membunuhnya."
"Tapi kita belum menikmati tubuhnya. kamu mau kita menikmati mayat."
"Banyak omong. Cepat periksa dia!"
Kemudian laki laki itu memegang pergelangan tangan Amara memeriksa denyut nadinya.
"Masih hidup."
"Bagus! Ayo kita nikmati dia."
_
_
"Ar dimana tempatnya sebenarnya kamu tau atau tidak?" Ray sudah uring uringan
"Sabar pak sabar."
"Kamu jangan main main Ar. Kita tidak punya banyak waktu. Jika terjadi sesuatu dengan Amara kubunuh kamu!" Kemudian sinyal GPS Ardi menyala.
"Ini dia pak. Sudah dekat. Sebentar lagi kita akan sampai " dan benar saja sepuluh menit kemudian mereka telah sampai disebuah bangunan kecil di dalam hutan. Sayup sayup Ray mendengar suara tawa laki laki disusul dengan kata " benar benar menggiurkan tubuhnya sangat mulus."
"BRAK"
dengan sekali tendangan pintu itu pun roboh entah kekuatan super dari mana hingga ray berhasil merobohkan pintu yang berdiri kokoh. (Kekuatan cinta kali ya gaess)
Ketiga laki laki itu terlonjak kaget. Ray mengepalkan kedua tangannya hingga buku buku tangannya tercetak jelas menampilkan otot ototnya. Ray berlari dan melayangkan tinju di wajah laki laki yang berada di atas Amara hingga membuatnya jatuh tersungkur. Melihat kondisi Amara yang seperti itu membuat Ray membabi buta. Ray memukul brutal laki laki yang tadi berada diatas tubuh Amara. Hingga tidak ada kesempatan untuk laki laki itu membalas serangan Ray.
Rombongan pak Dirga dan polisi datang membantu Ray. kini mereka yang mengurus ketiga bajingan itu. Ray menghampiri Amara yang tergeletak dengan wajah lebam, bibir dan keningnya yang berdarah serta baju yang sudah tidak berbentuk hanya menyisakan penutup terakhir yang menutupi bagian atasnya. Beruntung celana Amara masih melekat di tempatnya belum terjamah. Tubuh Ray terjatuh di samping amara. Ray melepas jasnya untuk menutupi bagian atas tubuh Amara yang terekspos. Ray merengkuh tubuh rapuh itu dan memeluknya.
"Maafkan aku sayang..aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Hiks.." Ray menangis sambil memeluk Amara. Ardi dan pak Dirga menghampiri Ray. Sama halnya dengan Ray pak dirga pun meneteskan air mata melihat calon menantunya dalam kondisi yang memprihatinkan. Ardi menepuk nepuk punggung Ray pelan.
"Mari pak. Kita bawa nona Amara kerumah sakit." ucap ardi
Mendengar kata rumah sakit membuat darah Ray kembali mendidih. Ia membaringkan kembali tubuh Amara kemudian berdiri. Dengan wajah yang memerah Ray melangkah dengan cepat mengambil pistol salah satu polisi dan..
"Dor"
tembakan pertama Ray berikan kepada laki laki yang tadi berada diatas Amara tepat mengenai tangan kanannya.
"Ray!" Teriak pak Dirga
"Aaaah" teriak laki laki itu kesakitan darah mengucur dari tangannya.
__ADS_1
"Ray hentikan Ray!" Ucap pak Dirga kembali yang sama sekali tidak Ray hiraukan
"Pak Ray tolong hentikan!" Ucap polisi itu. Ray menjatuhkan pistol yang tadi ia pegang. namun sorot matanya fokus pada laki laki yang kedua. Polisi itu pun mengambil pistolnya. Dengan cepat Ray menendang kepala laki laki yang kedua hingga jatuh tersungkur kemudian Ray mematahkan tangan kanannya.
"Kretek"
suara tangan itu patah.
"Aaaaah" teriak laki laki itu sambil menangis. Semua orang tercengang dengan tindakan Ray yang sangat cepat dan brutal. bahkan Agus bersembunyi di belakang ardi. Laki laki ketiga yang ketakutan melihat aksi Ray mencoba melarikan diri. ia mendorong polisi yang memegang tangannya dan berhasil melarikan diri hingga mencapai batas pintu. Dengan cepat Ray meraih pistol itu kembali. dan timah panas berhasil menembus kaki kanan laki laki itu hingga membuatnya terjatuh.
"Aaaah.." laki laki itu kesakitan.
Ray berhasil melumpuhkan ketiga laki laki bajingan itu. Namun Ray masih belum puas. Ray kembali menyerang laki laki yang tadi berada di atas Amara. Memukul wajah pria itu dengan brutal. Laki laki itu sudah tidak berdaya karena timah panas yang telah menembus telapak tangannya. Kini darah bukan hanya mengalir dari tangannya tapi juga dari mulutnya. Polisi dan Ardi mencoba menghentikan Ray namun tidak berhasil Ray mendorong mereka hingga terjatuh.
"Aku akan membunuhmu bajingan!" Teriak Ray menggebu.
"Ray hentikan nak!" Pak Dirga memeluk Ray dari belakang.
"Lepaskan pa! Jangan sampai Ray menyakiti papa juga."
"Jangan nak. Papa tidak mau kamu menjadi pembunuh."
"Lapas!" Dengan kasar Ray menghempaskan tangannya hingga pelukan pak Dirga terlepas.
" Ray meraih kursi dan mengangkatnya di udara akan meremukan kepala laki laki itu.
"Aaa.." dibarengi dengan suara teriakan Ray kursi itu sudah berada diudara dan siap meremukan kepala laki laki itu. pak Dirga memejamkan mata tidak sanggup menyaksikan anak kesayangannya menjadi pembunuh.
"Kak Ray.." suara pelan dan amat lemah itu berhasil menghentikan Ray ia menjatuhkan kursi itu pelan. Bahkan suara Amara sangatlah lemah namun Ray dapat mendengarnya. Ray melihat jari jari Amara yang bergerak. Ray berlari menghampiri Amara.
"Sayang.." Ray kembali meneteskan air mata. Amara mengangkat tangannya pelan mencoba meraih wajah Ray. belum berhasil tangan itu sampai diwajah Ray kesadarannya kembali hilang.
"Sayang..bangun sayang! Amara.." Ray membopong tubuh Amara.
"Ardi ayo cepat kita ke rumah sakit." Teriak Ray sambil berlari membopong tubuh Amara.
"Baik pak!" Ardi melihat pak Dirga yang dijawab dengan anggukan kepala.
*serem juga ya gaess jika Ray sudah marah😞
* berdoa aja ya gaes semoga tidak terjadi apa apa dengan amara
* jangan lupa like komen dan vote😀😀
*** happy reading🥰🥰***
__ADS_1