Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 35 : Amara dan keluarganya


__ADS_3

Sayup sayup Amara mendengar suara orang sedang menyapu. Dilihatnya waktu menunjukkan pukul 04.30. kenapa di pagi buta seperti ini ada orang menyapu. Amara pun bergegas keluar. Ternyata ibunya sedang membersihkan halaman depan rumah.


" Bu.." sapa Amara.


"Eh kamu sudah bangun nduk?"


"Iya bu. Sini biar Amara yang teruskan!"


"Ya sudah kalau begitu ibu mau lanjut masak." Amara pun melanjutkan pekerjaan ibunya menyapu halaman depan rumahnya.


"Eh ini neng Amara to?" Sapa ibu ibu yang yang lewat sehabis belanja.


"Iya Bu!"


"Kapan pulang? Aduh rajin sekali pagi pagi sudah nyapu. Pantes ya aji itu suka sama kamu paket komplit sih."


"Hehe..ibu bisa saja." Jawab Amara dengan senyum yang dipaksakan.


"Ibu duluan ya. Nanti jangan lupa mampir. Aji pasti senang."


"I..iya Bu Insyaallah." Baru saja Amara akan kembali menyapu suara tetangga menghentikannya kembali.


"Ini siapa pagi pagi sudah menyapu. Aduh..rajin sekali ya Bu?" Suara dua orang ibu ibu yang lewat. Amara hanya tersenyum canggung.


"Ini kan neng Amara. Iya kan neng?" Jawab ibu yang satunya.


"Iya bu." 


"Tambah cantik saja kamu nak. Masih ingat nggak sama ibu?"


"Iya Bu saya ingat."


"Tuh kan saya bilang juga apa pasti ingat. saya kan ibunya Joko. Joko sekarang sudah kerja dikantoran. Gajinya besar Lo!"


"Oh..iya syukur Bu saya ikut senang."


"Iya dong harus. Nanti kan kamu juga ikut menikmati."


" Hah? Maksudnya?" Bu Jumiati yang sedang memasak didapur mendengar suara gaduh di luar. Bu jumiati mengintip dari dapur terlihat dua orang tetangganya sedang berbincang bincang dengan amara. Terlihat Amara seperti tidak nyaman. Bu Jumiati pun segera memanggil amara.


"Nduk..tolong kamu lanjutkan masakan ibu ya. Ibu kebelet!" Teriak Bu Jumiati diambang pintu ruang tamu.


"Iya bu!" 


"Maaf ibu ibu saya masuk dulu!"


"Hem..sombong! Masih jadi babu saja sombong. Awas saja kalau jadi menantu saya. Saya pites kamu." Gumam ibunya Joko.

__ADS_1


"Mereka semua itu bermuka dua nduk. Kamu jangan percaya sama bujuk rayu mereka. Mereka baik saat ada maunya saja!" Ujar Bu jumiati begitu Amara masuk.


"Iya bu Amara tahu. Ibu tenang saja!"


_


Setelah semua pekerjaan selesai dan membersihkan diri Amara kembali ke kamarnya. Pak Hasan dan Bu Jumiati telah berangkat ke sawah.


Amara mengambil ponselnya yang sedari pagi ia biarkan tergeletak di atas ranjang.


Dilihatnya satu pesan dari Ray tadi malam. dan enam panggilan tidak terjawab pagi ini. Amara berpikir sejenak apakah ia sudah keterlaluan melakukan ini pada Ray.


Amara pun memutuskan untuk menghubungi Ray.


"Tuuut" begitu sambungan terhubung Ray langsung menjawabnya. 


"Sayang..kamu dari mana saja?" Ray meminta untuk beralih ke video call.


Dan terpampanglah wajah yang selalu menghiasi hari harinya. Memenuhi otaknya dan selalu datang disetiap mimpinya. Dengan mata berkaca kaca ray meminta maaf.


"Aku minta maaf! Aku salah. Aku tahu kamu marah atas sikapku kemarin. Aku tidak mengontrol emosiku setiap apa yang berhubungan denganmu. Aku…"


"Kemarin ibu menelpon dan memberitahu jika bapak sakit. Dan aku memutuskan untuk pulang. Aku tidak ingin kamu khawatir untuk itu aku berbicara agak jauh. Dan lagi kamu bilang ada meeting penting bersama pak Antoni jadi aku merasa bahwa aku tidak perlu memberitahumu tentang masalahku."


"Aku mencarimu kesana kemari. Aku sangat khawatir. Kamu tidak mengangkat telponku. Tidak membalas pesan dariku aku seperti orang gila. Aku bahkan tidak tidur semalaman karena memikirkanmu. Apa kamu masih tidak percaya bahwa aku benar benar mencintaimu? Apa kamu masih menganggapku orang lain? Sekarang katakan kamu dimana?" Ray menaikan satu oktaf suaranya merasa frustasi.


"Kumohon jangan menangis. Aku minta maaf aku tidak akan memaksamu untuk mengatakan kamu dimana. Tapi jika kamu sudah merasa lebih baik. Kembalilah aku menunggumu.


Bagaimana keadaan bapak beliau sakit apa? Amara merasa terenyuh Ray memanggil bapaknya dengan sebutan bapak. Bukan bapakmu atau yang lain.


"Bapak sudah sembuh. Bahkan sekarang sudah bekerja kembali di sawah.ini Aku juga mau menyusulnya."


"Oh ya? Bagaimana jika kamu kepanasan dan hitam? Canda Ray dengan wajah sudah sumringah kembali 


"Maka kamu akan meninggalkanku."


"Jangan bicara seperti itu. Aku tidak akan meninggalkanmu walau apa yang terjadi." Ujar Ray serius.


"Aku kan hanya bercanda kenapa serius begitu. Sudah kak Ray lanjutkan saja pekerjaan kak Ray. Nanti pak Antoni marah. I Love you kak."


"Apa? Kamu bilang apa tadi?"


"Aku tidak bilang apa apa, aku hanya menyuruh kak Ray bekerja agar cepat kaya!" 


"Tidak kamu bohong. Aku tadi mendengarnya. Coba katakan sekali lagi aku ingin dengar.


"I love you Ray dirgantara.." ucap Amara dengan satu tangan di mulutnya membentuk speaker. Ray tersenyum bahagia. Ray pun tidak mau kalah membalas pernyataan cinta Amara 

__ADS_1


"I Love you to Amara Andini. I Love you so much." Lalu menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk love dan mencium love tersebut lalu diberikan untuk Amara.


"Cepat kembali. Dan jangan lupa beritahu aku. Biar aku jemput." Amara mengangguk.


Kini Ray bisa bernafas lega dan kembali bekerja dengan fokus. 


_


Sore hari Amara sedang bercengkrama dengan kedua orang tuanya di depan teras. Tiba tiba rosmala bibi Amara dan putrinya yang seumuran dengan Amara menghampiri. Rumah bibi rosmala berada di depan rumah hanya beratas jalan. Jadi setiap apa yang keluarga Amara lakukan akan terlihat oleh bibi rosmala. Rosmala adalah istri dari pamannya pak Hashim adik dari ayah Amara. 


Namun bibi rosmala tidak menyukai Amara dan keluarganya meski begitu Amara dan keluarganya selalu baik.


"Oh..sudah pulang rupanya. Si anak pembawa sial!" Ucap bibi mala


"Mala! jaga ucapanmu." Bentak pak Hasan


"Kenapa mas? Memang benar kan anakmu ini pembawa sial. Sudahlah mas jangan terlalu dibela dia nanti malah jadi anak durhaka baru tahu rasa."


"Mala..kenapa  dari dulu kamu selalu membenci Amara. Apa salah Amara?"


"Mbak! Anak mbak ini sudah menyebabkan anak saya meninggal. Dia itu pembawa sial!"


"Tidak ada yang namanya pembawa sial. Semua itu murni kecelakaan Mala!"


"Sudahlah mas. Lebih baik mas pikirkan dimana caranya untuk melunasi hutang hutang mas kepada saya." 


"Hutang? Maksud bibi bapak saya punya hutang kepada bibi?"


"Iya! Kenapa? kamu mau bayar? Hemm.. bisa apa kamu Amara? Bahkan jika kamu menjual diri sekalipun kamu tidak akan bisa melunasi hutang bapak kamu."


"plak"


Pak Hasan menampar rosmala.


"Keterlaluan kamu Mala. Dia itu keponakan kamu. Kenapa kamu tega mengatakan itu."


"Aah.." pak Hasan memegangi dada kirinya kesakitan


"Bapak! Bapak kenapa?" Ucap Amara menangis


"Pergi kalian dari sini!" Usir Bu Jumiati kepada Mala dan putrinya.


Amara dan ibunya memapah pak Hasan kedalam rumah.


Banyak tetangga yang menyaksikan pertengkaran diantara mereka tetapi tidak ada yang membantu. Pak Hasyim dan keluarganya merupakan orang yang cukup kaya di kampung Amara sehingga mereka disegani. Pak Hasyim mempunyai bisnis peternakan dan tanah  serta sawah yang luas. Sebenarnya itu adalah tanah peninggalan orang tua. Tetapi pak Hasan tidak diberikan bagiannya. semuanya dikuasai oleh pak Hashim dan keluarganya. Pak Hasan hanya diberi tanah sepetak yang sekarang menjadi tempat tinggalnya. Itu pun sewaktu orang tuanya masih ada.


***happy reading🥰🥰***

__ADS_1


__ADS_2