
Amara mengemudikan mobilnya menuju kantor Mike dengan kecepatan sedang. Sebelumnya Amara sudah membelikan Mike makan siang.
Begitu sampai di kantor Amara lantas memarkiran mobilnya lalu Amara masuk ke dalam kantor sambil membawa paper bag berisi makanan.
Amara menghampiri resepsionis yang bernama Nina.
Resepsionis itu menatap Amara dari atas sampai bawah dengan tatapan aneh
"Kok wajahnya seperti tidak asing ya." Batin nina
"Selamat siang nona ada yang bisa saya bantu?" Tanya Nina ramah
"Selamat siang mbak nina..mbak lupa sama saya."
"Maaf sebelumnya nona tapi saya kurang ingat."
"Saya Amara mbak yang dulu kerja disini sebagai office girl yang sering dimarahi mbak Lusi dan mbak Nina yang selalu menyemangati saya."
"Amara..kamu Amara Andini?"
"Iya saya amara mbak." Nina kembali memperhatikan Amara
"Kok beda banget sih, lebih cantik, lebih modis, wangi banget lagi masak sih kamu Amara. kamu lebih berisi ya sekarang."
"Iya mbak saya Amara..nih kalau mbak nggak percaya." Amara mengambil tanda pengenalnya lalu menunjukkannya kepada nina
"Iya benar kamu Amara, ya ampun kamu cantik banget sekarang."
"Makasih mbak atas pujiannya. Oh ya mbak saya mau bertemu pak Mike."
"Pak Mike??"
"Iya pak Mike."
"Mau ngapain, mau melamar pekerjaan lagi?"
"Nggak mbak saya mau mengantar makan siang untuk pak Mike."
"Oh kamu sekarang jadi pengantar makanan, tapi kok penampilan kamu cantik banget kayak bukan pengantar makanan deh. Ya Udah sini tinggal disini saja nanti biar diantar satpam sudah dibayar kan?"
"Mbak saya bukan pengantar makanan, tapi saya.."
"Amara!!" Ucapan Amara terpotong saat ada yang memanggilnya
"Kamu Amara kan, saya ingat banget ya sama tahi lalat kamu ini." Ucap Lusi
"Iya mbak Lusi ini saya Amara, mbak Lusi apa kabar?"
"Nggak usah sok akrab dengan saya, sekarang kamu jelasin kemana aja kamu tiga bulan ini pergi tanpa pamit. Kamu pikir ini kantor bapakmu datang dan pergi seenak jidat. Saya paling nggak suka sama orang yang tidak bisa menghargai pekerjaan."
"Maaf mbak saya salah."
"Ya memang kamu salah. Sekarang kamu pasti mau minta untuk bekerja di sini lagi kan, nggak bisa! Saya dengan tegas menolak kamu kembali bekerja di sini."
__ADS_1
"Lusi Amara kesini bukan karena ingin kerja disini lagi tapi mau mengantar makanan untuk pak Mike." Jelas nina
"Iya mbak saya mau mengantar makan siang untuk pak Mike."
"Oow..saya tahu sekarang kamu jadi pengantar makanan kan, rasain kamu. udah enak bisa kerja di kantor malah milih jadi tukang nganter makanan. Sukurin pontang-panting kan sekarang." Lalu Lusi memperhatikan penampilan Amara dari atas sampai bawah
"Kamu belagu banget sih jadi pengantar makanan ae sok sok an dandan segala."
"Ada apa ini??" Suara bariton Mike membuat Lusi terkejut dan diam seketika.
Mike datang bersama Dion dan dua orang disampingnya.
Mike lantas menghampiri amara yang terpaku melihat seseorang yang ada di samping Mike. seseorang itu pun sama ia juga terus menatap Amara.
"Sayang…" panggil Mike
Amara masih diam mematung tubuhnya seakan kaku lidahnya tiba-tiba kelu.
Rasanya campur aduk rasa sakit hati, rasa senang, rasa ingin marah, semua menjadi satu hingga Amara membeku.
"Sayang…" panggil Mike sekali lagi
"I..iya."
"Kamu nggak apa-apa?"
"Nggak kok."
"Sayang perkenalkan mereka adalah client ku rayen dirgantara dan asistennya." Ya seseorang tersebut adalah clien mike rayen dirgantara yang tak lain adalah mantan suami Amara. Dan Mike memperkenalkan Amara kepadanya. Lusi dan Nina tercengang mendengar penuturan Mike bahwa Amara adalah istrinya
"Amara akhirnya kita bertemu lagi setelah bertahun-tahun. Tapi kita bertemu dengan keadaan yang berbeda kamu bukan milikku lagi kamu justru istri dari pengusaha hebat seperti Mike. kamu semakin cantik apa kamu sudah bahagia bersama mike." Batin Ray menatap Amara dalam mereka saling menatap dengan pikirannya masing-masing.
"Rayen dirgantara." Ucap Ray sambil menulurkan tangan, Amara menatap tangan Ray bergantian menatap Mike. Mike menggangguk isyarat bahwa Amara harus menjabat tangan Ray.
Dengan sedikit gemetar Amara mengulurkan tangannya lalu menjabat tangan Ray.
"Dimana putriku Ray, kembalikan dia padaku dasar brengsek, bajingan." Ingin rasanya Amara mengatakan itu tapi sayang Amara hanya bisa mengumpat dalam hatinya.
"Tangan ini dulu tangan ini Yang selalu aku sentuh." Batin ray
Mereka berjabat tangan cukup lama hingga membuat dahi Mike berkerut Mike lantas menarik tangan Amara.
"Kurasa cukup perkenalannya, pak Ray sampai bertemu besok."
"Iya pak Mike, senang bekerja sama dengan anda, kami permisi."
"Silahkan." Melihat Ray pergi amara ingin berlari mengejar Ray dan menanyakan dimana putrinya tapi semua hanya ada dibenak Amara.
"Sayang..ayo kita keatas."
"I..iya." Amara terkejut saat Mike memanggilnya karena masih memperhatikan kepergian Ray.
"Dion kamu juga istirahat aku akan makan dengan istriku."
__ADS_1
"Baik pak."
Mike dan Amara hendak melangkah tapi Mike kembali teringat dengan Lusi.
"Sebentar sayang." Ucap Mike
"Ada apa, apa ada yang ketinggalan."
"Lusi!"
"Iya pak.."
"Saya peringatkan kamu sekali lagi saya mendengar kamu menghina istri saya, saya pecat kamu. Kali ini kamu saya maafkan tapi tidak untuk lain kali."
"I..iya saya minta maaf pak saya benar-benar tidak tahu Amara adalah.."
"NONA AMARA." Potong Mike dengan menekankan nama Amara
"Iya pak maksud saya bahwa nona Amara adalah istri pak mike."
"Sekarang kamu sudah tahu jadi jaga sikap kamu."
"Iya pak."Mike lantas membawa Amara ke ruangannya
Mike dan Amara duduk disofa yang ada diruangannya. Amara lalu menyiapkan makanan yang telah ia bawa. Mike memperhatikan istrinya yang semakin cantik dan tubuhnya semakin berisi sambil tersenyum Mike terus memperhatikan istrinya.
"Sayang..kamu kenapa sih senyum-senyum penampilan aku aneh ya?" Mike lalu berdiri dan memeluk Amara dari belakang mencium ceruk leher istrinya.
"Perfect.. penampilan kamu sangat sempurna sayang. Kamu sangat cantik." Mike mengelus perut Amara yang masih rata
"Apa sudah ada Mike junior disini sayang?"
"Kita berdoa saja semoga secepatnya."
"Aku selalu berdoa tapi doa saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan usaha yang giat."
"Ehem.. Mike ini dikantor jangan aneh-aneh deh." Amara mengerti arah pembicaraan Mike jika sudah begini Mike pasti sedang ingin.
"Tapi ini kantorku siapa yang akan melarang."
"Kalau ada yang lihat gimana?"
"Mana mungkin ada yang lihat kita di dalam ruangan lagi pula ini jam istirahat."
"Kalau Dion tiba-tiba masuk gimana?"
"Tidak akan aku akan mengunci pintunya."
Begitulah Mike jika punya keinginan harus tetap terlaksanakan.
Mike pun mengunci pintu ruangannya dan benar saja Mike meminta jatahnya di kantor.
🌹🌹🌹 Bersambung 🌹🌹🌹
__ADS_1