
Jenazah pak Hasan pun sudah dikebumikan dengan diiringi tangis dan doa orang-orang yang mencintainya pak Hasan pergi untuk selama-lamanya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Â
Semua orang sudah pergi kini tinggal Amara, pak Hashim, Mala,ibu jumati dan dua orang polisi yang bertugas mendampingi pak Hashim yang masih menjadi tahanan berada di pemakaman.
Sepertinya pak Hashim benar-benar kehilangan kakaknya sedari tadi Hashim terus menangis sambil meminta maaf kepada pak Hasan.
"Pak Hashim waktu anda sudah habis, anda harus segera kembali ke penjara." ucap salah satu polisi.
Mala memeluk suaminya erat
"Jangan pergi lagi mas..aku tidak mau ditinggalkan."
"Aku harus pergi Mala, suatu saat nanti jika waktunya tiba kita pasti akan berkumpul kembali." Kemudian hashim menghampiri AmaraÂ
"Bangun nak.." Hashim membantu Amara untuk berdiri
"Maafkan paman, paman banyak salah sama kamu dan suami kamu, kamu jangan bersedih lagi mulai sekarang paman dan bibi akan selalu ada untuk kalian."
"Iya Amara tante janji Tante akan menyayangi kamu dan mbak Jum.
Tante tidak akan bersikap seperti dulu lagi." Amara hanya diam dengan pandangan kosong, ibu Jumiati terus menggandeng Amara agar tidak jatuh.
"Aku pamit semuanya, assalamualaikum.."
Pak Hashim pun dibawa kembali ke hotel prodeo.
"Ayo kita pulang nduk.." Amara menggeleng
"Nggak Bu.. Amara nggak mau pulang, Amara mau nemenin bapak."
"Amara..dengarkan ibu nak ikhlaskan bapak agar bapak tenang dan bisa pergi dengan bahagia, jangan memberatkan bapak nak."
"Sepuluh menit, biarkan Amara disini sepuluh menit lagi Bu."
"Mala kamu pulang duluan saja tolong urus yang dirumah, aku mau menemani Amara disini."
"Iya mbak, mbak temani Amara dulu biar urusan di rumah menjadi tanggung jawab saya dan Bu ida."Â
"Terimakasih Mala."
"Iya mbak sama-sama aku duluan ya mbak." Bu Jumiati mengangguk.
Amara menjadi lebih tenang setelah mendapat wejangan dari ibunya, kini Amara berdoa dan berdzikir untuk ayah tercinta.
"Pak..Amara pamit pulang besok Amara kesini lagi. Bapak yang tenang disana Amara dan ibu pasti akan selalu mendoakan bapak. Bapak jangan khawatir kami akan baik-baik saja disini. Dan Amara janji pak Amara akan menjaga ibu dan cucu bapak Amara tidak akan meninggalkan ibu sendiri, kemanapun Amara pergi Amara akan membawa ibu pak. Assalamualaikum pak.." kemudian Amara mencium nisan pak hasan
"Pak..ibu juga pamit pulang ibu ikhlaskan kepergian bapak, bapak yang tenang disana ibu akan selalu setia dengan bapak agar kita bisa dipertemukan kembali di sana. Assalamualaikum pak.."
Bu Jumiati membantu Amara berdiri karena kondisinya yang lebih lemah dari ibu Jumiati.
sepanjang perjalanan ibu Jumiati terus menggandeng tangan Amara.
Dengan mata sembab dan langkah gontai Amara melangkah setapak demi setapak sampai di depan rumahnya tiba-tiba seseorang yang paling ia benci, seseorang yang telah menyebabkan ayahnya meninggal berdiri dihadapannya saat ini.
Bayangan saat ia membuka gambar Ray, saat ayahnya jatuh pingsan, hingga ayahnya tidak tertolong satu persatu muncul di otaknya. Amara menatap Ray dengan penuh kebencian dadanya naik turun dengan nafas yang memburu menahan emosi yang siap meledak.
__ADS_1
"Sayang.." kata pertama yang keluar dari mulut Ray disambut Amara dengan sebuah tamparan keras di pipinya.
"Plakkk"
Semua orang tercengang dengan tindakan Amara, berbeda dengan sebelumnya ibu Jumiati yang selalu melarang Amara setiap berbuat tidak baik kali ini ibu Jumiati membiarkan Amara menampar Ray.
Mama ana dan pak dirga berlari menghampiri anak dan menantunya.
"Amara!! Apa yang kamu lakukan?" Tanya mama ana dengan nada tinggi
Amara tidak goyah sama sekali tatapan matanya tajam menatap Ray.
"Dasar pembunuh kamu!!"Â
"Apa?? Maksud kamu apa Amara kenapa kamu mengatakan aku pembunuh?"
"Amara jika kamu membenci Ray bukan seperti ini caranya, kami datang baik-baik untuk menghormati bapak kamu, begini cara kamu menyambut kami?" Ucap mama ana, sedangkan pak Dirga diam saja pak Dirga ingin tau apa yang sebenarnya terjadi, tidak mungkin Amara berkata seperti itu jika tidak ada yang terjadi begitulah kiranya pikiran pak Dirga.
"Iya!! Ini caraku menyambut pembunuh sepertinya, mama tidak tau kan apa yang sudah bajingan ini lakukan??"
"Cukup Amara!!" Mama ana mengangkat tangannya di udara hendak menampar amara namun ia urungkan melihat tatapan Amara yang penuh dengan kebencian
"Kenapa tidak jadi, tampar aku ma.. tampar jika ini bisa membuat mama puas. Mama tidak tau apa yang sudah kualami mama tidak tahu apa yang sudah dia lakukan. Aku kehilangan bapak karena dia ma!! Hiks..hiks." Amara jatuh terduduk menangis meraung-raung.
"Nduk..jangan seperti ini biarkan Allah yang membalas semuanya nduk serahkan semuanya kepada Nya.. istighfar nduk."
"Amara.. ayo bangun." Ray ingin membantu Amara untuk berdiri namun tangannya ditepis Amara kasar.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu."
"Amara!!" Ucap ardi yang baru datang bersama orang tuanya.Â
Semua orang kini berkumpul di ruang tamu. Melihat Amara yang sudah lebih tenang mama ana kembali bertanya kepada Amara.
"Amara..ibu Jumiati ini sebenarnya ada apa, kami kemari dengan tujuan baik bukan untuk dipermalukan seperti ini, kenapa kamu sangat membenci Ray. mama tau Ray salah tidak hadir saat acara syukuran untuk anaknya tapi semuanya bisa dibicarakan baik-baik kan kenapa harus membuat drama seperti ini?" Amara langsung menatap mama ana tajam mendengar dirinya dituduh membuat drama.
"Drama mama bilang, bapak aku meninggal ma dan mama masih bisa bilang aku hanya drama dimana hati mama, apa mama tau apa yang aku alami sebelum ini?"
"Mama memang tidak tau Amara tapi kamu juga tidak bisa mempermalukan kami, apalagi kamu menuduh Ray pembunuh apa maksud kamu."
"Karena memang itu faktanya ma Ray.."
"Mama menyesal dulu begitu sayang dengan kamu ternyata begini sifat asli kamu." potong mama ana.
"Bagus!! Bagus kalau mama menyesal jadi aku tidak perlu berat hati untuk berpisah dengan mama."
"Kamu!!"
"Ma.."
"Biarin pa biar Amara sadar selama ini kita sudah begitu baik dengan keluarganya kita cukupi semua kebutuhannya dan keluarganya bahkan rumah yang ia tempati sekarang atas jasa Ray pa!!"
"Aku tau ma!! Dan aku sangat sadar aku tidak akan pernah melupakan semua kebaikan kalian, kalian mau rumah ini?? Ambil!! Silahkan ambil aku tidak gila harta tapi satu yang aku mau kembalikan bapakku. apa kamu bisa Ray??"
"Cukup Amara cukup!! Kamu sudah sangat keterlaluan dengan kami, sekarang apa mau kamu?"
"Aku mau segera berpisah dengan ray dan jangan pernah mengusik kehidupanku."
"Kamu.."
__ADS_1
"Cukup!!" Pak Dirga sudah tidak bisa menahan diri lagi akhirnya bersuara.
"Amara papa tidak akan banyak bicara beri kami satu alasan kenapa kamu begitu membenci kami."
"Baik aku tidak akan memberi alasan tetapi bukti karena aku bukan orang yang suka membual tanpa adanya bukti." Kemudian Amara bangkit dan mengambil ponselnya yang ada di kamar.
"Kalian semua lihat baik-baik foto yang akan aku tunjukan." Kemudian Amara memperlihatkan foto-foto syur Ray dan angel.
"Kurang jelas baik aku akan mengirim ke nomor kalian." Kemudian Amara mengirim ke nomor mereka masing-masing.
"Tidak mungkin ini tidak mungkin..apa yang sudah kamu lakukan Ray??" Teriak mama ana histeris sambil memukul dan menggoyangkan tubuh Ray. Ray hanya diam dan menangis.
"Bapak terkena serangan jantung setelah melihat foto itu hingga membuat nyawanya tidak tertolong itu semua karena anak mama. Aku berjuang selama ini untuk bapak dan ibuku tapi apa yang sudah Ray lakukan dalam sekejap Ray bisa membuat nyawa seseorang melayang tanpa harus menyentuhnya hebat kamu Ray."
"Maafkan aku Amara aku salah tolong ampuni aku." Ray bersujud memegang kaki Amara
"Percuma..percuma aku memaafkanmu bapakku tidak akan bisa kembali. Keputusanku sudah bulat aku mau kita bercerai dan kamu jangan pernah mengganggu kehidupanku lagi."
Ardi merasa geram dengan tingkah Ray yang selalu masuk dalam jebakan angel.
"Aku setuju!!" Ucap ardi tiba-tiba.
Semua orang menatap Ardi
"Ardi apa yang kamu katakan? Maaf semuanya Ardi hanya bercanda." ucap paman yoga.
"Tidak pa! Aku serius, berkali-kali aku mengingatkan Ray untuk tidak berhubungan dengan angel tapi apa Ray tetap ngeyel hingga semua ini terjadi. Sudah cukup kamu menyakiti Amara Ray mungkin dengan kamu melepaskannya Amara akan lebih bahagia."
"Tau apa kamu soal kebahagiaan, jangan pernah ikut campur urusan rumah tanggaku."
"Ardi benar aku akan bahagia jika tanpa kamu."
"Amara aku mohon jangan tinggalkan aku.."
"Ma..pa..Amara minta maaf sudah berkata tidak sopan dengan kalian, Amara minta mama dan papa jangan membenci Amara meski Amara bukan bagian dari keluarga dirgantara lagi."
Mama ana mendekat menggenggam tangan Amara
"Mama yang minta maaf kali ini kesalahan Ray sangat fatal mama menerima keputusan kamu sayang." Kemudian mama ana memeluk Amara.
"Papa juga minta maaf nak papa tidak becus mendidik Ray dengan baik. Maafkan papa." Kemudian Amara beralih memeluk pak Dirga.
"Ini bukan salah papa, papa sudah sangat hebat dalam mendidik Ray, Ray saja yang tidak bisa dipercaya."
Mama ana mengelus perut AmaraÂ
"Mama boleh kan menengok cucu mama nanti?"
"Tentu boleh ma Amara akan senang jika mama bersedia menengoknya."
Kemudian Tante Hana dan paman yoga juga minta maaf.setelah semua orang minta maaf dengan Amara mama ana dan pak yoga beralih meminta maaf kepada ibu Jumiati.
"Ibu Jumiati.." mama ana memeluk besannya itu
"Maafkan kami Bu kami telah gagal mendidik Ray, tolong jangan membenci kami dan jangan putuskan tali silaturahmi kita."
"Tidak akan, kita akan terus menjalin tali silaturahmi ini meski Amara bukan lagi bagian dari keluarga kalian nanti."
Setelah semuanya jelas mama ana dan keluarganya pamit untuk pulang dengan sekuat tenaga mereka menarik Ray yang memberontak tidak mau berpisah dengan Amara sedangkan Amara sedikitpun tidak merasa iba dengan Ray rasa bencinya terlalu besar seketika cinta yang ia miliki untuk Ray selama ini lenyap begitu saja.Â
__ADS_1
Titik lemah seorang wanita adalah ketika cinta dan kesetiaannya telah ternodai.