
Eps sebelumnya
"Apa yang sebenarnya Dion lakukan, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
 Saat sampai di rumah makan ibu Inah sudah ada seorang perempuan yang tengah bersih-bersih, tetapi tidak ada ibu Inah disana.
"Maaf kamu siapa ya?" Tanya Amara sopan
"Aku bekerja disini, mbak sendiri siapa kenapa tanya-tanya?" Jawabnya judes
"Bekerja..apa maksudnya, apa ibu Inah menambah pegawai baru?" Batin Amara
"Ibu Inah dimana?"
"Kamu siapa sih dari tadi tanya-tanya terus
Kalau nggak mau beli yaudah pergi sana."
"Amara…" panggil ibu Inah yang baru datang entah dari mana.
"Bu Inah.." Amara pun mencium tangan ibu Inah.
"Tangan kamu kenapa Amara?"
"Iya bu jadi kemarin aku jatuh makanya tidak masuk kerja kemarin, maaf ya bu aku tidak masuk kerja tanpa izin."
"Amara ibu minta maaf ya, bukannya ibu marah sama kamu, kemarin sangat ramai pengunjung ibu jadi kewalahan, dan kebetulan ada nak Santi sedang mencari pekerjaan jadi ibu terima saja, Amara ibu minta maaf ibu tidak sanggup jika harus menggaji dua karyawan jadi.."
"Nggak apa-apa kok bu Amara mengerti, memang aku yang salah. Kalau begitu Amara pamit ya Bu." Potong Amara,
"Maaf ya Amara, ibu benar-benar minta maaf, ini buat kamu." Sambil menggenggamkan uang seratus ribu untuk Amara.
" Ini apa bu Inah tidak usah."
"Nggak apa-apa nak untuk ongkos kamu pulang."
"Terimakasih banyak ya bu Inah, semoga rumah makan ibu semakin ramai."
"Amin…"
"Oh ternyata dia yang aku gantiin, tampangnya saja yang sok oke ternyata orang miskin to,sukurin nggak punya pekerjaan kan sekarang." Batin Santi.
Dengan perasaan sedih Amara kembali pulang.
_
_
"Wah jesen hari ini pinter ya, bisa menjawab pertanyaan dari ibu guru."
"Iya dong nek, kata papa kan jesen harus jadi anak yang pintal." Suara jesen dan ibu Jumiati dari luar, Amara pun segera bangun dari rebahannya.
"Sayang…"Â
"Mama.." jesen berlari memeluk amara
"Lagi ngomongin apa nih anak mama kayaknya seru banget."
"Iya ma, tadi jesen bisa menjawab pertanyaan Dali ibu gulu, jesen pintel kan ma?"
"iya…pinter banget sih anak mama, eh ini bawa apa?"
"Ini mainan ma."
__ADS_1
"Em..mama tau jesen pasti dikasih ibu guru ya karena berhasil menjawab pertanyaan dari ibu guru, ah..Pinter banget sih anak mama."
"Bukan mama, ini di kasih sama papa."
"Papa? Papa siapa lagi Jesen?"
"Papa Dion ma."
"Jesen..dengarkan mama Dion itu bukan papa jesen, jesen nggak boleh panggil papa harus berapa kali mama bilang kenapa jesen nggak ngerti juga, panggil om aja ya."
"Nggak mau, papa Dion itu papanya jesen, buktinya jesen dibeliin mainan telus jesen juga dikasih uang saku, telus jesen diantelin sekolah juga. Pokoknya papa Dion itu papa jesen." Kemudian jesen berlari ke kamarnya.
"Jesen..!!"
"Nduk..kamu jangan terlalu keras dengan jesen, dia itu masih anak-anak apalagi dari kecil jesen tidak pernah melihat ayahnya apalagi merasakan kasih sayang dari seorang ayah wajar jika jesen seperti itu."
"Tapi itu tidak baik Bu, Dion itu bukan siapa-siapa kita."
"Nduk..jesen itu anak-anak kamu yang harus mengalah dan mengerti dia bukan jesen yang harus mengerti kamu." Kemudian ibu Jumiati juga meninggalkan Amara.
"Benar kata ibu, nggak seharusnya aku bersikap seperti ini gara-gara kehilangan pekerjaan aku jadi marah-marah dengan anakku." Amara pun menyusul jesen di kamar.
Saat Amara membuka pintu jesen sudah menangis duduk di samping lemari.
"Sayang..jagoan mama, maafin mama ya, mama salah sama jesen, jesen boleh kok panggil papa Dion papa mama nggak marah."
"Benelan ma?"
"Bener dong, jesen jangan nangis lagi ya, jesen kan jagoan mama masak jagoan nangis." Jesen mengusap air matanya kasar sambil tersenyum
"Enggak jesen nggak nangis lagi." Kemudian memeluk Amara.
"Terimakasih ya Allah telah engkau kirimkan malaikat kecil yang begitu pintar dan sangat mengerti hamba." Batin Amara bersyukur.
"Ganti baju yuk, mama bantuin ya?"
"Oh ya..coba mama mau lihat." Dengan pelan jesen pun mengganti bajunya.
"Wah..anak mama memang hebat."
_
_
Malam hari
Jesen sudah tidur bersama ibu Jumiati sedangkan Amara masih bingung harus mencari pekerjaan dimana lagi, Amara mencoba mencari lewat jejaring sosial.
"Nduk..kamu belum tidur?"
"Ibu..kenapa bangun?"
"Apa ada masalah cerita sama ibu."
"Huft.." Amara menarik nafas dalam sebelum bercerita
"Amara di pecat Bu."
"Dipecat tapi kenapa apa karena kemarin kamu tidak masuk?" Amara mengangguk
"Lebih tepatnya posisiku sudah diganti, ini memang salah aku sih Bu kemarin tidak izin ataupun memberi kabar bahwa aku tidak masuk."
"Tapi kan kamu lagi sakit nduk."
"Bos aku mana tau Bu kalau aku sedang sakit, sekarang aku bingung Bu harus cari kerja dimana lagi tidak ada yang mau menerima aku Bu semantara kita harus membayar kontrakan dua hari lagi."
__ADS_1
"Maaf ya nduk ibu tidak bisa bantu apa-apa."
"Nggak Bu..ibu sangat membantu Amara, selama in ibu selalu menjaga jesen dan itu sangat membantu Amara bu, tapi Amara mohon Bu jangan mau menerima pemberian dari Dion lagi."
"Iya nduk. Udah sekarang kita tidur sudah malam besok dipikirin lagi."
"Iya Bu."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Pagi tiba seperti kemarin Dion datang lagi ke rumah Amara tetapi sayang lagi-lagi Dion tidak bisa menemui Amara, pagi-pagi sekali Amara sudah berangkat untuk mencari pekerjaan.
Dion juga kembali mengantar jesen ke sekolah setelah itu barulah Dion berangkat ke kantor.
Dion menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi ia tidak ingin terlambat lagi, dan benar saja sesampainya di kantor Mike belum datang. Dion pun lantas menuju ruangannya.
_
_
"Brak" suara pintu terbuka dengan keras.
Tiba-tiba mike masuk dengan wajah yang ditekuk, sudah dipastikan ia sedang tidak baik-baik saja.
"Sial..sial..sial, memang brengsek perempuan itu awas saja kalau sampai bikin ulah lagi." dumal Mike
"Kenapa lagi sih Mike?" Tanya Dion sebagai seorang sahabat bukan karyawan.
"Cassandra."
"Kenapa lagi dia?"
"Kali ini dia sudah keterlaluan, bisa-bisanya dia merayu kakek untuk membujuk aku agar mau menikah dengannya."
"Lalu apa tanggapan kakek?"
"Apalagi sudah pasti termakan dengan rayuan maut Cassandra, kamu tau sendiri kan kakek sangat ingin aku segera menikah."
"Terus apa kamu mau?"
"Menurut L??..ya nggak lah, kamu tau sendiri kan bagaimana perasaanku dengannya."
"Iya tau Mike yang ketampanannya diatas rata-rata ini masih ingin membahagiakan wanita-wanita yang tergila-gila padanya."
"Nah itu tau pake nanya lagi."
"Iya..ya sorry, terus apa rencana kamu sekarang?"
"Tau itu dia yang membuat menganggu pikiranku." Mike menatap dion
"Kenapa?"
"Beruntung hari ini kamu tidak terlambat."
"Iya dong aku tidak mungkin terlambat lagi."
"Apa jadwalku hari ini?"
"Siap pak, sebentar lagi Anda ada meeting bersama karyawan, kemudian nanti siang ada pertemuan dengan perusahaan xxx di cafe xxx, kemudian bla bla.." Dion memberi tahu semua jadwal Mike hari ini
"Apa semua sudah siap?"
"Sudah pak, ."
"Baiklah, ayo kita meeting."
__ADS_1
🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹