
Beruntung ada mobil pick up yang lewat kemudian meminta bantuan kepada mobil itu untuk membawa pak Hasan ke rumah sakit.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
"Bapak..bapak harus kuat demi kami pak." tangis amara Sembari berlari mengikuti brankar yang didorong oleh perawat.
"Maaf mbak silahkan anda menunggu diluar." Ucap suster
"Selamatkan bapak saya sus..saya mohon."
"Iya..silahkan tunggu diluar."
Amara dan ibu Jumiati menangis sambil berpelukan di ruang tunggu.
"Sabar ya Ra, pak Hasan pasti baik-baik saja."
"Makasih ya ton kamu sudah membantu kami."
"Sama-sama Ra.."
tiba-tiba pintu terbuka suster berlari, saat Amara bertanya suster itu tidak menjawab, suster itu kembali namun dengan beberapa dokter lain, Amara dan ibunya semakin cemas kenapa banyak dokter berlari menuju ruangan pah Hasan.
"Suster ini ada apa kenapa semua berlarian?" tanya Amara kepada salah satu perawat.
"Maaf mbak pasien sedang kritis permisi."
"Bapak.."
"Sabar nduk..kita berdoa saja ya.."
"Ceklek" pintu kembali dibuka satu dokter keluar dengan wajah yang terlihat sedih
"Dokter bagaimana keadaan bapak saya, bapak saya baik-baik saja kan dok?"
"Maaf mbak..ibu..kami sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi tuhan berkehendak lain, nyawa pak Hasan tidak dapat diselamatkan."
"Nggak!! Dokter pasti bohong. Bapakโฆ" Amara berlari memeluk tubuh pak Hasan yang sudah tertutup kain."
"Bapak bangun..jangan tinggalin Amara, jangan seperti ini pak."
"Pak..bangun, jangan tinggalin ibu pak."
Bahkan Toni juga ikut menangis, Toni menghampiri Amara lalu merangkul pundaknya.
"Katakan ton bapak belum meninggalkan ini cuma mimpi kan ton..hiks."
"Sabar Ra yang tabah.."
"Nggak bapak nggak boleh ninggalin aku, bapak belum melihat cucu bapak."
Tiba-tiba Amara jatuh pingsan
"Amara!!" Teriak Bu Jumiati dan Toni bersamaan dengan sigap Toni menggendong tubuh Amara sambil memanggil dokter
"Dokter..dokter tolong dok."
"Cepat bawa kesini." Ucap dokter tersebut.
_
_
__ADS_1
Ray bangun tetapi masih belum seratus persen sadar Ray memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ray melihat keatas dan sekeliling seperti bukan kamarnya netranya menangkap satu foto yang terpajang disana dan itu adalah foto angel.
"Angel.." gumam Ray. Tiba-tiba sebuah tangan menimpa di atas perutnya, tangan putih mulus dengan kutek merah. Jantung Ray berdetak lebih cepat perlahan Ray menengok ke samping danโฆ
"Duarrrr"
Angel yang berada disampingnya dengan tubuh polos tanpa busana kemudian Ray melihat dirinya yang juga tanpa busana. Ray menggelengkan kepala dan menjambak rambutnya.
"Tidak..ini tidak mungkin. Ini pasti mimpi tidak!!!" Teriak Ray hingga angel terbangun.
"Sayang kamu kenapa?" Panik angel menyentuh tangan ray
"Lepas angel dasar perempuan murahan, aku tidak Sudi disentuh oleh tangan kotormu itu." Ray menunjuk wajah angel kemudian segera mencari pakaiannya dan memakainya.
"Ray kamu kenapa sih kamu sendiri yang memintaku tapi kenapa kamu menyalahkan aku?"
"Bohong! Kamu pasti sudah menjebakku kan, kamu memang licik angel aku benci denganmu." Setelah mengatakan itu Ray segera pergi dari apartemen angel.
"Ray..kamu mau kemana kamu harus tanggung jawab!!" Teriak angel.
"Hem..kali ini kamu boleh pergi, tapi setelah ini aku pastikan kamu tidak akan bisa pergi dariku." Gumam angel dengan penuh kemenangan.
_
_
"Tidak ini tidak mungkin ini pasti mimpi, aku tidak mungkin melakukannya. Aaaโฆbrengsek." Teriak Ray sepanjang perjalanan menuju rumahnya sambil menangisi kebodohannya.
Dengan langkah tegas dan wajah terlihat marah Ray memasuki rumahnya sapaan dari Bejo dan Ajeng tak dihiraukan Ray membanting pintu kamarnya sangat keras hingga membuat Ajeng kaget tak lama disusul dengan suara seperti pecahan barang dan teriakan Ray, Ajeng yang panik lantas menghubungi mama ana. Lima belas menit kemudian mama ana datang bersama pak Dirga.
"Ajeng dimana Ray?"
"Di Kamar nyonya, sepertinya tuan sedang mengamuk."
"Ray!! Buka pintunya ini mama dan papa datang Ray kamu kenapa?"
"Jangan ganggu Ray ma..biarkan Ray sendiri."
"Ray kamu kenapa sayang, jangan buat mama khawatir."
Tidak ada sahutan dari dalam membuat mama ana dan pak Dirga semakin panik.
"Ajeng kamu tahu kunci cadangannya?"
"Ti..tidak nyonya yang tau hanya tuan dan nona."
Kemudian mama ana berinisiatif untuk menghubungi Amara tiga kali mama ana memanggil namun tidak ada jawaban.
"Kenapa tidak diangkat apa Amara sudah tidak mau menjawab teleponku."
"Mungkin nona sedang sibuk nyonya."
"Sibuk apa malam-malam begini, sudahlah ayo kita cari saja Ajeng."
Mereka semua mencari kunci cadangan kamar Ray tak lama kunci itupun ketemu oleh Ajeng.
"Aku dapat nyonya, ini."
"Cepat buka pa."
Akhirnya pintu dapat dibuka dan setelah pintu terbuka sungguh ironis keadaan kamar Ray yang seperti kapal pecah semua barang berada di lantai tapi tidak ada Ray disana, pak Dirga dan mama ana pun menuju kamar mandi dan benar saja Ray disana duduk bersandar di dinding dengan tangan penuh darah dan kaca wastafel yang sudah retak.
__ADS_1
"Ray!! Kamu kenapa sayang..kenapa jadi begini."
"Bejo cepat bantu saya."
"I..iya tuan." Bejo dan pak Dirga membopong tubuh Ray untuk duduk di sofa.
Ajeng mengambil kotak obat kemudian membalut tangan Ray dengan kasa.
Mama ana membuatkan teh hangat untuk Ray.
"Ajeng tolong kamu bersihkan semuanya ya, Bejo kamu bantu Ajeng."
"Siap nyonya."
"Minum dulu Ray."
Setelah sedikit tenang mama ana kembali bertanya kepada Ray.
"Sebenarnya ini ada apa Ray, apa karena Amara, apa Amara tidak mau kembali denganmu?"
Ray hanya menggeleng
"Jangan menyakiti diri kamu sendiri Ray, kamu laki-laki jangan mudah menyerah teruslah berusaha."
"Tapi semua sudah berbeda pa."
"Maksud kamu apa Amara sudah mempunyai laki-laki lain?"
"Bukan."
"Kalau begitu tidak ada yang berbeda Ray selama Amara masih sendiri kamu jangan putus asa, apalagi kalian masih sah menjadi suami istri juga ada anak dalam kandungan Amara, itu akan mempermudah kalian untuk bersatu kembali."
"Tapi masalahnya tidak segampang itu pa! Papa tidak mengerti keadaanku sekarang." Teriak Ray
"Ray!! Jaga bicaramu, kenapa kamu jadi marah sama papa."
"Mama juga tidak mengerti. Lebih baik kalian pulang aku ingin sendiri."
"Ray..kamu kenapa sih cerita sama kita."
"Ray ingin sendiri ma..pa.. tolong mengerti."
"Baik, papa dan mama akan keluar tapi malam ini kami akan menginap di sini, ayo pa kita keluar."
_
_
Pagi tiba jenazah pak Hasan sudah dibawa pulang untuk segera dimakamkan.
Di kediaman Amara sudah banyak tetangga yang melayat, dari tadi malam Amara terus menangis membuat matanya sembab dan kehabisan tenaga. Ibu bagas datang dan memeluk Amara serta menenangkannya berbeda dengan ibu Jumiati yang cukup tabah Mala juga ikut menangis mungkin ia menyesal selama ini terus membenci pak Hasan hingga akhir hayatnya.
Tiba-tiba semua orang dikejutkan dengan datangnya pak Hashim yang datang bersama dua orang polisi yang mendampinginya.
Hashim menangis sambil berjalan kemudian berlutut di samping jenazah pak Hasan.
"Mas maafkan aku mas, selama ini aku selalu iri denganmu aku sombong aku sudah durhaka kepadamu mas..aku memang jahat, kenapa mas tega meninggalkan aku, aku tidak punya siapa-siapa lagi mas. Aku belum sempat berbakti kepadamu mas kenapa mas pergi secepat ini." sesal Hashim.
_
_
__ADS_1
Jenazah pak Hasan pun sudah dikebumikan dengan diiringi tangis dan doa orang-orang yang mencintainya pak Hasan pergi untuk selama-lamanya.
๐๐๐ Bersambung ๐๐๐