
Tapi ingat martabaknya yang Abang-abang gerobak."
"Iya sayangโฆ"
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Setelah menunggu tiga puluh menit akhirnya Ray datang dengan membawa beberapa kantong plastik berisi martabak dan es Boba alpukat pesanan Amara.
"Aku datang.." ucap Ray kepada semua orang, yang sedang berkumpul di ruang tamu, termasuk Ajeng dan juga Bejo.
"Lama banget sih kak."ย
"Maaf sayang tadi belinya lumayan jauh, karena aku tidak tau dimana biasanya ada penjual martabak mangkal."
"Sini tuan biar saya siapkan." Ucap Ajeng,ย sambil mengambil kantong-kantong plastik itu.
"Saya bantuin neng.." sahut Bejo. enam porsi martabak telur, empat porsi martabak manis dan enam cup es Boba alpukat sudah tertata diatas meja, dengan rakus Amara memakan martabak telur seperti orang kelaparan, hingga satu mulutnya penuh ia memakannya bergantian dengan minuman es bobanya. Semua orang menatap Amara aneh dengan cara makannya termasuk Ray yang baru pertama melihat Amara makan seperti ini. Satu porsi martabak telur telah Amara habiskan kini beralih dengan martabak manis Amara sangat menikmati makanannya sampai tidak sadar jika sedang diperhatikan oleh semua orang setelah martabak manisnya hampir habis barulah Amara sadar jika sedang di perhatikan bahkan diantara mereka tidak ada yang makan.
"Kenapa kalian tidak makan? Kenapa malah melihatku?"
"Mama senang sayang kamu makannya sangat lahap, dimakan lagi sayang."
"Mama juga makan dong, kak Ray juga papa juga, Ajeng dan pak Bejo juga pokoknya semuanya harus makan."
"Iya sayang..ayo semuanya makan." jawab Ray
_
_
Setelah selesai menghabiskan satu porsi martabak telur dan satu porsi martabak manis serta dua cup es Boba alpukat Amara merasa mengantuk.
"Aku ngantuk ma..aku ke kamar dulu ya." Ucapnya kepada mama ana yang kini tengah bersantai di ruang tv, sedangkan pak Dirga dan Ray ada di ruang kerja Ray.
"Sayang..apa mama boleh bicara sebentar?"
"Boleh ma, mama mau bicara apa?"
"Sebelumnya mama minta maaf jika mama lancang, apa kamu masih belum bisa memaafkan Ray? Apa kamu masih membencinya? Apa kamu tidak mau memberinya kesempatan?" tanya mama ana panjang lebar.
"Kenapa mama bertanya seperti itu?"
"Mama mendengar dari Ajeng katanya kamu bekerja, apa itu benar?"
"Iya ma.. maafkan Amara." Jawab Amara dengan suara lemah, merasa tidak enak dengan mertuanya itu.
"Tapi kenapa sayang? Apa Ray yang menyuruhmu? Kamu itu menantu mama menantu dari keluarga dirgantara dan kamu sedang mengandung tidak baik jika kamu harus bekerja. Apa Ray tidak memberikan nafkah untuk kamu?"
__ADS_1
"Tidak ma, bukan begitu kak Ray sudah menjalankan kewajibannya untuk menafkahi aku, tapi.."
"Tapi kenapa sayang?"
"Tidak mungkin kan ma jika orang tuaku selalu bergantung pada kak Ray, selama ini kak Ray selalu mencukupi kebutuhan orang tuaku, mencari uang itu tidaklah mudah ma dan sangat melelahkan aku tidak mau jika suatu hari semua yang sudah kak Ray lakukan untuk orang tuaku menjadi ucapannya hatiku pasti akan sangat sakit ma."
"Kamu berbohong kepada mama?"
"Maksud mama?" Mama ana tiba-tiba menangis lalu memeluk Amara.
"Maafkan mama sayang, mama terlalu memanjakan Ray dari kecil hingga dia tidak tau bagaimana cara menjadi dewasa, mama tau Ray sudah mengucapkan semua itu, Ray sudah menyakiti hatimu nak sampai kamu harus bekerja saat kamu sedang mengandung." Amara pun ikut menangis. Mama ana melepas pelukannya
"Sudah sayang jangan menangis ya.." mama ana menghapus air mata Amara lalu menggenggam kedua tangan Amara.
"Mama mohon sama kamu sayang jangan bekerja lagi, jika kamu masih belum bisa memaafkan Ray tinggallah dengan mama dan papa agar kamu lebih tenang."
"Aku disini saja ma.."
"Kamu yakin?" Amara mengangguk
"Kalau begitu janji sama mama jangan bekerja lagi."
"Iya ma..Amara janji besok adalah hari terakhir Amara bekerja, setelah itu Amara akan mengundurkan diri."
"Ya sudah, mama panggilkan Ray dulu ya untuk menemani kamu tidur." Mama ana hendak berdiri namun dicegah oleh Amara.
"Tidur sendiri? kalian tidak pisah ranjang kan?"
"Ti..tidak kok ma. Maksud Amara biar nanti kak Ray nyusul aja, sekarang biar Kaka Ray menemani papa dan mama dulu."
"Ow..mama kira kalian pisah ranjang, mama akan sangat sedih jika semua itu terjadi sayang. Apapun yang terjadi jangan sampai kalian pisah ranjang ya, karena suami istri memang seharusnya tidur bersama apapun masalahnya. itu adalah kunci sebagai suami istri, kalau kalian pisah ranjang bagaimana kalian akan semakin jauh dan memperkeruh keadaan.
"Iya ma..mama tenang saja kami tidak pisah ranjang kok."
Sebenarnya mama ana tau jika Amara tidak mau tidur satu kamar dengan Ray, mama ana sengaja berpura-pura tidak tau agar bisa membuat menantunya itu menuruti kata-katanya.
_
_
"Ray..kamu harus lebih bersabar lagi menghadapi Amara dan harus lebih peka jangan menunggu Amara meminta sesuatu baru berikan, harus punya inisiatif sendiri dong, Amara itu sedang mengandung pasti ingin selalu dimanja hanya saja dia gengsi untuk mengatakannya, kamu yang harus punya inisiatif sendiri. Dan satu lagi orang hamil itu sangat sensitif jadi jangan pernah membuat dia tersinggung sedikitpun. Orang hamil juga sering merasa lelah jadi kamu harus lebih gercep pijitin dia tanpa harus diminta. kamu mengerti??"
"Iya ma, Ray mengerti.."
"Nanti kamu temani Amara tidur, mau tidak mau kamu harus tetap temani dia, Pepet terus nanti juga mau."
"Siap ma.."
__ADS_1
"Mama dan papa pulang dulu, kalau ada apa-apa jangan lupa kasih tau kami."
"Hati-hati ma.." ucapnya sambil mengangguk
_
_
Ray mengikuti kata mama ana, merebahkan tubuhnya di samping amara
Kemudian tangannya memeluk pinggang ramping Amara, wajahnya ia letakkan di ceruk leher Amara.
Amara yang merasakan hembusan nafas hangat di lehernya pun terbangun.
Dengan pelan Ray menoleh, Amara kaget ketika wajah Ray yang ia lihat.
"Kak Ray ngapain?" tanyanya sembari bangun
"Tidur sayang ngapain lagi emang."
"Kenapa tidur disini?"
"Karena istriku tidur disini, jadi aku juga harus tidur disini."
"Nggak boleh! Aku nggak ngizinin kak Ray tidur disini."
"Kalau begitu sebagai seorang suami aku menyuruhmu untuk mengizinkan aku tidur disini."
"Mana bisa begitu.."
"Bisa. Sekarang aku ingin tidur dengan memeluk istri dan anakku." Ray menarik kembali Amara untuk tidur dalam dekapannya.
"Kak Ray lepas aku tidak bisa nafas."
"Bisa..biasanya juga bisa. Sudah jangan bicara lagi atau aku unboxing sekarang juga."
"Nggak, nggak mau!!"
"Makanya cepat tidur." Amara mengukir senyum tipis di bibirnya, rasanya sangat nyaman tidur dalam pelukan suaminya namun Amara terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Ray pun sama, merasa sangat bahagia akhirnya dia bisa tidur sambil memeluk istrinya kembali. Kehangatan yang sangat ia rindukan bersama istrinya dapat ia rasakan kembali.
"Cukup sekali aku berbuat hal bodoh dalam hidupku, aku tidak akan mengulanginya lagi sayang..
Semoga ini adalah awal hubunganku dan Amara bisa seperti dulu lagi, amin.." doa ray dalam hati.
๐๐๐Bersambung๐๐๐
__ADS_1