
Ray kembali ke kantor, sesampainya di kantor Ray ingin menemui pak Antoni di ruangannya. Di depan ruangan pak Antoni sayup sayup Ray mendengar suara tawa seorang perempuan dari dalam. Ray seperti tidak asing dengan suara itu Ray pun mendekat dan ternyata benar dugaannya itu adalah suara Farah. Karena posisi pintu yang sedikit terbuka jadi Ray bisa melihat siapa yang ada di dalam.
Ray memutuskan untuk kembali ke ruangannya tetapi langkahnya terhenti saat Farah mengucapkan nama Amara.
"Makasih ya pa! Berkat bantuan papa aku tidak perlu repot repot mendepak Amara dari sini."
"Apapun akan papa lakukan untuk calon menantu papa."
"Tapi rasanya aku masih belum puas pa, aku ingin Amara benar benar pergi dari kehidupan Kevin. SELAMANYA." Farah menekankan kata terakhirnya.
"*****BRAK*****"
Dengan kasar Ray membuka ruangan pak Antoni. Hingga membuatnya terjingkat kaget.
"Ray? Sejak kapan kamu disini?"
" Apa maksud perkataanmu Farah?" Dengan mata tajamnya Ray bertanya pada Farah.
"Apa maksudmu Ray aku tidak mengerti?"
"Tidak usah berpura pura Farah, aku sudah mendengar semuanya!"
"Cukup Ray! Kamu itu bekerja untuk kevin dan papa. Seharusnya kamu membela kami bukan perempuan murahan itu!"
Ray mengangkat tangannya di udara ingin menampar farah. Farah reflek memejamkan mata.
"Jaga ucapanmu Farah!"
"Ray! Berani kamu berbuat kasar kepada Farah kamu akan berhadapan denganku." bentak pak antoni
"Saya tidak takut berhadapan dengan siapapun jika menyangkut orang yang saya cintai termasuk dengan anda." tunjuk Ray pada pak Antoni.
"Apa? Jadi kamu.."
"Iya! Saya mencintai Amara. Amara adalah calon istri saya jadi jangan pernah menyakitinya." Ray pun keluar dari ruangan pak Antoni.
"Kamu saya pecat!" Suara bariton pak Antoni menghentikan langkahnya. Ray kembali menghampiri pak Antoni dan Farah.
"Bagus! Dengan senang hati saya akan keluar dari perusahaan ini." Lalu Ray pun benar benar pergi.
"Saya pastikan kamu tidak akan mendapatkan pekerjaan apapun." Teriak pak Antoni.
__ADS_1
Dengan langkah tegas dan wajah dinginnya Ray melangkah meninggalkan wings group. Sapaan dari para karyawan lain tidak digubris.
Ray ingin cepat pulang mendinginkan kepalanya yang terasa mendidih.
_
_
Sesampainya di rumah Ray bergegas menuju kamarnya masih dengan wajah yang tidak bersahabat. Mama ana yang awalnya ingin menyapa Ray ia urungkan melihat Ray yang sepertinya tidak baik baik saja.
"BRAK"
Ray menutup pintu kamarnya dengan keras. Hingga terdengar mama ana yang ada dibawah.
Ray menyandarkan tubuhnya di kursi panjang. Emosi sungguh menguras hati dan pikirannya hingga Ray lupa jika Amara ada dirumahnya.
Karena merasa gerah dan lelah Ray memutuskan untuk mandi.
Ray mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya hanya menyisakan celana boxer yang melekat menutupi adik kecilnya. Tanpa ia sadari baju baju Amara yang juga tergeletak di samping ranjang.
Ray membuka pintu kamar mandi bersamaan dengan Amara yang juga membuka pintu.
"Aaaaaa" teriak amara
Mama ana dan pak Dirga yang mendengar teriakan Amara sontak berlari menuju kamar Ray.
"Aaaa.. apa yang kalian lakukan?" Giliran mama ana yang berteriak.
Mama ana langsung menyeret papa Dirga keluar.
"Kalian berdua cepat pakai baju, kita tunggu dibawah!" Teriak mama ana dari luar.
"Kak cepat bangun, kak Ray berat!" Ucap Amara. Ray pun bangun. Amara duduk sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit
"Ah..pinggangku!" Rintih Amara kesakitan.
"Maaf ya sayang aku…" Ray tidak bisa melanjutkan kata katanya. Mulutnya terasa tercekat melihat pemandangan indah di depannya. Tubuh putih mulus tanpa cacat sedikitpun terpampang nyata di depannya. Apalagi Amara hanya mengenakan handuk yang hampir melorot. Ditambah lagi pergerakan Amara yang memegangi pinggangnya sambil membusungkan dada. membuat dadanya tercetak jelas.
Junior Ray yang sedari tadi telah mengeras kini malah berdiri tegak menyembul dibalik celana boxer. Ray reflek memegangi juniornya dan berlari kedalam kamar mandi.
"Ih..kak Ray bukannya bantuin aku berdiri malah pergi sih." Teriak Amara.
__ADS_1
Setelah sama sama memakai baju. Ray dan Amara turun kebawah dimana papa Dirga dan mama ana telah menunggunya di bawah.
"Jelaskan apa yang kalian berdua lakukan?" Tanya papa dirga
"Pa! Kami Tidak melakukan apa apa. Aku terjatuh dan menimpa Amara itu saja."
"Tapi kalian tidak memakai baju." Timpa mama ana.
"Itu karena.."
"Cukup ray! Kamu tidak bisa mengelak lagi. Kalian harus mempertanggung jawabkan perbuatan kalian." Potong mama ana.
"Kalian harus segera menikah!"
"Apa?" Ucap Ray dan Amara bersamaan.
"Ma..Amara mohon jangan seperti ini. Amara dan kak Ray benar benar tidak melakukan apapun ma." Amara duduk bersimpuh sambil memegangi kedua tangan mama ana.
"Amara apa yang kamu lakukan ayo berdiri!" Ucap mama ana.
"Nggak ma..Amara nggak mau berdiri sebelum mama percaya pada Amara."
"Amara.." mama ana ikut berjongkok karena Amara tidak mau berdiri. "Ini bukan tentang mama percaya atau tidak sama kamu sayang, tapi Ray harus bertanggung jawab atas perbuatannya sama kamu. Kalian berdua berada diruangan yang sama tanpa memakai baju bahkan dengan posisi seperti itu. kalian sudah berdosa sayang. sudahlah Amara keputusan papa dan mama sudah bulat kalian harus menikah."
"Tapi ma.. Amara tidak bisa. Amara.."
"Kenapa tidak bisa? Apa karena laki laki itu?" Ray berdiri memotong ucapan Amara tidak terima Amara menolak menikah dengannya bahkan Amara sampai rela duduk bersimpuh dan memohon agar tidak dinikahkan dengannya. Ray merasa terhina dengan penolakan Amara. Amara pun ikut berdiri.
"Laki laki? Maksud kakak apa? Kak Ray jangan bicara sembarangan ya?"
"Lalu kenapa kamu tidak mau menikah denganku?"
"Bukannya tidak mau kak. Tapi aku belum siap. Masih banyak yang harus aku lakukan. Bukannya kak Ray tadi juga tidak mau lalu kenapa kak Ray marah?"
"Karena kamu sampai memohon pada mama. Kita itu sepasang kekasih kamu juga tau kakak sangat mencintai kamu. Cepat atau lambat kita juga pasti akan menikah lalu apa bedanya sekarang atau nanti kita menikah. Kenapa kamu sampai memohon untuk tidak dinikahkan denganku. Atau jangan jangan kamu bohong tentang perasaan kamu selama ini. Apa kamu masih mencintai Kevin? Atau laki laki itu?"
" Cukup kak! Kak Ray keterlaluan hiks hiks." Amara menangis Ray menuduhnya yang bukan bukan. Mama ana memeluk Amara dan menenangkannya. Ray pun pergi menuju kamarnya. Sesaat kemudian Ray kembali dengan membawa jaket dan menyambar kunci motor yang ada diatas meja.
"Ray! Mau kemana kamu?" Tanya papa Dirga namun Ray sudah terlanjur pergi menaiki motor sportnya yang ada didepan rumah.
**gaess makin seru ya ceritanya, biar author up nya semangat jangan lupa tinggalkan jejak ya🤭🤭**
__ADS_1
_like komen dan vote!!
\*\*happy reading🥰🥰\*\*