Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 49 : I love you more


__ADS_3

Ray pulang bersama Ardi. Dengan Ardi yang mengemudi.


"Lo pulang kerumah gue aja ar!" Ujar Ray setelah sedari tadi terdiam tanpa sepatah kata pun sejak memasuki mobil.


"oke! Apa Amara masih belum membaik?" 


"Dia belum sadarkan diri Ar."


"Kenapa Lo tinggal jika dia belum sadar kan diri."


"Mama nyuruh gue pulang."


"Tante bener Lo harus ganti baju Lo dulu terus istirahat. Amara pasti masih trauma berat atas semua ini. Kalau Amara udah sadar dan dia lihat keadaan Lo yang seperti ini dia pasti akan teringat kembali kejadian yang membuatnya trauma." 


"Tapi bukan itu alasan kenapa mama nyuruh gue pulang." Ardi mengerutkan dahi


"Lalu?"


"Pikiran gue kacau. Gue nggak tau harus ngapain. Gue sayang gue cinta sama Amara tapi entah mengapa gue merasa Amara…." Bahkan Ray tidak mampu melanjutkan kata katanya.


"Jangan bilang Lo.." Ardi langsung mengerti maksud Ray " Lo gila Ray. Amara itu calon istri Lo dia lagi dapet musibah nggak seharusnya Lo punya pikiran kayak gitu. Lo kan tau sendiri hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa dia masih virgin. Gue nggak habis pikir sama Lo Ray Lo bilang Lo sayang Lo cinta banget sama dia. tapi dengan Lo kayak gini itu udah nunjukin banget kalau Lo nggak tulus cinta sama dia."


"Lo jangan sembarangan kalau ngomong. Lo nggak tau perjuangan gue buat dapetin dia."


"Ya udah kalau Lo inget perjuangan Lo, ngapain Lo punya pikiran kayak gitu. Yang penting itu dia selamat dan baik baik saja."


"Lo nggak ngerti perasaan gue Ar. Coba Lo diposisi gue Lo akan tau gimana rasanya apalagi ada bekasnya." Teriak Ray


"Ok fine! Gue emang nggak ngerti perasaan lo. Tapi kalau gue ada diposisi Lo gue nggak akan terpengaruh hanya karena sebuah bekas seperti itu. karena apa? Karena cinta gue jauh lebih besar dari apapun." Jawab ardi tak kalah berteriak.


Setelah perdebatan panjang mereka sama sama terdiam. Ardi adalah asisten pak Dirga sekaligus sepupu Ray.


Jika diluar jam kerja mereka akan kembali menjadi saudara yang selalu dibumbui dengan pertengkaran pertengkaran kecil.


Setelah memarkirkan mobil Ardi langsung keluar dari mobil dan meninggalkan Ray tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Bahkan Ardi membanting pintu mobil cukup keras.


"Ar!" Panggil Ray saat Ardi menaiki tangga


"Lo marah?"


"Nggak."


"Terus?"


"Gue kecewa sama Lo. Tadinya gue terharu gue bangga melihat perjuangan Lo buat Amara tapi ternyata gue salah nilai Lo." Ardi mengatakan itu tanpa melihat Ray. Lalu kembali menaiki tangga.

__ADS_1


Ray terdiam memikirkan perkataan Ardi.


Kemudian handphone Ray berdering satu panggilan dari mama ana.


"Iya ma ada apa?"


"Ray..hiks hiks" suara mama ana yang menangis dan terdengar panik juga terdengar suara kegaduhan.


"Ada apa ma? Mama kenapa menangis?"


"Amara Ray. Dia sudah sadar tapi dia histeris dan mengamuk Ray. Kamu cepat kesini dia terus memberontak Ray."


"Iya ma. Ray segera kesana."


Ray berlari menuju kamarnya untuk mengganti baju dan mencuci muka. Karena terburu buru semua pergerakan Ray menimbulkan suara yang cukup keras. hingga terakhir Ray menutup pintu dengan keras yang membuat Ardi yang telah memejamkan mata terbangun.


"Ray!" Panggil Ardi yang melihat Ray telah berlari menuruni tangga.


" Lo mau kemana?"


"Ke Rumah sakit. Amara sudah sadar tapi dia ngamuk ngamuk."


"Gue ikut! Tungguin gue bentar." 


"Gue tunggu di mobil."


_


_


Mama ana terus menangis dalam pelukan pak Dirga sambil menatap Amara yang memejamkan mata kembali.


"Kasihan Amara pa. dia pasti mengalami kejadian sangat buruk hingga membuatnya trauma seperti ini."


"Iya ma. Papa tidak tega melihatnya seperti ini."


"Ceklek" pintu terbuka menampilkan Ray bersama Ardi berjalan terburu buru menghampiri mama ana dan pak Dirga.


"Gimana keadaan Amara ma?" 


"Dokter sudah menyuntikan obat penenang untuk Amara tapi jika dia sadar dia akan kembali mengamuk dan dokter tidak bisa memberikan obat penenang terus menerus karena itu bisa berbahaya untuk kesehatannya Ray." Ray menggenggam tangan Amara kemudian menciumnya.


"Apa saja yang sudah kamu alami Ra hingga membuat kamu trauma seperti ini?"


"Dia pasti banyak mengalami hal buruk Ray bahkan melihat papa saja dia takut Ray." Jawab mama ana


Flashback on

__ADS_1


Mama ana tertidur di kursi di samping ranjang Amara dengan tangannya sebagai bantalan kemudian merasakan seseorang mengelus rambutnya. Saat mama ana membuka mata ternyata Amara sudah sadar dan tersenyum manis dengan mama ana.


"Amara kamu sudah sadar sayang?" Amara hanya mengangguk. Semuanya masih baik baik saja hingga pintu terbuka dan menampilkan papa Dirga yang berjalan menghampiri mereka.


Amara menggeleng gelengkan kepala dan menutup kedua telinganya kemudian menjerit dan berteriak


"Tidak! Tidak..jangan aaaaa"


"Amara kamu kenapa?" Mama ana panik


"Jangan mendekat!" Amara histeris sambil terus menangis


"Amara tenang nak ini papa!"


"Pergi kamu bajingan. Ray..tolong aku Ray kamu dimana hiks hiks." Amara melemparkan apa saja yang dapat ia raih. seketika membuat ruangan menjadi berantakan. Mama ana berlari memanggil dokter. Bahkan Amara telah mencabut selang infus yang ada di tangannya. Dan bersiap untuk kabur tetapi dokter rudy dan beberapa perawat berhasil mencegahnya. 


Dengan beberapa perawat yang memegangi Amara dokter Rudy berhasil menyuntikan obat penenang untuk Amara.


Flashback off


"Kenapa jadi seperti ini." Lirih Ray sambil menggenggam tangan amara.


Keesokan paginya Amara sudah terbangun duduk bersandar pada tumpukan bantal. sementara Ray masih tidur dengan posisi duduk dengan kedua tangannya sebagai bantalan. Dan tak jauh dari mereka terlihat Ardi yang tidur di sofa. 


Mama ana dan pak Dirga sudah pulang karena Ray yang menyuruhnya.


Amara mengelus rambut Ray pelan membuat Ray terbangun.


"Amara kamu sudah bangun?" Tanya Ray senang. Bukanya menjawab Amara justru menangis


"Hei..kamu kenapa? Jangan mengis aku paling tidak bisa melihatmu menangis." Ucap Ray dengan satu tangannya menghapus air mata Amara. Ray ingin m memeluk Amara namun dengan cepat Amara menghalanginya.


"Kenapa?"


"Jangan sentuh aku kak." teriak Amara yang membuat Ardi seketika terbangun.


"Amara kamu kenapa?"


"Aku kotor kak! Aku nggak pantes buat kak Ray. Lebih baik kak Ray cari perempuan lain yang jauh lebih baik dari aku." Ray memeluk Amara meskipun Amara terus memberontak dan m nangis Ray tetap memeluknya.


"Nggak! Kamu nggak boleh punya pikiran seperti itu. aku nggak akan ninggalin kamu apapun yang terjadi aku sangat mencintai kamu I love you more Amara. I love you percayalah semua akan baik baik saja. dengar Amara kamu masih baik baik saja jangan berpikiran terlalu jauh mereka tidak berhasil menyentuh kamu. kamu tidak ternoda sedikitpun. jadi jangan berbicara seperti itu ya." Kata kata Ray sangat lembut dan penuh kasih sayang.


Amara berhenti memberontak dan perlahan membalas pelukan Ray. Ray pun akhirnya bisa bernafas lega begitu Ardi.


* jangan lupa like komen dan vote


*** happy reading🥰🥰***

__ADS_1


__ADS_2