
Ibu.." Amara memeluk ibunya kemudian pak Hasan juga ikut mengelus rambut putrinya itu.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
"Ikut mama Ray!" Mama ana menarik tangan Ray untuk keluar
"Mama mau bawa aku kemana ma..aku belum selesai bicara dengan amara
Mama ana tetap menarik tangan Ray.
"Ma stop!! Lepas ma, aku belum selesai bicara dengan Amara." Teriak Ray di depan mama ana
"Plakk"
Mama ana menampar pipi Ray
"Mama apa-apaan sih, kenapa mama juga menparku apa salahku??"
"Kamu mau tau apa salahmu?? Ini salahmu!!" mama anaq melempar empat lembar foto di wajah Ray.
Ray mengambil foto-foto yang berserakan di lantai foto yang menunjukan kemesraannya bersama angel, matanya tertuju pada satu foto yang menunjukkan seperti ia sedang berciuman.
Ray ingat itu saat ia sedang meniup mata angel ketika angel sedang kelilipan. tangan Ray mengepal meremas foto itu, Ray baru sadar bahwa ia telah dijebak.
Ray berlari kembali masuk kedalam ruangan Amara
"Sayang kamu salah Paham aku bisa jelasin semuanya, aku dijebak aku tidak pernah melakukan semua itu, itu fitnah sayang."
"Jadi kamu sudah tau apa salahmu, karena kamu udah tau sekarang juga tinggalkan kami, aku akan merawat dan membesarkan anak ini sendiri aku tidak butuh laki-laki pembohong dan penghianat sepertimu."
"Aku dijebak sayang, tolong kamu percaya padaku aku tidak pernah mengkhianati kamu."
"Berkali-kali kamu mengucapkan kata itu tapi apa, kenyataannya kamu selalu berbohong kak."
"Tapi memang itu kenyataanya, aku dijebak."
"Oke kamu dijebak! Tapi pada kenyataannya kamu masih berhubungan dengannya, kamu sendiri yang bilang kamu tidak mau berurusan lagi dengan angel tapi apa di belakangku kalian diam-diam bertemu. Kalau kamu benar-benar sudah memutuskan hubungan dengannya semua ini tidak akan terjadi kak, entah itu kamu dijebak atau tidak semua ini tidak akan pernah terjadi."
"Iya aku salah, aku sudah menemui dia dibelakang kamu, tapi aku punya alasan kenapa aku menemuinya, dia akan kembali ke luar negeri dan.."
"Dan kamu tidak rela, iya kan? Kalau begitu kejar dia menikahlah Dengannya dengan begitu hidupmu akan bahagia." sela amara
"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?"
"Sangat sadar."
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, akan aku buktikan bahwa aku hanya dijebak." Kemudian Ray berbalik ingin meninggalkan Amara namun suara Amara menghentikannya
"Bagaimana jika aku ingin kita berpisah." Teriak Amara
Dengan dada naik turun menahan Amarah sekaligus tangis, Ray berbalik menghadap amara
"Kenapa selalu kata itu yang kamu ucapkan, apa kamu lupa kamu sedang hamil mereka butuh aku sebagai ayahnya." Mama ana, Bu Jumiati dan pak Hasan menangis mendengar kata yang keluar dari mulut Amara, mereka tidak menyangka jika Amara meminta untuk berpisah.
__ADS_1
"Nduk..jangan bicara sembarangan, kamu sedang emosi nduk..sabar ya."
"Aku sadar Bu dengan apa yang aku ucapkan, dan apa yang aku ucapkan tidak akan pernah aku tarik kembali. Kamu benar mereka memang butuh sosok seorang ayah aku juga tidak akan melupakan bahwa kamu adalah ayahnya aku akan mengizinkan kamu untuk bertemu mereka nanti tapi tidak untuk membawanya."
"Kenapa, kenapa rumah tangga kita menjadi seperti ini, dulu kita berjanji jika kita mempunyai anak kita akan merawat anak kita bersama-sama apa kamu lupa?"
"Aku ingat, sangat ingat!! tapi aku juga ingat kata-kata kamu dulu kamu tidak memempunyai apa-apa tapi kamu memiliki cinta yang besar hanya untukku dan berjanji tidak akan pernah menyakitiku seperti yang Kevin lakukan apa kamu lupa itu?"
Ray terdiam, ucapan Amara mampu membuatnya bungkam.
"Enam tahun kak kita menjalani bahtera rumah tangga bersama dan lima tahun aku menanti kehadiran seorang anak, lima tahun pula kamu selalu melukai perasaanku, kamu tidak pernah ada waktu untukku, selalu menyibukkan diri, tidak pernah membelaku saat orang-orang menghinaku Karena aku belum hamil juga bahkan kamu seolah menyalahkan aku bahwa aku yang memang tidak bisa memberimu keturunan apa kamu pernah memikirkan perasaanku saat itu, apa kamu tau betapa aku sangat tertekan?" Dengan nada tinggi dan tangis Amara mengeluarkan semua uneg-unegnya
"Aku menahan semuanya sendirian kak, dihina orang, tetangga bahkan karyawan kamu aku hanya bisa menangis. Setiap aku cerita kepadamu kamu bilang itu adalah fakta yang harus aku terima dan biasakan. fakta apa yang kamu maksud fakta jika aku memang tidak bisa memberimu keturunan, fakta jika disini aku yang bersalah iya kan??" Suara Amara mulai melemah
"Maafkan aku.." ucap Ray dengan air mata yang membasahi pipinya
"Aku tidak marah kamu melakukan itu, tapi pengkhianatan tidak akan pernah aku maafkan."
"Apa yang bisa aku lakukan agar kamu mau memaafkanku?" Amara diam, sedetik kemudian ia menjawab
"Menikahlah dengannya."
" apa?? Tidak!! aku tidak mau."
"Kenapa tidak mau?"
"Karena aku tidak mencintainya."
"Kamu tidak bisa membohongiku lagi."
"Kesempatanmu sudah habis."
"Jika kamu tidak mau melakukannya untukku lakukanlah demi anak kita."
"Jangan jadikan anak sebagai alasan untuk menutupi kesalahanmu."
"Aku akan pergi dari sini sampai kamu tenang, aku akan kembali jika kamu sudah lebih tenang." Kemudian Ray melangkah pergi
"Tidak perlu!! tidak perlu menungguku lagi jawabanku akan tetap sama." Ray berhenti mendengar ucapan Amara namun sedetik kemudian Ray kembali melangkah tanpa berbalik pada Amara.
Mama ana mendekat pada Amara lalu memeluknya sambil menangis.
"Jangan tinggalkan mama sayang, jangan pisahkan mama dengan cucu mama."
"Maafkan Amara ma, tapi Amara lelah selalu dibohongi."
"Apa kamu tega meninggalkan mama dan papa, bagaimana jika papa tau papa pasti akan sangat bersedih sayang."
Amara mengeratkan pelukannya hatinya menjadi bimbang.
_
_
__ADS_1
Amara sudah dibawa pulang oleh mama ana karena malam ini ada acara syukuran jadi Amara meminta untuk pulang saja.
Amara sedang istirahat di kamar sambil menunggu acara di mulai sementara Ray entah ada dimana sejak Amara pulang tidak melihat Ray di rumah. Pak Dirga sudah bicara dengan Amara dan memohon agar tidak berpisah dengan Ray, namun Amara tidak menjawab apapun.
Amara juga tidak mencari ataupun menanyakan keberadaan Ray, ia sudah tidak peduli Ray mau pergi kemana atau dengan siapa.
Tiba-tiba handphonenya berdering dilihatnya nama miko yang tertera dilayar ponselnya.
"Halo kak.."
"Halo Amara..kamu apa kabar, sudah tiga hari kamu tidak masuk kerja dan tidak memberi kabar apa kamu sakit?"
Amara memegang keningnya yang terasa sakit, Amara lupa belum memberikan surat pengunduran dirinya kepada Miko.
"Maaf kak, aku lupa untuk mengantar surat pengunduran diriku, terlalu banyak yang aku pikirkan sampai-sampai aku lupa untuk melakukan hal yang sangat penting."
"Apa?? Kamu mengundurkan diri, tapi kenapa?"
"Kamu Taukan aku sedang hamil anak kembar, aku tidak kuat kak untuk bekerja."
"Iya aku mengerti, oh ya sorry sebelumnya tapi aku melihat suamimu sedang bersama angel sekarang."
"Hem..jadi kamu menemuinya lagi kak." Batin Amara
"Iya biarkan saja."
"Sebentar aku kirimkan fotonya."
"Tidak perlu kak, aku yang menyuruh kak Ray untuk menikahi angel, biarkan mereka bersama."
"Apa?? Apa kamu sudah gila menyuruh suamimu untuk menikah lagi, apa akal sehatmu sudah hilang?"
"Iya! Akal sehatku sudah hilang, kesabaranmu sudah habis, aku lelah dibohongi, aku lelah dipermainkan oleh mereka!! Aku tidak kuat kak..hiks..hiks.."
"Jangan menangis Amara maafkan aku, sudah lupakan tentang suamimu yang brengsek itu ingat kamu sedang hamil fakus saja pada kehamilanmu. Apa kamu sudah makan atau ingin makan sesuatu biar aku belikan."
"Tidak kak terimakasih, malam ini ada acara syukuran dirumah."
"Boleh aku datang?"
"Jangan kak..aku tidak mau menambah masalah baru."
"Baiklah semoga acaranya berjalan dengan lancar."
"Iya kak terimakasih." Kemudian panggilan pun berakhir.
"Sekarang aku tau apa yang harus aku lakukan." Gumam amara
🍁🍁🍁Bersambung🍁🍁🍁
🌺🌺 Hay gaess maaf ya baru bisa up lagi, author sibuk dengan acara Agustusan 🙏🙏🌺🌺Jangan lupa untuk memberi dukungannya🌹 like
🌹komen dan
__ADS_1
🌹 vote dan jangan lupa hadiahnya juga🥰🥰🥰