
"Jadi kamu sudah menikah Ray, dulu kamu bilang kamu akan menungguku tapi apa sekarang kamu menghianatiku Ray..hiks." gadis itu menangis meraung-raung." Jika aku tidak bisa bersama denganmu maka orang lain juga tidak boleh mendapatkanmu."
Gadis cantik dengan lesung pipi itu histeris dan mengamuk. Rasa sakit juga rindu menjadi satu membuat gadis itu bertekad untuk memperjuangkan sesuatu yang pernah menjadi miliknya. Ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Ya..gadis cantik itu berada di luar negeri untuk melanjutkan karirnya sebagai model.
_
_
Hari telah berganti pagi sinar mentari telah menampakkan sinarnya. Cahayanya masuk melalui sela -sela gorden, mengganggu tidur sepasang pengantin baru yang masih saling berpelukan itu. Amara menggeliat merasa tidurnya terganggu Ray yang memang sudah bangun menutupi wajah Amara dengan tubuhnya. Agar istri cantiknya itu tidak terbangun. Ray mengerti pasti istrinya masih sangatlah lelah. Pelan-pelan Ray bangun membenarkan tirai gorden yang sedikit terbuka. Kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri Ray juga menyiapkan air hangat di dalam jacuzzi yang telah diberi rempah-rempah khusus agar badannya kembali segar untuk Amara mandi. Setelah selesai mandi Ray keluar sebentar untuk menemui orang tuanya dan mertuanya. sementara paman yoga, Tante Hana dan Ardi sudah pulang sejak subuh tadi.
Orang tua dan mertua Ray telah menunggu Ray dan Amara di restoran hotel.
"Ray..mana Amara?" Tanya mama ana begitu Ray sampai
"Belum bangun ma." Jawab Ray sambil menarik kursi di samping mama ana
"Belum bangun? Amara sakit nak?" Tanya Bu Jumiati khawatir.
"Tidak Bu, Amara baik-baik saja hanya kecapekan."
" Ya sudah kamu sarapan dulu nak." timpa pak hasan
"Ray sarapan di atas saja pak bareng amara. Kalau begitu Ray pesan dulu." Kemudian Ray pergi memesan makanan.
"Amara pasti capek karena kelamaan berdiri." Kata Bu Jumiati polos
"Bu Jumiati yakin Amara kecapekan karena pesta semalam?"
"Iya Bu ana Amara paling tidak betah kalau berdiri lama-lama." Jawab pak Hasan.
"Iya..itu bisa jadi. Tapi kali ini saya yakin Amara kecapekan bukan karena itu tapi karena hal yang lain." Sahut pak Dirga dengan senyum yang mengembang sambil melirik mana ana yang sepemikiran dengannya.
Ibu Jumiati dan pak Hasan saling pandang tidak mengerti kemudian mama ana menjelaskan kepada besannya itu.
"Wah.. sebentar lagi kita akan punya cucu pak."
"Semoga saja Bu saya juga berharap mereka secepatnya diberi momongan."
"Kalian ini mereka itu baru saja menikah. Biarkanlah mereka menikmati indahnya pernikahan."
"Iya pa..mama kan cuma berharap apa salahnya."
"Siapa ma yang salah?" sahut Ray.
" Sudah Ray beli sarapannya?"
"Sudah ma, kalau begitu Ray keatas dulu ya ma..pa..ibu..bapak. takut Amara keburu bangun."
"Iya, santai saja Ray. Biarkan Amara istirahat dulu tidak usah buru-buru."
"Papa ngomong apaan sih."
"Hahaha" pak Dirga tertawa melihat anaknya kesal.
Oh ya Ray. Nanti sehabis sarapan kita mau pulang. Kamu dan Amara ikut pulang bersama kami atau masih mau disini?"
"Ibu dan bapak jug langsung pulang ke Surabaya?"
__ADS_1
"Nggak dong sayang mereka akan menginap dirumah Hana beberapa hari lagi."
"Kalau begitu Ray disini dulu ma sama Amara."
"Dasar.. papa tau kamu tidak mau diganggu kan.."
"Iya Ray takut papa pengen." Kemudian Ray berlari sebelum pak Dirga mengamuk.
"Dasar anak nakal." Teriak pak Dirga.
_
_
Sesampainya di kamar Amara Ray tidak menemukan amara di atas tempat tidur.
"Sayang.." tidak ada jawaban
"Sayang..kamu dimana?" panggil Ray sekali lagi
"Aw..shh" suara Amara kesakitan dari dalam walk in closet.ray segera berlari menuju sumber suara.
"Sayang..kamu baik-baik saja?"
"Iya sayang aku nggak papa kog." Ray tersenyum bahagia Amara memanggilnya sayang. begitu pintu terbuka Ray segera memeriksa Amara.
"Mana yang sakit sayang.?" tanya Ray sambil memeriksa tubuh Amara.
"Sayang aku tidak apa-apa hanya masih sakit sedikit." Ray tersenyum mengerti maksud Amara kemudian ray menggendong Amara ala bridal style.
"Sayang aku nggak papa, turunin aku."
"Apanya yang tidak apa-apa kamu bilang disana masih sakit. Maaf ya sayang gara-gara aku ini kamu jadi sakit." Ray memegang inti Amara dibalik bajunya tanpa rasa malu. Amara melotot melihat tingkah Ray.
"Kak Ray ih. Malu tau."
"Kok kak lagi sih manggilnya padahal aku bahagia banget loh kamu panggil aku sayang."
"Habis sayang sih tangannya nakal main pegang aja."
"Nggak papa dong sayang kan udah halal aku juga sudah merasakannya dan rasanya sangat enak." Sambil mengedipkan satu matanya saat mengucapkan kata terakhir.
"Dasar mesum." kemudian mereka tertawa bersama.
"Lapar nggak?"
"Banget.."
"Mau makan disini apa di sofa aku sudah siapin sarapan buat kita."
"Sayang juga belum sarapan?"
"Aku kan nungguin kamu sayang."
"Oww..so sweet."
"Iya dong, suami siapa dulu. Jadi sayang mau makan dimana?"
__ADS_1
"Disini aja sayang aku males jalan."
"Siap ratuku.."
Mereka pun sarapan bersama dengan canda tawa penuh kebahagiaan.
_
_
_
Kevin yang dari semalam tidak tidur menjadi uring-uringan semua orang kena imbasnya. Termasuk karyawannya.
Seperti saat ini seorang OG tidak sengaja
Menumpahkan air putih di baju Risya saat meeting berlangsung, Kevin langsung bereaksi yang berlebihan.
"Kamu ini bisa kerja nggak sih, atau kamu mau saya pecat. Dasar nggak becus." Ucap kevin kasar
"Maafkan saya pak Kevin. Saya tidak sengaja tolong jangan pecat saya."
"Keluar kamu!" bentak Kevin kepada OG tersebut.
"Saya tidak apa-apa kok pak. Hanya air putih nanti juga kering." Risya mencoba membela OG tersebut agar tidak di pecat Kevin.
"Diam kamu Risya. Atau kamu juga mau saya pecat." seketika nyali Risya menciut
"Maaf pak." Semua orang yang ada di ruangan itu dibuat kaget dengan reaksi Kevin yang berlebihan. Kevin tidak pernah mengamuk seperti ini sejak bersama Amara dan kini Kevin kembali seperti dulu yang tidak bisa menahan diri. Termasuk pak Antoni yang di buat tercengang dengan tindakan Kevin. Setelah meeting selesai pak Antoni menghampiri Kevin di ruangannya.
"Vin..papa tidak suka ya dengan sikap kamu tadi. Jika kamu ada masalah tolong jangan dibawa ke kantor. Kamu itu seorang pemimpin Vin, kamu harus profesional."
"Tidak suka papa bilang. Apa pernah sekali saja papa suka dengan pilihan Kevin? Apa pernah papa peduli dengan perasaan Kevin selama ini?" Jawab Kevin dengan nada tinggi, bahkan Kevin berdiri mensejajarkan tingginya dengan pak Antoni.
"Vin! Kamu ini kenapa? Kenapa kamu jadi emosional seperti ini?"
"Papa tau ini semua karena papa! papa yang salah." Teriak Kevin.
"Apa kamu bilang salah papa? Memang apa yang sudah papa lakukan Vin?"
"Karena papa aku dan Amara berpisah, papa masih bertanya kenapa?"
"Oh..jadi ini semua karena perempuan kampung itu kamu seperti ini."
"Cukup pa!" Bentak Kevin
"Jangan pernah papa menghina Amara lagi."
"Apa sih Vin yang kamu lihat dari perempuan itu kenapa kamu selalu membela dia?"
"Karena Kevin mencintai Amara pa."
"Cukup Kevin! Cukup. kamu itu sudah mempunyai istri yang jauh lebih segalanya dari Amara apalagi yang kamu lihat dari perempuan itu. Ingat Vin sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah papa tidak mau kamu terus memikirkan Amara lagi. Dan ingat Amara juga sudah menikah tidak ada lagi yang bisa kamu harapkan darinya fokus saja pada Farah istri kamu."
Setelah mengatakan itu pak Antoni pun pergi.
"Aaa..brengsek." teriak Kevin frustasi.
__ADS_1
\*\*\* Happy reading gaess 🥰🥰\*\*\*