Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 181 : Tak sadarkan diri


__ADS_3

Amara buru-buru berangkat menuju kosan Arum. Ya..Amara akan pergi ke cafe bersama Arum sahabatnya.


Tadi pagi Amara menghubungi Arum meminta bantuan Arum untuk menemaninya menemui Ray agar tidak terjadi fitnah nantinya.


Dari jauh terlihat Arum sudah menunggunya di depan pintu pagar begitu mobil Amara berhenti Arum langsung masuk ke dalam mobil amara kemudian Amara menancap gas dengan kecepatan sedang.


"Jadi mereka janjian dimana?" tanya arum


"Bukan janjian tapi meeting."


"Iya maksudku itu, dimana?"


"Di cafe xxx."


"Tapi Ra aku takut deh gimana kalau pak Mike tau pasti bakalan marah besar, kenapa sih kamu nggak jujur aja dari awal."


"Nggak segampang itu Arum. Aku juga takut Mike tidak bisa menerima itu. Kamu nggak tau gimana awal mula kita bisa menikah. Bukan karena cinta Arum tapi paksaan."


"Apa?? Maksud kamu, kamu dipaksa oleh pak mike?" Amara mengangguk cepat.


"Mike mengancam ku kalau aku tidak mau menikah dengannya Mike akan membawa jesen pergi jauh. Jadi aku tidak bisa berpikir aku hanya bisa mengiyakan permintaan Mike. Yang penting aku tidak kehilangan jesen. Aku sudah kehilangan putriku aku tidak mau kehilangan jesen juga."


"Iya aku mengerti perasaanmu. Tapi kalian menikah sudah tiga bulan apa kamu masih terpaksa menikah dengannya?"


"Tidak! aku sudah jatuh cinta dengan nya rum, Mike sangat baik dan tulus."


"Terus kenapa kamu masih tidak jujur juga?"


"Justru itu rum aku semakin takut untuk mengatakan yang sejujurnya. Aku takut Mike meninggalkan aku dan jesen. Jesen sangat menyayangi mike aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika jesen harus kehilangan Mike."


"Sabar Ra..aku turut prihatin, aku nyesek banget dengan kisah cinta kamu yang tak kunjung menemukan kebahagiaan. Semoga kali ini bersama pak Mike kisah cinta kamu, perjuangan kamu berhenti dengan sebuah kebahagiaan."


"Amiinn rum semoga saja."


"Semoga…"


"Cafe xxx itu bukan Ra?"


"Mana?"


"Itu yang di depan."


"Oh ya bener."


"Kita parkir dimana ra, nggak mungkin kan kalau kita ikut parkir di dalam nanti yang ada malah ketahuan sama pak Mike."


"Iya aku tahu, kamu tenang saja. Aku sering kok nonton Drakor kayak gini mengintai seseorang." Lalu Amara memarkirkan mobilnya di sebuah kedai disamping cafe tersebut. 

__ADS_1


"Kok kita kesini?"


"Nih buat kamu, sekarang kamu turun beli sesuatu di sana biar aku masuk ke cafe xxx.


"Ow..aku ngerti sekarang, ide yang bagus oke siap."


"Oke ya, kita turun sekarang." 


"Siip.." jawab Arum sambil mengangkat ibu jarinya.


Arum masuk ke dalam kedai sementara Amara masuk ke dalam cafe xxx dengan memakai masker hitam dan topi hitam.


Amara duduk agak jauh dari Mike dan Ray. Bukan hanya Mike dan Ray tetapi Mike, Dion, Ray dan satu rekannya lagi mungkin asisten pribadi Ray.


Amara memilih duduk agak jauh karena tujuan Amara hanya ingin bicara dengan Ray saat Mike sudah pergi nanti.


Amara memilih tempat duduk dekat kaca paling pinggir agar lebih cepat keluar jika Ray keluar.


Amara juga hanya memesan minum saja.


Amara duduk membelakangi mereka dan menghadap ke arah kaca supaya lebih aman.


Lima belas menit sudah Amara menunggu mereka tetapi masih belum selesai juga.


"Lama banget sih mereka meetingnya." Batin amara jenuh. Tak lama setelah itu Mike keluar lebih dulu disusul Dion di belakangnya. Amara pun menunduk saat mereka lewat. Saat Dion lewat di sampingnya Dion berhenti sejenak lalu melirik Amara untuk sepersekian detik sebelum akhirnya berkata..


"Kenapa perempuan itu seperti tidak asing ya.." batin Dion curiga.


Tapi Dion mencoba acuh lalu bergegas menyusul Mike yang sudah sampai di mobil.


Tak lama setelah Dion menyusul Mike masuk kedalam mobil Ray menyusul keluar dari cafe.


Melihat itu Amara lantas berdiri dan mengejar Ray.


"Ray tunggu!!" Ucap Amara saat Ray hendak membuka pintu mobil.


Sontak Ray pun menoleh mendengar namanya disebut.


Amara berjalan menghampiri Ray dan berdiri tepat di depan Ray. Amara membuka masker dan topinya Menatap Ray penuh kebencian.


"Amara.." lirih Ray terkejut. Ray menatap Amara dengan tatapan yang susah diartikan.


"Amara…ini benar kamu kan, kamu semakin cantik Amara. Apa kamu juga masih punya perasaan yang sama denganku." Batin Ray ingin sekali Ray memeluk Amara.



"Dimana putriku Ray, tolong kembalikan dia padaku."

__ADS_1


"Tidak ada." Jawabnya singkat


"Apa maksud kamu tidak ada Ray, kamu jangan bohong!!"


"Sorry amara aku harus pergi." Ray membuka pintu lagi hendak pergi namun dicegah oleh Amara.


Brakkk


Amara menutup pintu mobil itu dengan kencang. Sementara seseorang yang datang bersama Ray pun sama ia menatap Ray dan Amara bingung. Ia juga mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil.


"Dasar pengecut, belum puas kamu selama ini bersembunyi dariku. Sekarang kamu mau pergi begitu saja. Kali ini aku tidak akan melepaskanmu sebelum aku bertemu dengan putriku.


"Amara sudah ku bilang dia tidak ada, tolong biarkan aku pergi!" Bentak Ray.


"Nggak!! Kamu nggak boleh pergi, kembalikan putriku Ray." Amara memukul dada Ray berulang kali sambil menangis. Aksi mereka tak luput dari pengunjung cafe. Semua orang menatap merah berdua.


"Pak sebaiknya kita segera pergi dari sini." Ucap seseorang yang datang bersama Ray.


"Amara cukup!!" Bentak Ray lagi sambil menangkap kedua tangan Amara lalu mendorong tubuh Amara kasar hingga membuatnya terhuyung ke belakang.


"Amara!!" Teriak Arum, Mike dan dion bersamaan. Mereka bertiga berlari menuju Amara. beruntung seseorang pengunjung cafe dengan sigap menangkap tubuh Amara sehingga Amara tidak terjatuh.


Ya…Mike dan Dion kembali ke cafe karena Mike lupa memberikan surat kontrak kerja sama perusahaannya dengan perusahaan Ray. Tapi saat sampai di cafe Mike disuguhkan dengan pemandangan yang membuatnya naik pitam.


Amara memang tidak jatuh tetapi tiba-tiba saja Amara tidak sadarkan diri.


Membuat semua orang disana semakin panik.


Mike beralih memeluk tubuh Amara sambil terus menyebut namanya.


"Amara sayang..bangun Amara." Sambil menepuk pelan pipi Amara. Tapi amara tak kunjung bangun juga.


"Amara bangun amara.." Arum menangis ketakutan.


Mike menatap Ray tajam.


"Apa yang kamu lakukan dengan istriku, kalau sampai terjadi sesuatu dengannya tanggung sendiri akibatnya." Ucap Mike sambil menahan emosi.


Lalu Mike Menggendong tubuh Amara.


"Dion cepat buka pintunya!"


Dengan cepat Dion membukakan pintu. Sebelum pergi Dion pun sama memberikan tatapan tajam untuk Ray.


Lalu Dion melajukan mobilnya meninggalkan cafe.


"Dasar brengsek, kamu memang jahat Ray. Kenapa kamu selalu menyakiti Amara Ray apa salah Amara. Kali ini aku tidak akan memaafkan kamu lihat saja nanti." Tunjuk Arum kepada Ray lalu pergi. Sedangkan Ray merasa syok dengan apa yang barusan terjadi hingga ia tidak mampu berkata-kata.

__ADS_1


🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹


__ADS_2