
Terlihat iring iringan tiga mobil berhenti di jalan depan rumah Amara. Mobil paling depan adalah mobil Ray dan Amara yang kedua mobil pak Dirga dan mama ana dan mobil terakhir adalah mobil Tante Hana dan pak yoga.
Senyum haru sekaligus bahagia terbit di bibir Bu Jumiati dan pak Hasan kala terlihat Amara, Ray dan keluarganya keluar dari mobil.
Ardi dan Bagas menghampiri mereka untuk menyambut serta membantu membawakan beberapa seserahan kemudian mereka berjalan memasuki pelataran rumah Amara.
Rumah sederhana yang disulap bak ballroom hotel. Tenda besar dengan dekorasi mewah menghiasi tempat itu. Di Sudut kanan terdapat panggung yang cukup besar karena Ardi juga mendatangkan life musik dari Jakarta. Di kiri panggung adalah sebuah pelaminan kecil namun tidak ada kursi hanya hiasan indah dan tulisan❤️❤️ Happy engagement Ray dan amara❤️❤️ di depan pelaminan berjejer beberapa kursi di sisi kiri dan kanan sebagai tempat duduk untuk orang tua dan saudara masing masing serta mempelai tentunya.
Begitu masuk tamu sudah disambut dengan pajangan foto besar Ray dan Amara mengenakan kebaya dengan pose mesra .
Barisan pertama tentu Ray dan Amara sebagai mempelai kemudian pak Dirga dan mama ana lalu pak yoga yang membawa seserahan cincin yang telah dihias sedemikian rupa dan Tante Hana yang membawa set perhiasan berikutnya Ardi dan Bagas membawa tas dan sepatu branded dan yang terakhir pak Doni dan pak Anjar supir pribadi Masing-masing yang membawa baju casual yang branded juga tentunya.
Bu Jumiati tak dapat membendung air matanya lagi kala sang putri berada di depan mata menggandeng calon suaminya. Bu Jumiati memeluk Amara begitu pula pak Hasan. Amara berusaha menahan air matanya tidak ingin merusak riasan di wajah cantiknya.
"Kamu datang nduk.."
"Iya buk Amara datang bersama calon suami Amara."
Setelah melepas pelukannya Ray memperkenalkan diri kemudian mencium tangan pak Hasan dan Bu Jumiati bergantian. Kemudian memperkenalkan kedua orang tuanya. Pak Hasan dan pak Dirga saling berjabat tangan
"Saya dirgantara pak orangtua Rayen dirgantara dan ini istri saya ana." Seraya menunjuk mama ana dan memperkenalkan satu persatu keluarganya.
"Semoga pak Hasan dan ibu Jumiati Sudi menerima kami sekeluarga."
"Tentu pak dengan senang hati kami menerimanya."
"Ini ada sedikit oleh oleh dari kami." Sambil menyerahkan beberapa seserahan
"Maaf pak jadi merepotkan."
"Tidak apa pak Bu, kami sama sekali tidak merasa direpotkan, masih ada beberapa di dalam mobil pak karena keluarga kami hanya sedikit jadi tidak bisa membawanya sekalian." Jawab mama ana yang kemudian menyuruh Ardi untuk mengambil sisanya.
__ADS_1
"Terimakasih banyak Bu.. mari silahkan duduk Biar semuanya diurus oleh Ardi." Ajak Bu Jumiati kepada calon besannya. mereka duduk bersama di tempat yang telah disediakan sebelum acara dimulai. Ardi dan Bagas mengambil seserahan yang masih di dalam mobil dibantu beberapa anak muda disana. Yang ternyata masih banyak seperti Seperangkat alat ibadah, peralatan mandi, makeup dan skincare, pakaian dalam, makanan dan buah buahan. Perhiasan ya pun berlian. Makanan dan buah buahan nya pun tidak sembarangan. Banyak pasang mata menatap kagum seserahan yang keluarga Ray bawa khususnya tetangga Amara apalagi bibi rosmala yang ternyata sudah datang bersama putrinya tetapi tidak mau bergabung dengan Bu Jumiati. Sedangkan pak Hashim sendiri belum tampak batang hidungnya.
Sebenarnya sejak mobil rombongan datang banyak pasang mata yang menatap takjub mereka. Bisik bisik tetangga mulai terdengar ada yang memuji dan ada juga yang menjelekan. Apalagi ini di kampung sudah hal biasa jika melihat hal yang bagus sedikit langsung heboh dan menjadi bahan gosip.
Amara duduk diapit ibu Jumiati dan Ray di sisi kiri dan kanan.
"Terima Kasih ya Bu ana pak Dirga karena sudah mau menerima anak kami. Anak dari seorang petani yang miskin." Ujar Bu Jumiati sendu
"Jangan begitu Bu, Amara sudah kami anggap anak sendiri. Bagi kami derajat kita itu sama yang terpenting baik akhlaknya dan anak anak kita bahagia. Iya kan pa??" Ujar mama ana seraya menggenggam tangan Bu jumiati.
"Betul sekali ma, yang terpenting itu akhlaknya
Cukup lama mereka bercengkrama hingga akhirnya acara pun dimulai.
MC membuka acara dan serangkaian acara pun dimulai hingga tiba saatnya untuk bertukar cincin. Ray memasangkan cincin dijari manis Amara dan mencium tangan Amara kemudian keningnya cukup lama seolah Ray menunjukan rasa sayangnya yang sangat besar begitu pula sebaliknya Amara memasangkan cincin dijari manis Ray kemudian mencium tangan Ray. Ray langsung memeluk Amara tanpa memperdulikan banyaknya orang.
senyum bahagia selalu terpancar dari wajah kedua mempelai. terutama Ray yang dari dulu ingin melamar Amara. Ray sangat bersyukur acaranya berjalan dengan lancar.
Namun banyak juga ibu ibu yang membicarakan orang tua Amara khususnya yang sedang bersama rosmala.
"Hem.. orang miskin seperti mereka pasti hanya dimanfaatkan nantinya." Ucap seorang ibu ibu yang berdiri di dekat rosmala
"Jangan jangan Hasan dan Jumiati yang menipu mereka melalui anaknya, Amara kan cantik." Sahut ibu ibu satunya
"Cantik apanya, dia itu cantik karena makeup nya yang tebal cantikan juga anak saya Dian. tapi bisa jadi juga mereka itu orang kaya bohongan jangan jangan semuanya hasil nyewa." Ucap rosmala sombong
"Iya iya pasti itu."
"Kalian ini ya jangan sembarangan kalau bicara mereka itu orang kaya beneran anak saya Bagas bekerja di perusahaan mereka. Jadi kalian jangan fitnah." Tegur ibunya Bagas yang mendengar mereka bergosip.
"Sial! Jadi mereka orang kaya beneran. Aku harus cari cara untuk membuat mereka benci dengan Amara. Enak aja mau bersenang senang. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia." Gumam rosmala dalam hati.
__ADS_1
Sesi pemotretan selesai kini mereka semua sedang menikmati hidangan yang sudah tersedia. Raut wajah bahagia terpancar dari dua keluarga tersebut.
"Ehem.." tiba tiba rosmala datang menghampiri mereka
"Rosmala, dian..kalian baru datang, kami sudah menunggu kamu dari tadi." Ucap Bu Jumiati ramah dan menghampiri rosmala
"Silahkan duduk Tante, dian kita makan sama sama." Sahut Amara yang kemudian mengambil kursi untuk rosmala dan dian duduk. Tanpa mengatakan apapun pada Amara mereka memilih duduk disamping mama ana.
"Perkenalkan saya rosmala istri dari adik pak Hasan." Sembari mengulurkan tangan kepada mama ana "Dan ini anak saya Dian sekarang sedang kuliah jurusan keperawatan. Cantik kan. Ayo nak Salim sama Tante cantik."
"Halo Tante saya Dian." Mencium tangan mama ana
"Ana." Ucap mama ana singkat
"Wah ternyata nak Ray lebih ganteng ya dari fotonya. Kenalin ini anak Tante dian namanya."
"Halo kak aku dian." Mengulurkan tangan pada ray
"Ray!" Jawabnya singkat. Ray merasa kurang suka dengan mereka yang tiba tiba baik dengannya dan mama ana tetapi tidak menjawab sapaan dari Bu Jumiati dan Amara saudara mereka sendiri.
"Ini pasti papanya nak Ray, ya?? Apa kabar pak??" Mengulurkan tangan juga kepada pak Dirga namun pak Dirga hanya mengangguk.
Mereka makan bersama dengan rosmala yang terus mencari perhatian pada keluarga Ray yang sama sekali tidak menganggap keluarga Amara.
"Mala..dimana Hashim kenapa tidak datang?" Tanya pak Hasan
"Mas.. suami saya itu kan orang sibuk pekerjaannya banyak tolonglah mas mengerti sedikit. Memangnya mas yang tidak punya pekerjaan." Pak Hasan langsung terdiam dan merasa malu apalagi ada besannya. Amara mengepalkan tangannya Ray yang mengerti perasaan Amara kemudian menggenggam tangan Amara untuk menenangkan nya. Tega sekali tantenya berbicara seperti itu pikirnya.
"Amara sayang..kamu kok makannya sedikit sih tambah lagi ya nak. Makanannya enak sekali Lo pak Hasan Bu Jumiati, terimakasih ya.." Tante ana sengaja menunjukan rasa sayangnya kepada rosmala tentunya. Agar rosmala tau dan sadar bahwa mama ana yang dulunya orang lain saja bisa sayang dengan Amara kenapa dia yang tantenya sendiri seolah benci dengan keluarga Amara. Jujur mama ana juga sakit hati ketika rosmala mengatakan jika pak Hasan seorang pengangguran.
*jangan lupa like komen dan vote ya bebcu
__ADS_1
\*\*\*Happy reading 🥰 🥰\*\*\*