Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
bab 43 : kita berbeda


__ADS_3

Ray menuntun Amara dan mendudukkannya di kursi belakang bersama dengan risya.risya terus memeluk Amara memberikannya kenyamanan. Sementara Ray mulai mengemudikan mobilnya.


Sepanjang perjalanan Amara tak berhenti menangis membuat Risya juga ikut menangis. Ray mengantar Risya terlebih dahulu. Kemudian akan membawa Amara pulang ke rumahnya.


"Amara gue masuk dulu ya lo jangan nangis terus." pamit risya


"Iya mbak makasih ya mbak. Mbak selalu ada buat aku."


"Kalau ada apa apa kabarin mbak ya! Bae."


Ray menyuruh Amara untuk pindah ke kursi depan.


Amara menyandarkan kepalanya di pundak kiri Ray dan tangannya memeluk erat lengan Ray. sedangkan tangan kanan Ray memegang setir kemudi.


Karena lelah menangis Amara pun tertidur. Ray memposisikan Amara agar tidak jatuh. Ray merasa bersalah seandainya dia tidak mengajak Amara.


seandainya dia menuruti kata Amara waktu Amara meminta untuk pulang. pasti kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Andai, andai dan andai Ray hanya bisa menyesali semuanya.


Sesampainya di rumah Ray menggendong tubuh Amara ala bridal style.


"Ray..Amara tidur nak?" Tanya mama ana yang ada di ruang tamu bersama pak Dirga. Ray hanya melirik sambil terus menggendong Amara menuju kamarnya.


"Pasti ada sesuatu yang telah terjadi." Gumam mama ana kemudian akan mengikuti Ray namun dicekal oleh pak Dirga. "Mama mau kemana?" 


"Mama mau nyusul Ray ke kamar pa. Pasti telah terjadi sesuatu. Papa lihat kan Ray terlihat marah."


Kemudian terlihat Ray yang menuruni anak tangga.


"Itu Ray, ayo ma kita duduk kembali."


Ray duduk berhadapan dengan papa Dirga.


"Ray siap memimpin perusahaan pa!" 


"Kamu yakin Ray? Tapi kenapa tiba tiba kamu berubah pikiran." 

__ADS_1


"Kamu kenapa Ray..apa semua baik baik saja." Tambah mama ana yang berpindah duduk disamping ray. Ray menggelengkan kepala.


"Mulai sekarang aku tidak mengenal Kevin dan seluruh keluarganya dan ini juga berlaku untuk keluarga kita." Mama ana dan papa Dirga saling pandang.


"Ray jelaskan pada papa apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah dari dulu kamu sangat membela keluarga itu. Bahkan kamu rela meninggalkan papa hanya demi kevin. Sekarang apa ini Ray?"


"Amara! Aku tidak bisa terima pa mereka menghina Amara di depan semua orang. Aku tidak akan memaafkan mereka pa." Pak Dirga berdiri


"Kamu melakukan ini untuk Amara? Apa sepenting itu Amara bagi kamu Ray. Kamu sakit melihat Amara disakiti tapi papa? Apa yang kamu lakukan untuk papa Ray? Saat hati papa sakit karena kamu lebih memilih mereka dibandingkan papa kamu malah pergi Ray. Kamu tidak memilih papa! Dan sekarang kamu rela meninggalkan mereka demi Amara. Bahkan tiba tiba kamu ingin memimpin perusahaan. Apa gadis itu lebih berarti dibandingkan papa Ray?" Ucap pak Dirga dengan emosi yang meluap luap.


"Bukan begitu pa. Maafkan Ray."


"Kamu tidak pernah sekalipun mendengarkan papa Ray. Dan sekarang tanpa gadis itu minta dengan suka rela kamu melakukan semuanya. Kenapa kamu tidak pernah melihat papa Ray." Suara pak Dirga mulai melemah.


"Pa!" Ray berdiri kemudian memeluk pak Dirga.


"Ray minta maaf pa. Bukannya Ray tidak peduli dengan papa selama ini tapi Ray hanya belum siap pa." Pak Dirga melepas pelukan Ray.


"Dan sekarang karena gadis itu kamu menjadi siap? Saat papa memintamu untuk berhenti bekerja kamu tidak mau. Tapi ketika gadis itu di sakiti kamu langsung berhenti. Dan sekarang kamu siap memimpin perusahaan ketika gadis itu kembali disakiti. Kenapa Ray..kenapa bukan keinginan kamu sendiri? Papa kecewa sama kamu."


"Pa! Apa salah Ray membela orang yang Ray cintai apa salah Ray melakukan ini untuk calon istri Ray?"


"Papa juga penting pa! Ray hanya minta waktu. Ray ingin belajar dulu Ray ingin belajar memimpin perusahaan kecil sebelum memimpin perusahaan yang besar. Kenapa papa tidak mengerti juga. " 


"Tapi…"


"Kak Ray.." panggil Amara pelan. Setelah sedari tadi bersembunyi di balik tembok Amara sudah tidak bisa menahannya lagi. Ray dan pak Dirga bertengkar gara gara dirinya.


Flashback on


Amara terbangun ketika merasakan tenggorokannya yang terasa kering. Amara ingin mengambil minum di dapur. Tetapi baru mencapai anak tangga Amara dikagetkan dengan suara pak Dirga dan Ray yang sedang berdebat. Amara pun  mengurungkan niatnya untuk mengambil air minum. Kemudian akan kembali ke kamar. Tetapi Amara mendengar pak Dirga mengatakan kata "gadis itu" yang membuat Amara kepo. Gadis siapa yang mereka maksud. Amara memutuskan untuk mencari tahu. Amara berdiri dibalik tembok dekat dapur. Semakin Amara mendengarkan semakin jelas pula siapa yang dimaksud dengan gadis itu. Apa lagi Ray mengatakan jika dia membela calon istrinya sudah pasti gadis itu yang dimaksud adalah dirinya. Amara menangis lagi lagi Amara yang menyebabkan semua menjadi kacau.


Flashback off


"Sayang! Kenapa kamu disini? Sejak kapan kamu ada disini?"

__ADS_1


"Maafkan saya pak Dirga ini memang salah saya. Semua kekacauan ini berawal dari saya."


"Sayang apa yang kamu katakan? Tidak ada kekacauan disini semua baik baik saja."


"Iya Amara..kenapa kamu minta maaf." Lanjut mama ana yang sudah berdiri disamping Amara.


"Aku sudah mendengar semuanya kak. Berhenti untuk selalu membelaku kak


Berhenti berbuat ulah karena aku


Dan berhenti..untuk mencintaiku!" Semua orang tercengang dengan ucapan Amara termasuk pak dirga yang sedari tadi menundukan kepala.


"Apa maksud kamu sayang? Aku sangat mencintai kamu bagaimana bisa kamu menyuruhku untuk berhenti mencintai kamu. Kamu itu calon istri aku Amara." Ucap Ray yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya bahkan meneteskan air mata.


"Tidak terjadi apa apa diantara kita kak! Kakak tidak perlu menikahiku!" Amara beralih memandang mama ana


"Ma.. tidak terjadi apa apa antara aku dan kak Ray seperti yang mama pikirkan. jadi kak ray tidak perlu bertanggung jawab."


"Amara..bukan itu maksud mama."


"Maafkan Amara ma, kak Ray pak Dirga. Amara selalu membuat masalah."


"Nggak sayang. Kamu tidak boleh berkata begitu. Kamu itu ca.."


"Stop! Jangan katakan itu lagi kak. Kak Ray berhak mendapatkan perempuan yang lebih segalanya dari aku. Aku orang miskin tidak semestinya aku berada di antara kalian orang kaya. Aku pamit kak!" Dengan pelan Amara melangkahkan kakinya keluar dari rumah ray. Sementara Ray masih terpaku dengan ucapan Amara tidak percaya bahwa hubungannya dengan Amara akan berakhir seperti ini. Mama ana sudah panik " Ray kejar Amara Ray!" "Kejar dia Ray kenapa kamu diam saja."


Dan pak Dirga sama halnya dengan Ray tidak mampu berkata kata lagi.


Ray baru tersadar setelah Amara benar benar keluar dari rumahnya. Ray berlari mengejar Amara yang telah sampai pintu gerbang dan menghentikan sebuah taxi.


"Amara! Tunggu jangan pergi Amara.." teriak Ray namun terlambat taxi Amara telah berjalan. Ray pun bergegas mengambil mobilnya dan mengejar Amara.


*bagaimana kelanjutannya apakah Amara akan meninggalkan Ray untuk selamanya??


*atau mereka akan kembali bersatu??

__ADS_1


*ikuti terus kisahnya gaess jangan lupa dukungannya like komen dan vote!


**happy reading 🥰🥰**


__ADS_2