
Mereka pun menuju lapangan dan menaiki helikopter sama seperti saat mereka datang anak-anak dan warga yang lain menyaksikan mereka dengan sangat antusias.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Di Jakarta
"Bagaimana apa sudah kamu kirim?" Tanya angel pada seseorang lewat sambungan telepon
"Sudah bos, sekarang mana sisanya."
"Oke! Akan aku transfer sekarang juga."ย
"Saya tunggu, jangan pernah menipu saya atau tau sendiri akibatnya."
"Kamu tenang saja uang bukanlah hal yang sulit bagiku selama pekerjaanmu memuaskan kamu akan mendapatkan uang itu."
Lalu angel mematikan sambungan teleponnya dan mentransfer uang untuk laki-laki itu."
"Thing"
Satu pesan masuk dari laki-laki itu.
"Oke sudah masuk, senang bekerja sama denganmu." Isi pesan dari laki-laki itu.
"Dasar laki-laki m*****n." Gumam angel setelah membaca pesan dari laki-laki suruhannya.
_
_
"Ma..Amara bosan, apa tidak ada yang bisa Amara bantu?"
"Kamu bosan ya..ya udah gimana kalau kamu bantuin mama mengisi amplop ini."
"Boleh ma, ayo." dengan semangat Amara menjawab. Mama ana juga menyiapkan uang untuk dibagikan kepada anak yatim yang mereka undang.
Kemudian mama ana dan Amara mengisi amplopnya di ruang tamu,
Setiap amplop berisi uang tiga lembar seratus ribuan.
Ketika semuanya tengah sibuk melakukan tugasnya masing-masing pak Bejo datang membawa sebuah kotak di tangannya.
"Permisi nona, maaf mengganggu ada paket untuk nona.."
"Paket dari siapa pak?"
"Tidak tau nona, tidak ada nama pengirimnya."
"Coba dilihat dulu sayang mungkin salah alamat."ย
"Benar ma ini untukku tapi tidak ada alamat pengirimannya."
"Kok mama jadi takut ya sayang. Eh..Bejo coba kamu buka apa isi paketnya, jangan-jangan bom lagi."
"Ah nyonya kalau bom saya yang kena dong."
"Ya kita semua Bejo. Sudah cepat kamu buka."
"Iya nyonya." Bejo pun mulai membuka kotak tersebutย
"Isinya amplop nona, jangan-jangan uang."
"Sini pak biar saya saja yang buka." Amara mulai merobek ujung amplop tersebut kemudian merogoh isi amplopnya.
"Foto"ย batin Amara hatinya mulai merasa tidak enak bahkan merasa deg-degan. Amara takut hal yang dulu terulang lagi
"Sayang..apa isinya?"
Perlahan Amara mengeluarkan foto tersebut danโฆ
"Duuaaaarrrr"
Bom waktu meledak empat buah foto yang menunjukkan kemesraan Ray bersama angel.
__ADS_1
Foto pertama angel sedang menyuapi Ray
Foto kedua angel menggenggam tangan Ray dengan senyum bahagia
Foto ketiga Ray juga tersenyum pada angel dan foto terakhir Ray dan angel seperti tengah berc*uman.
air mata Amara jatuh melihat satu persatu foto tersebut.
"sayang kamu kenapa, foto siapa itu?" tanya mama ana melihat Amara menangis.
Tangan amara bergetar hatinya bergemuruh dan terasa ngilu tiba-tiba pandangannya mulai tidak jelas dan..
"Brukk"
Amara jatuh pingsan beruntung Ajeng dengan sigap menangkap tubuh Amara.
"Nona..nona kenapa."
"Amara..sayang bangun, kamu kenapa." Mama ana panik matanya menangkap foto yang Amara jatuhkan, mama ana mengambil semua foto-foto itu hati mama ana ikut sakit kala melihat semua foto-foto itu, kemudian mama ana menyimpannya di saku.
"Bejo kenapa diam saja, cepat angkat nona!"
"I..iya nyonya."
Bik Jum, mama ana dan Ajeng menangis melihat Amara.
"Bangun sayang.." ucap mama ana sambil mengoleskan minyak kayu putih.
"Bejo cepat siapkan mobil kita bawa amara ke rumah sakit."
"Baik nyonya."
_
_
Rombongan Ray telah sampai di Jakarta, kini dalam perjalanan menuju rumah, dengan Bagas yang mengemudi.
Raut wajah bahagia sangat terlihat di wajah Ray dan kedua mertuanya.
Dua puluh menit kemudian mereka sampai
di rumah.
"Tin..tin.."
suara klakson mobil Ray, namun tidak ada yang membukakan pintu.
rumah tampak sepi juga tidak terlihat Bejo disana.
"Tin..tin.."
Bagas mengklakson lagi kali ini Ajeng yang keluar dan membuka gerbang.
Ray dan rombongan keluar dari mobil setelah mobil terparkir di depan rumah.
"Ajeng kenapa sepi sekali kemana mama dan istriku?"
"Nona dibawa Kerumah sakit tuan."
"Apa? Rumah sakit mana?"
"Rumah sakit xxx tuan."
"Ray ada apa Amara kenapa?"
"Amara dibawa kurumah sakit Bu, sekarang aku mau kesana."
"Kami ikut nak."
"Ayo pak." Mereka kembali masuk mobil kemudian menuju rumah sakit xxx.
_
__ADS_1
_
Di rumah sakit
"Bagaimana keadaan menantu saya dok?"
" tidak apa-apa nyonya ana Amara hanya mengalami syok saja. Tetapi ini cukup mempengaruhi kehamilannya, apalagi Amara sedang hamil anak kembar ada dua nyawa yang harus dijaga jadi pesan saya jangan membuatnya stress atau kelelahan.
"Terimakasih dokter Dian, saya janji akan lebih baik lagi dalam menjaga menantu saya."
"Tidak apa nyonya karena ini adalah tugas Ray sebagai suaminya bukan nyonya."
"Apa menantu saya sudah sadar dok?"
"Sudah nyonya tapi.."
"Tapi kenapa dok?"
"Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi Amara seperti sedang terpukul, tatapannya kosong saya ajak bicara pun tidak merespon."
"Saya ingin masuk dok."
"Silahkan nyonya hibur dia dan beri dia semangat, saya permisi."
"Iya dok."
Kemudian mama ana dan bik Jum masuk ke dalam ruangan Amara, mama ana mendekati Amara, benar kata dokter Dian Amara hanya diam dengan tatapan kosong dan air mata yang membasahi pipi.
mama ana juga menangis hatinya terasa disayat melihat keadaan menantunya yang seperti itu.
"Sayang..jangan menangis lagi nak, ingat kamu sedang hamil." Amara tidak merespon
Bik Jum juga ikut menangis.
"Sayang..maafkan mama nak ini semua salah mama, mama yang memaksa kamu memberi kesempatan pada Ray. Mama yang salah hukum mama nak tapi jangan diam saja katakan sesuatu sayang.."
"Apa yang harus aku lakukan ma..aku lelah, kak Ray sudah berbohong berkali-kali ma.." dengan suara yang lemah Amara mengatakan itu.
Mama ana memeluk Amara tetapi Amara tidak membalasnya.
"Brak"
Suara Pintu dibuka dengan kasar menampakkan Ray dan kedua orang tua Amara. Reflek pelukan mama ana terlepas.
Ray berlari menghampiri istrinya.
"Sayang kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan?" Ray terlihat cemas, ia menggenggam tangan Amara dan mengelus puncak kepala Amara.
"Pintar sekali kamu berakting kak, kamu bertindak seolah kamu sangat khawatir padaku." Batin Amara menatap Ray dengan tatapan tajam sedetik kemudian Amara mendorong tubuh Ray
"Sayang kamu kenapa mendorongku?"
"Plakk"
Satu tamparan keras mendarat di pipi Ray
"Pergi kamu, aku benci denganmu laki-laki pembohong, pengecut, penghianat sepertimu tidak pantas untukku."
"Amara kamu kenapa, aku salah apa?"
"Masih bisa kamu berpura-pura kak? Dimana hati nuranimu sebagai seorang suami? Berkali-kali kamu membohongiku, menyakitiku kenapa kamu belum puas juga?" Teriak Amara
"Amara aku tidak mengerti, aku berbohong apa padamu, siapa yang berkhianat?"
Ray mencoba meraih tangan Amara, bahkan rasa sakit karena tamparan Amara seolah tidak terasa.
"Jangan sentuh aku!! Jangan sentuh aku lagi.."
"Amara apa salahku ku mohon jangan seperti ini, lihat aku membawa bapak dan ibu untukmu, apalagi salahku Amara?"
"Kenapa kak..kenapa kamu berpura-pura baik, kenapa kamu membuatku tersentuh dengan membawa kedua orang tuaku tetapi juga melukai perasaanku, kenapa kamu melakukan semuanya bersamaan..hiks..hiks.." Amara seperti sudah kehabisan tenaga untuk meluapkan emosinya.
"Nak..ini ada apa?" Tanya ibu Jumiati
__ADS_1
"Ibu.." Amara memeluk ibunya dan menangis sejadi-jadinya kemudian pak Hasan juga ikut mengelus rambut putrinya itu.
๐๐๐Bersambung๐๐๐