Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 112 : Melewati masa kritis


__ADS_3

Dengan baju yang lusuh dengan berlumuran cairan merah dan penampilan yang acak-acakan Mike duduk di ruang tunggu dengan pandangan kosong.


"Gantilah pakaianmu Mike, Amara akan sedih saat sadar nanti jika melihat penampilanmu seperti ini." Ucap Dion menyodorkan paper bag berisi pakaian untuk mike.


Perlahan Mike menerima paper bag itu, "Jaga istri dan anakku sebentar." Lalu Mike pun pergi untuk membersihkan dirinya.


Saat Mike kembali sudah tidak ada siapapun di sana, Gerry maupun Dion tidak ada disana. Mike berlari masuk ke dalam ruang UGD tetapi tidak ada siapapun disana, Mike kebingungan kemana mereka semua. Ia pun keluar kembali dengan wajah gelisah dan panik. Dari jauh Dion berlari menghampiri Mike


"Mike!" Panggil Dion.


"Dion kamu dari mana, dimana istri dan anakku?"


"Jesen sudah dipindahkan di ruang rawat inap tapi Amara dia harus segera dioperasi, ayo cepat!"


"Apa?? Dimana sekarang?"


"Ada di lantai tiga." Mike lantas menuju lantai tiga menggunakan lift bersama Dion.


Sampai di lantai tiga seorang perawat sudah menunggu Mike agar segera menyelesaikan prosedur yang harus Mike lakukan agar Amara bisa segera dioperasi tanpa ba-bi-bu Mike pun melakukannya.


Setelah semuanya selesai Mike menghampiri Amara yang sudah siap dibawa ke ruang operasi. 


Mike tertegun sejenak melihat Amara yang merintih kesakitan dengan keringat dingin memenuhi dahinya.


"Amara..aku disini sayang." Ucap Mike meraih tangan Amara


"Sakit bee hiks..hiks.." Amara menggenggam erat tangan Mike sambil merintih, menangis, kesakitan.


Mike tak kuasa melihat istrinya dengan kondisi seperti itu, Mike ikut menangis.


Kemudian beberapa perawat bersiap membawa Amara ke ruang operasi.


Mike terus menggenggam erat tangan Amara memberinya kekuatan agar tetap kuat sampai di ruang operasi.


Sampai di ruang operasi dengan berat hati Mike harus meninggalkan Amara untuk berjuang sendiri disana.


Mike menangis berdiri menatap ruang operasi.


Dion dan Gerry merangkul pundak Mike agar Mike lebih tenang. 


Lampu ruang operasi menyala tanda operasi sedang berjalan.

__ADS_1


Dari jauh ibu Jumiati dan Arum dengan langkah tergopoh-gopoh menghampiri mereka


"Sayang..kamu sudah sampai." Ucap Gerry menghampiri Arum


"Iya sayang."


"Ibu.." Mike lantas bersujud di kaki ibu Jumiati


"Maafkan aku Bu, aku sudah gagal menjaga istri dan anakku. Aku bukan suami dan ayah yang baik Bu." Ucap Mike diiringi tangisannya


"Bangun nak.." ibu Jumiati menarik pelan pundak Mike untuk bangun


"Ini bukan salah kamu, ini musibah tidak ada yang tahu kapan dan kepada siapa musibah itu akan datang. Ibu tidak menyalahkan kamu kita sama-sama berdoa semoga semuanya baik-baik saja. Yang di dalam itu?"


"Amara Bu, karena benturan yang cukup keras Amara harus di operasi untuk menyelamatkan anak kami Bu."


"Astaghfirullah..kandungan Amara baru berumur enam bulan semoga tidak terjadi apa-apa dengan anak dan cucuku." Seketika tangis ibu Jumiati pun pecah


"Sabar Bu." Arum memeluk ibu jumiati


"Jesen, dimana jesen?"


"Syukurlah.."


Kemudian terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang operasi


Oekk oekkk


"Alhamdulillah.." semua orang mengucap syukur dengan senyum bahagia. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama ketika pintu ruang operasi terbuka dan dua orang perawat dengan tergesa-gesa keluar dari ruang operasi dengan raut wajah serius.


Mike ingin bertanya tetapi langkah mereka sangat cepat seperti sedang ada masalah serius dan tak lama mereka kembali bersama Seorang dokter lagi mereka berlari masuk ke dalam ruang operasi.


"Suster ini ada apa, kenapa semua berlarian?"


"Maaf tuan pasien kritis." Lalu perawat perempuan itu meninggalkan Mike.


Seketika dunia Mike pun hancur, Arum dan ibu Jumiati kembali menangis.


"Nggak, ini nggak boleh terjadi aku harus masuk." Mike hendak masuk beruntung dengan sigap Dion dan Gerry ada disana.


"Mike jangan Mike." Dion dan Gerry mencegah Mike, Gerry memeluk Mike erat dari belakang

__ADS_1


"Lepas ger, aku harus masuk."


"Nggak!! Biarkan dokter melakukan tugasnya dengan baik."


"Tapi Amara membutuhkan aku ger, aku harus masuk." Teriak mike


"Cukup mike! Kamu ingin Amara selamat kan hentikan kegilaanmu ini, atau akan terjadi sesuatu dengan Amara."


"Apa kamu bilang, istriku akan baik-baik saja, dia pasti baik-baik saja."


Makanya kamu tenang!!" Bentak Dion lagi


"Aku tidak mau kehilangan istriku, aku tidak sanggup." Ucap Mike lemah Dion lantas memeluk Mike


"Aku sangat yakin Amara akan baik-baik saja dia wanita kuat." Tak lama pintu terbuka semua orang mendongak sontak pelukan Mike dan Dion pun terlepas.


Mike buru-buru menghampiri dokter yang baru saja keluar.


"Dokter bagaimana keadaan istriku, dia baik-baik saja kan?


Dengan seutas senyum dan ucapan syukur dokter paruh baya itu berkata


"Alhamdulillah pasien berhasil melewati masa kritis, dan bisa dipindahkan ke ruang rawat.


"Alhamdulillah.." ucap syukur semua orang


"Terimakasih dok terimakasih, dokter sudah menyempatkan nyawa istriku."


"Sama-sama tuan, ini semua sudah kehendak Allah, kalau begitu saya permisi."


Setelah dokter paruh baya itu pergi Amara dibawa keluar menggunakan bangsal dan akan dipindahkan ke ruang rawat dengan bantuan beberapa perawat dan seorang dokter perempuan.


Senyum bahagia terpancar di wajah semua orang yang menunggu Amara terutama Mike.


"Sayang.." ucap Mike menggenggam tangan Amara, Amara pun hanya tersenyum lemah menanggapi Mike.


"Maaf tuan pasien masih belum bisa diajak bicara kondisinya masih sangat lemah, kita harus segera memindahkan pasien ke ruang rawat agar bisa beristirahat lebih tenang." Jelas dokter perempuan itu lembut.


"Baik dok."


🌹🌹🌹 Bersambung 🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2