Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 93 : Takut


__ADS_3

Ray merasa kesal dengan Amara kenapa Farah sampai datang ke rumahnya apalagi yang dilakukan Amara dengan Kevin apa mereka bertemu secara diam-diam di belakangnya. itulah isi pikiran Ray saat ini.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Ray menelpon Ardi untuk menyusulnya di rumah sakit. Karena Amara tidak bisa membawa mobil.


Amara telah selesai mengurus administrasi dan kembali keruangan Ray.


"Maaf ya kak lama..oh ya kak nanti kita pulangnya gimana aku kan nggak bisa bawa mobil?" Ray masih tidak mau bicara dengan Amara.


"Kak Ray marah ya sama aku. Aku minta maaf kalau aku sudah membuat kak Ray marah. Aku nggak tau kak kenapa Farah bicara seperti itu. Akuโ€ฆ"


"Ceklek" pintu ruangan terbuka. Menghentikan ucapan Amara yang belum selesai.


"Ray..Lo kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Ardi panik.


"Kak Ray tidak apa-apa Ar. Jahitannya sedikit terbuka jadi kak Ray harus di jahit kembali."


"Lo ngapain sih Ray sampai jahitan Lo terbuka. Salto Lo?"


"Berisik Lo.. cepat bantuin gue. Gue mau pulang."


"Ya udah ayo. Kenapa Lo masih tiduran?"


"Bantuin gue b**e. Sakit nih."


"Iya..ya.. marah-marah Mulu Lo kayak emak-emak."


Kemudian Ardi memapah Ray. Untuk naik di kursi roda.


"Eh mau kemana Lo?"


"Ya pulang lah Ray. Katanya Lo mau pulang?"


"Dorong gue!!"ย 


"Hah? I..iya." Ardi ragu pasalnya saat kemarin di Surabaya Ray tidak mau dibantu siapapun kecuali Amara. Ray ingin selalu ditemani amara. Ardi melirik amara yang terlihat sedih.


"Apalagi yang dilakukan nih bocah. Dasar pemarah punya istri cantik bukanya disayang-sayang malah di marahin Mulu." Batin ardi


_


_


Pukul 21.00 malam. Ray terlihat memainkan ponselnya sembari duduk bersandar di atas ranjang. Amara mendekati Ray. Dan terus mencoba untuk berbicara dengan Ray.


"Kak Ray belum tidur? Maaf ya kak tadi aku ngobrol di telpon dengan mama ana. Minum obatnya dulu ya kak." Amara menyodorkan beberapa obat untuk Ray dan air minum. Ray menerimanya namun tetap tidak mau bicara apapun.


"Sudah..kita tidur yuk. Kak Ray kan nggak boleh tidur terlalu malam." Amara ingin membantu Ray untuk mengatur posisi tidurnya namun dengan cepat Ray menyingkirkan tangan Amara kemudian tidur membelakangi Amara.

__ADS_1


Amara merasa sangat tersinggung dengan sikap Ray kali ini. Ray sampai tidak mau tidur menghadapnya. Apa salahnya Ray bahkan tidak mau mendengar penjelasan darinya. Amara merasakan ngilu di ulu hatinya. Ia pun tidak jadi tidur di samping Ray. Amara memutuskan untuk tidur di kamar tamu. Amara bangkit dari posisinya kemudian keluar dengan membanting pintu cukup keras.


"Brak" suara pintu tertutup membuat Ray terjingkat kaget.


Ray bangun dari tidurnya.


"Mau kemana dia? Kenapa menutup pintu sangat keras apa dia marah? Tidak mungkin Amara marah. Lebih baik aku tunggu saja dia kembali. Kalau dia minta maaf lagi aku akan memaafkannya. Aku juga akan bersikap biasa saja." Gumam Ray.


Cukup lama Ray menunggu Amara namun tak kunjung kembali Ray mulai gelisah. Ray takut Amara marah padanya.


Ray menggigit bibir bawahnya sambil terus melihat pintu.


"Tok tok tok" pintu diketuk akhirnya Ray bisa bernafas lega. Ray yakin itu adalah Amara. Tapi jika Amara kenapa harus mengetuk pintu.


"Tok tok tok" pintu kembali di ketuk namun dengan suara seorang perempuan.


"Tuan..saya Ajeng. Ingin mengantar air minum untuk tuan. Kata nona air minum tuan habis "


"Ajeng.. kok Ajeng sih." gumam Ray


"Masuk jeng tidak di kunci." Ajeng pun masuk.


"Permisi tuan."


"Ya. Amara dimana kenapa kamu yang bawa minumnya."


"Nona Amara kan tidur di kamar tamu tuan. Kata nona, nona tidurnya rusuh jadi nona takut kena perut tuan. Memangnya Nona tidak bilang sama tuan?"


"Tuan butuh sesuatu lagi? biar saya ambilkan."


"Tidak. Tidak ada."


"Kalau begitu saya permisi tuan."


"Amara pasti marah. Apa yang harus aku lakukan kenapa dia ikut marah kan dia yang salah."ย ย 


"Sudahlah aku tidur saja. Besok juga pasti dia minta maaf."


Ray mencoba memejamkan mata namun tidak bisa. Ray gelisah dan tidak bisa tidur.ย 


Ia pandangi tempat di sebelahnya yang kosong rasanya sangat tidak enak. Biasanya jika Ray melihat ke samping wajah cantik istrinya yang selalu ia lihat.ย 


_


_


Pagi hari Amara melakukan aktivitas seperti biasanya. Amara sedang memasak sarapan untuk Ray. Karena Ray hanya mau makan masakan Amara. Amara masih menggunakan baju tidur ia belum sempat ke kamarnya.


Setelah selesai memasak dan menatanya di meja makan Amara pergi ke kamar untuk mengambil baju ganti dan alat make-up nya. Amara akan mandi di kamar tamu.

__ADS_1


Dilihatnya Ray masih belum bangun. pukul 03.30 pagi Ray baru bisa tidur.


Amara mendekat ia memandangi wajah suaminya yang terlihat semakin tampan. Sebuah senyuman terbit di bibir ranumnya. Sesaat kemudian ia sadar bahwa ia sedang marah dengan Ray. Amara pun bergegas mengambil baju ganti dan alat make-up nya sebelum Ray bangun.


_


_


Pukul 07.15 pagi. Ray bangun, Ray merasa kepalanya sedikit pusing mungkin karena kurang tidur.


"Ceklek" pintu terbuka Amara datang membawakan sarapan untuk Ray. Dan menaruhnya di atas nakas di samping Ray tanpa berkata apapun. Amara juga menyiapkan obat untuk Ray.


Amara sudah sangat cantik dengan baju overal model tali kecil di pundaknya serta ada blazernya berwarna hitam batik gold. Rambutnya ia buat Curly membuat penampilannya semakin sangat cantik.


Ray memandang istrinya dari atas sampai bawah. Ingin rasanya Ray menerkam Amara namun rasa gengsinya yang tinggi membuatnya enggan menyapa Amara lebih dulu.


Setelah selesai menyiapkan semuanya untuk Ray Amara pun keluar melewati Ray begitu saja. Harum tubuh Amara begitu menusuk di indera penciuman Ray.


Istrinya benar-benar sangat menggoda namun sayang Ray tidak bisa menyentuhnya.


Ray merasa uring-uringan setelah Amara keluar.


Ray tidak tahan dengan sikap Amara yang mendiaminya seperti ini.


Ia pun membuang egonya dan menelpon Amara.


"Ada apa?" Jawab Amara cepat


"Buset jutek banget sih. Dimana ngomongnya." Batin Ray


"Aku mau mandi."


"Oke!"


"Aโ€ฆ" belum selesai Ray bicara Amara sudah mengakhiri panggilannya.


"Ini nggak bisa dibiarkan jangan sampai Amara semakin marah. Bisa gawat." Gumam Ray.


Ray tau sifat Amara jika sudah marah ia akan susah untuk di rayu. Ray yang memulai tapi Ray juga yang merasa takut.


Amara telah sampai di kamar Ray. Dan tengah menyiapkan air hangat untuk Ray.


Setelah selesai Amara ingin keluar namun Ray mencegahnya.


"Mau kemana? Bantu aku mandi."


Tanpa mengatakan apapun Amara Melepas baju ray pelan. Amara sangat hati-hati meskipun sedang tidak enak hati tapi Amara tidak mau Ray kesakitan. Lalu Amara memandikan Ray seperti sedang memandikan anak kecil. Dari menggosok tubuhnya hingga bagian-bagian yang tak terlihat pun Amara bersihkan. Ray tersenyum melihat istrinya yang cemberut tetapi perlakuannya sangat lembut.


Setelah selesai memandikan Ray. Amara juga memakaikan pakaian Ray seperti biasanya. Dengan sangat hati-hati Amara mengganti perban Ray. Setelah semuanya selesai Amara kembali ke kamar tamu. Ray ingin mencegahnya namun Amara sangat cepat.

__ADS_1


๐Ÿ๐Ÿ๐ŸBersambung lagi gaess kembali lagi besok ya..๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


__ADS_2