
Ibu ana dan pak Hasan menemui tamu undangan yang lain karena tidak enak jika membiarkan tamu undangan menikmati hidangan sendiri nanti akan jadi bahan pembicaraan dikampung. Sedangkan amara bergabung bersama Arum dan pemuda pemudi yang lain. Arum baru datang karena baru pulang dari pabrik tadi siang. begitu sampai rumah Arum langsung kerumah Amara. Pak yoga dan Tante Hana juga ikut bergabung bersama Ardi dan Bagas juga orang tuanya. Kini tinggal pak Dirga mama ana dan rosmala serta dian yang masih duduk di tempat yang sama.
"Maaf ya Bu ana kalau boleh tau ibu ana dan pak Dirga ini kok bisa ya kenal sama Amara maksud saya bertemu dimana?"
"Amara itu teman kerja Ray Bu.."
"Oh teman kerja ya, bukanya nak Ray punya perusahaan sendiri ya Bu??" Rosmala sengaja mengorek informasi tentang keluarga Ray yang akan dijadikan bahan gosip dan untuk menghina keluarga amara tentunya.
"Maaf Bu ada apa ya, apa ada yang salah dengan anak saya?"
"Ah tidak apa apa Bu saya hanya ingin tau lebih banyak saja tentang calon suami keponakan saya." Sambil tersenyum
"Sebenarnya saya sangat sayang dengan Amara Bu, tapi dia hiks hiks.." rosmala tiba tiba menangis
"Tapi kenapa Bu?"
"Amara telah membunuh anak saya Bu..anak yang sangat saya cintai. Ibu tentu tau bagaimana perasaan saya sebagai sesama perempuan dan seorang ibu. Anak yang sudah kita besarkan dengan penuh kasih sayang mati karena terbunuh..hiks hiks."
"Maaf Bu rosmala apa maksudnya membunuh Anda jangan bicara sembarangan jika tidak ada bukti." Ucap pak Dirga
"Pak..semua orang disini juga tahu jika Amara itu telah membunuh anak saya Yudha!"
"Bu rosmala Amara itu kan keponakan anda, bagaimana bisa anda berbicara seperti itu." Tambah mama ana
"Tapi memang itu faktanya Bu..anak saya meninggal karena dibunuh oleh Amara." Kini rosmala berteriak hingga membuat semua orang terkejut dan menoleh ke arahnya. Amara, Ray, Bu Jumiati serta pak Hasan segera menghampiri Mala.
"Mala..ada apa ini?" Tanya pak hasan
"Tante kenapa menangis?" Tanya Amara
"Plakk"
Mala menampar pipi Amara.
"Tante! Apa yang Tante lakukan??" Teriak Ray sambil memeluk Amara
"Dia itu pantas mendapatkan nya. Asal kamu tau perempuan ini telah membunuh anak saya. Dia itu pembunuh." Rosmala semakin menjadi jadi untuk mempermalukan Amara.
"Jaga ucapan anda! Atau saya akan melaporkan anda ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik." Tunjuk Ray kepada rosmala sedangkan Amara hanya menangis
"Silahkan kamu melapor, saya tidak takut. Ini memang kenyataannya kamu harus terima itu. semua warga sini juga sudah tahu jika Amara itu seorang pembunuh."
"Cukup rosmala! Kamu benar-benar keterlaluan Amara itu keponakan kamu sendiri. tega sekali kamu berbicara seperti itu. Sudah berapa puluh tahun kamu selalu menyalahkan Amara apa masih belum cukup kamu mempersulit hidupnya selama ini?" Ucap Bu Jumiati
"Saya tidak akan pernah puas sebelum Amara mengembalikan anak saya."
"Apa maksud kamu kami harus menggali kuburan Yudha? Begitu mau kamu?? Kamu sendiri yang mengatakan jika masalah ini telah selesai dengan kami mengganti dengan sejumlah uang. Apa kamu lupa Mala?"
"Kalau begitu berikan sekarang semua uang itu." Bu Jumiati terdiam
"Hem..kenapa? kamu tidak mampu kan??" Mala tersenyum meremehkan
"Makanya kamu jangan pernah melawan saya. Orang miskin seperti kalian tidak akan pernah mampu melawan saya."
"Berapa semua hutangnya saya akan bayar semuanya, tapi jangan pernah kamu mengganggu keluarga saya lagi!" Tegas Ray
"Kamu yakin akan membayar hutang mereka, kamu yakin kamu mampu?"
"Cukup Mala! Kamu sangat keterlaluan Mala." Teriak pak hasan
"Diam kamu mas!!" Bentak Mala
"Aaaah…" pak Hasan memegang dada kirinya kemudian terjatuh.
__ADS_1
"Bapak.." Amara berlari memeluk pak Hasan
"Hiks hiks..bangun pak.."
"Bapak kenapa sayang?"
"Bapak punya riwayat penyakit jantung kak."
"Ayo cepat kita bawa kerumah sakit."
Ray segera membopong tubuh pak Hasan untuk dibawa ke klinik.
"Pa Ray.."
"Iya cepat Ray nanti papa menyusul." Potong pak dirga
"Ibu disini saja biar Amara dan kak Ray yang urus."
"Iya nak hiks hiks.."
"Jika terjadi sesuatu cepat kabari mama sayang." Ucap mama ana. Amara mengangguk.
"Yoga, Hana kalian ikut bersama mereka." perintah mama ana kepada adiknya.
Sedangkan rosmala tiba tiba wajahnya berubah menjadi pucat
"Cepat katakan berapa hutangnya!" Bentak pak dirga
"Sial, kenapa jadi begini. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Hasan." Batin rosmala
"DELAPAN PULUH JUTA. apa anda sanggup?" Rosmala sengaja menekan kata katanya saat menyebutkan nominalnya.
"Hem..hanya itu?" Pak Dirga tersenyum miring
"Ardi!"
"Iya pak."
"Kamu sudah dengar semuanya kan?"
"Sudah pak."
"Sekarang juga kamu urus semuanya bersama bagas dan ingat harus ada barang bukti dan juga saksi dan buat surat pernyataan hitam diatas putih kamu mengerti maksud saya?"
"Mengerti pak! Saya permisi."
"Mari ikut kami Bu rosmala."
"Aku tidak mau. Bayar disini saja!"
"Tidak bisa. Sekarang ibu ikut saya atau saya seret."
"Iya ya..saya ikut."
Karena kekacauan yang ditimbulkan rosmala pesta terpaksa dibubarkan. Ibu Jumiati menangis mama ana juga ikut meneteskan air mata.
_
_
"Sabar ya Bu.. saya yakin pak Hasan pasti akan baik baik saja."
"Bu ana, pak Dirga.. Tolong jangan terpengaruh jangan membenci amara dia sama sekali tidak bersalah."
__ADS_1
"Kami percaya dengan Amara tidak mungkin Amara menyakiti orang apalagi sampai membunuh. Dia itu anak yang baik."
"Selama ini hidup Amara menderita karena masalah ini. Masalah yang sama sekali bukan kesalahannya. Pak Dirga.. terimakasih sudah melunasi hutang kami. Saya janji pak saya akan mengganti uang bapak tetapi kami hanya mampu mencicil."
"Tidak perlu Bu..saya ikhlas. Yang terpenting bagi saya wanita itu tidak mengganggu keluarga ini lagi."
"Saya heran kok bisa ya dia berbuat seperti itu kepada saudaranya sendiri."
"Drtt drttt"
Handphone mama ana berdering
"Ray pa.."
"Cepat jawab ma."
"Halo Ray, bagaimana keadaan pak Hasan?"
"Alhamdulillah bapak sudah sadar ma. Ini sudah boleh pulang. bilang sama ibu tidak perlu kuatir bapak baik baik saja.
"Alhamdulillah..iya Ray nanti mama sampaikan."
Panggilan pun berakhir
"Bu jumiati tidak perlu kuatir pak Hasan sudah sadar dan baik baik saja. Sekarang mereka sedang perjalanan pulang.
"Alhamdulillah.."
_
_
Pak Hasan sudah dibawa pulang kembali dan kini sedang istirahat di kamar bersama Amara. Sedangkan Ray, mama ana, pak Dirga, pak yoga Tante hana Ardi dan Bagas sedang di ruang tamu. Mereka semua terlihat serius membicarakan sesuatu.
"Nduk..apa nanti kamu akan kembali ke jakarta bersama mertuamu?"
"Nggak kok Bu..ibu tenang saja kak Ray juga ingin disini dulu katanya."
"Syukurlah ibu senang mendengarnya.."
"Tok tok tok"
Mama ana mengetuk pintu padahal pintunya tidak tertutup mama ana benar benar sangat sopan.
"Mama..masuk aja ma!"
"Maaf ya mama mengganggu.. mama dan papa harus pulang sayang. Paman yoga akan kembali ke Kalimantan besok kasihan mereka kalau pulang terlalu malam."
"Iya ma! Amara mengerti." Amara berdiri kemudian memeluk mama ana.
"Kamu tenang ya sayang Ray akan disini bersama kamu ditemani Bagas.
_
_
"Hati hati ya ma.." Amara memeluk mama ana kembali saat akan masuk mobil setelah berpamitan kepada semuanya tentunya mereka pulang tidak dengan tangan kosong.
"Iya sayang.. mama dan papa pulang ya, Ray..jaga Amara dan keluarganya baik baik!"
"Pasti ma!"
*** happy reading 🥰🥰***
__ADS_1