
"Terimakasih nak bapak tidak tahu harus berkata apa."
Amara sangat bersyukur mendapatkan suami yang begitu peduli dengan orang tuanya. Hanya satu kekurangan dari diri Ray yaitu sifat emosionalnya. Dan Amara harus bisa merubah itu.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Ibu jumiati dan Amara membagikan oleh-oleh yang ia bawa untuk para tetangga dekat. Sedangkan Ray dan pak Hasan berbincang-bincang di teras rumah. Ajeng membuatkan kopi untuk mereka.
"Terimakasih ya Amara kamu baik sekali. Ngomong-ngomong sudah isi belum ini.." ucap salah satu tetangga sambil menyentuh perut rata Amara.
"Sudah Bu. Isi nasi."Kebetulan mereka saling bergerombol jadi Amara dan Bu Jumiati tidak perlu berkeliling untuk berbagi.
"Jangan ditunda amara. Nanti malah susah punya anak."
"Iya Bu.. terimakasih sarannya."
"Suaminya kok nggak diajak kesini juga to nak.."
"Lagi ngobrol sama bapak Bu. Nggak enak kalau Amara ganggu."
"Kami permisi ya Bu ibu."
"Kamu mau kerumah mala ya Jum. Sudah tidak usah dikasih si mala. Nanti kalau mereka menolak kamu yang sakit hati."
"Saya coba dulu Bu nur. Kalau tidak mau juga tidak apa-apa." Kemudian ibu Jumiati dan Amara mengetuk pintu rumah Mala yang tertutup sendiri di antara rumah-rumah tetangga yang terbuka. Setelah berulang kali mengetuk barulah pintu terbuka.
"Eh mbak ada apa?" Tanyanya dengan nada tidak suka bahkan tidak menyuruh Bu Jumiati dan amara masuk. bahkan dia hanya melirik amara.
"Ini loh Mala.. mbak mau ngasih oleh-oleh dari Amara dan Ray. Mereka baru saja sampai." Sambil menyodorkan satu kantong kresek berisi buah-buahan dan brownies.sedangkan Amara sendiri hanya diam Amara ingin melihat bagaimana reaksi bibinya itu.
"Heleh..katanya orang kaya. masak ngasihnya buah. Malu-maluin." Bukanya menerima pemberian ibu Jumiati Mala justru berkata yang menyakitkan hati. ibu Jumiati menarik kembali tangannya.
"Mala..memangnya kenapa kalau buah. Buah juga belinya pake uang kan."
"Eh mbak orang kaya yang asli itu sekali bawa oleh-oleh pasti yang mahal-mahal dan enak. Bukanya buah pinggir jalan. Kalau cuma buah aku juga bisa beli sendiri. sama tokonya sekalian aku beli." Amara sudah sangat geram dengan bibinya ini.
"Sombong sekali kamu bi. Apasih yang bibi sombongkan rumah besar, sawah yang luas atau apa?"
"Jaga ucapanmu Amara. Tidak sopan sekali kamu. Kamu itu hanya anak kemarin sore apa pantas kamu berbicara seperti itu kepada bibimu sendiri? Mbak! Tolong mbak ajarkan anak mbak yang kurang ajar ini sopan santun."
"Tuh kan benar mereka bertengkar. Ayo kita lihat." Ucap Bu nur. Kemudian mereka melihat pertengkaran Amara dan Mala.
"Eh kamu ngaca..selama ini yang tidak punya sopan santun siapa? Sudah cukup selama ini kami mengalah dengan kamu. Semakin kami mengalah semakin kamu menginjak-injak kami."
"Amara!!" Teriak pak Hasyim memanggil Amara. Tapi kali ini Amara sama sekali tidak merasa takut.
"Lancang sekali bicaramu, apa kamu sudah merasa hebat sekarang sehingga kamu berani kurang ajar kepada bibimu?"
__ADS_1
"Tentu saja. Memangnya kenapa paman keberatan atau paman mulai resah??"
"Cukup nak..kita pulang saja ya. Hasyim tolong hentikan. Amara kan keponakan kamu tolong maafkan dia Hasyim."
"Aku tidak Sudi mempunyai keponakan seperti dia."
"Aku juga tidak Sudi mempunyai paman sombong sepertimu."
"Kurang ajar." Hasyim melayangkan tangannya di udara hendak menampar amara.
"Aaaaa" teriak ibu-ibu sambil memejamkan mata. Bahkan Amara juga memejamkan mata dan Bu Jumiati reflek memeluk Amara.
"Berhenti!!" Suara lantang menggelegar Ray mengagetkan semuanya. Beruntung Ray datang tepat waktu. Dengan pandangan mata menusuk dan wajah yang tegas. Ray menghampiri Hasyim.
"Berani sekali anda ingin menampar istri saya. Anda belum tahu siapa saya." Hasyim menurunkan tangannya tetapi tidak dengan kesombongannya.
"Saya tidak peduli siapa kamu. Tapi disini saya yang berkuasa ini kampung saja jadi jangan berbuat keributan di kampung saya.
"Saya juga tidak peduli!" Jawab Ray dengan suara yang lebih lantang.
"Anda telah berani mengusik keluarga saya. Saya tidak suka milik saya diusik orang lain. Saya pastikan anda akan menyesal telah berurusan dengan saya." Tunjuk Ray di wajah Hasyim. Hasyim terdiam.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" Amara menggeleng
"Ibu juga tidak apa-apa?"
"Tidak nak. Ibu tidak apa-apa."
"Persiapkan diri anda untuk mendapat kejutan dari saya " ucap Ray lagi tanpa menengok. kemudian kembali berjalan.
Sesampainya di dalam rumah Ray mengambilkan istri dan ibunya minum.
"Minum dulu sayang..ibu.."
"Aku nggak tau. Apa salah aku sama bibi rosmala dan paman Hasyim kenapa mereka begitu membenciku membenci keluarga kita."
"Sudah sayang…kamu tidak perlu takut lagi ada aku disini. Aku tidak akan membiarkan mereka mengganggu keluarga kita lagi. Aku janji." Amara mengangguk
"Mereka harus diberi pelajaran. Aku akan merebut kembali apa yang menjadi hak bapak" batin Ray.
_
_
Pagi-pagi buta Ray sudah bangun. Dan sedang melakukan panggilan dengan seseorang.
"Kak Ray telfon siapa sepagi ini?"
__ADS_1
"Kenapa sudah bangun sayang ini masih sangat pagi."
"Kakak juga kenapa sudah bangun jam segini tumben banget."
"Nggak ini kak Ray lagi telfon Ardi. Ada hal penting yang harus kakak urus." Amara mengangguk karena jika masalah pekerjaan Amara juga tidak tahu.
"Ayo kita tidur lagi."
"Kelonin…" ucap Amara manja
"Siap sayangku...." Ray mendekap tubuh Amara sambil mengelus punggungnya agar cepat tidur. Bukan apa-apa Ray hanya tidak mau Amara curiga.
Beberapa menit setelah Amara tidur handphone ray kembali berdering.
"Ada apa Ar?"
"(...)"
"Bagus. Kita bertemu besok pagi, pastikan semuanya sudah siap."
"(...)"
"Kita lihat hasyim apa kamu masih bisa sombong besok. Jika masih aku akan mengambil semua yang membuatmu sombong." Gumam Ray. Sekarang Ray bisa tidur dengan nyenyak Ray melihat ke arah istrinya kemudian berbaring di sampingnya Ray memiringkan badan menghadap Amara mengelus pipi Amara lembut.
"Siapapun yang menyakitimu tidak akan pernah aku biarkan hidupnya bahagia. I love you istriku." Kemudian Ray menyusul Amara ke alam mimpi sambil memeluknya.
Pukul 05.00 Amara sudah bangun dan membantu ibu Jumiati di dapur bersama Ajeng.
"Maaf ya Bu nona Amara sebelumnya. Waktu pertama saya melihat nona Amara saya kira nona itu asli Jakarta dan anak orang kaya. Habisnya nona cantik banget Bu, putih bodinya bagus terus baik lagi. maaf ya Bu." ucap ajeng
"Tidak apa-apa nak Ajeng. Ibu sudah biasa mendengar kata-kata seperti itu. Banyak kok nak Ajeng yang ngomong seperti itu. Malah tetangga ibu pernah bilang Amara tidak cocok menjadi anak ibu di depan Amara sendiri. Beruntung Amara anak yang baik dan sangat menyayangi ibu dimarahi tetangga ibu itu.
"Iya Bu..nona memang sangat baik."
"Habisnya aku sakit hati masak ngomongnya gitu. Itu sama saja menghina ibu." sahut amara
"Saya jadi penasaran Bu pasti banyak yang mengincar nona Amara dulu."
"Betul. Ibu itu sampai malu dan tidak enak hati setiap ada yang mendekati amara pasti Amara tidak mau. Ibu bingung mencari alasan apalagi untuk menolak."
"Berarti nona tidak pernah pacaran dong dulu?"
"Kalau itu ibu tidak tahu tanyakan langsung pada orangnya."
"Pernah. 2 tahun malah." Jawab Amara dengan wajah sendu
"2 tahun lama juga ya nona. Terus kenapa nona tidak menikah dengan pacar nona itu? Ops.." Ajeng menutup mulutnya lupa kalau dia telah lancang. "Eh maaf nona saya lancang..saya bawa makanannya ke ruang tamu ya nona..ibu.."
__ADS_1
🌺Hay gaess terus dukung "kisah cinta Amara" ya. konflik yang besar baru akan dimulai jadi terus beri dukungannya ya agar author semakin bersemangat. yang belum favorit silahkan di favoritkan agar ada notifikasi setiap up kembali.
🌺🌺 Happy reading gaess 🥰🥰🌺🌺