
Ray meremas pelan kedua gundukan Amara. Seketika Amara membuka mata dan tersadar akan perbuatannya dengan ray.
Amara mendorong tubuh Ray. Kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih menggunakan bajunya lengkap. Nafasnya naik turun hampir saja dia melakukan hal yang terlarang. Ray mengusap wajahnya kasar kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Ray mengguyur tubuhnya dibawah shower untuk mendinginkan hawa panas yang menjalar di tubuhnya. Ray harus bermain solo untuk menidurkan adik kecilnya kembali.
Hampir tiga puluh menit Ray baru keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk kecil yang melingkar di pinggangnya dan berjalan ke arah Amara. Kulit putih serta otot otot perut yang membentuk roti sobek membuat Amara sejenak lupa untuk mengedipkan mata. ditambah lagi tetesan air dari rambutnya yang basah membuatnya semakin terlihat sexy bagi Amara. Reflek tangan Amara terulur untuk menyentuh perut rata nan berotot itu.
"Ehem" sebuah kode Ray berikan untuk menyadarkan Amara.
Amara gelagapan.
"E..i..itu!"
"Hemm..?" Ray memicingkan satu matanya. kemudian duduk disamping Amara. tangannya menggenggam tangan Amara yang telah menyentuh perut sispeknya kemudian mencium tangan itu. Amara hanya bengong seolah terhipnotis dengan perlakuan Ray.
Ray membungkukkan badannya Amara reflek memejamkan mata. Ray tersenyum melihat reaksi Amara "dasar mesum." bisik Ray di telinga Amara kemudian memberi gigitan kecil disana. Amara membelalakan mata mendengar Ray mengatainya mesum.
"Plak"
Amara memukul bahu Ray kemudian mendorongnya.
"Kak Ray nyebelin!" Ucap Amara seraya menuju kamar mandi.
"Hahaha" Ray gemas sendiri dengan tingkah Amara. Sembari menunggu Amara yang sedang mandi ray merebahkan tubuhnya menatap langit langit kamarnya dengan kedua tangannya sebagai bantalan. Dengan senyum bahagia yang tak pernah lepas dari bibir sexinya.
"Kak Ray kok belum pakai baju sih?" Cibir Amara yang baru keluar dari kamar mandi.
"Kenapa pakai baju itu lagi?" bukannya menjawab Ray justru bertanya balik.
"Aku kan nggak bawa baju kak."
Ray beranjak menuju walk in closet. Kemudian kembali membawa kemeja putih di tangannya.
"Ini! Cepat ganti bajumu. bajumu bau. tapi untuk ********** aku tidak punya. apa kamu mau pakai punyaku?" ucap Ray sambil mengeringkan mata. kemudian menyodorkan kemejanya untuk Amara. Amara membelalakan mata mendengar ucapan Ray yang tidak ada sensor.
"Dasar kak Ray mesum." Ray hanya tersenyum.
"Enak aja bau! Aku kan cuma pakai makan siang sama kak miko mana bisa bau."
"Justru itu yang membuat bau. Aroma laki laki itu menempel di bajumu."
"Mana bisa begitu. Aku bahkan tidak bersentuhan dengannya mana mungkin menempel. Lagian tadi kak miko nggak bau kok, wangi malah."
"Iya iya terserah. Cepat ganti bajumu!" Ray kesal sendiri. Ray pun pergi menuju walk in closet untuk memakai baju juga. sementara Amara berganti baju dikamar.
__ADS_1
Amara menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang sambil memainkan handphone berselancar di dunia Maya.
Ray keluar dari walk in closet telah memakai baju yang lengkap kemudian menghampiri Amara duduk di tepian ranjang.
"Ayo kita kebawah kamu belum makan kan?"
"Aku nggak lapar, kak Ray aja."
"Nanti kamu sakit."
"Aku nggak lapar kak. Aku mau tidur aja."
"Ya udah terserah kamu. Kakak tinggal kebawah ya." Amara mengangguk.
"Muach!!" Ray mencium kening Amara singkat sebelum pergi.
Di bawah ternyata pak Dirga sudah menunggunya.
"Dimana Amara? Tanya pak Dirga tanpa basa basi.
"Diatas pa!"
"Apa masalah kalian sudah beres?"
"Hahaha." Pak Dirga tertawa. Ray menyatukan kedua alisnya heran melihat reaksi pak Dirga.
"Sepertinya kamu sangat bahagia Ray. Baiklah papa dan mamamu akan atur semuanya. Besok lusa kita berangkat ke kampung halaman amara."
"Makasih pa!" Ray langsung memeluk pak Dirga." Pak Dirga merasa terharu sudah lama pak Dirga tidak pernah sedekat ini dengan Ray. Pak Dirga menepuk nepuk punggung Ray pelan.
"Lantas bagaimana jawaban atas pertanyaan papa tiga Minggu yang lalu Ray. Apa kamu lupa?" Ray melepas pelukannya.
"Ray sudah memutuskan untuk keluar dari wings group pa. Ray akan membantu papa di perusahaan."
"Bagus! Keputusan yang sangat bagus Ray papa bangga denganmu. sebentar lagi kamu akan menjadi seorang suami dengan tanggung jawab yang lebih besar."
"Iya pa Ray mengerti. Papa sudah makan?"
"Sudah! Papa baru saja selesai makan. Kamu cepat makan ajak Amara dia pasti lapar."
"Tadi Amara bilang tidak lapar pa."
"Ray terkadang perempuan itu lain di hati lain mulut. Terkadang dia hanya ingin perhatian kecil dari kita. Ingin menguji seberapa besar kepekaan kita terhadapnya. Kita sebagai laki laki yang harus mengerti dan berinisiatif sendiri. Kamu mengerti kan maksud papa?" Sejenak Ray terdiam kemudian tersenyum.
"Makasih pa!" Ray bergegas ke dapur dan menyiapkan dua porsi makan malam untuk nya dan Amara lalu membawanya ke kamar.
__ADS_1
Ray memiringkan badannya mendorong pintu kamar yang tidak terkunci karena kedua tangannya membawa nampan yang berisi makanan.
Amara mendongak mendengar suara pintu terbuka dilihatnya Ray yang masuk membawa nampan. Amara pun menghampiri Ray.
"Kak Ray mau makan dikamar?" Ray meletakkan makanannya di meja.
"Kamu pasti lapar kan. Ayo kita makan!"
"Kak Ray bawa makanan juga buat aku? Tadi kan aku bilang nggak lapar kak." Amara menjawab tidak lapar namun dengan wajah yang terlihat senang. Benar kata pak Dirga Amara hanya ingin tau seberapa besar kepekaan nya terhadap Amara.
"Aku tidak mau kamu sakit. Ayo kita makan!" Dengan senyum manis Amara mengangguk.
_
_
Sementara di kediaman Antoni maurer Kevin sedang marah besar.
"Pyaar"
Suara gelas yang dilempar Kevin.
"Jadi Ray mengundurkan diri karena Amara?"
" Jadi benar mereka berselingkuh di belakangku. Aku tidak akan pernah memaafkan mereka berdua. Aku tidak akan pernah membiarkan mereka berdua bahagia."
"Brengsek Lo Ray brengsek.." teriak Kevin frustasi kemudian menangis tidak terima Amara menghianatinya.
Pak Antoni sengaja mengarang cerita agar Kevin semakin benci dengan Amara dan Ray.
Pak Antoni mendekati Kevin dan menenangkannya." Sudahlah vin ini saatnya kamu buktikan kepada mereka bahwa kamu bukan orang yang lemah. Besok hari pernikahanmu tunjukan jika kamu sudah tidak ada rasa kepada Amara. Agar dia tidak bisa menghina kamu."
"Aku akan mengundang mereka untuk datang pa. aku ingin Amara melihat bahwa aku baik baik saja tanpanya."
"Kamu lihat Amara. Aku akan membuat kamu menyesal." Gumam Kevin yang dipenuhi rasa dendam.
"Apa yang akan kamu lakukan Vin, jangan sampai kamu salah langkah. ingat ada Ray yang akan melindunginya."
"Papa lihat saja besok." dengan senyum kecil disudut bibirnya.
**kira kira apa ya gaess rencana Kevin??
**jangan lupa semangatnya ya like komen dan vote🙏🙏
\*\*\*happy reading 🥰🥰\*\*\*
__ADS_1