Kisah Cinta Amara

Kisah Cinta Amara
Bab 64 : baikan lagi


__ADS_3

"Mereka hampir saja…mereka..hiks hiks." Miko menarik Amara kedalam pelukannya.


"Sudah ya..tidak perlu diteruskan.kamu tidak perlu menceritakan kembali kejadian itu. ITS oke aku mengerti. Stttt..sudah ya jangan menangis lagi."


_


_


Ray merebahkan dirinya di ranjang kemudian memijat pelipisnya yang terasa sakit. Ray mencoba memejamkan matanya namun pikirannya sedang kacau. 


Ray bangun kembali dan duduk di tepian ranjang.


"Amara pasti sangat marah. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Bagaimana jika Amara membenciku. Bagaimana jika Amara memutuskan hubungan kita? Tidak! Ini tidak boleh terjadi." gumam Ray yang kemudian bangkit dan menyambar kunci mobilnya. Ray menuruni anak tangga dengan berlari kecil.


"Sayang..kok kamu dirumah? bukannya tadi mau ke kantor?" Tanya mama ana yang baru datang sambil tangannya menenteng dua plastik belanjaan .


"I.. Iya ma..ada yang ketinggalan. Mama dari mana?"


"Ini tadi mama habis dari pasar beli sayur sama udang segar. Amara kan suka sekali udang. Kemarin mama janji sama Amara mau masakin dia udang hari ini."


"Oh..gitu ya ma." 


"Kamu mau balik ke kantor?"


"I..ya ma."


"Ya sudah hati-hati ya. Mama ke dapur dulu.


"Bagaimana jika Amara tidak pulang..mama pasti sedih." batin ray


Ray segera mencari Amara di tempat kosnya. Ray yakin Amara pulang ke kosnya.


_


_


"Ra..jangan berantem-berantem terus dong. Kalian itu kan mau menikah." Ucap Arum menasehati Amara.


"Justru itu rum sumber masalahnya. Aku tuh nggak ngerti ya sama kak Ray selalu saja menghubungkan semua masalah dengan kevin.


"Tunggu-tunggu..kok jadi Kevin sih.tadi katanya pernikahan yang jadi sumber masalah kamu. Kok sekarang Kevin? Ow..aku tau Kevin ngajakin kamu nikah ya?"


"Aduh Arum..kok malah Kevin sih. Kak Ray yang ngajakin nikah. Aku tuh belum siap Arum untuk menikah dalam waktu dekat. Coba kamu bayangin kak Ray pengen kita menikah Minggu depan dan sekarang hari Rabu. Berarti tinggal tiga hari lagi dong rum aku menikah. Coba kamu jadi aku apa kamu mau?"


"Mau."jawab Arum cepat


"Apa? Dasar.."


"Amara-amara..pernah nggak sih kamu berfikir kalau kamu itu adalah orang paling beruntung. Apalagi yang kamu cari? pak Ray itu cinta dan sayang banget sama kamu dan yang paling penting dia setia. Terus sayang juga dengan kedua orang tua kamu. Udah gitu kaya raya lagi. Kurang apalagi sih Ra..banyak orang yang ingin seperti kamu berada di posisi kamu. Tapi mereka nggak seberuntung kamu yang bisa mendapatkan semuanya dengan mudah. Termasuk aku." Amara terdiam sejenak 

__ADS_1


"Jadi menurutmu aku yang salah?"


"Aku nggak nyalahin kamu Amara..tapi aku ingin kamu tahu kalau kamu itu beruntung bisa dipilih sama kak Ray menjadi pendamping hidupnya."


"Tapi kak Ray itu mudah emosi. Dan kalau sudah emosi pasti tidak terkendali."


"Setiap orang pasti punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Justru kamu sebagai pasangannya yang harus bisa melengkapi kekurangan itu. Kamu yang harus bisa ngendaliin emosi pak Ray. Harusnya kamu mengalah jika kamu tau sifat pak Ray seperti itu. Bukanya mengimbangi sifat pak Ray. Jadi gini kan sekarang kalian bertengkar."


"Terus aku harus apa sekarang?"


"Pulang. Dan minta maaf sama pak Ray. Bilang kalau kamu mau menikah dengannya jangan sampai kamu menyesal nantinya."


"Makasih ya rum." Ucap Amara memeluk Arum "ternyata keputusanku untuk kesini sangat benar. Makasih ya."


"Iya Amara..jangan berantem lagi ya. Kasihan bapak sama ibu kalau terjadi sesuatu dengan hubungan kalian."


"Kamu benar rum..mereka pasti akan sangat sedih dan malu."


"Ya udah sekarang kamu pulang gih.'


"Ngusir nih." canda amara


"Kok ngusir sih..ya kan kamu.."


"Haha..iya..ya. aku hanya bercanda. Ya sudah kalau begitu aku pulang ya da…" 


_


_


"Pak Ray?!" Ucap Arum yang baru akan masuk setelah mengantar Amara sampai gerbang.


"Arum..apa Amara ada disini?"


"Amara baru saja pulang pak."


"Apa? Pulang? Ma..maksud kamu pulang ke surabaya?" Panik Ray


"Eh..bukan pak. Maksud aku pulang kerumah pak Ray. Iya tadi Amara bilang kalau mau pulang kerumah pak Ray."


"Kamu yakin Amara bilang gitu?" Tanya Ray semangat. Arum mengangguk sebagai jawaban 


"oke, makasih ya rum kalau begitu aku permisi." 


"iya pak sama-sama.."


Dengan semangat Ray segera menancap gas dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya. Hanya dalam lima belas menit Ray sampai dirumah.


Dengan langkah tergesa-gesa Ray memasuki rumah.

__ADS_1


"Sayang..sayang..Amara.." teriak Ray


"Ray..ada apa teriak teriak. Kenapa kamu pulang lagi?"


"Ray mencari Amara ma."


"Kamu gimana sih Ray. Amara kan ke restoran."


"Jadi Amara belum pulang ma?"


"Belum. Kalian nggak lagi bertengkar kan? Kamu dari tadi bolak-balik loh Ray."


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam." Jawab mama ana dan Ray bersamaan


"Kak Ray kok udah pulang?" Tanya Amara menghampiri ray sementara Ray diam terpaku dengan sikap Amara yang berubah 180°.


"Iya sayang. Ray itu dari tadi bolak-balik pulang katanya nyari kamu. Mama yakin pasti Ray hari ini nggak ke kantor."


"Aku kan ke restoran kak..kenapa dicari dirumah. Ayo." Amara menautkan jari-jarinya dengan jari-jari Ray.


"Kita ke atas dulu ya ma."


"Iya. Mama juga mau ke dapur mau masak udang buat kamu."


"Oh ya..ya udah nanti Amara nyusul ya ma."


Ray masih merasa aneh dengan sifat Amara yang tiba-tiba berubah. Bukanya Ray tidak senang tapi Ray merasa aneh.


Ray melepas tangannya begitu sampai di kamar.


"Apa kamu sedang berpura-pura di depan mama tadi? Amara kembali meraih tangan Ray dan menggenggamnya.


"Aku minta maaf sama kak Ray. Aku salah aku sudah membuat kak Ray kecewa. Aku tidak mengerti kak Ray, aku seperti anak kecil aku…"


"Sttt…aku yang harusnya minta maaf. Aku sudah kasar sama kamu. Aku menurunkan kamu ditengah jalan. Aku tidak bisa mengendalikan emosiku." Amara memeluk ray


"Kak Ray tidak salah aku yang salah. Aku yang membuat kak Ray emosi. Apa kak Ray mau maafin aku?" Ray melepas pelukan Amara dengan kedua tangannya di pundak Amara kemudian berkata


"Aku selalu memaafkan kamu karena apa?


Karena cintaku jauh lebih besar dari yang kamu tau."


"Apa kak Ray masih mau menikah dengan aku Minggu depan?" Tanya Amara dengan senyum manisnya. Ray menggelengkan kepala yang seketika membuat senyum di bibir ranum Amara menghilang. Kemudian Ray berkata


"Karena aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Amara Andini maukah kamu menikah denganku Minggu depan?"


"Iya aku mau Rayen dirgantara." Jawab Amara cepat. Senyum bahagia terpancar dari wajah keduanya kemudian mereka kembali berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2