Mereka Tidak Tahu Aku Kaya

Mereka Tidak Tahu Aku Kaya
Bentakan pak Santo


__ADS_3

.


.


.


💕💕 HAPPY READING 💕💕


Sepeninggalan ibu Marni, Serli menangis terisak. Dia sakit hati dengan ucapan ibunya, seakan sekarang ini dia menjadi anak yang tidak berguna. Disaat seperti ini Serli mulai menyadari jika apa yang selama ini dia lakukan adalah salah. Tidak seharusnya dia menjadi wanita yang mau menjalin hubungan dengan pria-pria yang sudah beristri ataupun sudah punya pasangan.


Dia tahu betul jika wanita yang melukainya adalah wanita yang penah dia sakiti. Wanita yang pasangannya pernah dia goda, wanita mana yang tidak sakit hati jika pasangannya atau suaminya bermain serong.


Hiikkss Hiikss Hikkss


Tangisan Serli terdengar pilu, tidak ada saudara atau keluarga yang menemaninya. Saat ini dia hanya sendirian, Ratu yang biasanya setiap siang datang kali ini dia tidak bisa datang karena ada klien yang akan fitting baju pengantin di butik dan harus dia yang menanganinya langsung.


" Apa aku ini anak yang tidak berguna? Mungkin begini perasaan mbak Ratu saat dulu ibu memarahinya dan menghinanya. Bahkan bukan ibu saja yang menghinanya, aku dan mbak Ranj juga ikut menghinanya bahkan menjadikan dia pembantu bukan menantu."Ucap Serli dengan air mata yang terus membasahi pipinya.


Serli mengambil cermin yang ada di atas nakas, dia bercermin dan dia bisa melihat wajahnya yang masih terpasang perban. Belum tahu bagaimana wajahnya setelah operasi, Serli hanya berharap agar wajahnya tidak seburuk yang dia fikirkan.


Tok Tok Tok


Pintu ruangan Serli di ketuk, dan masuklah satu perawat mengantarkan makan siang untuk Ratu.


" Makan siang dulu ya mbak, setelah itu minum obat."Ucap Perawat dengan ramah.


" Terima kasih kak."Jawab Serli menyebut perawat itu dengan panggilan kak.


" Saya tinggal ya, makanannya harus di habiskan."Ucap Perawat itu dengan tersenyum ramah.


Serli hanya mengangguk sembari mengusap air matanya yang masih membasahi pipinya. Perawat itupun meninggalkan Serli sendirian, sebenarnya dia kasihan dengan Serli dan ingin menemani Serli makan. Akan tetapi ada pekerjaan yang masih harus dia selesaikan.

__ADS_1


Tring


Ada pesan masuk di ponsel Serli.


[ Setelah makan siang, jangan lupa minum obatnya Ser. Maaf mbak tidak bisa datang ya, nanti sore mbak baru bisa. Kamu mau dibawakan apa?.]


" Pesan dari mbak Ratu. Terima kasih mbak, masih mau peduli sama Serli."Ucap Serli bermonolog sendiri.


[ Tidak apa-apa mbak. Kalau mbak Ratu tidak kesini juga tidak apa-apa, mbak pasti capek. ] Balas Serli.


[ Tidak capek kok.] Balas Ratu singkat.


[ Baiklah, kalau begitu tolong belikan buah-buahan saja mbak. Buah-buahan yang kemarin sudah habis.]


Sebenarnya buah-buahan yang dibawakan Ratu kemarin sore masih banyak. Hanya saja tadi sebelum ibu Marni pulang tangan sempat menarik kantong plastik yang berisi buah-buahan di atas nakas.


[ Iya, apa ada lagi?]


[ Oh ya sudah, nanti mbak belikan pesanan kamu.]


Setelah selesai berkirim pesan dengan Ratu, Serli pun mulai memakan makan siangnya agar bisa segera minum obat. Hanya butuh waktu 5 menit, Serli sudah selesai makan. Makanan tidak Serli habiskan karena memang dia tidak berselera makan, hanya sebagai syarat untuk bisa minum obat saja.


Obat pun sudah Serli minum, setelah itu Serli menyandarkan tubuhnya di sandaran kepala ranjang sambil memikirkan Yanto alias Anto yang sudah tidak bisa dia hubungi. Semenjak masuk rumah sakit Yanto sama sekali tidak membalas pesan dan teleponnya.


" Kemana mas Anto ya? Kenapa dia hilang bagaikan di telan bumi, atau dia memang sudah tahu jika wajahku tidak secantik dulu dan dia meninggalkanku. Jika benar begitu, berarti dia memang bukan pria yang baik. Tidak salah jika mas Bima melarangku menjalin hubungan dengannya. Atau mungkin saja dia memang sudah bosan denganku dan dia kembali dengan mbak Rani. Huuuhhh... Tidak masalah jika memang dia kembali dengan mbak Rani, mbak Rani juga sedang hamil dan membutuhkan mas Anto."Ucap Serli bermonolog pada dirinya sendiri.


Mengingat soal Rani, Serli jadi teringat kejadian siang itu. Serli seperti mengenali wanita yang menyiram 4ir ker4s di wajahnya, dari bentuk tubuh dan tatapan mata seperti Rani. Serli yakin jika wanita itu adalah Rani, terlebih sebelumnya Rani memang ngotot mengajak Serli ketemuan di taman dan Serli tidak datang.


" Mbak Rani ! Iya, aku ingat jika siang itu mbak Rani juga meminta ketemuan di taman dan aku tidak datang. Jangan-jangan ketemuan itu dia memang sudah merencanakan akan mencelakaiku? B3d3b4h !! Mbak Rani mencelakaiku karena dia tidak mau mas Anto bersama ku. Jika itu benar, keterlaluan kamu mbak sampai mencelakaiku seperti ink."Serli terus bermonolog pada dirinya sendiri.


Sementara itu di tempat lain, setelah pulang dari rumah sakit, Ibu Marni menemui suaminya di toko. Ibu Marni kaget saat melihat toko pak Santo sudah berubah, barang yang di jual banyak macam dan banyak model. Selama ini ibu Marni memang jarang datang ke toko, jadi dia tidak tahu jika toko sudah berubah.

__ADS_1


" Pak, ini benar toko mu?."Tanya ibu Marni kagum.


" Loh ibu, kenapa ibu ada di sini ? Bukannya ibu seharusnya di rumah sakit menemani Serli? Lalu Serli sama siapa bu? Oh iya, maaf ya bapak belum bisa pulang, karena setiap habis dari toko Bapak langsung ke rumah sakit untuk menemani Serli. Dan malam pun Bapak menginap di sana, jadi saat ibu pulang dari penjara kita belum bertemu sama sekali."Ucap pak Santo tidak menjawab pertanyaan ibu Marni.


" Ibu udah dari rumah sakit tapi malah diusir sama Serli. Oh iya, Bapak belum menjawab pertanyaanku. Toko ini benar milik Bapak kan? Kenapa toko bapak bisa berubah seperti ini? Barang dagangan juga banyak dan macam-macam, pasti Bapak banyak duit don."Seru Ibu Marni justru memikirkan soal duit duit duit dan duit.


Pak Santo sebenarnya malas membahas soal toko dan duit kepada ibu Marni. Karena yang ada difikiran istrinya itu hanya duit dan duit. Dia juga tahu pasti tadi saat di rumah sakit tidak bisa mengkondisikan mulutnya sehingga Serli lebih memilih mengusirnya. Tidak mungkin Serli mengusirnya jika tanpa sebab.


" Bapak tidak punya uang, semua barang dagangan ini bukan milik bapak. Akan tetapi milik orang dan bapak hanya menjualkan saja. Oh iya, pasti tadi ibu bikin ulah makannya Serli mengusir ibu?."Ucap pak Santo sengaja tidak bicara jujur soal toko.


Padahal barang yang ada di toko adalah barang dagangan miliknya yang awalnya dia mendapat modal dari Ratu. Jika ibu Marni tahu pasti dia akan meminta hak nya dengan alasan dia juga berhak atas uang Ratu maupun Arya.


" Apaan sih pak. Ibu hanya bicara sama Serli kalau sekarang dia itu wajahnya cacat dan berarti tidak bisa dapat suami yang kaya raya. Jadi sudah tidak ada yang bisa ibu banggakan lagi dari Serli." Seru ibu Marni dengan percaya diri sekali dia bicara seperti itu.


" Apa ? Ibu bicara seperti itu kepada Serli? Ya Allah bu, apa Ibu ini tidak bisa berpikir jika kata-kata Ibu Itu menyakiti Serli dan membuat mental Serli down? ibu tahu kan, Serli saat ini butuh support dari kita semua, tapi kenapa ibu nalah bicara seperti itu? Sebenarnya kamu ini ibunya Serli atau bukan sih, Bu?." Tanya Pak Santo terlihat kesel dengan kelakuan istrinya.


" Nyatanya memang seperti itu kan pak? Dengan wajah Serli yang tidak lagi mulus dan sempurna mana ada pria yang mau sama dia? Jangankan orang kaya atau pengusaha, tukang parkirpun pasti ogah."Jawab ibu Marni sudah sangat keterlaluan.


Hhhuuuffff


Pak Santo membuang nafas dengan kasar, kalau tidak mengingat Ibu Marni itu istrinya mungkin saja saat ini pak Santo sudah memukul dan menghajar ibu Marni. Kata-kata ibu Marni tadi sudah pasti sangat menyakitkan Serli, dan pasti Serli dibuatnya menangis. Pak Santo tidak pernah berfikir, kenapa istrinya bisa sekejam dan setega itu dengan anaknya Sendiri. Bukannya memberikan dukungan justru menjatuhkan mentalnya.


" Pulanglah bu, sebelum bapak marah."Seru pak Santo dengan menahan amarahnya.


" Tapi ibu masih mau disini pak."Seru ibu Marni.


" Pulang !!!."Sentak pak Santo.


Ibu Marni pun dengan cepat meninggalkan toko dan berjalan cepat menuju ke arah rumah. Sepanjang perjalanan dia terus menggerutu memaki suaminya.


************

__ADS_1


__ADS_2